• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 29 Juni 2014

Ingatan pada Sebuah Pagi di Bulan Ramadhan

18.36 // by Wisnu Yuwandono // 4 comments

Dulu, setiap pagi setelah sholat subuh di bulan ramadhan, suara ledakan mercon selalu terdengar di daerah rumahku. Aku tak tahu di tempat lain, tapi aku rasa di daerah Bantul atau Jogja hal itu adalah suatu hal yang jamak terjadi. Lambat laun seiring bertambah umurku, aku semakin jarang mendengar ledakan mercon di bulan puasa. Konon katanya mercon sudah dilarang oleh polisi. Memang suaranya yang terdengar keras sering membuat telinga pekak dan membuat jantung berdebar lebih kencang, tapi sejujurnya aku merindukan suasana itu.

Mercon (sumber)
Aku teringat pada satu peristiwa yang sudah lama terjadi. Kira-kira dua dasawarsa yang lalu, saat aku berada di bangku kelas 2 SD. Aku punya teman yang umurnya 3 atau 4 tahun lebih tua dariku. Kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Kami bukanlah teman yang bisa dibilang teman akrab, perbedaan usia memang berbicara. Bisa dibilang aku hanyalah ngintili dia, atau bahasa sekarang aku follower nya. Untuk anak yang masih kecil, mereka selalu ingin agar cepat-cepat menjadi lebih tua, mengikuti orang yang lebih dewasa adalah adalah salah satu cara instan untuk terlihat lebih dewasa, itu pula yang kulakukan.

Nama temanku itu adalah Hadi. Menurutku dia adalah anak yang sangat kreatif. Berbagai permainan dia kuasai dengan mahir, begitu pula dalam membuat alat mainan. Aku ingat dia pernah membuat pedang-pedangan dari kayu. Bentuknya mirip pedang sungguhan. Ada gagangnya, dan bentuk parangnya pun begitu persis. Aku pernah mengambilnya diam-diam, karena begitu ingin memilikinya. Salah satu kreatifitasnya yang lain, yang mungkin orang lain tidak menganggapnya demikian, adalah membuat mercon.

Saat itu ada berbagai jenis mercon yang beredar di pasaran. Yang paling terkenal adalah mercon lombok dan mercon leo. Mercon lombok atau cabe, adalah mercon yang ukurannya kecil seukuran cabe. Suaranya tidak terlalu nyaring dan radius suaranya juga tak begitu luas. Seingatku waktu itu satu bungkus harganya seribu rupiah berisi 10 buah. Sedangkan mercon leo adalah mercon dengan merk Leo. Ukurannya lebih besar daripada mercon lombok, kira-kira sebesar ibujari orang dewasa. Suaranya pun lebih nyaring daripada mercon lombok. Harganya sekitar 250 rupiah per buahnya.

Banyak anak-anak jail yang ingin mendapatkan suara ledakan yang lebih besar daripada mercon Leo, bahkan ingi jauh lebih besar, akan tetapi untuk mencari mercon dengan ukuran yang lebih besar dari mercon Leo gampang-gampang susah. Untuk mengakalinya, mereka membuat mercon sendiri dengan ukuran yang lebih besar dengan menggabungkan beberapa mercon Leo menjadi satu. Hal ini pula yang dilakukan oleh Hadi, temanku.

Hal pertama yang dilakukan adalah membuat pembungkus mercon. Caranya dengan menggunakan kertas dari buku bekas. Kertas tersebut dipotong menjadi dua, lalu disambung hingga panjang. Selanjutnya digulung pada sebuah spidol/pensil, hingga membentuk gulungan yang cukup tebal, seperti gulungan kertas tisu. Ketika dirasa sudah cukup, spidol tersebut ditarik dari gulungan sehingga meninggalkan rongga di tengah gulungan. Rongga ini lah yang menjadi tempat mesiu nantinya. Bubuk mercon atau katakanlah mesiu didapat dari mercon Leo yang dibongkar. Jumlahnya tergantung besar mercon baru yang kita buat. Saat itu, Hadi membuat 2 mercon rakitan beda ukuran. Kalau tidak salah satu mercon dengan isi dari 4 mercon leo, dan satu lagi dengan isi 6 mercon leo.

