• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 06 September 2014

Gua Batu Cermin Bercerita

21.54 // by Wisnu Yuwandono // , // 13 comments

Batu-batuan adalah pencerita sejarah yang paling ulung, begitulah kira-kira para geolog mendeskripsikan apa yang tercetak pada batu-batu yang mereka teliti. Bagi yang bukan ahli dalam bidang teresebut atau katakanlah orang awam, mungkin kalimat itu terasa aneh. Bagaimana mungkin benda mati bisa menceritakan sejarah? Ternyata batuan itu adalah lukisan alam, dari sana para ahli itu bisa membaca apa yang terjadi di masa lampau.

Dari pergerakan bumi dan segala aktivitasnya, salah satu hal yang terbentuk adalah gua. Gua adalah lubang pada batuan besar, bisa di gunung, di tebing, atau sejenisnya. Yang menarik dari gua adalah dia juga merupakan pencerita sejarah yang sangat hebat. Tidak hanya sejarah dari bumi sendiri tetapi sering kali di dalam gua terdapat jejak-jejak kehidupan masa lampau. Kita tahu manusia jaman dahulu mempergunakan gua sebagai tempat tinggal. Mereka lalu meninggalkan peralatan mereka di sana, kadang mereka menggambar dinding-dinding gua, ada pula sisa-sisa makanan yang tertinggal, dan bahkan tulang belulang mereka sendiri masih ada di dalam gua.

Awal Februari kemarin saya sempat berada di Labuan Bajo, ujung barat Pulau Flores. Selain wisata baharinya yang memang menakjubkan ada juga gua yang bisa memaparkan sejarah kawasan itu. Nama gua itu adalah, Gua Batu Cermin.

Saya, berdua bersama partner saya, setelah makan siang menuju ke Gua Batu Cermin menggunakan sepeda motor sewaan. Letak gua tersebut tidaklah jauh dari dermaga, yang merupakan pusat keramaian Labuan Bajo, mungkin sekitar 3-4 kilometer jaraknya.

Jalan yang dilalui cukup bagus, hanya 100 meter sebelum kawasan gua saja jalanannya tidak diaspal, atau mungkin lapisan aspalnya sudah rusak. Kami berhenti tepat di depan pos retribusi, di sana ada dua petugas yang menjaga. Saya lupa berapa jumlah uang yang harus dibayar satu pengunjung.

Setelah memarkirkan motor, satu orang petugas mendatangi kami dan membawa dua helm sebagai perlengkapan standar untuk masuk gua. Lucunya, dia sendiri malah tidak memakainya. Orang yang paling berpengalaman mungkin merasa paling aman. Selanjutnya dia memperkenalkan dirinya dan akan menjadi pemandu kami untuk menyusuri gua. Saya lupa namanya, yang saya ingat dari paras wajahnya dia masih berumur awal 20 tahunan.

Dari tempat parkir, kami berjalan menuju gua dengan melewati jalan kecil dengan tatanan paving block, seperti jalanan di taman. Di kanan kiri tumbuh rimbun pohon bambu, bukan bambu biasa yang diameter batangnya cukup besar tapi bambu yang kecil tapi karena sangat rimbun dan saling berhubungan antara bambu di seberang dengan seberangnya hingga membuat cahaya agak tertutup, bahkan berbentuk seperti lorong. Tidak heran jika paving block sebagian ditumbuhi lumut.

“Plakkkk….” Saya menampar betis saya. Ada nyamuk yang baru saja hinggap di sana. Beberapa bagian tubuh sudah bentol-bentol habis digigit nyamuk. Ternyata bambu-bambu itu juga menjadi sarang nyamuk.

Setelah berjalan kira-kira 300 meter, barulah kami sampai di depan mulut gua. Jangan berpikir mulut gua ini seperti gua yang hanya berlubang satu. Gua Batu Cermin adalah kumpulan beberapa batu besar yang membentuk celah dan ruangan-ruangan di dalamnya. Jadi sebenarnya tidak jelas di mana mulut utama guanya.

Fosil di Batu Cermin
Fosil terumbu karang
Kami langsung ditunjukkan fosil terumbu karang yang tercetak di dinding batu. “Ribuan tahun yang lalu tempat ini adalah dasar lautan, lalu karena proses alam batu-batu terangkat dan sebagian menjadi fosil ini.” Sang pemandu menjelaskan. Memang terlihat jelas bentuk dari koral yang sudah menjadi fosil tersebut.

Selanjutnya kami melangkah di bagian celah dari dua dinding. Di sana terdapat stalagmit yang menjulang cukup tinggi. Di bagian lain, sambil menengadah dan menunjuk, pemandu bilang, “Itu adalah batu-batu yang runtuh karena gempa besar di Flores awal tahun 90an.” Ada beberapa batu yang terjepit di antara celah dan menggantung di atas. Terlihat seperti hendak jatuh, akan tetapi sang pemandu masih menjamin keamanan kami. “Aman, mas!”
Batu Cermin
Batu yang terjepit hendak jatuh
Berikutnya kami diajak menuju bagian dalam di mana cahaya matahari semakin redup. Pemandu hanya membawa satu senter, untungnya saya membawa powerbank yang ada senternya, sedangkan partner saya tidak membawa apa-apa. Jadi posisi selanjutnya pemandu berjalan di depan dan saya paling belakang. Beberapa kesempatan kami harus menunduk karena lubang yang akan dilewati begitu kecil dan pendek. Suasananya sangat lembab, tanahnya pun sangat becek.

Kami berada di ruangan yang sangat gelap sempurna. Tak ada cahaya sama sekali apabila kami mematikan senter. Saya tak bisa mengira dengan tepat berapa luasnya. Langit-langitnya juga tak begitu tinggi. Pemandu mengajak kami untuk melihat satu titik di langit-langit, dan mengarahkan senternya pada sebuah tonjolan kecil. “Para ahli bilang kalau ini adalah fosil penyu” katanya.

Saya begitu, kalau bisa dibilang, terpesona dengan fosil itu. Bentuknya jelas sangat mirip dengan penyu. Cangkangnya yang menonjol dengan pola kotak-kotak lalu kepalanya yang lancip. Benar-benar fosil yang sangat sempurna. Di dalam ruangan ini juga ada binatang yang hidup meski tak ada cahaya. Bentuknya seperti laba-laba dengan warna hitam, akan tetapi badannya sangat tipis dan kakinya panjang-panjang.
Batu Cermin
Fosil penyu
Kami selanjutnya keluar dan menuju ke ruangan lain. Tanah masih becek dan cahayanya juga masih minim. Dengan menunduk dan beberapa kali juga memiringkan badan agar bisa melewati celah yang sempit, kami sampai di ruangan yang di atasnya ada lubang kecil untuk masuknya cahaya matahari.  Dari ruangan kami berdiri, saat sinar matahari masuk dari lubang di atas, apabila baru saja ada hujan maka akan ada genangan di tanah yang akan memantulkan bayangan tubuh kita, seperti cermin. Maka dari itu nama tempat ini disebut Batu Cermin. Sayangnya saat itu tak ada air yang tergenang dan posisi matahari tidak pas pada lubang jadi cerminan tubuh saya tak dapat tergambar dengan jelas.

