• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2016

Teman Menapaki Perjalanan Hidup

14.02 // by dalijo // // 34 comments

travelmate

Pertengahan semester pertama tahun 2013 adalah masa-masa yang tidak terduga sebelumnya. Saya yakin bahwa saya akan mendapatkan pengalaman yang sangat indah ketika saya melakukan perjalanan ke Kepulauan Komodo, tapi saya tidak menyangka bahwa apa yang saya dapatkan kemudian jauh lebih indah daripada yang pernah saya bayangkan sebelumnya.
travelmate
Di Gili Lawa
Seperti yang sudah saya ceritakan di posting berjudul kebetulan yang menyenangkan. Untuk melanjutkan hubungan atau untuk sekedar bertemu adalah sebuah perjuangan besar bagi kami. Apakah saya yang mengunjunginya ke Flores ataukah dia yang terbang menemui saya di Bali, keduanya membutuhkan banyak pengorbanan baik materi maupun niat. Untungnya kami mampu melalui perjuangan itu. Bahkan ketika akhirnya kami meninggalkan dua tempat tersebut, meski tetap tidak dalam satu kota, saya meninggalkan Bali untuk selanjutnya tinggal di Jakarta dan dia meninggalkan Flores untuk melanjutkan kehidupan lagi di Surabaya, kami masih bisa melaluinya.

31 Oktober 2015 menjadi angka-angka yang akan selalu kami ingat. Karena pada tanggal itu kami meresmikan hubungan pada sebuah ikatan resmi, ikatan yang sah. Saya menjadi suami dan dia menjadi istri. Ikatan dua unsur yang berbeda yang selanjutnya menjadi senyawa yang tidak bisa dipisahkan.
travelmate
Sudah Sah :)
Perjalanan panjang kami dimulai dari sebuah perjalanan. Seperti sebuah reaksi awal yang selanjutnya memicu banyak reaksi berantai di kemudian hari. Peristiwa tersebut akan selalu saya kenang sebagai awal mula kami menjadi pasangan perjalanan menapaki kehidupan di depan.

Saya dan juga kita semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, tidak akan pernah tahu berapa banyak lagi perjalanan yang akan kita lakukan, tapi saya sudah tahu siapa yang akan menemani perjalanan saya nanti. Perkenalkan, istri sekaligus travelmate saya, Okky Marita Ardy :)
travelmate
Istri sekaligus travelmate
Tulisan ini dibuat dalam rangka #posbar bersama teman-teman Travel Bloggers Indonesia bertema #ultimatetravelmate. Jangan lupa untuk mampir ke postingan teman-teman saya berikut :
6. Mas Edy Masrur - Istriku Travelmate-ku
7. Olive Bendon – My Guardian Angel
9. Indri Juwono - Si Pelari Selfie, sebut saja namanya Adie
10. Rembulan Indira - Ultimate Travelmate - Kakatete
11. Karnadi Lim - Teman Perjalananku dan Kisahnya
12. Rey Maulana - Ke Mana Lagi Kita Berjalan, Kawan?
13. Atrasina Adlina - Menjelajah Sebagian Ambon Bareng Bule Gila
14. Richo Sinaga - My Travelmate, Pria Berjenggot dengan Followers 380K
15. Puspa Siagian - Travelmate : GIGA
16. Sutiknyo Tekno Bolang : Mbok Jas Teman Perjalanan Terbaik
17. Taufan Gio - Travelmate Drama, Apa Kamu Salah Satunya?
18. Lenny Lim - 3 Hal Tentang Travel-Mate
19. Matius Nugroho - 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita
20. Fahmi Anhar - Teman Perjalanan Paling Berkesan
21. Liza Fathia - Naqiya is My Travelmate
22. Imama Insani - Teman Perjalanan
23. Putri Normalitas - My Unbelievable Travelmate
24. Vika Octavia - Sesaat bersama Supardi

Senin, 11 Mei 2015

Segarnya Curug Sawer

07.13 // by dalijo // , , // 25 comments

Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Melepas kepenatan setelah bekerja dan tinggal dalam ritme kehidupan Kota Jakarta banyak caranya. Salah satunya adalah pergi berlibur. Meski di Jakarta sendiri banyak menyediakan tempat liburan, saya memilih untuk sejenak ke luar dari gegap gempitanya kota ini. Tak terlalu jauh, melipir ke selatan, saya sudah bisa menghirup udara yang lebih segar. Letaknya ada di daerah Sukabumi.

Lokasi yang saya kunjungi ini berupa air terjun, namanya Curug Sawer. Terletak hampir sekitar 130 kilometer dari titik nol ibu kota negara, tempat ini jauh dari riuhnya keramaian. Atau mungkin saya sedang beruntung karena saat itu sedang sepi pengunjung. Posisinya ada di kaki Gunung Gede Pangrango. Untuk mencapai Curug Sawer, dari Jakarta saya bersama teman-teman naik KRL Commuter Line pagi-pagi sekali menuju Stasiun Bogor. Selanjutnya disambung dengan naik kereta Pangrango dari Stasiun Paledang menuju Sukabumi berangkat pada pukul 7.55 WIB. Stasiun Paledang ini letaknya tidak jauh dari Stasiun Bogor, tak lebih dari 1 kilometer.

Hampir 2 jam di atas kereta, Stasiun Cisaat menjadi pemberhentian kami selanjutnya. Stasiun yang cukup kecil, bahkan pintu dari gerbong ekonomi 4 yang kami naiki tidak mendapatkan peron untuk turun dari kereta. Kami harus turun pada bagian bawah tembok tempat gudang sementara perusahaan semen.

