• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2016

Telusur Glodok

13.32 // by dalijo // , , // 29 comments


glodok
Candranaya

Sebagian besar dari kita, terutama orang Jakarta, pasti tahu bahwa kawasan Glodok adalah area pusat untuk mencari peralatan elektronik atau keping DVD  film-film luar. Tapi dibalik nama itu ternyata tempat ini menyimpan lorong-lorong sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Satu hari sebelum hari raya Imlek, saya memiliki kesempatan itu.

Berawal dari ketidaksengajaan membaca twit tentang Jakarta Walking Tour yang diprakarsai oleh Jakarta Good Guide, saya tertarik untuk mencicipi bergabung dengan salah satu acaranya. Ternyata hari Minggu tanggal 7 Februari 2016 jadwal tournya adalah ke kawasan Glodok. Mumpung satu hari sebelum Imlek pasti feelnya udah terasa, pikir saya. Saya akhirnya ikut acara tersebut.

Jam 9 pagi adalah jadwal dimulainya tour yang diawali dari sebuah minimarket di kompleks Hotel Novotel Jalan Gajah Mada. Peserta tour ada 7 orang dengan seorang guide, namanya Mas Farid. Karena ada 3 peserta berasal dari luar negeri, maka penjelasan dilakukan menggunakan Bahasa Inggris. Meskipun perlu waktu bagi otak saya untuk menerjemahkan setiap kata yang meluncur dari mulut Mas Farid, tetapi penjelasan yang disampaikan cukup mudah untuk dimengerti.

Candranaya
Obyek tour pertama adalah Candranaya. Letaknya ternyata sangat dekat dengan meeting point kami, bahkan masih satu kompleks dengan Hotel Novotel, tepatnya kompleks Green Central City. Rumah dengan arsitektur Tionghoa yang khas ini diapit oleh bangunan-bangunan tinggi modern, meski begitu aura klasiknya masih jelas terpancar.
glodok
Mas Farid menjelaskan arti gambar di dalam Gedung Candranaya

glodok
Kolam di belakang gedung
Sebuah kain merah bertuliskan huruf emas tionghoa bertengger di depan pintu utama, tepat di atasnya tertempel papan bertuliskan Candranaya. Memasuki bangunan ini terasa masuk ke dalam suasana rumah klasik seperti di film-film dari Tiongkok. Langit-langit yang tinggi didesain agar udara tidak terasa pengap dan panas ketika berada di dalam rumah. Beberapa lampion tergantung di atas, tulisan-tulisan Tionghoa, tempat sembahyang dan tak ketinggalan kolam di bagian belakang benar-benar ingin meyakinkan bahwa inilah gaya arsitektur rumah masyarakat Tionghoa.

Candranaya dahulu merupakan kediaman Mayor Khouw Kim An, Mayor Tionghoa terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942). Gelar mayor diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada pemimpin etnis Tionghoa yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa.

Perhimpunan sosial Xin Ming Hui pada tahun 1946 menyewa bangunan ini sebagai gedung perkumpulan. Organisasi ini sendiri bertujuan untuk membantu korban perang. Pada tahun 1965, tahun di mana warga Tionghoa dianjurkan untuk mengubah nama Tionghoa menjadi nama-nama Indonesia, gedung ini juga terkena dampaknya. Tempat ini selanjutnya dinamakan dengan Candranaya yang berarti sinar rembulan.

*****

“Ada dua versi asal-muasal nama Glodok,” Mas Farid menjelaskan ketika kami meninggalkan Candranaya menuju obyek berikutnya.

Versi pertama adalah dari sebuah pancuran yang ada di halaman gedung balaikota, dimana mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari para serdadu kompeni dan tidak ketinggalan untuk minum kuda tunggangan. Air pancuran ini berbunyi grojok-grojok, sehingga selanjutnya dilafalkan dengan glodok.