Bagian bawah mercon disumbat dengan menekan bagian bawah gulungan mercon masuk ke dalam. Setelah satu bagian tersumbat, mesiu dimasukkan ke dalam gulungan. Sumbu mercon bisa diambil dari mercon Leo atau membuatnya sendiri dengan kertas yang dilumuri mesiu. Jadilah mercon rakitan.

Besoknya, seperti pagi yang lain di bulan ramadhan, setelah sholat subuh berjamaah di masjid kami berjalan-jalan keliling sekitar kampung. Sebenarnya setelah sholat subuh ada siraman rohani, akan tetapi tak pernah satupun anak-anak sebaya dengan kami ada yang mengikutinya. Bukannya sholat subuh atau siraman rohani yang disebut dengan subuhan, lucunya kami malah menyebut jalan-jalan setelah subuh itu dengan subuhan, istilah yang terbalik. Tak lupa 2 mercon rakitan dengan ukuran besar yang telah dibuat kemarin menjadi bekal pagi itu.

Beberapa rombongan anak dari kampung lain sudah melakukan tugasnya menyalakan mercon mereka masing-masing. Ada yang suaranya begitu nyaring, tak sedikit pula yang hanya membawa mercon lombok. Ada rasa kompetisi antar kampung, saling berlomba mercon siapa yang paling nyaring. Di pagi seperti itu, jalanan sudah begitu riuh dan kotor oleh tebaran potongan kertas dari mercon.

“Tunggu saja suara dari mercon yang kami bawa pasti yang paling memekakkan telinga”, begitu pikir kelompok kami.

Hadi mengeluarkan mercon yang lebih besar dulu. Dia lalu meletakkannya di tengah jalan yang beraspal. Kami sedikit demi sedikit mundur perlahan menjauhi mercon yang hendak dinyalakan. Hadi mengeluarkan korek dan dengan cepat menyalakan sumbu mercon lalu dengan dia lari menjauhinya. Sumbu seketika itu juga terbakar dan menjalar masuk ke dalam mercon. Kami memerhatikannya dan tanpa aba-aba kami semua menutup telinga.

Kami menunggu ledakan. Tapi beberapa saat kemudian, tetap tak ada ledakan. Padahal sumbu sudah habis terbakar. Apa gerangan yang terjadi dengan mercon jumbo ini.

“Wah mejen mercone!!!” seru salah satu dari kami. Mejen adalah istilah di daerah kami untuk mercon yang tak berhasil meledak. Ada beberapa faktor yang membuatnya demikian. Pertama mungkin karena mesiu dalam keadaan lembab sehingga tak bisa terbakar. Kedua, ukuran gulungan kertas jauh lebih besar dan tak sebanding dengan jumlah mesiu, jadinya mesiu tak mampu menghancurkannya. Ketiga, sumbat tidak terlalu rapat, sehingga ketika mesiu terbakar, dia tidak meledak, tapi malah terbakar seperti kembang api air mancur. Mungkin masih ada faktor-faktor lain lagi. Karena tak muncul tanda kembang api kami menyimpulkan kalau kegagalan ini karena kasus pertama atau kasus kedua.

Setelah ditunggu beberapa saat, kami memastikan bahwa mercon itu benar-benar mejen. Hadi dengan berani mengambilnya lagi. Selanjutnya dia memberikan mercon itu ke teman lain karena Hadi akan menyalakan satu lagi mercon rakitannya. Orang yang menerima mandat membawa mercon mejen itu adalah Rusman. Teman yang seumuran dengan Hadi. Ia tak membawa tas atau sejenisnya sehingga ia hanya menggenggam mercon itu dengan tangan kirinya.

Mercon kedua hendak dinyalakan. Sama dengan prosesi menyalakan mercon pertama tadi, setelah memantikkan api Hadi lalu pergi menjauh.

Sumbu mulai terbakar.

“Dhuaaarrrrr……!!!”

“Dhuaarrrr….!!!”

Ledakannya cukup keras. Potongan kertas mercon berhamburan ke atas seperti confeti. Kami puas dengan suaranya. Meski agak aneh kenapa ada dua suara ledakan mercon. Ahh mungkin cuma perasaan saja, pikir saya.

“Ahhhhhh….” ada suara erangan di sekitar kami. Semuanya saling menoleh mencari sumber suara. Ternyata itu adalah suara Rusman.