Curug Sawer, Sukabumi
Jalan setapak
Tujuan berikutnya adalah pangkalan angkot atau lebih tepatnya tempat mangkal angkot yang rute trayeknya ke arah Curug Sawer, ada dua pilihan untuk menuju ke sana dari stasiun, naik angkot juga atau jalan kaki. Kami memilih opsi yang kedua. Tempat ngetem angkot ada di dekat Polsek Cisaat. Untuk membedakan rute angkot bisa dilihat dari warnanya. Angkot warna merah adalah angkot yang akan membawa kami ke Kadudampit, tujuan kami. Diiringi lagu yang mendayu-dayu yang diputar di dalam angkot, kurang dari satu jam kami sampai di daerah Kadudampit. Dari sini kami harus berjalan sekitar 200-300m sampai ke Pos Bumi Perkemahan Cinumpang. Perjalanan yang lebih susah baru akan dimulai dari sini karena jalan berikutnya adalah jalur setapak yang menanjak. Sebenarnya ada pilihan bantuan untuk mempercepat perjalanan dengan naik ojek, tetapi kami lebih memilih untuk berjalan, lebih menantang, meski kadang harus bersusah payah mengatur nafas yang sudah mulai termakan umur tersengal-sengal.

Di tengah perjalanan ada beberapa warung yang menjual gorengan dan beberapa makanan maupun minuman ringan. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sedikit melepas lelah. Sejatinya jarak yang ditempuh tidaklah jauh, hanya sekitar 1,4 kilometer, tapi entah karena badan yang jarang berolahraga atau ada faktor lainnya, saya merasa berat untuk melangkah setapak demi setapak jalanan tanah liat yang menanjak. Atau mungkin saya harus menyalahkan alas kaki saya yang hanya bersandal jepit.
Curug Sawer, Sukabumi
Pos retribusi
Sekitar setengah jam berjalan kami sudah sampai di tujuan utama kami, Curug Sawer. Air terjun turun dari ketinggian sekitar 25-30 meter dengan begitu deras. Debitnya juga cukup besar, sehingga tempias airnya terbang cukup jauh, terasa seperti rintik hujan. Hanya ada beberapa pengunjung selain kami.  Suasana yang cukup sepi, memang itulah tujuan kami, pergi dari keramaian.

Hawa terasa sejuk, nikmat sekali merasakannya. Menghirup udara seperti ini membuat paru-paru terasa segar. Pohon-pohon yang masih rimbun juga menjadi faktor pendukung yang sangat penting. Di sini memang adalah tempat sumbernya pepohonan. Seandainya saja semua tempat di bumi ini masih banyak pepohonan pasti polusi udara bisa jauh berkurang.
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Dagangan, gorengan dan minuman di Curug Sawer
Menikmati kesejukan seperti ini sangat cocok dikombinasikan dengan melahap makanan berkuah yang masih panas. Beruntung sekali ada beberapa penjual bakso. Salah satu penjual bakso itu adalah Mang Maman. Dari raut wajahnya kira-kira umurnya sekitar 50 tahun. “Sudah 10 tahun dik, mamang berjualan bakso di sini” kata Mang Maman. Baksonya agak unik, karena mie yang digunakan adalah mie instan. Jadi bukan bakso seperti pada umumnya, ini adalah mie instan yang diberi bakso.
Curug Sawer, Sukabumi
Mang Maman, sang penjual bakso
Curug Sawer, Sukabumi
Mie instan plus bakso
Menurut Mang Maman air terjun ini dinamakan Curug Sawer karena seringkali air tempiasnya sangat banyak dan terbang jauh sekali, seperti semprotan. “Makanya orang Sunda nyebutnya sawer, kaya orang nyawer” dengan logat Sunda yang kental Mang Maman menjelaskan.

Untuk sampai ke tempat ini, mang Maman naik ojek dari rumahnya yang letaknya tak terlalu jauh. Peralatan dagangnya ia titipkan di pos retribusi, jadi dia hanya membawa bahan makanannya saja dari rumah. “Kalau libur begini biasanya kalau Sabtu sepi, Minggunya yang ramai. Kalau Sabtu ramai, Minggunya yang sepi” si mamang melanjutkan lagi ceritanya. Suasana Curug Sawer sangat ramai adalah ketika ada rombongan yang sedang kemah, baik di Cinumpang maupun di sekitar Situ Gunung.

Sebaiknya jika ingin merasakan dinginnya air curug jangan sampai mendekati lingkaran jatuhnya air. Selain alirannya jatuh dengan sangat deras, juga kedalamannya konon sampai 10 meter. Apalagi ada pusarannya yang bisa menarik orang masuk ke dalam dan susah untuk melepaskannya. “Pernah ada yang meninggal dik” Mang Maman mengingatkan. Saya memang tidak berniat untuk nyebur karena tidak membawa baju ganti. Untungnya teman-teman saya yang sudah duluan nyebur tidak mendekati jatuhnya air, tetapi mereka bermain di aliran sungai yang berjarak aman dari pusaran arus.

Waktu sudah mulai menggelincir meninggalkan siang, saatnya kami beranjak untuk menuju kembali ke ibu kota. Meskipun kami tak melihat pelangi yang biasanya muncul di samping air terjun seperti Mang Maman bilang, Curug Sawer sudah berhasil mengembalikan energi kami untuk menantang hari depan lagi.
Curug Sawer, Sukabumi
Miniatur mobil off road ikut nampang

Sabtu, 07 Februari 2015

Kebetulan yang Menyenangkan

11.14 // by dalijo // , , // 21 comments

romantisme komodo

Sudah cukup banyak aku menuliskan tentang perjalanan ke Komodo dan Nusa Tenggara Timur, tetapi tak ada penjelasan rinci mengapa aku begitu tergila-gila dengan daerah itu.  Komodo baik hewan maupun kepulauannya adalah sesuatu yang sangat istimewa tetapi bukan hanya itu saja yang membuatnya begitu membekas dalam hidupku. Jawabannya adalah karena aku menemukan cinta di sana.

Dua tahun lalu saat pertama kali mengunjungi Komodo, aku menumpang kapal rombongan dokter yang sedang tugas PTT di kawasan NTT.  Dari 11 orang dalam rombongan itu, 10 orang adalah perempuan, dan salah satunya adalah wanita yang mempesona hatiku.