Dari tempat ini kita bisa simpulkan bahwa keindahan bawah laut Flores tak hanya ada pada jaman sekarang saja, tapi dari masa lampau pun kekayaan itu sudah ada. Memang benar kata para geolog itu, batuan adalah pencerita sejarah paling ulung.

Batu Cermin
Fosil ikan

Batu Cermin
Saya baru menyadari saat melihat-lihat foto di komputer bahwa bentuk salah satu dinding di Gua Batu Cermin ada yang mirip bentuk wajah orang .

Trivia:
Bagaimana cara para ahli mengetahui umur suatu fosil?
Dengan cara memanfaatkan unsur radioaktif. Unsur-unsur radioaktif menjadi jam yang sangat bagus karena mereka meluruh menurut jadwal waktu yang ketat. Sebagai contoh uji karbon. Uji ini dilakukan karena organisme mengambil karbon-12 yang biasa dan karbon-14 yang radioaktif dari udara dan air. Uji ini menganggap bahwa rasio karbon (C-12 dan C-14) di udara dan air tetap sama selama ribuan tahun dan itulah yang ditelan mikroorganisme. Karbon-12 jumlahnya tetap di dalam organisme, sedangkan karbon-14 meluruh sesuai waktu dan separuhnya lenyap dalam waktu 5.730 tahun. Jadi apabila ingin menentukan umur suatu fosil bisa dengan mengukur jumlah relatif kedua karbon tersebut.

Jumat, 22 Agustus 2014

Romantisme pada Sebuah Angkot

13.48 // by Wisnu Yuwandono // // 12 comments

Di Nusa Tenggara Timur, angkutan umum biasa memutar lagu dengan keras-keras. Biasanya lagu yang diputar beraliran hip-hop atau house music, bisa dikata musik ajeb-ajeb. Bahasa musiknya tak hanya Indonesia tetapi juga ada yang berbahasa Inggris atau bahasa daerah. Saya pribadi tak begitu suka dengan jenis musik seperti itu, apalagi diputar dengan suara keras, sangat tidak nyaman.

Mungkin jenis lagu disko menjadi tren anak muda di wilayah NTT, atau bisa jadi juga bagi orang tua, karena pengguna angkutan umum tak hanya para pemuda. Saya perhatikan semua jenis angkutan umum memiliki fasilitas sound system yang bisa mengeluarkan suara yang menggelegar, dari luar kendaraan saja terdengar begitu nyaring apalagi yang sedang berada di dalam, yang tak terbiasa telinganya bisa kena gangguan. Sayang tak ada fasilitas ear plug, kalau ada saya pasti akan menggunakannya.
angkot NTT
Salah satu angkot di NTT
Jenis angkutan umum yang ada di sana adalah angkot, bus, juga oto kayu (truk yang bak belakangnya dijadikan tempat penumpang). Banyak juga mobil pribadi yang digunakan untuk membawa penumpang. Hampir semuanya memutar lagu dengan keras. Hanya ojek saja yang tak pernah memutar lagu.
Jika kau mendengar sebuah lagu saat jatuh cinta, maka kau akan jatuh cinta saat mendengar lagu itu lagi - Anonim
Awal Februari 2014 ini, saya bersama pacar saya berada di Kupang. Kami sebenarnya hendak menuju Rote, akan tetapi badai dan gelombang yang tinggi membuat kami mengurungkan niat itu. Selanjutnya kami mengubah tujuan untuk ke Flores saja dengan menggunakan pesawat terbang.

Kami menginap di daerah dekat Kota Lama Kupang. Untuk menuju bandara El Tari ada beberapa pilihan, ojek dan angkot ada di list pertama. Di sini angkot disebut dengan bemo. Banyak sekali jurusannya dan ternyata tidak ada bemo yang mengantar tepat sampai di bandara. Akhirnya kami memilih untuk naik bemo terlebih dahulu lalu disambung dengan naik ojek. Pilihan ini diambil karena jika naik ojek dari tempat kami menginap sampai bandara, tukang ojeknya mematok harga yang cukup mahal.

Kami naik bemo tujuan Oesapa. Selain kami hanya ada dua penumpang lain. Memang tak begitu ramai penumpang hari itu, mengingat itu hari minggu yang bisa digunakan masyarakat untuk bersantai di rumah saja.

Tak ada yang istimewa dari bemo yang kami naiki. Hanya saja ketika kami sudah masuk ke dalamnya, saya baru menyadari kalau lagu yang diputar bukanlah lagu jenis ajeb-ajeb. Musik slow rock lawas sedang keluar dari dalam speaker. Memang suaranya tetap memekakkan telinga, tapi setidaknya lagunya bisa saya nikmati. Lumayan.

Setelah beberapa lagu diputar, tak disangka-sangka lagu selanjutnya adalah lagu favorit kami berdua. Dari mulai intro, saat itu pula kami saling berpandangan, tersenyum dan berpegangan tangan. Ummm, kalau saja momen itu tidak di tempat umum mungkin saja kami selanjutnya akan…… menyanyi bersama dengan keras-keras.

“I wanna make you smile, whenever you’re sad…..” Adam Sandler mulai mengeluarkan suaranya. Kami sama-sama tersenyum. Saya tak bisa membaca pikirannya tapi saya yakin dia merasakan hal yang sama dengan saya, gembira yang datang tiba-tiba.

Bagi kami, itu adalah lagu yang sangat berkesan dan sangat romantis dalam hubungan cinta kami. Lagu itu bukanlah lagu cinta mainstream yang sering diputar dimana-mana. Di tempat yang biasa memutar lagu disko, secara sangat kebetulan lagu yang diputar adalah lagu yang sangat jarang diputar dimanapun, akan tetapi saat kami ada di dalamnya lagu I Wanna Grow Old With You lah yang terputar. Itulah yang membuat momen di dalam bemo kali itu terasa sangat romantis. What a coincidence.

Dalam perjalanan memang banyak terjadi hal-hal yang sangat mengejutkan dan tak disangka-sangka. So far, momen di dalam bemo itulah yang menjadi kejadian paling romantis yang pernah kami rasakan. Meski hanya di dalam sebuah angkot.


"I could be the man who grows old with you... I wanna grow old with you." Adam Sandler mengakhiri lagu itu.

Rabu, 13 Agustus 2014

Pariwisata Menyelamatkan Waerebo

13.12 // by Wisnu Yuwandono // // 17 comments

Pariwisata Waerebo
7 rumah kerucut di Desa Waerebo
Lebih dari beberapa dasawarsa mbaru niang atau rumah tradisional berbentuk kerucut yang ada di Desa Waerebo jumlahnya tinggal empat buah saja. Rumah yang tersisa itu pun sebenarnya sudah sekarat kondisinya, lapuk dimakan usia. Masyarakatnya tak mampu lagi untuk membangun kembali dan melengkapinya menjadi tujuh buah rumah sepeti seharusnya. Kurangnya biaya menjadi alasan utama.

Tahun 2008 datanglah rombongan Yori Antar bersama rekan-rekanya. Mereka adalah para arsitek yang penasaran dengan kampung tradisional di pedalaman Flores ini. Hanya berdasarkan informasi dari internet dan kartu pos yang bergambar Waerebo membuat mereka begitu tertarik lalu nekat berangkat ke sana.