“Tolongggg….” erangnya lagi. Dari tangan kirinya mengucur darah segar.

Kami mendekatinya. Telapak tangannya robek. Selain berwarna merah karena darah, sebagian telapak tangannya berwarna abu-abu. Mercon yang divonis mejen tadi ternyata tetap meledak. Naasnya, Rusman membawa mercon itu dengan tangannya.

Mulutnya meringis kesakitan. Tangan kanannya memegang erat pergelangan tangan kirinya. Kami bisa merasakan betapa sakitnya hal itu. Sesekali matanya memejam, dari ujungnya muncul air yang sudah hendak menetes. Kami hanya bisa terdiam menyadari apa yang baru saja terjadi.

Buru-buru kami mengantarnya ke bidan yang tak jauh letaknya. Memang saat itu tak banyak dokter yang ada di sekitar rumah kami. Bidan yang sebenarnya spesialisasinya adalah masalah ibu hamil atau anak-anak sering menghadapi kasus-kasus umum kesehatan.

Meski malang, untungnya luka yang diderita Rusman tak terlalu parah. Luka di telapak tangannya memerlukan jahitan dan selanjutnya dia mendapat dampratan marah dari orang tuanya.

Selama sisa ramadhan, Rusman tak lagi ikut acara jalan-jalan setelah subuh. Kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga buat kami. Sayangnya hal itu tak membuat kami jera, hanya lebih waspada. Memang dasar anak nakal.

Kamis, 19 Juni 2014

Desa Mandiri Energi

15.56 // by Wisnu Yuwandono // // 5 comments

Ketergantungan hidup kita terhadap sumber energi fosil sudah terlalu berlebihan. Dari kota metropolitan sampai desa yang sangat terpencil membutuhkan minyak untuk mendukung berlangsungnya kehidupan. Barang itu dijadikan sebagai bahan bakar untuk memasak, sumber listrik dan sumber energi untuk kendaraan. Banyak daerah yang belum terjamah listrik dari PLN pun menggunakan mesin diesel dengan solar untuk selanjutnya disalurkan ke beberapa rumah penduduk.


Desa-desa yang memiliki sawah, peternakan dan berada dekat sungai sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi desa yang mandiri dalam hal energi. Tidak sepenuhnya bebas dari minyak bumi tapi setidaknya secara signifikan bisa mengurangi ketergantungannya.

Konsep sustainable village ini secara umum adalah memanfaatkan potensi yang ada dan mengolah kembali limbah dari suatu proses untuk dimanfaatkan sebagai potensi lain. Jadi semua hal memiliki andil dan tidak terbuang percuma, termanfaatkan dan berdaya guna.


sustainable village
Konsep Desa Mandiri Energi


Peternakan
Ternak sapi atau kerbau memiliki fungsi banyak. Tenaganya bisa digunakan sebagai pembajak sawah. Kotorannya bisa dijadikan sebagai sumber biogas, juga bisa dijadikan pupuk. Dagingnya bisa menjadi sumber daging bagi warga. Jika sapinya adalah jenis sapi perah, susunya bisa menambah gizi dan bisa dijadikan penambah pendapatan warga.

Biogas
Dari beberapa fungsi peternakan di atas, saya akan menyoroti tentang biogas karena potensi ini bisa mengurangi penggunaan energi yang berasal dari minyak bumi.

Secara umum pengertian biogas adalah gas yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan organik seperti kotoran manusia atau hewan, limbah rumah tangga, dan sampah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dari biogas adalah gas metana dan karbondioksida. Metana adalah gas yang sama dengan gas alam, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak atau untuk penerangan, bahkan jika dikembangkan lagi bisa digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun sumber energi untuk menghasilkan listrik. Untuk aplikasi yang sederhana hanya digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.
 
skema biogas
Skema biogas (sumber)
Kotoran hewan dari peternakan diolah dalam instalasi biogas (biodigester) yang selanjutnya menghasilkan gas. Jika dalam peternakan terpadu, di mana semua ternak dari satu desa dikumpulkan jadi satu dalam sebuah peternakan, maka biodigester dibuat dalam skala besar, selanjutnya masyarakat bisa mengisi ulang tabung(atau penampung) gas mereka dari peternakan tersebut. Akan tetapi apabila tiap pemilik ternak memiliki kandang sendiri di rumah, maka biodigester dibuat dengan skala kecil sesuai dengan jumlah ternak. Dengan posisi yang dekat dengan rumah maka bisa langsung dihubungkan dengan pipa ke tabung (penampung) gas dan selanjutnya dihubungkan dengan kompor.