Di antara rombongan dokter wanita yang semuanya terlihat seperti putri raja itu, dia terlihat seperti dewi kahyangan. Bagiku dia begitu sempurna, namun kesempurnaan itu juga tak membuatku memiliki nyali berlebih untuk sekedar menatapnya lebih dari 5 detik. Dari sekian banyak permata yang dia miliki, yang bisa aku curi hanyalah pandangan, ya aku hanya bisa mencuri pandang. Bahkan kacamata hitamku aku gunakan sebagai tameng untuk menutupi pandanganku padanya. Pengecut.

Aku justru berbincang dengan orang lain tentang diriku. Ada satu kata yang sepertinya menarik perhatiannya. Bali. Ya kata Bali. Aku mengungkapkan kalau saat itu homebaseku adalah di Bali. Mungkin itu adalah umpan kail yang sangat menarik bagi ikan raksasa yang susah untuk ditemukan dan tanpa sengaja dipasang di ujung kail lalu disambar oleh ikan yang diharapkan.

Dia lalu ikut dalam percakapanku. “Oh kamu tinggal di Bali ya, nanti kalau aku ke sana aku boleh nanya-nanya kamu ya?” kalimat pertama yang muncul dari mulutnya yang mungil kepadaku. Aku adalah lelaki dan dia adalah wanita, tapi justru dia yang memiliki kejantanan untuk memulai percakapan. Kalimat pertama pun bukan pertanyaan nama atau perkenalan tapi malah tentang tempat tinggal.

Setelah perkenalan yang agak unik itu, anehnya percakapan kami selanjutnya seperti kereta api eksekutif yang melaju di atas rel, jarang berhenti dan bahkan selalu didahulukan. Bahkan aku merasa kami sangat jarang berhenti di stasiun untuk sekedar menurunkan tensi percakapan, aku ingin melaju terus menuju stasiun pemberhentian terakhir.

Aku rasa aku jatuh cinta padanya. Cinta yang muncul meski belum lama bertatap muka. Aku pikir ini adalah eros. Eros adalah energi cinta yang terdalam dari seorang manusia kepada lawan jenisnya. Eros bukanlah storge (cinta pada keluarga), philia (pertemanan) ataupun agape (cinta pada Tuhan).

Ini seperti hujan deras yang turun setelah musim kemarau berkepanjangan. Ini adalah petrichor, bau wangi yang menguar dari tanah kering setelah tertimpa air hujan untuk pertama kali. Wangi yang menentramkan. Aku yakin inilah cinta yang datang setelah kehampaan. Aku yakin dialah jawabannya.

Kapal yang kami tumpangi terus melaju membelah lautan menuju Pulau Komodo. Semuanya terlihat begitu indah di mata, begitu juga dengan apa yang hatiku rasakan. Debar-debar yang menggetarkan jiwa. Air laut terlihat begitu bening hingga di dalamnya terlihat terumbu karang yang sangat elok. Meski hati wanita tak bisa dipadupadankan dengan kebeningan air laut ini, tapi aku juga bisa melihat menembus ke dalam hatinya bahwa di dasarnya dia juga merasakan debar-debar yang sama. Setidaknya siapa pula yang melarangku untuk merasakan optimisme ini.

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Benar saja, sepertinya Pulau Komodo mengajak dunia untuk membuatnya merasakan hal yang sama kepadaku. Selang beberapa minggu kemudian, kami layaknya sepasang kekasih yang saling berbagi cinta. Cinta pandangan pertama itu nyata. Menemukan cinta di ujung telapak kaki saat perjalanan itu bukan omong kosong belaka.

Cinta itu bisa datang tiba-tiba. Cinta itu bisa muncul dari sebuah kebetulan yang tak disangka. I believe this serendipity is written as my destiny.

Sabtu, 24 Mei 2014

Antara Maumere dengan Mbay

09.47 // by dalijo // , // 11 comments

Maumere
Kantor Bupati Sikka
Perjalanan ini harus dimulai lagi meski perut belum sempat diisi oleh nasi. Jam 7 pagi bus sudah menjemput kami di tempat menginap. Kebetulan jalan di depan penginapan memang menjadi jalur bus yang akan kami tumpangi. Tadi malam kami sudah bilang ke pegawai penginapan untuk memesankan angkutan. Bus ini berangkat dari Maumere menuju Mbay, ibukota Nagekeo. Ya, kami hendak menuju Mbay.

Tujuan utama kami sebenarnya adalah Riung (baca : Arung Riung). Dari Maumere untuk bisa sampai ke sana adalah lewat Mbay. Untuk sampai Mbay ada dua pilihan, lewat jalur selatan melalui kota Ende atau langsung ke Mbay melalui jalur pesisir utara Pulau Flores. Kami memilih pilihan yang kedua.

Untungnya tadi malam kami sempat membeli gorengan dan tak sempat menghabiskannya. Beberapa potong masih tersisa untuk sekedar menjadi pengganjal perut yang masih kosong. Sungguh tidak enak apabila perut kosong dan harus berada dalam bus dalam waktu yang lama. Lagi pula memang sebaiknya lambung kami diisi lebih dahulu, karena kami hendak minum dimen, sejenis obat anti mabuk. Kami memang memiliki penyakit gampang mabuk jika berada dalam kendaraan yang melewati jalan yang berkelok-kelok. Walaupun sejujurnya kami tidak tahu bagaimana jalanan yang akan dilalui.

Setelah meninggalkan penginapan kami yang letaknya di dekat kantor Bupati Sikka (Maumere adalah ibu kota Kabupaten Sikka), bus melewati jalan yang bagus di pesisir pantai Maumere. Bus yang kami tumpangi bukanlah bus besar seperti bus antar kota di Jawa. Bus ini ukurannya tanggung, seperti ukuran bus kota kalau di Yogyakarta. Penumpang tidak terlalu banyak, masih ada beberapa kursi yang masih kosong. Namun meski kursi tidak semua diisi oleh penumpang, tetap saja bus ini terlihat penuh karena bawaan penumpang cukup banyak, seperti kardus bahkan ada karung.