Versi kedua adalah dari Bahasa Sunda, Golodog, yang artinya pintu masuk rumah. Posisi Glodok yang berada di utara atau dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa membuatnya seperti menjadi pintu masuk bagi segala manusia maupun barang. Dari kata golodog itu selanjutnya lidah lebih enak menyebutnya Glodok.

“Dua versi tersebut sangat masuk akal, silahkan mau percaya yang mana” lanjut Mas Farid.

Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri Jalan Gajah Mada menuju kawasan Petak Sembilan. Bagian yang cukup terkenal di daerah ini adalah Gang Pancoran. Di gang ini banyak pedagang yang menjajakan barang layaknya di pasar tradisional. Kebetulan waktu itu adalah satu hari menjelang imlek, banyak pedagang yang menjual pernik-pernik imlek seperti kue keranjang, amplop angpao, sampai lampion.
glodok
Kue Keranjang

Ikan yang dijual di Gang Pancoran
Ada salah satu tradisi masyarakat Tionghoa dalam merayakan imlek, yaitu samseng yang kira-kira berarti tiga binatang kurban. Ketiga binatang ini mewakili unsur udara, darat dan air. Unsur udara biasanya diwakili oleh bangsa unggas, lalu darat oleh babi, dan air oleh ikan. Tidah heran jika tiga unsur tersebut mudah saya ditemukan di pasar Gang Pancoran.

Vihara Dharma Bhakti
Di ujung Gang Pancoran ada sebuah kelenteng atau vihara tertua di Jakarta, namanya Vihara Dharma Bhakti atau Kim Tek Le atau Jin De Yuan.
glodok
Pintu gerbang Vihara Dharma Bhakti

“Kelenteng ini berdiri pada tahun 1650,” terang Mas Farid meyakinkan bahwa sudah sangat tua umur tempat ini.

Istilah kelenteng hanya ada di Indonesia dan itupun awal munculnya dari tempat ini. Dulu nama tempat ibadah ini adalah Kwan Im Teng atau paviliun Kwan Im (Dewi Kwan Im). Karena lidah masyarakat Indonesia susah untuk melafalkannya, lebih mudah mengucapkannya dengan kelenteng maka sejak saat itu tempat ibadah masyarakat Tionghoa lebih dikenal dengan istilah kelenteng.
glodok
Sembahyang

glodok
Terlihat tiang-tiang yang menghitam bekas terbakar

glodok
Bagian dalam vihara

Vihara Dharma Bakti bisa dibilang menjadi pusat peribadatan masyarakat Tionghoa terutama di kawasan Glodok. Menyambut imlek, tempat ini menjadi sangat ramai.  Tidak hanya manusia, benda-benda peribadatan seperti lilin yang sangat besar juga memenuhi ruangan. Lilin-lilin besar ini adalah sebuah nazar atau bentuk ucapan syukur dari orang yang doanya telah dikabulkan. Layaknya api yang menyala, doa dan harapan juga tak pernah padam. Sayangnya, pada tahun 2015, lilin-lilin ini kemungkinan yang menyebabkan terbakarnya Vihara Dharma Bhakti. Sisa kebakaran masih bisa terlihat jelas pada tiang-tiang pada kelenteng yang terlihat hitam seperti arang. Sampai saat ini, tempat ini masih dalam tahap renovasi.

*****

Kami melanjutkan berjalan menyusuri Jalan Kemenangan di wilayah Glodok. Tujuan berikutnya adalah Gereja Santa Maria de Fatima. Karena sedang ada misa, hanya beberapa saja dari kami yang bisa masuk ke gereja yang dibangun pada tahun 50an itu.
glodok
Di depan gereja

glodok
Gereja Santa Maria de Fatima

Rintik-rintik kecil air mulai turun saat kami berjalan menuju Kelenteng Toa Se Bio. Letaknya tidak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima. Sama seperti Vihara Dharma Bhakti, kelenteng ini juga dipenuhi dengan lampion, lilin dan arsitektur bernuansa merah. Bau dupa tercium ketika langkah kaki memasuki kelenteng ini. Memang banyak orang yang sedang bersembahyang di dalam ruangan kelenteng yang bisa dibilang tidak terlalu luas sehingga terasa sangat ramai.
glodok
Kelenteng Toa Se Bio