“Kami kaget dengan kedatangan rombongan turis dalam negeri. Mereka adalah wisatawan Indonesia pertama yang datang ke Waerebo” kata Alexander Ngandus, tetua Desa Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Pak Alex, tetua desa
Pak Alex bercerita tentang kedatangan mereka saat itu. Warga Waerebo sedang memperbaiki salah satu rumah kerucut bersama dengan orang-orang dari Taiwan. Hujan begitu deras mengguyur, namun semangat mereka tidak luntur untuk terus bekerja. Pada saat sedang sibuk-sibuknya itu muncul rombongan warga Indonesia dengan keadaan basah kuyup.

“Sebenarnya ada rasa jengkel saat itu. Kami sedang sibuk memperbaiki rumah tapi tiba-tiba harus menerima tamu yang cukup banyak. Kami hanya bisa menyambut mereka dengan seadanya saja. Hanya kain sarung yang bisa kami sediakan untuk menutupi badan mereka yang basah kuyup” kenang Pak Alex.

Tak disangka justru kedatangan Yori Antar dan kawan-kawan yang awalnya ‘merepotkan’ ini malah selanjutnya memberi anugerah kepada masyarakat Waerebo. Melihat kondisi Waerebo yang sudah sekarat, Yori Antar dengan Yayasan Rumah Asuh berupaya untuk mengembalikan keadaannya kembali sehat. Bantuan dari swasta dan pemerintah serta beberapa donatur mulai mengalir, mereka tergerak untuk menyelamatkan Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Pak Rofinus yang menyambut kami di Mbaru Tembong(rumah utama)
Tahun 2010, dua rumah kerucut yang sudah sekarat direnovasi. Selanjutnya tahun 2011 tiga rumah kerucut yang sebelumnya hilang dibangun kembali. Akhirnya Waerebo memiliki tujuh rumah kerucut lagi seperti sedia kala. Tahun berikutnya dua rumah lagi direnovasi, sehingga sekarang ketujuh rumah ini dalam kondisi yang sangat bagus.

“Sangat sulit untuk membangun kembali mbaru niang tanpa bantuan dari luar Waerebo” terang Blasius Monta, warga Waerebo yang menjadi guru SD Denge. Pak Blasius sendiri sekarang tidak tinggal di Waerebo, dia tinggal di Denge, desa terakhir sebelum ke Waerebo.

“Pada tahun 1997 Pemda Manggarai pernah merenovasi Mbaru Tembong -rumah utama di Waerebo- biayanya sekitar Rp 30 juta. Lalu yang kemarin ini satu rumah membutuhkan biaya sekitar Rp 300-an juta. Kami tidak mampu kalau harus menanggungnya sendiri” lanjutnya.

Untuk membangun kembali ketujuh rumah tersebut, kebanyakan material memang tersedia di sekitar desa. Akan tetapi jumlahnya tidak mencukupi lagi, sehingga ada beberapa material yang harus di datangkan dari luar daerah. Itulah yang menyebabkan biaya menjadi membengkak.
Pariwisata Waerebo
Bagian dalam rumah yang khusus dipake untuk para tamu
Pak Blasius menceritakan sebelum kedatangan rombongan Yori Antar yang membuat Waerebo dikenal di dalam negeri, kampung ini sudah banyak dikenal oleh kalangan wisatawan asing. Sebelum tahun 2000-an hanya ada beberapa turis saja yang datang. Dari situ Pak Blasius meminta foto-foto dari mereka. Selanjutnya pada awal tahun 2000-an Pak Blasius berupaya mengenalkan kampung halamannya dengan memasang foto-foto tersebut di beberapa hotel dan travel agen di kota Ruteng. Dari foto-foto tersebut pada awal tahun 2002 datanglah beberapa turis asing ke desa ini. Lambat laun menyebarlah berita tentang keindahan arsitektur dan keramahan Waerebo ke berbagai kalangan.

Rumah Pak Blasius disulap menjadi homestay untuk mengakomodir kebutuhan istirahat para tamu sebelum berangkat atau sesudah turun dari Waerebo. Homestay Wejang Asih miliknya tersedia setidaknya 11 kamar yang bisa disinggahi untuk mengumpulkan kekuatan sebelum berjalan sekitar 3 jam atau lebih ke Waerebo ataupun untuk mengembalikan tenaga ketika setelah turun.

Bahasa Inggris cukup dikuasai oleh Pak Blasius. Hal ini dirasa penting olehnya karena memang turis asing masih mendominasi jumlah kunjungan, meskipun akhir-akhir ini traveler dalam negeri mulai mengimbangi. Selain Pak Blasius penduduk Waerebo juga sudah bisa mengucapkan beberapa kata umum dalam Bahasa Inggris. Beberapa kali ada bimbingan bahasa asing untuk warga Waerebo oleh mahasiswa sekolah bahasa dari Ruteng.

Waerebo terus berbenah dalam menerima tamu. Untuk menata administrasi pariwisata mereka membentuk Lembaga Pariwisata Waerebo (LPW). Dari lembaga ini ditentukan tarif untuk bermalam di Waerebo sebesar Rp 250 ribu sudah termasuk 3 kali makan. Jika tidak menginap pengunjung membayar retribusi Rp 100 ribu. Sebagian orang menganggapnya terlalu mahal untuk membayar sebesar itu. Tapi saya rasa uang sebesar itu cukup wajar mengingat bahan makanan yang kita makan saat di sana harus diambil dari desa di bawah yang jaraknya sekitar 9 km lebih. Mereka harus memikul beras dan kebutuhan pokok lain mendaki gunung untuk sampai kembali di Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Seorang ibu sedang menenun kain songke
Meski pariwisata terus menggeliat di sini, warga Waerebo tidak lantas berpangku tangan dari para wisatwan, mereka tetap bekerja di bidangnya seperti sebelumnya. Mereka memiliki kebun kopi yang hasilnya dijual ke desa di bawah dan selanjutnya ke para pengepul kopi. Ibu-ibu juga tetap menenun kain songke yang untuk dipakai pribadi atau dijual. Semuanya berjalan seperti biasa.
Pariwisata Waerebo
Seorang nenek sedang mengumpulkan kopi yang habis dijemur

Pariwisata Waerebo
Anak kecil yang bermain di halaman
Saat ini tiap malam sampai sekitar jam 22.00 WITA ada generator yang bekerja untuk menyalakan lampu. Sudah beberapa tahun hal ini berjalan. Hasil dari kunjungan wisatawan itu salah satunya untuk memberi minum solar kepada generator. Belum lama ini juga ada kelompok dari Bandung yang akan membangun PLTA untuk menggantikan generator solar. Mereka hendak memanfaatkan sumber air yang melimpah di sekitar Waerebo. Rencananya proyek ini akan dimulai tahun ini. Meskipun listrik sudah masuk ke sini, untuk menjaga keaslian rumah dan budaya mereka televisi masih dilarang keberadaannya.


