• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 29 Mei 2012

Gili Trawangan : Cerita dari Pulau Internasional

07.28 // by Wisnu Yuwandono // , , // 1 comment


Gili Trawangan, Lombok
Sunrise dan Rinjani
18 Mei 2012
Langit yang begitu cerah menemani pagi itu di Gili Trawangan. Gunung Rinjani terlihat gagah di kejauhan. Perahu-perahu banyak yang bersandar di pantai, sebagian berada di tengah laut, bahkan sudah ada yang bergerak di waktu sepagi itu. Saya suka pagi, meski sejujurnya sering melewatkannya. Ah pagi ini begitu indah. Warna jingga yang membungkus matahari ketika hendak muncul itu begitu menentramkan, menghangatkan dan seperti terapi bagi hati. Saya juga suka senja dengan warna yang sama saat pagi. Keduanya adalah lukisan yang sempurna.

Minggu, 27 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 5)

22.56 // by Wisnu Yuwandono // , // 2 comments

Rinjani, Lombok
Danau Segara Anak, Rinjani

I see trees of green, red roses too
I see them bloom, for me and you. 
And I think to myself,what a wonderful world...

I see skies of blue, And clouds of white. 
The bright blessed day, The dark sacred night. 
And I think to myself, 
What a wonderful world...
(Louis Armstrong - Wonderful World)
16 Mei 2012

Pernahkah kalian harus berpisah dengan sesuatu ketika kalian mulai merasakan suka bahkan cinta? Memang cinta tak bisa ditebak datangnya, ada yang merasa ketika sudah ditinggalkan, ada juga yang merasa saat masih bersama. Saya merasakan jatuh cinta saat masih bersama akan tetapi harus segera berpisah dengannya dan entah kapan lagi kami akan saling melepas rindu. Saya jatuh cinta dengan Segara Anak, saya jatuh cinta dengan Rinjani. Dan saat cinta itu datang menggebu, saat itu pula saya harus meninggalkannya.

Selain karna rasa suka dengan Segara Anak, saya juga suka dengan suasana pagi. Saat sinar matahari menerobos ranting dan dedaunan lalu merontokkan embun. Sinar yang menyegarkan, sinar yang memberi semangat. Jadi pagi itu rasa suka saya dobel. Walaupun sejujurnya saya sering mengkhianati cinta yang satu ini, karena sering kali tidak bangun pagi :p.

Jumat, 25 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 4)

17.52 // by Wisnu Yuwandono // , // No comments


Rinjani, Lombok
Segara Anak dilihat dari Plawangan

“Somewhere over the rainbow
Way up high,
There's a land that I heard of once in a lullaby.




Somewhere over the rainbow
Skies are blue,
And the dreams that you dare to dream
Really do come true.”
(Ey Harburg)

15 Mei 2012

Mungkin sebagian besar diantara kita pernah bermimpi tentang suatu tempat yang sangat indah. Kebanyakan imajinasi itu ada waktu masih kecil, walaupun tidak sedikit yang tetap menghiasi pikiran ketika sudah beranjak dewasa. Dan bahkan tetap mencarinya. Saya sendiri selalu ingin pergi ke dunia dimana hanya ada keindahan dengan suara angin yang tenang dan gemericik air.

Rinjani: Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 3)

16.12 // by Wisnu Yuwandono // , // No comments


Rinjani, Lombok
Pelawangan yang berkabut

14 Mei 2012
Brrrrrrrr,,,Suara gemuruh angin ditemani hujan yang turun cukup deras itu membangunkanku ditengah malam. Rencana awal jam 2 dini hari kami akan melakukan summit attack ke puncak Rinjani. Tapi apa mau dikata, semuanya kecuali saya tidak berani menerjang badai pagi itu, selain suaranya yang memang mengerikan, tubuh kami sepertinya masih butuh istirahat setelah menempuh perjalanan yang berat dihari kemarin. Dan semuanya kembali terlelap.

Sinar mentari membangunkan kami di pagi harinya, meski keseluruhan badannya tertutup kabut tebal, masih saja sinarnya sanggup menerobos hingga membuat ruangan di dalam tenda menjadi terang. Pagi yang dingin, dengan rintik hujan yang masih sesekali turun, dan angin yang belum berhenti menerjang membuat pohon di sekitar tenda kami bergoyang, tak terkecuali tenda kami sendiri. Badanku sendiri terasa pegal-pegal, terutama di bagian leher karena malamnya tidur dalam posisi yang tidak jelas. Kaki tidak bisa lurus dan kepala miring, hasilnya leher tengeng :D. Tenda kami memang kecil, idealnya maksimal untuk 3 orang, sedang ini kami mengisinya dengan 4 orang, saling gencet-gencetan, mirip sandwich terinjak :)).