Tak terlalu lama setelah lepas dari Kota Maumere, bus benar-benar melewati pinggiran pantai sementara di sisi sebaliknya adalah perbukitan hijau. Pemandangan yang indah sekali. Pantai pasir putih berbentuk teluk dengan ombak sangat kecil yang sangat sepi, dan pemandangan ini tak hanya sekali atau dua kali tapi banyak sekali kami melewati pantai seperti itu. Jalanan mulai berkelok mengikuti bentuk pantai yang melengkung dan karena tiap pantai dipisahkan oleh bukit maka jalanan juga naik turun. Saat itu pula seorang ibu yang duduk di belakang kami mulai terserang penyakit mabuk. Sebelum kami tertular, dimen yang kami minum tadi mulai menunjukkan reaksinya. Asal tahu saja, dimen ini menurut saya efek telernya lebih hebat daripada antimo. Jadi meskipun pemandangan yang terhampar begitu bagus, kantuk tetap tak bisa kami tahan. Kami terlelap.

Di tengah tidur kami yang nyenyak kami terbangun karena bus berhenti dan penumpang diminta untuk turun. Karena nyawa belum sepenuhnya terkumpul setelah tidur, kami bingung, ada apa ini. Kami berdua adalah penumpang terakhir yang belum turun selain sopir. Bahkan penumpang lain sudah berjalan meninggalkan bus. Kami selanjutnya turun mematuhi perintah awak bus. Jalan aspal ini benar-benar berada di tepi laut, dan ternyata jalan tepat di depan kami ambles. Jalan terputus.
 
Maumere Mbay
Jalanan yang ambles
Saya bertanya-tanya dalam hati, apa kami hanya sampai di sini saja. Apa jalan ambles ini bisa dilalui bus. Ternyata penumpang diturunkan agar muatan bus menjadi lebih ringan sehingga bisa melewati jalan ambles itu, tentu sopir juga melakukan tugasnya dengan baik karena bisa melaluinya dengan lancar. Kami bersyukur dan masuk bus lagi untuk melanjutkan perjalanan dan kembali tertidur.

Sekali lagi kami terbangun karena bus berhenti. Kali ini bukan karena jalan rusak karena sepanjang yang kami lihat di depan jalanan mulus-mulus saja. Kami sudah tidak berada di pinggir laut, kiri kanan jalan adalah rumah penduduk. Ternyata kami berhenti untuk makan pagi atau malah siang, karena saat itu pukul 10 lebih. Di daerah entah apa namanya saya lupa, yang jelas sudah memasuki Kabupaten Ende, di sini kami makan di warung masakan Padang. Bayangkan di pedalaman seperti ini ada Warung Padang, hebat sekali orang-orang Minang ini dalam merantau. Selanjutnya beberapa kali dalam perjalanan kami di NTT, warung Padang menyelamatkan kami dari kelaparan.

Yang menarik dari warung ini adalah meski berada di pelosok, bangunannya pun sebenarnya sederhana saja, akan tetapi mereka memiliki TV LED dengan layar yang cukup lebar, saya perkirakan ukurannya 42 inch. TV yang sangat lebar untuk wilayah pedalaman, bahkan orang kota pun jarang yang mempunyai TV dengan ukuran seperti itu. TV itu masih dilengkapi dengan layanan TV kabel Orange TV yang sedang ngetren di kota karena memiliki hak siar Liga Inggris. Saat kami makan, tayangan yang diputar adalah channel HBO dengan film box office nya. Lengkap sudah. Ternyata pedalaman tak semuanya tertinggal seperti bayangan saya.

Pinggiran laut sudah bukan menjadi jalur kami selanjutnya. Karena selain memasuki daerah pemukiman warga, jalur kami selanjutnya adalah hutan. Saya tak begitu melihat detail suasananya karena efek dimen masih menancap di saraf, sepanjang jalan selanjutnya hanya sesekali saja saya membuka mata. Penumpang sudah mulai banyak turun, hanya tinggal beberapa saja yang masih berada di dalam bus, berarti hanya sedikit pula yang tujuannya adalah Mbay.

Di dalam tidur, saya harus sering kali dipaksa bangun karena kepala saya terbentur besi yang menjadi pegangan di jendela.  Jalan di tengah hutan ini sangat jelek hingga membuat bus bergoyang ke kanan-kiri, tentu saja penumpang di dalamnya juga mengikuti arah goyangan. Hasilnya kepala saya benjol karena beberapa kali dengan keras terbentur besi. Namanya juga orang lagi tidur, digoyang dikit saja pasti juga tidak bisa menghindar.
 
Mbay, Nagekeo
Mbay yang sepi
Sekitar jam 2, akhirnya kami sampai di terminal Mbay. Angkutan ke Riung sudah tidak ada, jadi kami menginap semalam di kota ini. Mari kita menikmati suguhan kota Mbay yang sangat sepi.

*Perjalanan ini dilakukan pada 4 Februari 2014

Rabu, 02 April 2014

Arung Riung

15.55 // by dalijo // , , // 21 comments


Riung, Ngada, Flores
Awal Februari musim angin barat masih bertiup kencang di wilayah Nusantara tak terkecuali Riung, sebuah kecamatan di pesisir utara Kabupaten Ngada, Flores. Kabupaten Ngada tak begitu dikenal di masyarakat negara ini, kecuali beberapa bulan lalu saat bupatinya memblokir bandara sehingga salah satu pesawat tak jadi mendarat. Angin barat membuat gelombang bergejolak, awan hitam sering berarak, suatu keberuntungan jika mendapatkan hari dengan cuaca cerah pada bulan-bulan seperti itu. Kami mengharapkan keberuntungan itu.