Kami tidak terlalu lama berada di Kelenteng Toa Se Bio, selanjutnya kami berjalan melewati gang-gang kecil menuju Gang Gloria. Banyak orang yang menyebutnya sebagai gang kuliner. Memang tidak salah sebutan tersebut, karena banyak makanan yang dapat ditemui, bahkan beberapa diantaranya cukup terkenal. Sebut saja Kopi Es Tak Kie, Gado-gado Direksi, mie kangkung, dll. Tapi pastikan dulu dengan bertanya apakah makanan yang hendak dibeli halal atau tidak, karena banyak juga makanan yang mengandung daging babi.
glodok
Salah satu penjual di Gang Gloria

glodok
Mie Kangkung

Di ujung Gang Gloria, berujung pula walking tour kali ini. Mas Farid mengakhiri tour ini dengan meminta foto bersama kami. Tak lupa kami berterimakasih karena penjelasan yang bagus dan jelas selama tour ini berlangsung. Peserta berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Saya dan istri memilih untuk mengisi perut kami dengan menyantap mie kangkung yang memang terasa sangat lezat untuk mengakhiri tour yang sangat menambah wawasan.

Di Glodok pernah terjadi pembantaian ribuan warga Tionghoa saat jaman Belanda, di Glodok pula pernah terjadi huru-hara saat masa reformasi, tapi di tempat ini pula geliat ekonomi Kota Jakarta berkembang.


Informasi tentang Jakarta Walking tour bisa dilihat di https://jakartagoodguide.wordpress.com/

Senin, 07 April 2014

Desa Bena

10.21 // by dalijo // , // 7 comments


Desa Bena, Bajawa
Bena dan Gunung Inerie di belakangnya
Di kaki Gunung Inerie, sebuah kampung adat masih lestari menjaga tradisinya, Desa Bena namanya. Letaknya tidak begitu jauh dari pusat Kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, Flores. Jumlah rumah adatnya ada 45 buah, uniknya ada 9 suku yang ada di desa ini. Bayangkan ada satu suku yang cuma memiliki 3 rumah. Menarik sekali bukan.
Desa Bena, Bajawa
Desa Bena
Desa Bena, Bajawa
Kuburan yang ada di tengah-tengah desa
Desa Bena, Bajawa
Jajaran rumah
Desa Bena, Bajawa
Atap rumah
Desa Bena, Bajawa
Bunga Bougenville
Desa Bena, Bajawa
Seorang nenek sedang menggulung benang untuk menenun
Desa Bena, Bajawa
Kain tenun, tanduk kerbau, snack, dan deterjen
Desa Bena, Bajawa
Kain tenun yang dijual
Desa Bena, Bajawa
Seorang ibu sedang menenun
Desa Bena, Bajawa
Seorang ibu sedang membuat pola kain tenun

Sabtu, 22 Februari 2014

Jalan ke Waerebo

05.21 // by dalijo // , , , // 44 comments

WaereboSebuah desa terpencil itu kini semakin dikenal luas bahkan lebih dikenal dunia dahulu daripada di negerinya sendiri. Orang setempat mengistilahkan Waerebo lebih dahulu mendunia setelah itu baru meng-Indonesia.

Kampung Waerebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat. Dikungkung gunung-gunung membuatnya terisolasi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakatnya harus berjalan kaki menembus hutan sepanjang 9 kilometer untuk sampai ke Denge, desa paling dekat.


