• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Kamis, 19 Juni 2014

Desa Mandiri Energi

15.56 // by Wisnu Yuwandono // // 5 comments

Ketergantungan hidup kita terhadap sumber energi fosil sudah terlalu berlebihan. Dari kota metropolitan sampai desa yang sangat terpencil membutuhkan minyak untuk mendukung berlangsungnya kehidupan. Barang itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk memasak, sumber listrik dan sumber energi untuk kendaraan. Banyak daerah yang belum terjamah listrik dari PLN pun menggunakan mesin diesel dengan solar untuk selanjutnya disalurkan ke beberapa rumah penduduk.


Desa-desa yang memiliki sawah, peternakan dan berada dekat sungai sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi desa yang mandiri dalam hal energi. Tidak sepenuhnya bebas dari minyak bumi tapi setidaknya secara signifikan bisa mengurangi ketergantungannya.

Konsep sustainable village ini secara umum adalah memanfaatkan potensi yang ada dan mengolah kembali limbah dari suatu proses untuk dimanfaatkan sebagai potensi lain. Jadi semua hal memiliki andil dan tidak terbuang percuma, termanfaatkan dan berdaya guna.


sustainable village
Konsep Desa Mandiri Energi


Peternakan
Ternak sapi atau kerbau memiliki fungsi banyak. Tenaganya bisa digunakan sebagai pembajak sawah. Kotorannya bisa dijadikan sebagai sumber biogas, juga bisa dijadikan pupuk. Dagingnya bisa menjadi sumber daging bagi warga. Jika sapinya adalah jenis sapi perah, susunya bisa menambah gizi dan bisa dijadikan penambah pendapatan warga.

Biogas
Dari beberapa fungsi peternakan di atas, saya akan menyoroti tentang biogas karena potensi ini bisa mengurangi penggunaan energi yang berasal dari minyak bumi.

Secara umum pengertian biogas adalah gas yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan organik seperti kotoran manusia atau hewan, limbah rumah tangga, dan sampah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dari biogas adalah gas metana dan karbondioksida. Metana adalah gas yang sama dengan gas alam, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak atau untuk penerangan, bahkan jika dikembangkan lagi bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun sumber energi untuk menghasilkan listrik. Untuk aplikasi yang sederhana hanya digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.
 
skema biogas
Skema biogas (sumber)
Kotoran hewan dari peternakan diolah dalam instalasi biogas (biodigester) yang selanjutnya menghasilkan gas. Jika dalam peternakan terpadu, di mana semua ternak dari satu desa dikumpulkan jadi satu dalam sebuah peternakan, maka biodigester dibuat dalam skala besar, selanjutnya masyarakat bisa mengisi ulang tabung(atau penampung) gas mereka dari peternakan tersebut. Akan tetapi apabila tiap pemilik ternak memiliki kandang sendiri di rumah, maka biodigester dibuat dengan skala kecil sesuai dengan jumlah ternak. Dengan posisi yang dekat dengan rumah maka bisa langsung dihubungkan dengan pipa ke tabung (penampung) gas dan selanjutnya dihubungkan dengan kompor.

Slurry atau limbah dari biogas tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Karena justru kotoran ternak yang sudah dihilangkan kandungan gasnya tersebut merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang diperlukan tanaman.          

Saat ini di Indonesia memang kebanyakan sumber biogas hanya berasal dari kotoran ternak akan tetapi di beberapa negara lain, kotoran manusia dan limbah organik juga dimanfaatkan. Jadi (maaf) kita membuang hajat di WC di rumah kita lalu septic tanknya dihubungkan dengan instalasi biogas, selanjutnya hasilnya dikembalikan lagi ke rumah kita dalam bentuk gas untuk memasak. Kita memberi kita juga mendapat hasilnya.

Sawah/Ladang
Sebagai sumber untuk memenuhi pangan bagi warga desa, sawah membutuhkan pengairan, pupuk dan dibajak. Pengairan diperoleh dari sungai sedangkan untuk membajak dan pupuk di dapat dari peternakan. Memang traktor akan membajak lebih cepat dan lebih kuat, tapi memanfaatkan hewan ternak juga tak ada salahnya. Lagipula ternak juga makan dari rumput yang ada di sawah atau jerami padi. Mereka pada dasarnya saling membutuhkan.
sawah
Sawah yang merupakan sumber kehidupan 
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam (bagian luar/pembungkus bulir padi) sekitar 20-30% dari bobot gabah, dedak (kulit ari) sebanyak 8-12% dan beras giling antara 50-63,5%.

Dedak dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ayam atau bebek. Sedangkan sekam yang hasilnya cukup besar dalam proses penggilingan selama ini dianggap sebagai limbah. Yang paling umum pemanfaatannya adalah sebagai pelengkap bahan bakar dalam pembuatan gerabah, genteng dan batubata.

Sebenarnya ada potensi yang sangat berguna dari sekam. Dengan menjadikannya sebagai arang, maka arang sekam tersebut bisa digunakan sebagai media tanam, khususnya untuk tanaman hias. Arang sekam juga bisa digunakan sebagai briket dan memiliki fungsi yang sama dengan arang yang digunakan penjual sate sebagai bahan bakar.

Potensi lain dari sekam adalah abunya.  Abu sekam memiliki kandungan organik yang bisa berfungsi sebagai pupuk. Dengan mencampurkan dengan pupuk lain sesuai dengan takaran yang tepat maka akan terbuat pupuk yang sangat bagus.