Kemarin ketika saya bersama partner saya baru datang ke Riung cuaca sangat cerah, langit begitu biru akan tetapi angin berhembus sangat kencang dan gelombang bergejolak. Kami memiliki harapan lebih untuk keesokan hari ketika kami akan berlayar mengarungi beberapa pulau di Riung, meski itu bisa dibilang anomali jika cuaca cerah, angin sepoi dan gelombang yang landai. Pagi ini saat kami hendak melakukan perjalanan itu, harapan kami menunjukkan perwujudannya, benar-benar sebuah anomali.

Taman Nasional Riung dan 17 Pulau masih cukup asing bagi kebanyakan orang. Di antara mereka yang pernah mendengar pun mungkin banyak yang tidak begitu tahu bahwa jumlah pulau yang ada sebenarnya lebih dari 17 pulau. Angka 17 digunakan untuk semacam pengingat atau bahkan penghargaan terhadap tanggal kemerdekaan Indonesia. Konon sejatinya ada 24 pulau yang tersebar di wilayah ini.

Jam 8 pagi kami mulai meninggalkan dermaga menuju lautan. Sebuah kapal yang tak begitu besar, bisa dibilang kecil malah, kami gunakan untuk menyambangi beberapa pulau. Ada 5 penumpang dalam kapal kecil ini. Selain saya dan partner saya penumpang lainnya adalah seorang bule yang sudah cukup tua dan dia berkeliling Indonesia sendirian. Namanya Carlos, asalnya dari Swiss, dengan jenggotnya yang lebat beberapa orang setempat memanggilnya Surya Paloh. Dia hanya senyum-senyum saja entah dia tahu atau tidak siapa orang yang dimaksud itu. Dua penumpang lainnya adalah awak kapal, satu bernama Adam keturunan Suku Bajo, satu lagi saya lupa namanya yang jelas keturunan dari Suku Bugis. Kawasan pesisir memang sering kali kita jumpai keberadaan kedua suku pelaut tersebut.
 
Riung, Ngada, Flores
Kelelawar yang bergantungan di pohon
Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Kalong atau Kelelawar. Sudah bisa ditebak mengapa pulau ini dinamakan demikian. Ya, ada banyak sekali kelelawar yang bergantungan di pepohanan. Ini adalah pagi beranjak siang, artinya ini adalah jam tidur bagi mereka. Akan tetapi salah satu crew dari kapal lainnya membangunkan mereka dengan suara seperti auman, tak hanya satu atau dua kelelawar yang terbangun, tapi mungkin ribuan. Mereka berhamburan terbang di birunya langit. Seharusnya kami meminta maaf telah mengganggu tidur mereka.
Riung, Ngada, Flores
Carlos menatap kelelawar yang terbang
Sebenarnya ada hal menarik lainnya di pulau ini. Menurut Adam di sini ada binatang yang sangat mirip dengan komodo. Bedanya ukurannya lebih kecil dan corak badannya lebih berwarna. Kemarin saat kami berjalan-jalan di kawasan daratan Riung memang ada sebuah patung komodo, pertama saya pikir orang Riung juga bangga dengan komodo yang ada di kawasan Pulau Komodo, ternyata bukan begitu. Riung juga memiliki komodo mereka sendiri. Kami tidak turun di pulau kelelawar, dan sayangnya dari pinggiran pulau kami tidak melihat komodo yang dimaksud tersebut.

Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rutong. Sebelum sampai ke sana, kami akan melakukan snorkeling. Tapi gelombang perlahan-lahan mulai berubah menjadi lebih besar. Kapal mulai bergoyang mengikuti alunan gelombang. Apalagi saat kapal berhenti di spot yang hendak kami ceburi untuk bersnorkeling. Di saat kapal berhenti itu goyangan kapal benar-benar mengikuti gelombang, terombang-ambing. Saya pusing, pun demikian dengan partner saya, sedang Carlos malah tertawa melihat kami.

Sebenarnya pemandangan bawah laut di spot ini cukup bagus. Coral warna-warni berjajar rapat dan terlihat sehat. Hanya saja di bulan-bulan seperti ini visibility nya memang tidak terlalu bagus, dan sekali lagi gelombangnya begitu tinggi. Karena sudah pusing sebelum nyebur, setelah di permukaan air, kami mendapat tambahan rasa lain lagi, mual. Mabuk laut mungkin sebentar lagi menyapa saya, tapi tidak demikian dengan partner saya, ternyata dia sudah berkenalan lebih dahulu dengan mabuk laut itu, beberapa kali bahkan dia menyapanya dengan muntah. Sarapan pagi ini sudah terbuang keluar.
Riung, Ngada, Flores
Pulau Rutong dari atas bukit
Tidak terlalu lama kami snorkeling, mual dan pusing telah menguasai kami berdua. Sedang Carlos sebenarnya masih menikmati snorkelingnya. Suara terbanyak yang menang, kami langsung menuju ke Pulau Rutong. Pulau ini sangat indah, pasir putihnya sangat lembut dan bentuknya landai sampai ke tengah laut. Airnya bening dan ombaknya pelan, cocok untuk berlari-lari bermain air. Ada sebuah bukit di tengah pulau yang bisa didaki. Dari atas kita bisa melihat lautan lepas dengan warna air bergradasi berdasarkan kedalamannya. Di kejauhan Pulau Flores dengan bukit-bukitnya terlihat begitu gagah. Indah sekali.
Riung, Ngada, Flores
Nampang di blog sendiri

Riung, Ngada, Flores
Pemandangan dari Pulau Rutong
Siang sudah menjelang, Adam dan temannya membakar 2 ikan yang sudah dibawa dari pelabuhan. Ukurannya lumayan besar, cukup untuk menjadi lauk bagi kami berlima. Selain ikan tersebut, Adam juga sudah membawa bekal nasi, mie goreng, sayuran dan krupuk. Makan siang yang sangat nikmat di bawah pepohonan di Pulau Rutong.

Di sela-sela makan Adam memutar lagu-lagu lama dari handphonenya. Jujur saya tidak tahu lagu itu dan siapa penyanyinya.