Lalu bagaimana jika kita ingin mengunjungi Waerebo? Penduduk Waerebo jika ingin melihat dunia luar adalah menuju Denge terlebih dahulu, begitu juga sebaliknya jika kita ingin menuju Waerebo, kita harus ke Denge juga. Untuk menuju Denge menggunakan transportasi umum dimulai dari Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Ada penerbangan langsung ke Ruteng dari Denpasar, hanya saja tidak setiap hari. Lebih mudah untuk ke Labuan Bajo terlebih dahulu baru dilanjutkan menggunakan bus atau travel menuju Ruteng.
Waerebo
Oto kayu menuju Denge/Dintor
Transportasi dari Ruteng ke Denge atau Dintor (Dintor adalah desa di dekat Denge) tidaklah banyak. Ada bemo, semacam angkot, yang beroperasi tidak setiap hari. Yang setiap hari tersedia adalah oto kayu, truk yang bagian bak belakangnya disulap dengan papan-papan untuk tempat duduk penumpang. Oto kayu ini pun hanya ada dua (kadang cuma satu) yang beroperasi. Mereka berangkat dari Terminal Mena di Ruteng sekitar jam 9 sampai 10 pagi. Sampai di Denge sekitar jam 2 siang. Jika ingin lebih fleksibel waktunya bisa menggunakan ojek, tapi harus siap terjaga selama perjalanan.
Waerebo
Homestay Wejang Asih, Denge
Di Dintor ada sebuah penginapan namanya Waerebo Lodge, yang dimiliki oleh Pak Martinus Anggo, orang Waerebo asli. Sedangkan di Denge, desa terakhir sebelum perjalanan menuju Waerebo, ada homestay Wejang Asih milik Pak Blasius Monta, juga orang Waerebo. Di dekat homestay Wejang Asih ini pula terdapat Pusat Informasi dan Perpustakaan Desa Waerebo. Pak Blasius Monta dan Pak Martinus Anggo adalah dua orang yang sering mempromosikan Waerebo sebagai tempat wisata. Mereka ini masih memiliki hubungan keluarga, tepatnya saudara sepupu.

Untuk memulai trekking menuju Waerebo, sebaiknya dilakukan pagi-pagi sekali karena sekitar 3-4 kilometer awal perjalanan tidak tertutup oleh pepohonan yang rindang. Jadi apabila trekking siang hari akan tersengat sinar matahari yang akan mengucurkan keringat. Bukan berarti untuk menghindari matahari lalu memilih jalan malam, karena hal ini tidak diperbolehkan. Trek yang dilalui merupakan tanah yang labil dan rawan longsor jadi sangat berbahaya jika trekking dilakukan malam hari.
Waerebo
Hutan menuju Waerebo

3-4 kilometer awal perjalanan adalah jalanan yang cukup untuk pemanasan. Tanjakannya belum terlalu curam dan jalanannya tidak sempit. Trek selanjutnya adalah jalan setapak di tengah hutan yang sangat rimbun. Beberapa kali jalurnya berada di pinggiran tebing yang langsung berbatasan dengan jurang yang sangat dalam. Jalanannya menanjak terus sampai di titik jarak 2400 meter sebelum Desa Waerebo, setelahnya adalah jalan datar. Jika saat musim hujan, tanah sangat licin dan banyak lintah, jadi kewaspadaan harus lebih tinggi. Kurang dari satu kilometer jalanannya turun dan melewati kebun kopi. Kira-kira 3-4 jam trekking untuk mencapai Waerebo.