Slurry atau limbah dari biogas tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Karena justru kotoran ternak yang sudah dihilangkan kandungan gasnya tersebut merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang diperlukan tanaman.          

Saat ini di Indonesia memang kebanyakan sumber biogas hanya berasal dari kotoran ternak akan tetapi di beberapa negara lain, kotoran manusia dan limbah organik juga dimanfaatkan. Jadi (maaf) kita membuang hajat di WC di rumah kita lalu septic tanknya dihubungkan dengan instalasi biogas, selanjutnya hasilnya dikembalikan lagi ke rumah kita dalam bentuk gas untuk memasak. Kita memberi kita juga mendapat hasilnya.

Sawah/Ladang
Sebagai sumber untuk memenuhi pangan bagi warga desa, sawah membutuhkan pengairan, pupuk dan dibajak. Pengairan diperoleh dari sungai sedangkan untuk membajak dan pupuk di dapat dari peternakan. Memang traktor akan membajak lebih cepat dan lebih kuat, tapi memanfaatkan hewan ternak juga tak ada salahnya. Lagipula ternak juga makan dari rumput yang ada di sawah atau jerami padi. Mereka pada dasarnya saling membutuhkan.
sawah
Sawah yang merupakan sumber kehidupan 
Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam (bagian luar/pembungkus bulir padi) sekitar 20-30% dari bobot gabah, dedak (kulit ari) sebanyak 8-12% dan beras giling antara 50-63,5%.

Dedak dimanfaatkan sebagai pakan ternak seperti ayam atau bebek. Sedangkan sekam yang hasilnya cukup besar dalam proses penggilingan selama ini dianggap sebagai limbah. Yang paling umum pemanfaatannya adalah sebagai pelengkap bahan bakar dalam pembuatan gerabah, genteng dan batubata.

Sebenarnya ada potensi yang sangat berguna dari sekam. Dengan menjadikannya sebagai arang, maka arang sekam tersebut bisa digunakan sebagai media tanam, khususnya untuk tanaman hias. Arang sekam juga bisa digunakan sebagai briket dan memiliki fungsi yang sama dengan arang yang digunakan penjual sate sebagai bahan bakar.

Potensi lain dari sekam adalah abunya.  Abu sekam memiliki kandungan organik yang bisa berfungsi sebagai pupuk. Dengan mencampurkan dengan pupuk lain sesuai dengan takaran yang tepat maka akan terbuat pupuk yang sangat bagus.

Sekam juga memiliki kandungan silika. Silika ini adalah salah satu unsur dalam pembuatan semen. Dengan penelitian yang lebih lanjut maka bisa dijadikan sumber untuk membuat bahan konstruksi yang kuat.

Sungai
sungai
Sungai
Cukup banyak sungai yang mengalir di negara kita. Selama ini pemanfaatannya yang paling umum adalah untuk irigasi, mengairi sawah atau untuk perikanan. Beberapa sungai besar dibendung lalu dibagun sistem irigasi sebagian lagi dijadikan sebagai sumber energi untuk PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air). PLTA seperti ini akan menghasilkan listrik dengan kapasitas yang besar dan bisa disalurkan dalam lingkup wilayah yang luas.

Lalu bagaimana dengan sungai yang bukan dalam kategori sungai besar, apakah bisa dijadikan sumber energi? Jawabnya adalah bisa. Dengan memanfaatkan teknologi mikrohidro, maka kebutuhan listrik di daerah terpencil bisa dipenuhi (daerah yang memiliki sungai tentu saja).