“Inka Christie” tiba-tiba Carlos nyeletuk sambil bergumam mendendangkan lagu mengikuti suara dari handphone.
Riung, Ngada, Flores
Makan siang kami
Ohh ternyata orang barat ini lebih tahu daripada saya. Dia lalu bercerita banyak band Indonesia yang dia suka, salah satunya Boomerang. Coba kalau Adam tidak memutar lagu yang sudah lama sekali, coba dia memutar lagu Boomerang, pasti saya juga tahu, Carlos.

Setelah siang tergelincir kami melanjutkan pengarungan lagi. Tujuan kami berikutnya adalah Pulau Tiga. Sama seperti tadi, sebelum sampai pulau kami akan bersnorkeling ria lagi. Bedanya sekarang kami dilepas di tengah laut lalu akan bersnorkeling sampai daratan Pulau Tiga. Kapal akan membuntuti kami dan siap siaga apabila kami tidak kuat sampai pulau. Di spot ini, terumbu karang tidak sepadat spot sebelumnya.

Riung, Ngada, Flores
Pulau Tiga
Sayangnya keadaan Pulau Tiga agak kotor dengan sampah sisa makanan pengunjung. Menyebalkan sekali melihat pulau yang indah dan tak berpenghuni malah dikotori oleh pengunjungnya yang hanya beberapa jam saja singgah. Ironis sekali.


Riung, Ngada, Flores
Sampah di Pulau Tiga
Jam 3 lebih cuaca  yang awalnya cerah kembali menjadi seharusnya di bulan angin barat. Langit tiba-tiba saja berwarna gelap. Kami memutuskan untuk kembali ke Riung setelah puas bersnorkeling. Gelombang landai sudah menjadi angan-angan, yang terjadi adalah gelombang yang sangat tinggi. Kapal terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Saya dan partner saya cemas dan juga mual. 2 awak kapal terlihat tenang-tenang saja, sedangkan Carlos malah menertawai kami. Parahnya dia mengambil kameranya dan mengabadikan ekspresi cemas dari wajah kami. Saya berharap kapal segera sampai ke dermaga dan Carlos tak mendapat foto yang banyak dari kami. Saya bersyukur harapan saya terwujud.

Minggu, 23 Maret 2014

Di Bukit Nilo

23.37 // by dalijo // , // 9 comments

Bukit Nilo, Maumere
Bukit Nilo dari kejauhan

Maumere adalah ibukota Kabupaten Sikka di Pulau Flores. Letaknya ada di antara Kabupaten Ende dengan Kabupaten Flores Timur. Kebalikan dengan Kota Ende yang terletak di pesisir selatan Flores, Kota Maumere letaknya ada di bagian sisi utara Pulau Flores. Bagian pantai utara inilah yang pernah terkena bencana tsunami awal 90an.

Selain didominasi kawasan pantai, sama seperti wilayah Flores lainnya Maumere juga memiliki banyak bukit dan gunung. Salah satu bukit yang cukup terkenal adalah Bukit Nilo. Hal yang membuat bukit ini menarik adalah adanya patung Yesus dan Bunda Maria di puncaknya. Daratan Flores memang mayoritas penduduknya beragama Katolik sehingga monumen keagamaan seperti ini tidak jarang ditemui di tempat lainnya.

Siang tak terlalu panas, sebagian besar langit ditutupi awan kelabu tipis. Setelah menyisir sebagian wilayah pantai di Maumere, saya bersama partner saya mengarahkan sepeda motor menuju Bukit Nilo.

Sebenarnya partner saya sudah pernah ke sana akan tetapi dia lupa jalannya sehingga ketika bertemu percabangan pertama setelah dari kota kami sudah langsung bertanya kepada penduduk setempat. Pemuda yang kami tanyai menunjukkan jalan belok ke kanan, alih-alih untuk mengikuti jalan utama yang mengarah lurus. Karena saya buta arah sedangkan partner saya lupa arah, kami percaya saja. Hanya sekitar satu atau dua kilometer jalan utama yang kami lalui ini buntu sedangkan jalan percabangan -yang letaknya tidak jauh dari jalan buntu- putus karena ada turunan curam yang tak diaspal. Kami bertanya lagi kepada seorang tante yang ada di dekat jalan yang putus itu, dia membenarkan ini jalan untuk menuju Bukit Nilo. Kami terus melaju.

Jalan yang kami lewati selanjutnya adalah jalan kecil, sepi dan aspalnya sudah rusak. Kami sempat bertanya arah lagi kepada sebuah keluarga yang sedang menggarap ladang untuk ditanami kacang. Setelah menunjukkan arah mana yang harus kami pilih, salah satu tante meminta partner saya untuk menggenggam biji kacang yang hendak ditanam, “biar tumbuh subur” katanya.

Perjalanan semakin buruk karena rumah-rumah penduduk sudah tidak ditemui dan jalan semakin rusak. Kami ragu apakah ini jalan yang benar, akan tetapi sayang juga jika harus kembali ke Maumere karena jalan yang kami lalui sudah terlampau jauh, apalagi Bukit Nilo sudah semakin terlihat dalam pandangan. Penderitaan kami bertambah dengan kondisi motor pinjaman yang kurang bagus. Shock breaker ban depan sangat keras, sehingga ketika ada jalan berlubang hentakannya begitu terasa dan bunyinya bikin was-was, bisa-bisa terjadi kejadian buruk di jalan yang sepi ini. Semoga hal itu tidak terjadi, doa yang terus terucap di dada saya.

Bukit Nilo, Maumere
Patung Yesus
Setelah hampir putus asa karena tak kunjung menemui jalan terang, justru saat itu kami bertemu dengan jalan bagus. Ternyata ada jalur lain yang jalannya relatif lebih bagus dan lebih lebar dari jalan yang kami lalui tadi. Ternyata jalan yang kami pilih tadi adalah jalan alternatif, memang jaraknya lebih dekat untuk sampai Bukit Nilo dari Maumere akan tetapi setiap alternatif selalu mengadung resiko, dan resikonya adalah kualitas jalannya buruk ditambah tingkat sepinya sangat tinggi.