"Tiap kali ada tamu yang datang ke sini selalu bilang kepada kami untuk menjaga adat yang kami miliki. Tanpa ada himbauan dari mereka pun kami akan tetap menjaga tradisi leluhur kami" Pak Alex menyudahi percakapan kami di salah satu Mbaru Niang tempat tinggalnya.
Pariwisata Waerebo
Seorang ibu yang pulang dari mencari kayu bakar


Tulisan lain tentang cara ke Desa Waerebo >> Jalan ke Waerebo


Jumat, 08 Agustus 2014

AirAsia Merekatkan Hubungan Keluarga

19.57 // by Wisnu Yuwandono // 4 comments

Keluarga adalah matahari kehidupan yang menyinari dan menuntun langkah dalam menjalani hidup. Bagi saya, keluarga itu seperti udara yang kita hirup saat bernafas. Juga seperti ranjang yang kita pakai saat tidur. Keluarga adalah rumah, rumah adalah keluarga. Keluarga adalah segalanya bagi kita, tak terkecuali bagi saya.

AirAsia (sumber)
Saya asli Yogyakarta. Rumah saya ada di salah satu pedesaaan yang nyaman dan jauh dari keramaian. Sejak kecil sampai kuliah, saya tidak pernah lepas dari rumah. Memang saya sering pergi untuk melancong sana-sini, tapi sifatnya tidak lama, hanya sebentar saja lalu kembali ke rumah. Tiap kali pergi jauh, rindu saya pada rumah dan keluarga seperti rindunya tahanan penjara kepada masa-masa kebebasannya, rindu yang menggebu.

Baitii jannati, rumahku surgaku. Di rumah tersebut saya dibesarkan, dibuai nyanyian bunda, dikuatkan oleh doa ayah, dan diajak menatap dunia oleh kakak. Di sana saya mencoba merangkak, belajar berjalan, berusaha berlari. Di sana saya menikmati jatuh cinta dan mengobati sakit hati. Di sana saya melihat mentari pulang dan pergi, petir menyambar, langit gelap maupun cerah membiru, gemerlap bintang dan pesona rembulan, dan bumi yang bergoncang hebat. Bagaimana bisa saya tidak rindu dengannya.

Bromo dari udara saat naik pesawat AirAsia JOG-DPS
Setelah lulus kuliah, saya pindah ke Bali untuk mengais rezeki dan melanjutkan kehidupan. Saya ingin melihat dunia luar, lepas dari zona nyaman. Mencoba lepas dari ketergantungan kepada orang tua. Tapi bukan berarti melupakan keluarga, melupakan tempat asal. Ikan salmon saja ketika hendak berkembang biak selalu kembali ke tempat asal mereka diberi kehidupan, masa sebagai manusia malah melupakan sama sekali tempat asalnya.

Awal-awal kehidupan di Bali, rindu kampung halaman sangat menderu-deru. Tapi pada tahun 2011 hanya ada dua maskapai penerbangan yang melayani rute Denpasar-Jogja. Keduanya pun kadang tarifnya cukup tinggi. Alhasil tahun pertama saya tinggal di Bali hanya 2 kali saja pulang memakai jasa pesawat terbang. Beberapa kali saya menggunakan bus untuk mengirit pengeluaran.

Tahun 2012, maskapai penerbangan AirAsia mulai membuka rute penerbangan Denpasar-Yogyakarta dan begitu pula rute sebaliknya. Ini adalah anugerah bagi saya. AirAsia terkenal dengan sebutan World’s Best Low Cost Airline dan itulah yang sangat membantu saya melepas rindu kepada keluarga tetapi masih tetap hemat dalam pengeluaran. Sering kali AirAsia juga mengadakan promo yang super murah. Sehingga apabila sebelum ada AirAsia saya dalam setahun hanya pulang 2 atau 3 kali, setelah ada AirAsia saya pulang kampung bisa 5 kali atau lebih.

Meski dengan harga yang sangat murah, tapi pelayanan yang diberikan bukanlah kelas murahan. Jarang sekali ada delay yang bisa membuat mood kita hilang, bahkan merusak rencana yang sudah disusun matang sebelumnya. Fasilitas di dalam pesawat pun terbilang sangat bagus. Jarak antar kursi disusun sedemikian rupa, meski Low Cost tetapi tetap lega dan nyaman.

Saya suka traveling, pergi jauh melihat dunia, mengenal berbagai macam budaya, bertemu ratusan etnis manusia. Itu sangat menyenangkan sekali. Tetapi sejauh-jauhnya elang terbang, dia juga akan merindukan rumahnya. Sayapun demikian, tak ubahnya seekor elang tersebut, saya tak pernah tidak kangen dengan kehangatan rumah dimana kasih sayang keluarga tak ada batasnya.

Bagi siapa saja yang bisa merekatkan hubungan kekeluargaan, entah bagaimana caranya niscaya dia akan mendapatkan pahala berlimpah. Selama ini AirAsia telah melakukannya pada saya, merekatkan hubungan silaturahmi saya dengan keluarga dan membuat rindu saya akan rumah terobati dengan sangat manjur. Terima kasih AirAsia.


*Tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi Blog 10 Tahun AirAsia Indonesia

Minggu, 29 Juni 2014

Ingatan pada Sebuah Pagi di Bulan Ramadhan

18.36 // by Wisnu Yuwandono // 4 comments

Dulu, setiap pagi setelah sholat subuh di bulan ramadhan, suara ledakan mercon selalu terdengar di daerah rumahku. Aku tak tahu di tempat lain, tapi aku rasa di daerah Bantul atau Jogja hal itu adalah suatu hal yang jamak terjadi. Lambat laun seiring bertambah umurku, aku semakin jarang mendengar ledakan mercon di bulan puasa. Konon katanya mercon sudah dilarang oleh polisi. Memang suaranya yang terdengar keras sering membuat telinga pekak dan membuat jantung berdebar lebih kencang, tapi sejujurnya aku merindukan suasana itu.

Mercon (sumber)
Aku teringat pada satu peristiwa yang sudah lama terjadi. Kira-kira dua dasawarsa yang lalu, saat aku berada di bangku kelas 2 SD. Aku punya teman yang umurnya 3 atau 4 tahun lebih tua dariku. Kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Kami bukanlah teman yang bisa dibilang teman akrab, perbedaan usia memang berbicara. Bisa dibilang aku hanyalah ngintili dia, atau bahasa sekarang aku follower nya. Untuk anak yang masih kecil, mereka selalu ingin agar cepat-cepat menjadi lebih tua, mengikuti orang yang lebih dewasa adalah adalah salah satu cara instan untuk terlihat lebih dewasa, itu pula yang kulakukan.

Nama temanku itu adalah Hadi. Menurutku dia adalah anak yang sangat kreatif. Berbagai permainan dia kuasai dengan mahir, begitu pula dalam membuat alat mainan. Aku ingat dia pernah membuat pedang-pedangan dari kayu. Bentuknya mirip pedang sungguhan. Ada gagangnya, dan bentuk parangnya pun begitu persis. Aku pernah mengambilnya diam-diam, karena begitu ingin memilikinya. Salah satu kreatifitasnya yang lain, yang mungkin orang lain tidak menganggapnya demikian, adalah membuat mercon.