Mikrohidro adalah pembangkit listrik dengan tenaga air dalam skala yang kecil. Secara konsep, mikrohidro ini sama dengan PLTA hanya saja tenaga listrik yang dihasilkan lebih kecil. PLTA yang menghasilkan listrik di bawah 200 KW digolongkan sebagai pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Pengertiannya secara teknis, mikrohidro adalah proses untuk mendapatkan energi listrik dengan memanfaatkan aliran air(debit) dan ketinggian jatuh (head) air untuk menggerakkan turbin yang selanjutnya menghasilkan listrik. Sederhananya bisa dengan membendung sungai lalu jatuhnya air itu digunakan untuk menggerakkan turbin (roda air) yang dijadikan sumber penggerak untuk generator. Generator inilah yang akan menghasilkan listrik.
 
contoh skema mikrohidro
contoh skema mikrohidro (sumber)
Dengan skala yang kecil, katakanlah proses mikrohidro dapat menghasilkan daya 2000 Watt, lalu tiap rumah mendapatkan jatah 100 watt, maka bisa menerangi 20 rumah. Jangan samakan dengan rumah-rumah di kota yang butuh listrik di atas 1000 watt tiap rumah. Di pelosok negeri ini untuk penerangan sebatas menyalakan bohlam saja banyak yang kesulitan. Untuk belajar pada malam hari banyak dari mereka yang masih menggunakan pelita. Listrik adalah barang langka.

Memang untuk membuat perangkat mikrohidro membutuhkan dana yang lumayan mahal, akan tetapi untuk hitung-hitungan ke depannya, sumber energi ini akan lebih murah daripada generator diesel yang membutuhkan makan solar banyak tiap harinya. Apalagi mikrohidro merupakan energi putih yaitu energi yang memang telah disediakan oleh alam dan ramah lingkungan.

Kesimpulan
Ini bukanlah konsep baru, sudah banyak diterapkan di desa-desa dan konsep ini bukanlah konsep baku yang harus dilakukan sama persis dengan yang saya gambarkan, tetapi tergantung dengan potensi yang dimiliki oleh tiap-tiap desa. Kenalilah apa yang dimiliki, dari apa yang dimiliki itu apa saja yang bisa dimanfaatkan. Carilah proses yang benar-benar ramah lingkungan atau tidak ada limbah yang merusak atau merugikan. Misal ada limbah dari suatu proses carilah pemanfaatannya agar tidak terbuang percuma. Konsep ini juga bukanlah konsep yang benar-benar ideal dan masih banyak kelemahannya. Ini hanyalah contoh sederhana untuk pemanfaatan potensi dan untuk mengurangi ketergantungan energi fosil yang disamping mahal dan hendak habis keberadaannya, juga merupakan energi yang memiliki efek samping yang buruk. Dengan menciptakan banyak desa mandiri energi membuat mereka bisa menggerakkan laju kehidupan desa tanpa banyak tergantung dari luar, tetapi bisa memenuhi diri sendiri dari apa yang dimiliki.

Salam,


Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya, Kebiasaan Bersahabat dengan Lingkungan

Minggu, 08 Juni 2014

Potret Anak-Anak

08.30 // by Wisnu Yuwandono // // 8 comments

anak-anak

Namanya Kadek Arya. Umurnya baru menginjak 2 tahun. Meski masih sangat kecil, dia punya cadangan energi yang berlebih, hiperaktif, ga punya capek. Jangan tanya nakalnya, ga ada tandingannya.

Dia adalah anak pertama dari teman saya. Kadek, begitu anak kecil itu panggilannya. Dibalik kenakalannya sebenarnya memiliki paras wajah yang ganteng, imut dan juga lucu. Calon idola para cewek masa depan.

Kadek punya adik perempuan yang umurnya masih 7 bulan. Komang Anjani namanya. Dia juga tak kalah lucu. Dengan kepala yang baru saja dicukur plontos, membuatnya terlihat makin menggemaskan.

Memoto anak-anak bisa dibilang cukup susah bagi yang tak terbiasa bergaul dengan mereka. Karena untuk mendapatkan ekspresi natural mereka harus membuat mereka merasa nyaman. Ajaklah bercanda, bermain atau kegiatan apapun yang membuat mood mereka datang. Baru deh jeprat-jepret.

Memotret anak memang gampang-gampang susah.
anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

anak-anak

Kamis, 05 Juni 2014

Kebiasaan Bersahabat dengan Lingkungan

09.34 // by Wisnu Yuwandono // // 14 comments

Sumber daya alam adalah pendukung utama dalam kehidupan makhluk hidup. Selama ini kita selalu berkoar-koar bahwa kita adalah bangsa dengan sumber daya alam yang melimpah ruah hingga seolah-olah dalam pikiran bawah sadar kita terasa bahwa itu semua tak akan pernah habis. Tapi apakah benar demikian?