Selanjutnya penduduk Waerebo akan menyapa dengan sangat ramah dan senyum yang sangat manis. Selamat datang di Waerebo…

Waerebo
Waerebo

Informasi :
Travel Labuan Bajo – Ruteng : 70 ribu (4-5 jam)
Oto kayu Ruteng – Denge/Dintor : 30 ribu (4 jam) dari Ruteng sekitar jam 9-10 pagi. Dari Denge/Dintor – Ruteng oto kayu start pagi-pagi sekali dari jam 3-5 pagi
Ojek Ruteng – Dintor/Denge : 150ribu-200ribu
Homestay Wejang Asih : 175 ribu/hari/orang dapat makan selama tinggal, hubungi Pak Blasius Monta 081339350775 (sms saja karena sinyal sulit)
Guide/porter ke Waerebo (wajib) : 150ribu
Menginap di Waerebo : 250ribu/orang (dapat makan selama tinggal) jika tidak menginap membayar 100ribu/orang
Sebelum berkeliling desa pengunjung harus masuk ke rumah utama (rumah gendang) dan disambut dengan Upacara Wae Lu'u terlebih dahulu untuk memohon ijin kepada para leluhur untuk menerima tamu. Siapkan uang 20ribu/rombongan atau seikhlasnya sebagai sesaji.

Tulisan lain tentang Waerebo >> Pariwisata Menyelamatkan Waerebo

Sabtu, 28 Desember 2013

Photo Story : Sabung Ayam

17.06 // by dalijo // , // 17 comments

Sabung Ayam

Sorak-sorai penonton mengiringi dua ekor ayam yang sedang bertarung beradu ketangguhan. Mereka sangat antusias melihat tiap gerak ayam petarung yang mereka dukung. Darah mulai bercucuran, sorakan semakin ramai. Ini pertarungan berdarah.

Selasa, 03 Desember 2013

Desa Tradisional Penglipuran

12.10 // by dalijo // , // 7 comments

Desa Penglipuran
Bapak-bapak dengan pakaian adat Bali saling bercanda dan bercengkerama di bale-bale yg terletak di tengah desa. Senyum kadang diselingi tawa mewarnai obrolan mereka. Terlihat sangat rukun antar tetangga.

“Kami sedang ada pertemuan rutin bulanan” kata Pak Wayan. Sosok bapak setengah baya yang terlihat rapi dengan pakaian adat dan udeng yang melingkar di atas kepalanya. Saya lupa nama belakangnya. Di Bali kalo mencari seseorang hanya bermodal nama depan saja sama halnya dengan iklan suatu jasa pengiriman yang mencari nama Wang di China, banyak sekali yang punya nama tersebut.

Rabu, 09 Oktober 2013

Pernikahan yang Tertunda

23.02 // by dalijo // , // 22 comments

pernikahan Bali

Sekitar 5 tahun yang lalu, Made Dedik Suriawan meminang seorang gadis yang sudah dipacarinya beberapa tahun. Rumah mereka tak terlalu jauh, bisa dibilang bertetangga. Pernikahan dilangsungkan dan disahkan secara keluarga akan tetapi karena ada beberapa hal, pernikahan itu belum sah secara agama Hindu Bali.

Rabu, 14 Agustus 2013

Mencari Keberuntungan di Tirta Empul

14.11 // by dalijo // , // 9 comments

Tirta Empul, Bali

Pura Tirta Empul tak begitu ramai siang ini. Tak seramai ketika saya pernah kesini sebelumnya. Memang waktu saya kesini sebelumnya tepat pada hari minggu dan juga ketika bulan purnama. Sedangkan saat ini adalah hari biasa, bukan hari libur maupun hari penting untuk bersembahyang umat Hindu. Bisa disimpulkan kalau ingin melihat orang berjubel di sini carilah hari libur atau hari sembahyang umat Hindu, kalau pengen yang selo ya seperti saya saat ini.