Di puncak Nilo ada sebuah desa, tak begitu padat, rumah-rumahnya pun sangat sederhana.  Ada dua patung di dua ujung bukit. Di ujung satu ada patung Yesus yang disalib dan di ujung satunya ada patung Bunda Maria yang bentuknya sangat besar. Di sepanjang jalan antara dua patung ini ada banyak patung kecil yang bisa dibilang sebagai diorama peristiwa perjalanan hidup Yesus.

Setelah mengunjungi patung Yesus yang disalib, kami mengarahkan motor ke ujung sebaliknya. Di tempat ini Patung Bunda Maria berwarna putih berdiri tegar mengahadap kota Maumere dengan posisi tangan yang terbuka seperti hendak menebarkan kasihnya kepada seluruh warga. Sayangnya sebelum sampai ke patung tersebut, hujan deras mengguyur. Kami berteduh di satu-satunya kios yang ada di sana. Kios ini menjual peralatan beribadah serta aksesoris lainnya. Di tempat ini pula pengunjung mengisikan namanya pada buku tamu. Hanya ada satu tante dan selanjutnya datang seorang Bruder yang menjaga kios ini. Tak ada pengunjung lain selain kami, suasananya begitu sepi kecuali air hujan yang begitu ramai mengguyur.
 
Bukit Nilo, Maumere
Patung Bunda Maria dari belakang
Satu jam kemudian hujan baru mereda, kami hanya sebentar saja melihat-lihat sekitar patung. Dari sini kota Maumere terlihat kelabu karena mendung dan kabut masih menyelimuti. Garis pantai dan lautan juga terlihat buram. Waktu sudah hampir jam 3 sore dan kami belum sempat makan siang jadi secepatnya kami hendak meninggalkan Bukit Nilo. Sialnya kami harus menunda lagi memberi asupan makanan pada perut kami karena ban belakang motor kami bocor. Di puncak bukit yang letaknya di pelosok ini kami mengharapkan mukjizat agar ada tambal ban di sekitar sini. Sayangnya mukjizat itu tidak datang.

“Tambal ban terdekat ada di bawah, jauh. Kalau mau jalan dan dorong motor bisa 2 jam lebih” kata seorang tante yang seketika membuat kami lumpuh layu. Perut kami kosong dan harus menguras sisa energi untuk berjalan dan mendorong motor selama 2 jam. Sungguh akan menjadi hari yang sangat melelahkan.
 
Bukit Nilo, Maumere
Patung Bunda Maria di Bukit Nilo
“Begini saja, minta bantuan Oom di rumah sebelah buat melepas ban nya lalu minta dia antar ke bawah untuk menambal bannya. Dia punya peralatannya.” lanjut tante tadi sambil menunjuk rumah om yang dia maksud. Ternyata Tuhan masih memberikan pilihan bantuan.

Kami mendatangi rumah yang dimaksud. Sebenarnya kami tidak enak hati karena Oom itu ternyata sedang tidur siang, tapi bagaimana lagi kami juga sedang dilanda kesusahan. Setelah menceritakan maksud kami, Oom tersebut dengan ikhlas bersedia membantu kami. Semoga Tuhan memberikan rezeki berlimpah untuknya dan keluarganya.

Namanya Lorenz. Dari paras mukanya mungkin usianya sekitar pertengahan tiga puluhan. Saya memanggilnya Oom, karena biasanya di Flores memanggil orang yang lebih tua dengan Om itu sudah biasa. Badannya kecil, rambutnya ikal dan dipotong pendek. Anaknya dua orang dan masih kecil. Gaya bicaranya halus dan ramah dan saya seratus persen yakin dia adalah orang yang sangat baik.

Peralatan standar bengkel dia keluarkan. Motor tetap berada di jalan karena di halaman rumah Om Lorenz tak dilapisi dengan semen sehingga motor akan lebih stabil berdiri jika tetap di atas aspal jalan. Akan tetapi hujan kembali mengguyur saat kami hendak mencopot ban motor. Saya pikir Om Lorenz hendak menunda pekerjaan ini akan tetapi dia mengambil payung untuk menghindari air hujan. Saya hanya bisa memegangi payungnya dan sesekali hanya ikut membantu memegang ban atau memilih kunci yang pas. Ah begitu tak bergunanya saya.

Setelah ban dilepas kami harus membawanya ke tambal ban paling dekat. Om Lorenz mengeluarkan sepeda motornya dan saya membonceng di belakangnya. Jalan yang diambil berbeda dengan jalan yang kami lalui saat berangkat, karena jalan kali ini memang jalan utama. Ternyata kualitasnya memang jauh lebih baik. Om Lorenz begitu terbiasa melewati jalan ini bahkan dia bisa hafal dimana ada lubang, sehingga dengan waktu yang tak terlalu lama kami sudah sampai di tukang tambal ban di jalan raya yang merupakan jalan menuju Ende dari Maumere.
 
Bukit Nilo, Maumere
Bersama dengan keluarga Oom Lorenz
Proses menambal ban tak begitu lama, dalam waktu yang singkat saya dan Oom Lorenz sudah kembali ke rumahnya untuk memasang kembali ban motor. Oom Lorenz meskipun gaya bicaranya kalem dan lemah lembut ternyata kerjanya begitu cekatan, proses memasang ban hanya butuh waktu sedikit saja. Setelah selesai, saya diajak masuk ke rumah untuk berbincang-bincang. Segelas teh hangat dan sepiring kacang dihidangkan oleh istrinya kepada saya dan partner saya. Tak ada kebaikan yang lebih lagi yang bisa kami harapkan dari ini. Kami mungkin tidak memiliki pengalaman spiritual seperti layaknya warga Nasrani yang mendatangi bukit Nilo, tapi kami merasakan pengalaman kebaikan nyata dari sebuah keluarga di Desa Nilo, itulah keluarga Om Lorenz.