Secara umum SDA (sumber daya alam) dibagi menjadi dua, terbarukan dan tidak terbarukan. Terbarukan adalah SDA yang bisa diregenerasi lagi, atau juga yang keberadaannya tak terbatas. Sedangkan yang tak terbarukan adalah SDA yang tidak bisa diregenarasi lagi atau kalau bisa butuh waktu yang sangat lama.  Dari dua kategori ini jika dipikir secara sederhana seharusnya untuk memenuhi energi, penggunaan SDA terbarukan lebih diutamakan dan terus diregenerasi keberadaannya sedangkan yang tak terbarukan harusnya digunakan sesedikit mungkin, diirit dan dieman-eman. Kenyataannya tak seperti itu.

Kita ambil contoh SDA tak terbarukan yang paling umum, minyak. Minyak sejatinya adalah sumber dari berbagai macam produk. Jangan pikir minyak hanya bisa menghasilkan minyak tanah dan bensin saja. Bahan-bahan plastik juga adalah turunan dari minyak bumi. Eksploitasi minyak ini benar-benar banyak sekali. Penggunaanya tak kalah banyak, malah lebih banyak. Di Jawa terutama, dari zaman generasi orang tua kita atau mungkin dari generasi di atasnya, mereka dimanjakan dengan harga minyak yang murah dan melimpah. Dari situ terbentuk sebuah perilaku yang menurun ke anak cucu mereka tentang pemanfaatan minyak sebagai bahan bakar. Mereka (kita) memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk memasak dan bahan bakar kendaraan. Penggunaan sebagai bahan bakr kendaraan juga sangat dipengaruhi oleh transportasi publik yang tidak pernah dibagun dengan memadai oleh pemerintah. Kebiasaan untuk mengendarai kendaraan pribadi ini telah tertanam sangat dalam di kebiasaan kita. Jadinya, banyak yang merasa malas untuk menggunakan transportasi publik, meskipun seandainya sudah ada. Itu karena sudah terbiasa.

Lalu apa pengaruhnya? Anggapan bahwa negara kita ini raja minyak itu sudah tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung salah. Jumlah minyak yang kita produksi sudah tidak mampu lagi memenuhi permintaan minyak dalam negeri. Lalu selanjutnya kita mengimpor. Iya kita impor minyak. Jangan pikir kita yang dulu adalah eksportir minyak akan tetap mempunyai predikat eksportir selamanya, sekarang kita sudah kehilangan predikat itu. Lalu karena kita impor minyak dan tak kuasa untuk menanggung besarnya subsidi, maka sedikit demi sedikit harganya dinaikkan. Masyarakat kita yang sebagian besar masih tidak mampu, menghadapi kenaikan harga BBM mereka kaget, kelabakan. Tapi apakah mereka lalu menghemat penggunaan BBM? Jawabannya tidak.

Sekali lagi kebiasaan kita tetap susah dihilangkan. Siapa yang membuat kebiasaan ini berlangsung terus menerus? Saya pikir kita bisa menyalahakan kebijakan pemerintah dari dulu, tidak hanya kebijakan yang sekarang. Moda transportasi massal yang sangat buruk, bahkan banyak tempat malah tidak ada sama sekali membuat kita terbiasa untuk menggunakan kendaran pribadi. Sekarang ketika kendaraan pribadi memenuhi jalanan, mereka baru kebingungan membangun fasilitas transportasi. Terlambat? Iya, sangat. Tapi itu tetap harus dilakukan. Mengapa? Karena cadangan minyak kita semakin menipis. Selain itu kita butuh untuk menciptakan kebiasaan baru, tidak menggunakan kendaraan pribadi. Menciptakan kebiasaan baru itu sangat sulit, setidaknya butuh beberapa masa untuk sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan lama.

Itu adalah salah satu contoh saja dalam penghamburan penggunaan minyak. Masih banyak lagi contoh penggunaanya yang berlebihan. Dengan eksploitasi seperti ini minyak bumi diprediksi tak lama lagi akan habis. Semuanya kebingungan bagaimana untuk memperlama umur ketersediaannya. Berbagai sumber alternatif diupayakan tapi tetap saja tidak terlalu memuaskan bahkan hanya memindahkan kegunaan minyak kepada SDA tak terbarukan lain. Solusi yang kurang solutif.