Sekam juga memiliki kandungan silika. Silika ini adalah salah satu unsur dalam pembuatan semen. Dengan penelitian yang lebih lanjut maka bisa dijadikan sumber untuk membuat bahan konstruksi yang kuat.

Sungai
sungai
Sungai
Cukup banyak sungai yang mengalir di negara kita. Selama ini pemanfaatannya yang paling umum adalah untuk irigasi, mengairi sawah atau untuk perikanan. Beberapa sungai besar dibendung lalu dibagun sistem irigasi sebagian lagi dijadikan sebagai sumber energi untuk PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). PLTA seperti ini akan menghasilkan listrik dengan kapasitas yang besar dan bisa disalurkan dalam lingkup wilayah yang luas.

Lalu bagaimana dengan sungai yang bukan dalam kategori sungai besar, apakah bisa dijadikan sumber energi? Jawabnya adalah bisa. Dengan memanfaatkan teknologi mikrohidro, maka kebutuhan listrik di daerah terpencil bisa dipenuhi (daerah yang memiliki sungai tentu saja).

Mikrohidro adalah pembangkit listrik dengan tenaga air dalam skala yang kecil. Secara konsep, mikrohidro ini sama dengan PLTA hanya saja tenaga listrik yang dihasilkan lebih kecil. PLTA yang menghasilkan listrik di bawah 200 KW digolongkan sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Pengertiannya secara teknis, mikrohidro adalah proses untuk mendapatkan energi listrik dengan memanfaatkan aliran air(debit) dan ketinggian jatuh (head) air untuk menggerakkan turbin yang selanjutnya menghasilkan listrik. Sederhananya bisa dengan membendung sungai lalu jatuhnya air itu digunakan untuk menggerakkan turbin (roda air) yang dijadikan sumber penggerak untuk generator. Generator inilah yang akan menghasilkan listrik.
 
contoh skema mikrohidro
contoh skema mikrohidro (sumber)
Dengan skala yang kecil, katakanlah proses mikrohidro dapat menghasilkan daya 2000 Watt, lalu tiap rumah mendapatkan jatah 100 watt, maka bisa menerangi 20 rumah. Jangan samakan dengan rumah-rumah di kota yang butuh listrik di atas 1000 watt tiap rumah. Di pelosok negeri ini untuk penerangan sebatas menyalakan bohlam saja banyak yang kesulitan. Untuk belajar pada malam hari banyak dari mereka yang masih menggunakan pelita. Listrik adalah barang langka.

Memang untuk membuat perangkat mikrohidro membutuhkan dana yang lumayan mahal, akan tetapi untuk hitung-hitungan ke depannya, sumber energi ini akan lebih murah daripada generator diesel yang membutuhkan makan solar banyak tiap harinya. Apalagi mikrohidro merupakan energi putih yaitu energi yang memang telah disediakan oleh alam dan ramah lingkungan.

Kesimpulan
Ini bukanlah konsep baru, sudah banyak diterapkan di desa-desa dan konsep ini bukanlah konsep baku yang harus dilakukan sama persis dengan yang saya gambarkan, tetapi tergantung dengan potensi yang dimiliki oleh tiap-tiap desa. Kenalilah apa yang dimiliki, dari apa yang dimiliki itu apa saja yang bisa dimanfaatkan. Carilah proses yang benar-benar ramah lingkungan atau tidak ada limbah yang merusak atau merugikan. Misal ada limbah dari suatu proses carilah pemanfaatannya agar tidak terbuang percuma. Konsep ini juga bukanlah konsep yang benar-benar ideal dan masih banyak kelemahannya. Ini hanyalah contoh sederhana untuk pemanfaatan potensi dan untuk mengurangi ketergantungan energi fosil yang disamping mahal dan hendak habis keberadaannya, juga merupakan energi yang memiliki efek samping yang buruk. Dengan menciptakan banyak desa mandiri energi membuat mereka bisa menggerakkan laju kehidupan desa tanpa banyak tergantung dari luar, tetapi bisa memenuhi diri sendiri dari apa yang dimiliki.

Salam,


Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, Kebiasaan Bersahabat dengan Lingkungan

5 komentar:

  1. di daerah sumbawa (lupa nama desa nya, tapi desa di jalan raya dompu-lakey) ada satu desa yang seluruh rumah uda pake solar cell kak
    padahal terpencil bgt
    mereka gak mau bergantung sama pemerintah dalam hal suplay listrik
    gitu termasuk salah satu kriteria sustainable village juga khan kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wihhh keren itu..
      potensi tiap desa kan beda2,
      solar cell jg bagus kok

      Hapus
  2. indonesia seharusnya begitu...bisa menjadikan energi dari potensi yg ada di desa..sehingga tidak bergantung kepada energi berbahan baku fosil..yang hanya mencemari alam....
    namun entah kenapa pemerintah tidak menggiatkan hal ini.....
    keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mas hariyanto sudah mampir
      salam :)

      Hapus
  3. Limbah kini ada dimana-mana, kebanyakan dari limbah manusia itu sendiri.
    Saran saya adalah, untuk penggunaan seperti plastik atau styrofoam lebih dikurangi. Dan untuk penggunaan Packaging Makanan lebih baik menggunakan bahan yang terbuat dari kertas.

    Sebab kertas mengandung unsur yang dapat berbaur dengan tanah. So, jika kertas dibuang sembarangan oleh masyarakat maka kertas tersebut tidak akan mencemari lingkungan.

    BalasHapus