Saat itu ada berbagai jenis mercon yang beredar di pasaran. Yang paling terkenal adalah mercon lombok dan mercon leo. Mercon lombok atau cabe, adalah mercon yang ukurannya kecil seukuran cabe. Suaranya tidak terlalu nyaring dan radius suaranya juga tak begitu luas. Seingatku waktu itu satu bungkus harganya seribu rupiah berisi 10 buah. Sedangkan mercon leo adalah mercon dengan merk Leo. Ukurannya lebih besar daripada mercon lombok, kira-kira sebesar ibujari orang dewasa. Suaranya pun lebih nyaring daripada mercon lombok. Harganya sekitar 250 rupiah per buahnya.

Banyak anak-anak jail yang ingin mendapatkan suara ledakan yang lebih besar daripada mercon Leo, bahkan ingi jauh lebih besar, akan tetapi untuk mencari mercon dengan ukuran yang lebih besar dari mercon Leo gampang-gampang susah. Untuk mengakalinya, mereka membuat mercon sendiri dengan ukuran yang lebih besar dengan menggabungkan beberapa mercon Leo menjadi satu. Hal ini pula yang dilakukan oleh Hadi, temanku.

Hal pertama yang dilakukan adalah membuat pembungkus mercon. Caranya dengan menggunakan kertas dari buku bekas. Kertas tersebut dipotong menjadi dua, lalu disambung hingga panjang. Selanjutnya digulung pada sebuah spidol/pensil, hingga membentuk gulungan yang cukup tebal, seperti gulungan kertas tisu. Ketika dirasa sudah cukup, spidol tersebut ditarik dari gulungan sehingga meninggalkan rongga di tengah gulungan. Rongga ini lah yang menjadi tempat mesiu nantinya. Bubuk mercon atau katakanlah mesiu didapat dari mercon Leo yang dibongkar. Jumlahnya tergantung besar mercon baru yang kita buat. Saat itu, Hadi membuat 2 mercon rakitan beda ukuran. Kalau tidak salah satu mercon dengan isi dari 4 mercon leo, dan satu lagi dengan isi 6 mercon leo.

Bagian bawah mercon disumbat dengan menekan bagian bawah gulungan mercon masuk ke dalam. Setelah satu bagian tersumbat, mesiu dimasukkan ke dalam gulungan. Sumbu mercon bisa diambil dari mercon Leo atau membuatnya sendiri dengan kertas yang dilumuri mesiu. Jadilah mercon rakitan.

Besoknya, seperti pagi yang lain di bulan ramadhan, setelah sholat subuh berjamaah di masjid kami berjalan-jalan keliling sekitar kampung. Sebenarnya setelah sholat subuh ada siraman rohani, akan tetapi tak pernah satupun anak-anak sebaya dengan kami ada yang mengikutinya. Bukannya sholat subuh atau siraman rohani yang disebut dengan subuhan, lucunya kami malah menyebut jalan-jalan setelah subuh itu dengan subuhan, istilah yang terbalik. Tak lupa 2 mercon rakitan dengan ukuran besar yang telah dibuat kemarin menjadi bekal pagi itu.

Beberapa rombongan anak dari kampung lain sudah melakukan tugasnya menyalakan mercon mereka masing-masing. Ada yang suaranya begitu nyaring, tak sedikit pula yang hanya membawa mercon lombok. Ada rasa kompetisi antar kampung, saling berlomba mercon siapa yang paling nyaring. Di pagi seperti itu, jalanan sudah begitu riuh dan kotor oleh tebaran potongan kertas dari mercon.

“Tunggu saja suara dari mercon yang kami bawa pasti yang paling memekakkan telinga”, begitu pikir kelompok kami.

Hadi mengeluarkan mercon yang lebih besar dulu. Dia lalu meletakkannya di tengah jalan yang beraspal. Kami sedikit demi sedikit mundur perlahan menjauhi mercon yang hendak dinyalakan. Hadi mengeluarkan korek dan dengan cepat menyalakan sumbu mercon lalu dengan dia lari menjauhinya. Sumbu seketika itu juga terbakar dan menjalar masuk ke dalam mercon. Kami memerhatikannya dan tanpa aba-aba kami semua menutup telinga.

Kami menunggu ledakan. Tapi beberapa saat kemudian, tetap tak ada ledakan. Padahal sumbu sudah habis terbakar. Apa gerangan yang terjadi dengan mercon jumbo ini.

“Wah mejen mercone!!!” seru salah satu dari kami. Mejen adalah istilah di daerah kami untuk mercon yang tak berhasil meledak. Ada beberapa faktor yang membuatnya demikian. Pertama mungkin karena mesiu dalam keadaan lembab sehingga tak bisa terbakar. Kedua, ukuran gulungan kertas jauh lebih besar dan tak sebanding dengan jumlah mesiu, jadinya mesiu tak mampu menghancurkannya. Ketiga, sumbat tidak terlalu rapat, sehingga ketika mesiu terbakar, dia tidak meledak, tapi malah terbakar seperti kembang api air mancur. Mungkin masih ada faktor-faktor lain lagi. Karena tak muncul tanda kembang api kami menyimpulkan kalau kegagalan ini karena kasus pertama atau kasus kedua.

Setelah ditunggu beberapa saat, kami memastikan bahwa mercon itu benar-benar mejen. Hadi dengan berani mengambilnya lagi. Selanjutnya dia memberikan mercon itu ke teman lain karena Hadi akan menyalakan satu lagi mercon rakitannya. Orang yang menerima mandat membawa mercon mejen itu adalah Rusman. Teman yang seumuran dengan Hadi. Ia tak membawa tas atau sejenisnya sehingga ia hanya menggenggam mercon itu dengan tangan kirinya.

Mercon kedua hendak dinyalakan. Sama dengan prosesi menyalakan mercon pertama tadi, setelah memantikkan api Hadi lalu pergi menjauh.

Sumbu mulai terbakar.

“Dhuaaarrrrr……!!!”

“Dhuaarrrr….!!!”

Ledakannya cukup keras. Potongan kertas mercon berhamburan ke atas seperti confeti. Kami puas dengan suaranya. Meski agak aneh kenapa ada dua suara ledakan mercon. Ahh mungkin cuma perasaan saja, pikir saya.

“Ahhhhhh….” ada suara erangan di sekitar kami. Semuanya saling menoleh mencari sumber suara. Ternyata itu adalah suara Rusman.

“Tolongggg….” erangnya lagi. Dari tangan kirinya mengucur darah segar.

Kami mendekatinya. Telapak tangannya robek. Selain berwarna merah karena darah, sebagian telapak tangannya berwarna abu-abu. Mercon yang divonis mejen tadi ternyata tetap meledak. Naasnya, Rusman membawa mercon itu dengan tangannya.

Mulutnya meringis kesakitan. Tangan kanannya memegang erat pergelangan tangan kirinya. Kami bisa merasakan betapa sakitnya hal itu. Sesekali matanya memejam, dari ujungnya muncul air yang sudah hendak menetes. Kami hanya bisa terdiam menyadari apa yang baru saja terjadi.