Pura ini agak lain dari kebanyakan pura di Bali. Selain letaknya yang di dekat Istana Kepresidenan Tampak Siring (Pura Tirta Empul jauh lebih dulu ada dibanding istana), juga karena adanya mata air dan pancuran untuk membersihkan diri.
Tirta Empul, Bali
Kolam untuk melukat
Ada 3 kolam untuk melukat atau membersihkan diri. Kolam pertama cukup besar mungkin sekitar 20 x 5 meter, lalu kolam kedua ukurannya kecil sekitar 3 x 5 m, sedangkan kolam terakhir berukuran medium sekitar 10 x 5 meter. Total pancuran yang ada berjumlah 20 pancuran. Kolam pertama dipisahkan tembok dari kolam kedua dan ketiga. Yang saya lihat kebanyakan para peziarah hanya melukat di kolam pertama saja karena ternyata memang kedua kolam lainnya diperuntukkan bagi keperluan yang lain. Ketika saya mencoba menyentuh airnya, nyessss dinginnn.
Tirta Empul, Bali
Orang yang melukat/membersihkan diri

Tirta Empul, Bali
Bule pun ikut melukat
Yang hendak membersihkan diri, mereka akan membasuh kepala dengan air yang mengalir dari pancuran. Satu persatu pancuran didatangi lalu berdoa di depannya dan selanjutnya membasuh kepala mereka. Jika membawa canang yang berisi sesaji akan diletakkan di atas pancuran. Begitu terus sampai ke pancuran terakhir.
Tirta Empul, Bali
Pancuran dengan canang sesaji di atasnya
Air yang mengalir di pancuran tadi berasal dari sumber mata air yang berada tak jauh dari kolam. Air terlihat keluar menyembur dari tanah membuatnya terlihat seperti mendidih. Di sekelilingnya banyak terdapat tumbuhan hijau  menandakan airnya cukup sehat untuk ditumbuhi makhluk hidup.

Tiba-tiba teman saya menunjuk ke arah rimbunnya tumbuhan hijau tersebut lalu bilang bahwa dia melihat ada belut dengan ukuran yang cukup besar. Saya mencoba mengikuti arah dari jari telunjuknya itu, namun tetap tak melihat hewan yang dimaksud. Sampai akhirnya hewan itu bergerak dan saya hanya melihat sekelebat ekornya saja.
Tirta Empul, Bali
Sumber Mata Air Tirta Empul
“Mas ini akan dapat keberuntungan”, kata bapak yang meminjami selendang di depan pura yang mendengar kisah kami tentang belut (untuk memasuki pura memang semua orang harus memakai selendang).

Menurut kepercayaan di sini, orang yang melihat belut raksasa itu akan mendapat keberuntungan dalam hidupnya. Bila dipikir kami memanglah orang beruntung bisa melihat belut itu yang menyaru di antara tumbuhan yang hidup di dalam kolam mata air. Tak banyak yang pernah melihatnya meskipun konon tak hanya ada satu belut saja yang tinggal di sana.

“Di kolam lain pun sebenarnya ada belutnya, mas. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya”, lanjut bapak tadi.

Wah ternyata saya bukanlah termasuk diantara orang-orang tertentu itu.
Tirta Empul, Bali
Kolam dengan banyak koin
Yang menarik adalah di kolam mata air ada papan peringatan agar tidak melemparkan koin ke dalamnya, mengingat ada kolam lain di kompleks ini yang sudah cukup banyak dilempari koin. Hal ini mirip dengan kepercayaan akan memperoleh keberuntungan apabila melempar koin pada beberapa air mancur yang ada di Eropa. Ahhh ternyata kolam kuno yang ada di pelosok Bali pun sudah terkena kepercayaan masyarakat barat. Untungnya saya tidak membawa satu koin pun untuk dilempar. Sayang juga sama koinnya.

Selasa, 21 Mei 2013

Kedasa Batur

23.19 // by dalijo // , // 22 comments


kedasa batur
Penari dalam acara kedasa Batur
Sedari siang langit tak terlihat ceria karena mendung menutupi sebagian besar wajahnya. Sekarang setelah siang tergelincir tetap saja tak ada perubahan berarti, bahkan gumpalan awan mendung di atas sana sebagian sudah berubah menjadi titik-titik air yang jatuh ke tanah. Namun berbeda dengan wajah masyarakat Desa Batur, meski gerimis turun mereka tetap tampak begembira dan bersemangat menyambut sore ini. Desa Batur punya hajatan besar, odalan Pura Batur.