Di negara yang posisinya berada tepat di garis khatulistiwa dan dianugerahi sebagai negara kepulauan dengan lautan yang berada di sekeliling kita dan juga berada di jalur ring of fire, mereka ini sesungguhnya adalah SDA terbarukan yang seharusnya kita sadari dan memanfaatkannya jauh lebih banyak daripada SDA tak terbarukan. Sayangnya panas matahari yang tak habis sepanjang tahun, angin yang selalu berhembus kencang dan titik panas bumi yang tersebar itu tak dimanfaatkan dengan baik. Sayang sekali.

Kebijakan-kebijakan ini memang membuat semuanya menjadi korban. Bumi kita tercabik oleh pertambangan yang membabi buta, tapi kita sebagai masyarakat tak mendapatkan nilai yang setimpal. Jadi peran apa yang bisa kita mainkan dalam kehidupan untuk mempengaruhi penggunaan sumber daya alam dengan baik? Banyak. Kurangi penggunaan minyak dan turunannya (plastik, dll) (baca : Bawa Botol Minummu Sendiri), gunakan transportasi umum, dan masih banyak lagi kebiasaan bagus yang ramah lingkungan.

Sebenarnya hidup menyatu dengan alam juga bisa menjadi solusi jitu yang bisa diaplikasikan. Sustainable village (baca : Desa Mandiri Energi), begitu kalau tidak salah program utama saat saya mengambil Kuliah Kerja Nyata (KKN) saat di bangku kuliah. Desa seperti apa itu? Desa yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Jadi begini sebuah desa memiliki berbagai macam komoditi yang bisa memenuhi apa yang menjadi permintaan warganya. Kebutuhan listrik didapat dari pembangkit listrik mikrohidro dari sungai mengalir. Nasi didapat dari sawah. Hasil dari kulit bulir padi bisa dimanfaatkan sebagai media tanam tanaman hias. Lalu pupuk untuk sawah didapat dari pupuk kompos yang berasal dari ternak. Peternakan sapi atau kerbau sendiri bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk membajak sawah. Lalu kotoran ternak dan manusia bisa diolah menjadi biogas, menjadi sumber energi untuk masak atau bahkan bisa dijadikan sumber untuk penerangan. Itu hanya beberpa contoh saja karena masih banyak lagi sumber yang bisa dimanfaatkan, bahkan hasil samping dari suatu produk bisa digunakan untuk mendukung proses lain.
Go Green
Sungai yang ada di dekat Desa Waerebo
Waerebo di Manggarai, Flores adalah salah satu desa tradisional yang masih menyatu dengan alam. Untuk membangun rumah, sebagian besar mereka dapatkan dari memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Saat ini mereka masih menggunakan generator diesel untuk penerangan di malam hari. Tapi sebentar lagi mereka akan memanfaatkan air terjun yang tak jauh letaknya untuk dijadikan sumber energi. Di samping itu, mereka juga menjaga hutan di sekitarnya agar air sungai di sekitarnya tetap mengalir.

Ada juga Desa Penglipuran, Bali yang memiliki hutan bambu. Mereka memanfaatkannya tidak dengan membabi buta. Saat membutuhkan mereka ambil seperlunya sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu masih ada waktu untuk tumbuhan bambu meregenerasi, satu ditebang satu ada yang tumbuh. Begitu terus, sehingga tetap terjaga keberadaannya.
Go Green
Hutan Bambu yang ada di Desa Penglipuran
Itu hanya contoh kecil saja. Saya yakin tak hanya dua desa itu saja yang mampu bersahabat dengan alam. Yang disayangkan adalah lebih banyak desa atau wilayah yang tak bisa mandiri, semuanya tergantung dari pasar.

Mari buat pola pikir dan kebiasaan yang lebih bermanfaat dan memihak kepada lingkungan. Tanamkan itu pada diri sendiri lalu menyebar ke orang-orang sekitar kita. Jika semua orang berperilaku seperti itu maka virus kebaikan ini akan terus menyebar. Ingat, sumber daya alam yang banyak digunakan sebagai sumber energi kita selama ini itu tak abadi, sebentar lagi habis. Segera cari alternatif sumber daya alam lain yang tak pernah habis dan ramah lingkungan.