Buru-buru kami mengantarnya ke bidan yang tak jauh letaknya. Memang saat itu tak banyak dokter yang ada di sekitar rumah kami. Bidan yang sebenarnya spesialisasinya adalah masalah ibu hamil atau anak-anak sering menghadapi kasus-kasus umum kesehatan.

Meski malang, untungnya luka yang diderita Rusman tak terlalu parah. Luka di telapak tangannya memerlukan jahitan dan selanjutnya dia mendapat dampratan marah dari orang tuanya.

Selama sisa ramadhan, Rusman tak lagi ikut acara jalan-jalan setelah subuh. Kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga buat kami. Sayangnya hal itu tak membuat kami jera, hanya lebih waspada. Memang dasar anak nakal.

Kamis, 19 Juni 2014

Desa Mandiri Energi

15.56 // by Wisnu Yuwandono // // 5 comments

Ketergantungan hidup kita terhadap sumber energi fosil sudah terlalu berlebihan. Dari kota metropolitan sampai desa yang sangat terpencil membutuhkan minyak untuk mendukung berlangsungnya kehidupan. Barang itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk memasak, sumber listrik dan sumber energi untuk kendaraan. Banyak daerah yang belum terjamah listrik dari PLN pun menggunakan mesin diesel dengan solar untuk selanjutnya disalurkan ke beberapa rumah penduduk.


Desa-desa yang memiliki sawah, peternakan dan berada dekat sungai sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi desa yang mandiri dalam hal energi. Tidak sepenuhnya bebas dari minyak bumi tapi setidaknya secara signifikan bisa mengurangi ketergantungannya.

Konsep sustainable village ini secara umum adalah memanfaatkan potensi yang ada dan mengolah kembali limbah dari suatu proses untuk dimanfaatkan sebagai potensi lain. Jadi semua hal memiliki andil dan tidak terbuang percuma, termanfaatkan dan berdaya guna.


sustainable village
Konsep Desa Mandiri Energi


Peternakan
Ternak sapi atau kerbau memiliki fungsi banyak. Tenaganya bisa digunakan sebagai pembajak sawah. Kotorannya bisa dijadikan sebagai sumber biogas, juga bisa dijadikan pupuk. Dagingnya bisa menjadi sumber daging bagi warga. Jika sapinya adalah jenis sapi perah, susunya bisa menambah gizi dan bisa dijadikan penambah pendapatan warga.

Biogas
Dari beberapa fungsi peternakan di atas, saya akan menyoroti tentang biogas karena potensi ini bisa mengurangi penggunaan energi yang berasal dari minyak bumi.

Secara umum pengertian biogas adalah gas yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan organik seperti kotoran manusia atau hewan, limbah rumah tangga, dan sampah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dari biogas adalah gas metana dan karbondioksida. Metana adalah gas yang sama dengan gas alam, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak atau untuk penerangan, bahkan jika dikembangkan lagi bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun sumber energi untuk menghasilkan listrik. Untuk aplikasi yang sederhana hanya digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.
 
skema biogas
Skema biogas (sumber)
Kotoran hewan dari peternakan diolah dalam instalasi biogas (biodigester) yang selanjutnya menghasilkan gas. Jika dalam peternakan terpadu, di mana semua ternak dari satu desa dikumpulkan jadi satu dalam sebuah peternakan, maka biodigester dibuat dalam skala besar, selanjutnya masyarakat bisa mengisi ulang tabung(atau penampung) gas mereka dari peternakan tersebut. Akan tetapi apabila tiap pemilik ternak memiliki kandang sendiri di rumah, maka biodigester dibuat dengan skala kecil sesuai dengan jumlah ternak. Dengan posisi yang dekat dengan rumah maka bisa langsung dihubungkan dengan pipa ke tabung (penampung) gas dan selanjutnya dihubungkan dengan kompor.

Slurry atau limbah dari biogas tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Karena justru kotoran ternak yang sudah dihilangkan kandungan gasnya tersebut merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang diperlukan tanaman.          

Saat ini di Indonesia memang kebanyakan sumber biogas hanya berasal dari kotoran ternak akan tetapi di beberapa negara lain, kotoran manusia dan limbah organik juga dimanfaatkan. Jadi (maaf) kita membuang hajat di WC di rumah kita lalu septic tanknya dihubungkan dengan instalasi biogas, selanjutnya hasilnya dikembalikan lagi ke rumah kita dalam bentuk gas untuk memasak. Kita memberi kita juga mendapat hasilnya.

Sawah/Ladang
Sebagai sumber untuk memenuhi pangan bagi warga desa, sawah membutuhkan pengairan, pupuk dan dibajak. Pengairan diperoleh dari sungai sedangkan untuk membajak dan pupuk di dapat dari peternakan. Memang traktor akan membajak lebih cepat dan lebih kuat, tapi memanfaatkan hewan ternak juga tak ada salahnya. Lagipula ternak juga makan dari rumput yang ada di sawah atau jerami padi. Mereka pada dasarnya saling membutuhkan.
sawah
Sawah yang merupakan sumber kehidupan 
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam (bagian luar/pembungkus bulir padi) sekitar 20-30% dari bobot gabah, dedak (kulit ari) sebanyak 8-12% dan beras giling antara 50-63,5%.

Dedak dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ayam atau bebek. Sedangkan sekam yang hasilnya cukup besar dalam proses penggilingan selama ini dianggap sebagai limbah. Yang paling umum pemanfaatannya adalah sebagai pelengkap bahan bakar dalam pembuatan gerabah, genteng dan batubata.

Sebenarnya ada potensi yang sangat berguna dari sekam. Dengan menjadikannya sebagai arang, maka arang sekam tersebut bisa digunakan sebagai media tanam, khususnya untuk tanaman hias. Arang sekam juga bisa digunakan sebagai briket dan memiliki fungsi yang sama dengan arang yang digunakan penjual sate sebagai bahan bakar.

Potensi lain dari sekam adalah abunya.  Abu sekam memiliki kandungan organik yang bisa berfungsi sebagai pupuk. Dengan mencampurkan dengan pupuk lain sesuai dengan takaran yang tepat maka akan terbuat pupuk yang sangat bagus.

Sekam juga memiliki kandungan silika. Silika ini adalah salah satu unsur dalam pembuatan semen. Dengan penelitian yang lebih lanjut maka bisa dijadikan sumber untuk membuat bahan konstruksi yang kuat.

Sungai
sungai
Sungai
Cukup banyak sungai yang mengalir di negara kita. Selama ini pemanfaatannya yang paling umum adalah untuk irigasi, mengairi sawah atau untuk perikanan. Beberapa sungai besar dibendung lalu dibagun sistem irigasi sebagian lagi dijadikan sebagai sumber energi untuk PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). PLTA seperti ini akan menghasilkan listrik dengan kapasitas yang besar dan bisa disalurkan dalam lingkup wilayah yang luas.

Lalu bagaimana dengan sungai yang bukan dalam kategori sungai besar, apakah bisa dijadikan sumber energi? Jawabnya adalah bisa. Dengan memanfaatkan teknologi mikrohidro, maka kebutuhan listrik di daerah terpencil bisa dipenuhi (daerah yang memiliki sungai tentu saja).