Kamis, 24 Januari 2013

Tradisi Sekaten Kraton Yogyakarta

20.55 // by dalijo // , // 10 comments


Sekaten, Kraton Yogyakarta
Prajurit keluar dari Pratjimosono, tempat persiapan prajurit
Sekitar 1500 tahun yang lalu tepatnya 20 April 570 atau dalam kalender Arab pada 12 Rabiulawal tahun Gajah, seorang Nabi besar pembawa Agama Islam dilahirkan, beliau adalah Muhammad SAW. Sampai sekarang hari kelahirannya masih diperingati oleh umatnya, tak terkecuali oleh Keraton Yogyakarta dengan rangkaian acara yang disebut Sekaten.

Sekaten sejatinya berasal dari kalimat Syahadatain, oleh lidah orang Jawa pelafalannya dipermudah menjadi sekaten. Konon Sekaten berawal saat zaman Kerajaan Demak, saat raja pertamanya yaitu Raden Patah menyiarkan agama Islam. Saat itu masyarakat Jawa mayoritas masih menganut agama Hindu dan sebagian lagi beragama Budha, dan hampir semuanya menyenangi kesenian gamelan. Hal ini digunakan oleh Raden Patah untuk menarik simpati masyarakat, dia berdakwah dibantu oleh para wali dengan menggunakan iringan gamelan. Akhirnya masyarakat yang datang diajak memeluk agama Islam dengan membaca 2 kalimah syahadat atau yang disebut Syahadatain.

Minggu, 20 Januari 2013

Sekilas Pasar Triwindu Solo

21.11 // by dalijo // , // 6 comments


Pasar Triwindu, Solo, Jawa Tengah
Pasar Triwindu
Suatu siang pada pertengahan Januari, gerimis sedang membasahi kota Solo. Saya sedang berada di dekat tempat yang cukup menarik di kota itu, Pasar Triwindu. Sekalian saja saya mampir untuk berteduh dan melihat-lihat suasana pasar. Barang-barang antik yang dijual di pasar ini seperti membawa saya ke jaman dahulu, jauh sebelum saya dilahirkan. Pengunjung sedang tak banyak, untuk mengusir kejenuhan para pedagang mengobrol dengan pedagang yang lain ada juga yang bermain kartu atau sekedar menikmati rokoknya. Meski tak ada hingar bingar tetap saja tempat ini adalah tempat yang menawarkan keklasikan yang menarik.

Rabu, 07 November 2012

Hilangnya Simbol Keangkaramurkaan

12.41 // by dalijo // , // 5 comments


Metatah
Metatah
Matahari masih jauh terlelap dalam tidurnya saat keluarga Wayan Suwela sudah mulai sibuk mempersiapkan segala hal untuk prosesi upacara penting pagi itu. Walaupun sebenarnya tadi malam semuanya sudah disiapkan tapi kali ini adalah persiapan finishing sebelum acara benar-benar dimulai.

Rabu, 05 September 2012

Tari Kecak dan Api Uluwatu, Kolaborasi Spektakuler Alam dan Budaya

17.04 // by dalijo // , , // 5 comments


Tari Kecak, Uluwatu, Bali
Tari Kecak
Akhir pekan sepertinya terlalu berharga untuk dilewatkan bersantai-santai saja di kamar. Apalagi saya tinggal di Bali. Tempat wisata paling terkenal di negara ini. Siang menjelang, cerah menjarang, lalu merugilah jika tidak keluar rumah.

Rencana utama saya kali ini adalah menonton pertunjukan tari kecak di Uluwatu, suatu tempat di ujung selatan Pulau Bali. Berhubung jalan sebelum Uluwatu juga terdapat pantai-pantai yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, tidak ada salahnya sekedar mencicipi hidangan pembuka sebelum menyantap main coursenya.