Rabu, 23 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 2)

14.13 // by Wisnu Yuwandono // , // 2 comments


Rinjani, Lombok

13 Mei 2012
Pagi sebelum mentari menghangatkan bumi, kami sudah menggerakkan tubuh dengan berkemas mengepak barang bawaan ke dalam backpack masing-masing. Dengan pertimbangan seksama, maka diputuskan untuk menyewa satu porter karena saya tidak akan kuat membawa barang, haha. Alhasil barang yang sangat memakan ruang dan berat dioper ke mas porter, yaitu tenda. Jadi barang yang dibawa porter adalah tenda, air mineral 1,5L jumlahnya 8 botol, beras, dan tubuh saya, ups ga ding :D. Yang penting beban porter maksimal 25 kg. Beban bawaan tiap orang tidak terlalu berat, saya sendiri mungkin membawa beban sekitar 10kg lebih. Walaupun sebagian barang sudah dibawa porter, tetap saja beban segitu cukup menguras tenaga karena perjalanan yang ditempuh sangat panjang.
Rinjani, Lombok
Gerbang Pendakian Rinjani via Sembalun (photo courtesy of Djoko Soetono)
Oh ya saya akan memperkenalkan anggota dulu. Yang pertama adalah pria bersahaja, muka rata, dan banyak ingusnya, kecil kerempeng dan bikin iba, nah itu saya :(,haha. Yang kedua adalah M. Fathkul Hakim, pembalap, pemuda berbadan gelap yang merupakan pencetus ide pendakian ini. Selanjutnya adalah Nor Hasan karyawan PLN yang kabur dari pekerjaannya di pulau antah berantah untuk mengikuti petualangan ini, badannya tua dan semangat juga tua, hehe. Selanjutnya adalah 4 karyawan pabrik pupuk terbesar se Gresik, silakan tebak perusahaan apa itu :p. Pertama adalah Hakim Rahman yang biasa dipanggil Hakim duwur yang masuk dalam panitia perencana pendakian. Lalu ada Pak Djoko Soetono, pemuda yang umurnya mendekati 50 tahun, tapi semangatnya 17 tahun lebih tua, haha, pak Djoko memiliki stamina paling prima diantara kami dan memilik kata andalan yaitu 'masuuukkk...'. Sebastian Nababan, pemuda asal Pekanbaru dengan perawakan besar dan tenaga yang tidak sebesar badannya. Risang Pradipta, yang belakangan saya ketahui dia adalah anak dari dosen pembimbing akademik saya, dunia begitu kecil. Dan yang terakhir dan merupakan satu-satunya wanita dalam kelompok ini dan menjadi hiasan diantara laki-laki buram, Zakiyah Derajat, atau biasa dipanggil Zaki atau Jeki atau Jeck, panggilannya banyak asal bukan Ojek atau Aki.

Selasa, 22 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 1)

12.20 // by Wisnu Yuwandono // , // 2 comments


12 Mei 2012
Lamunanku terpecah ketika suara pengumuman di Bandara Ngurah Rai memberi tahu bahwa penumpang tujuan Lombok untuk segera masuk ke pesawat. Pikiranku memang sudah melayang ke tempat tujuan utama dari perjalanan ini. Bagaimana tidak, tujuan kali ini benar-benar menguras emosi, pikiran dan juga hmm materi. Tujuan yang sudah dari dulu diimpikan, imagi yang selama ini selalu hanya menjadi mimpi, Rinjani.


Bandara Lombok Praya

Pesawat segera berlari meninggalkan landas pacu tak lama setelah saya menyandarkan bahu di seat pesawat. Bali –Lombok sangatlah cepat jika ditempuh dengan pesawat. Oh ya kenapa saya memilih pesawat daripada perjalanan darat-laut. Pertama, meeting point rombongan di bandara Lombok, nah saya gak tau sama sekali tentang Lombok. Kedua, pendakian akan sangat menguras energi, jika perjalanan darat-laut saya lakukan pastinya energi saya sudah terkuras duluan, apalagi saya sudah sangat jarang berolahraga, bisa-bisa tewas sebelum berperang. Yang ketiga ternyata tiket pesawat tidak terlalu mahal. Akhirnya pesawatlah yang menjadi pilihan.

Saya orang pertama dari rombongan yang tiba di Lombok, saat keluar bandara ternyata banyak sekali orang diluar, seperti pasar. Disini orang yang pergi atau datang, diantar atau dijemput sekeluarga. Suasana kekeluargaan khas Indonesia. Jam 10.30 WITA pesawat sudah landing, sedang teman-teman landing sekitar jam 12.00 WITA. Ga ada hiburan selama menunggu. FYI, bandara Lombok ini baru dan letaknya di pelosok, jadi belum banyak ‘hiburan’ di sekitarnya.