Mikrohidro adalah pembangkit listrik dengan tenaga air dalam skala yang kecil. Secara konsep, mikrohidro ini sama dengan PLTA hanya saja tenaga listrik yang dihasilkan lebih kecil. PLTA yang menghasilkan listrik di bawah 200 KW digolongkan sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Pengertiannya secara teknis, mikrohidro adalah proses untuk mendapatkan energi listrik dengan memanfaatkan aliran air(debit) dan ketinggian jatuh (head) air untuk menggerakkan turbin yang selanjutnya menghasilkan listrik. Sederhananya bisa dengan membendung sungai lalu jatuhnya air itu digunakan untuk menggerakkan turbin (roda air) yang dijadikan sumber penggerak untuk generator. Generator inilah yang akan menghasilkan listrik.
 
contoh skema mikrohidro
contoh skema mikrohidro (sumber)
Dengan skala yang kecil, katakanlah proses mikrohidro dapat menghasilkan daya 2000 Watt, lalu tiap rumah mendapatkan jatah 100 watt, maka bisa menerangi 20 rumah. Jangan samakan dengan rumah-rumah di kota yang butuh listrik di atas 1000 watt tiap rumah. Di pelosok negeri ini untuk penerangan sebatas menyalakan bohlam saja banyak yang kesulitan. Untuk belajar pada malam hari banyak dari mereka yang masih menggunakan pelita. Listrik adalah barang langka.

Memang untuk membuat perangkat mikrohidro membutuhkan dana yang lumayan mahal, akan tetapi untuk hitung-hitungan ke depannya, sumber energi ini akan lebih murah daripada generator diesel yang membutuhkan makan solar banyak tiap harinya. Apalagi mikrohidro merupakan energi putih yaitu energi yang memang telah disediakan oleh alam dan ramah lingkungan.

Kesimpulan
Ini bukanlah konsep baru, sudah banyak diterapkan di desa-desa dan konsep ini bukanlah konsep baku yang harus dilakukan sama persis dengan yang saya gambarkan, tetapi tergantung dengan potensi yang dimiliki oleh tiap-tiap desa. Kenalilah apa yang dimiliki, dari apa yang dimiliki itu apa saja yang bisa dimanfaatkan. Carilah proses yang benar-benar ramah lingkungan atau tidak ada limbah yang merusak atau merugikan. Misal ada limbah dari suatu proses carilah pemanfaatannya agar tidak terbuang percuma. Konsep ini juga bukanlah konsep yang benar-benar ideal dan masih banyak kelemahannya. Ini hanyalah contoh sederhana untuk pemanfaatan potensi dan untuk mengurangi ketergantungan energi fosil yang disamping mahal dan hendak habis keberadaannya, juga merupakan energi yang memiliki efek samping yang buruk. Dengan menciptakan banyak desa mandiri energi membuat mereka bisa menggerakkan laju kehidupan desa tanpa banyak tergantung dari luar, tetapi bisa memenuhi diri sendiri dari apa yang dimiliki.

Salam,


Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, Kebiasaan Bersahabat dengan Lingkungan

Minggu, 08 Juni 2014

Potret Anak-Anak

08.30 // by Wisnu Yuwandono // // 8 comments

anak-anak

Namanya Kadek Arya. Umurnya baru menginjak 2 tahun. Meski masih sangat kecil, dia punya cadangan energi yang berlebih, hiperaktif, ga punya capek. Jangan tanya nakalnya, ga ada tandingannya.

Dia adalah anak pertama dari teman saya. Kadek, begitu anak kecil itu panggilannya. Dibalik kenakalannya sebenarnya memiliki paras wajah yang ganteng, imut dan juga lucu. Calon idola para cewek masa depan.

Kadek punya adik perempuan yang umurnya masih 7 bulan. Komang Anjani namanya. Dia juga tak kalah lucu. Dengan kepala yang baru saja dicukur plontos, membuatnya terlihat makin menggemaskan.

Memoto anak-anak bisa dibilang cukup susah bagi yang tak terbiasa bergaul dengan mereka. Karena untuk mendapatkan ekspresi natural mereka harus membuat mereka merasa nyaman. Ajaklah bercanda, bermain atau kegiatan apapun yang membuat mood mereka datang. Baru deh jeprat-jepret.

Memotret anak memang gampang-gampang susah.
anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

Kamis, 05 Juni 2014

Kebiasaan Bersahabat dengan Lingkungan

09.34 // by Wisnu Yuwandono // // 14 comments

Sumber daya alam adalah pendukung utama dalam kehidupan makhluk hidup. Selama ini kita selalu berkoar-koar bahwa kita adalah bangsa dengan sumber daya alam yang melimpah ruah hingga seolah-olah dalam pikiran bawah sadar kita terasa bahwa itu semua tak akan pernah habis. Tapi apakah benar demikian?



Secara umum SDA (sumber daya alam) dibagi menjadi dua, terbarukan dan tidak terbarukan. Terbarukan adalah SDA yang bisa diregenerasi lagi, atau juga yang keberadaannya tak terbatas. Sedangkan yang tak terbarukan adalah SDA yang tidak bisa diregenarasi lagi atau kalau bisa butuh waktu yang sangat lama.  Dari dua kategori ini jika dipikir secara sederhana seharusnya untuk memenuhi energi, penggunaan SDA terbarukan lebih diutamakan dan terus diregenerasi keberadaannya sedangkan yang tak terbarukan harusnya digunakan sesedikit mungkin, diirit dan dieman-eman. Kenyataannya tak seperti itu.

Kita ambil contoh SDA tak terbarukan yang paling umum, minyak. Minyak sejatinya adalah sumber dari berbagai macam produk. Jangan pikir minyak hanya bisa menghasilkan minyak tanah dan bensin saja. Bahan-bahan plastik juga adalah turunan dari minyak bumi. Eksploitasi minyak ini benar-benar banyak sekali. Penggunaanya tak kalah banyak, malah lebih banyak. Di Jawa terutama, dari zaman generasi orang tua kita atau mungkin dari generasi di atasnya, mereka dimanjakan dengan harga minyak yang murah dan melimpah. Dari situ terbentuk sebuah perilaku yang menurun ke anak cucu mereka tentang pemanfaatan minyak sebagai bahan bakar. Mereka (kita) memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk memasak dan bahan bakar kendaraan. Penggunaan sebagai bahan bakr kendaraan juga sangat dipengaruhi oleh transportasi publik yang tidak pernah dibagun dengan memadai oleh pemerintah. Kebiasaan untuk mengendarai kendaraan pribadi ini telah tertanam sangat dalam di kebiasaan kita. Jadinya, banyak yang merasa malas untuk menggunakan transportasi publik, meskipun seandainya sudah ada. Itu karena sudah terbiasa.

Lalu apa pengaruhnya? Anggapan bahwa negara kita ini raja minyak itu sudah tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung salah. Jumlah minyak yang kita produksi sudah tidak mampu lagi memenuhi permintaan minyak dalam negeri. Lalu selanjutnya kita mengimpor. Iya kita impor minyak. Jangan pikir kita yang dulu adalah eksportir minyak akan tetap mempunyai predikat eksportir selamanya, sekarang kita sudah kehilangan predikat itu. Lalu karena kita impor minyak dan tak kuasa untuk menanggung besarnya subsidi, maka sedikit demi sedikit harganya dinaikkan. Masyarakat kita yang sebagian besar masih tidak mampu, menghadapi kenaikan harga BBM mereka kaget, kelabakan. Tapi apakah mereka lalu menghemat penggunaan BBM? Jawabannya tidak.