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati World Environment Day 2014.
Tulisan lain dari teman-teman Travel Bloggers Indonesia :
Menjelajajah Negeri Orang Laut oleh @dananwahyu
Selamat Datang di Masa Depan oleh @yofangga
Tentang Cagar Alam & Etika Jalan-jalan di Alam oleh @catperku
Interview with Tiza Mafira : Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik oleh @discoveryourindo
Dilema Wisata Karimunjawa oleh @fahmianhar
Hutan Kalimantan Nasibmu Kini oleh @backpackerborneo
Apa itu Green Tourism? oleh @FeliciaLasmana
5 Dosa Para Pendaku Gunung yang Harus Dihindari oleh @wiranurmansyah
Jatuh Cinta kepada Hijau oleh @miss_almayra
Ber-Ekowisata bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran oleh @oli3ve
Bersihnya Situ Gunung.. oleh @ubermoon
Menjaga Etika Perjalanan, Menjaga Alam oleh @efenerr
How Environment-Friendly Are You? oleh @duabadai
Musuh Abadi, Plastik oleh @adliencoolz
Ekosistem Pesisir di Ujung Negeri oleh @lostpacker

Rabu, 04 Juni 2014

My First Two Dive : Beautiful Blue Lagoon and Jepun

00.22 // by Wisnu Yuwandono // // 6 comments

This activity sponsored by BeMyGuest, one of the fastest growing tour and activity booking platforms in Asia.

My First Two Dive
Buoyancy Control Device
Diving. This was one activity that I really wanted to give a try, but just like other newbies, I didn’t know where to start. I was debating between taking a dive course to get a license or trying the scuba discovery (dive introduction for non diver) one or two times and then continue with a dive course. 

I heard about BeMyGuest from my friend and found out that they also offer a scuba discovery package, which is an Introductory Dive Trip to Blue Lagoon and Jepun, Amuk Bay, Bali, Indonesia. Since this is an introductory dive, the participants are not required to have a diving license. Perfect! I decided that this was something that I really wanted to try. An introduction for a beginners dive was something that I was really curious about. I mean, what is it like, the sensation of flying underwater?

After placing the order, I got a phone call from the dive center to reconfirm my participation and explain several things. They said that they will pick me up from my hotel and they would prepare that everything else. I just (literary) needed to prepare myself for my first dive! 
My First Two Dive
Me

On the appointed day, they picked me up with a comfortable travel car and then we headed to Padang Bai in Karangasem regency. I was a bit nervous about my first dive. That day I would have two dives; in Blue Lagoon and Jepun. Before I started diving, the dive guide gave me a diving overview and let me know about things that I needed to know about for my first dive. Bli Marta, the dive guide who was going to be my dive buddy was a dive master. The dive center where Bli Marta worked is one of the Bali's best dive-centers, it is a PADI five star dive center. 

The first dive site was at the Blue Lagoon, probably the most famous dive site in Padang Bai.  I have to say, I was not used to breathing with my mouth! When I first entered the water and started to descend, I started to panic, because of the awkwardness of breathing underwater. I instantly wanted to swim back to the surface and breath through my nose.
My First Two Dive
Bli Marta

Fortunately Bli Marta was very patient and case-hardened (I bet he has had tons of experience of diving with panicking first timer diver). After calming me down, I started to descend again into the water. Bit by bit I began to enjoy the underwater world. Thankfully there was almost no current in Blue Lagoon, which helped me a lot to adjust and feel comfortable on my first dive. The visibility was not so bad and I saw a lot of colorful coral. It was so pretty!

By the second dive, I was more comfortable. We dived at the Jepun dive site. At this point, I was more used with the diving equipment and was less awkward about breathing through my mouth. Though Bli Marta kept his eye on me and guided me directly and patiently. The current at this site was a tiny bit stronger compared to Blue Lagoon. I remember I had a problem with my buoyancy.  It was so difficult to maintain buoyancy! Bli Marta guided me and showed me how to maintain my buoyancy underwater. Although the current was slightly stronger, the coral and fish at Jepun were more diverse. The first dive experience was a very memorable one for me! 

Thanks BeMyGuest for preparing everything very well and for working with professional dive center.  I totally felt safe and comfortable. Check out BeMyGuest's on social media : Facebook, Twitter, Google+.


This post translated by : Firsta DiscoverYourIndonesia. Thanks !