Sabtu, 08 Maret 2014

Air Terjun Oenesu yang Terlupakan

12.12 // by dalijo // , , // 12 comments


Air Terjun OenesuSelepas mengunjungi Gua Kristal, kami melanjutkan menuju ke objek lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Nama tempatnya adalah Air Terjun Oenesu. Namanya sama dengan nama desa tempat air terjun tersebut berada. Untungnya GPS masih bisa menunjukkan letaknya, jadi tidak perlu sering-sering berhenti dan bertanya pada penduduk.

Jalan yang kami lalui sangat sepi karena kami memilih jalan pintas dari posisi Gua Kristal. Untungnya kualitas jalannya bisa dibilang tidak jelek, hanya beberapa titik saja yang bergelombang. Sawah dan ladang menjadi pemandangan di sepanjang jalan sedangkan rumah-rumah masih sedikit, hanya beberapa kali melewati perkampungan.

Sekitar setengah jam saja waktu yang ditempuh dari Gua Kristal kami sudah sampai di daerah Oenesu. GPS tak mampu menunjukkan di mana letak air terjun, saat itulah kami bertanya pada tante yang sedang berada di pinggir jalan. Ternyata kami sudah dekat dengan temppat tujuan, hanya beberapa ratus meter lagi ada papan petunjuk Air Terjun Oenesu ke kanan, atau keluar dari jalan utama. Justru sudah mau sampai lokasi kualitas jalan menjadi jauh menurun.

Air Terjun Oenesu
Gerbang dan Pos Retribusi
Sebuah gerbang berbentuk gapura yang terlihat masih baru menjadi pintu masuk objek wisata ini. Sayangnya pos jaga yang sekaligus menjadi tempat pos retribusi kondisinya berbanding terbalik, malah bisa dibilang mengenaskan. Tidak ada yang bertugas di sana, jadi kami melenggang masuk begitu saja. Tempat parkir beralaskan paving block, ukurannya tidak begitu luas dan terlihat sepi hari itu. Selain kami hanya ada satu motor lain yang terparkir di sana, mungkin karena ini bukan akhir pekan atau hari libur jadi tidak ada yang berekreasi di sini atau memang tempat ini kurang menarik bagi warga Kupang, entahlah.

Memandang di sekitaran parkiran terlihat kios-kios yang tak terawat dan tertutup rapat. Sebenarnya perut kami sudah berteriak untuk minta diisi. Sepanjang perjalanan dari Gua Kristal kami tidak menemukan warung makan. Memang jarang sekali warga asli yang berjualan makanan, kebanyakan adalah orang Jawa atau Minang dan mereka tidak melebarkan sayap usahanya di sepanjang jalan yang kami lalui. Harapan bahwa di obyek wisata akan ada penjual juga telah sirna, mau tak mau suara keroncong di perut harus di tahan sampai kembali ke Kota Kupang.
Air Terjun Oenesu
Rumput-rumput yang tak terawat
Selain kios, ada beberapa gasebo yang berdiri di petak taman yang luasnya mungkin sekitar setengah lapangan bola. Sayangnya nasib gasebo ini tak lebih bagus dari kios atau pos retribusi. Ada yang atapnya berlubang bahkan miring dan sangat kotor. Yang terlihat tumbuh dengan bagus adalah rumput ilalang, karena pertumbuhannya tidak ada yang mengendalikan sehingga ketinggiaannya merusak pemandagan dan membuat nyamuk senang bersembunyi di sana. Kaki dan tangan saya langsung terdapat beberapa bentol-bentol dari nyamuk, mungkin ini adalah ucapan selamat datang dari mereka.

Air Terjun Oenesu
Gasebo yang rusak
Jangan tanya tentang sampah. Beberapa tempat sampah yang ada terisi oleh sampah yang banyak. Tempat sampah tersebut sebenarnya belum penuh akan tetapi sampah di sekitarnya juga sangat banyak. Mungkin orang-orang merasa di sekitar tempat sampah juga merupakan tempat membuang sampah. Seharusnya sampah-sampah itu juga selanjutnya diolah lebih lanjut lagi, tapi yang ada sampah itu dibiarkan teronggok membusuk di sana. Baru datang tapi kesan pertama yang terlihat adalah tak terawat.

Letak air terjun tak jauh dari tempat parkir. Setelah melewati deretan kios yang tutup, ada tangga turun menuju air terjun. Sebenarnya dari atas pun sudah terdengar gemericik air yang semakin mendorong kaki untuk terus melangkah menuruni tangga menuju bawah. Tak terlalu banyak tangga yang harus dilewati dan ketika sampai, pengorbanan untuk mencapai sini tak ada artinya karena pemandangan yang dilihat sangat menarik yaitu air terjun dengan empat tingkat.
 
Air Terjun Oenesu
Air terjun tingkat pertama

Air Terjun Oenesu
Air terjun tingkat kedua

Jalan yang akan kita lalui ketika sampai paling bawah berupa jembatan yang melintang di atas sungai, tepatnya di depan tingkat air terjun yang paling bawah. Hal ini membuat pengunjung akan merasa berada di tengah-tengah sungai dan tepat berada di hadapan air terjun. Memang debit air dari sungai tidak terlalu besar sehingga derasnya air terjun juga tidak seberapa, air pun tidak terlalu jernih namun juga tidak berwarna coklat keruh. Warna air antara hijau dengan biru. Hal ini tetap tidak terlalu mengurangi keindahan air terjun Oenesu.
Air Terjun Oenesu
Air Terjun Oenesu

Dengan potensi yang dimiliki seharusnya pemerintah Kupang harus bertindak dengan baik agar kondisi obyek ini terselamatkan. Letak Oenesu yang hanya berjarak sekitar 17 km dari Kupang seharusnya menjadi alternatif wisata yang menjanjikan. Akan tetapi dengan jarak yang tak begitu jauh itupun pemerintah seperti tidak tahu bahwa tempat ini sangat terbengkalai.