Sekali lagi kebiasaan kita tetap susah dihilangkan. Siapa yang membuat kebiasaan ini berlangsung terus menerus? Saya pikir kita bisa menyalahakan kebijakan pemerintah dari dulu, tidak hanya kebijakan yang sekarang. Moda transportasi massal yang sangat buruk, bahkan banyak tempat malah tidak ada sama sekali membuat kita terbiasa untuk menggunakan kendaran pribadi. Sekarang ketika kendaraan pribadi memenuhi jalanan, mereka baru kebingungan membangun fasilitas transportasi. Terlambat? Iya, sangat. Tapi itu tetap harus dilakukan. Mengapa? Karena cadangan minyak kita semakin menipis. Selain itu kita butuh untuk menciptakan kebiasaan baru, tidak menggunakan kendaraan pribadi. Menciptakan kebiasaan baru itu sangat sulit, setidaknya butuh beberapa masa untuk sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan lama.

Itu adalah salah satu contoh saja dalam penghamburan penggunaan minyak. Masih banyak lagi contoh penggunaanya yang berlebihan. Dengan eksploitasi seperti ini minyak bumi diprediksi tak lama lagi akan habis. Semuanya kebingungan bagaimana untuk memperlama umur ketersediaannya. Berbagai sumber alternatif diupayakan tapi tetap saja tidak terlalu memuaskan bahkan hanya memindahkan kegunaan minyak kepada SDA tak terbarukan lain. Solusi yang kurang solutif.

Di negara yang posisinya berada tepat di garis khatulistiwa dan dianugerahi sebagai negara kepulauan dengan lautan yang berada di sekeliling kita dan juga berada di jalur ring of fire, mereka ini sesungguhnya adalah SDA terbarukan yang seharusnya kita sadari dan memanfaatkannya jauh lebih banyak daripada SDA tak terbarukan. Sayangnya panas matahari yang tak habis sepanjang tahun, angin yang selalu berhembus kencang dan titik panas bumi yang tersebar itu tak dimanfaatkan dengan baik. Sayang sekali.

Kebijakan-kebijakan ini memang membuat semuanya menjadi korban. Bumi kita tercabik oleh pertambangan yang membabi buta, tapi kita sebagai masyarakat tak mendapatkan nilai yang setimpal. Jadi peran apa yang bisa kita mainkan dalam kehidupan untuk mempengaruhi penggunaan sumber daya alam dengan baik? Banyak. Kurangi penggunaan minyak dan turunannya (plastik, dll) (baca : Bawa Botol Minummu Sendiri), gunakan transportasi umum, dan masih banyak lagi kebiasaan bagus yang ramah lingkungan.

Sebenarnya hidup menyatu dengan alam juga bisa menjadi solusi jitu yang bisa diaplikasikan. Sustainable village (baca : Desa Mandiri Energi), begitu kalau tidak salah program utama saat saya mengambil Kuliah Kerja Nyata (KKN) saat di bangku kuliah. Desa seperti apa itu? Desa yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Jadi begini sebuah desa memiliki berbagai macam komoditi yang bisa memenuhi apa yang menjadi permintaan warganya. Kebutuhan listrik didapat dari pembangkit listrik mikrohidro dari sungai mengalir. Nasi didapat dari sawah. Hasil dari kulit bulir padi bisa dimanfaatkan sebagai media tanam tanaman hias. Lalu pupuk untuk sawah didapat dari pupuk kompos yang berasal dari ternak. Peternakan sapi atau kerbau sendiri bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk membajak sawah. Lalu kotoran ternak dan manusia bisa diolah menjadi biogas, menjadi sumber energi untuk masak atau bahkan bisa dijadikan sumber untuk penerangan. Itu hanya beberpa contoh saja karena masih banyak lagi sumber yang bisa dimanfaatkan, bahkan hasil samping dari suatu produk bisa digunakan untuk mendukung proses lain.
Go Green
Sungai yang ada di dekat Desa Waerebo
Waerebo di Manggarai, Flores adalah salah satu desa tradisional yang masih menyatu dengan alam. Untuk membangun rumah, sebagian besar mereka dapatkan dari memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Saat ini mereka masih menggunakan generator diesel untuk penerangan di malam hari. Tapi sebentar lagi mereka akan memanfaatkan air terjun yang tak jauh letaknya untuk dijadikan sumber energi. Di samping itu, mereka juga menjaga hutan di sekitarnya agar air sungai di sekitarnya tetap mengalir.

Ada juga Desa Penglipuran, Bali yang memiliki hutan bambu. Mereka memanfaatkannya tidak dengan membabi buta. Saat membutuhkan mereka ambil seperlunya sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu masih ada waktu untuk tumbuhan bambu meregenerasi, satu ditebang satu ada yang tumbuh. Begitu terus, sehingga tetap terjaga keberadaannya.
Go Green
Hutan Bambu yang ada di Desa Penglipuran
Itu hanya contoh kecil saja. Saya yakin tak hanya dua desa itu saja yang mampu bersahabat dengan alam. Yang disayangkan adalah lebih banyak desa atau wilayah yang tak bisa mandiri, semuanya tergantung dari pasar.

Mari buat pola pikir dan kebiasaan yang lebih bermanfaat dan memihak kepada lingkungan. Tanamkan itu pada diri sendiri lalu menyebar ke orang-orang sekitar kita. Jika semua orang berperilaku seperti itu maka virus kebaikan ini akan terus menyebar. Ingat, sumber daya alam yang banyak digunakan sebagai sumber energi kita selama ini itu tak abadi, sebentar lagi habis. Segera cari alternatif sumber daya alam lain yang tak pernah habis dan ramah lingkungan.

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati World Environment Day 2014.
Tulisan lain dari teman-teman Travel Bloggers Indonesia :
Menjelajajah Negeri Orang Laut oleh @dananwahyu
Selamat Datang di Masa Depan oleh @yofangga
Tentang Cagar Alam & Etika Jalan-jalan di Alam oleh @catperku
Interview with Tiza Mafira : Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik oleh @discoveryourindo
Dilema Wisata Karimunjawa oleh @fahmianhar
Hutan Kalimantan Nasibmu Kini oleh @backpackerborneo
Apa itu Green Tourism? oleh @FeliciaLasmana
5 Dosa Para Pendaku Gunung yang Harus Dihindari oleh @wiranurmansyah
Jatuh Cinta kepada Hijau oleh @miss_almayra
Ber-Ekowisata bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran oleh @oli3ve
Bersihnya Situ Gunung.. oleh @ubermoon
Menjaga Etika Perjalanan, Menjaga Alam oleh @efenerr
How Environment-Friendly Are You? oleh @duabadai
Musuh Abadi, Plastik oleh @adliencoolz
Ekosistem Pesisir di Ujung Negeri oleh @lostpacker