• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Senin, 11 Mei 2015

Segarnya Curug Sawer

07.13 // by Wisnu Yuwandono // , , // 22 comments

Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Melepas kepenatan setelah bekerja dan tinggal dalam ritme kehidupan Kota Jakarta banyak caranya. Salah satunya adalah pergi berlibur. Meski di Jakarta sendiri banyak menyediakan tempat liburan, saya memilih untuk sejenak ke luar dari gegap gempitanya kota ini. Tak terlalu jauh, melipir ke selatan, saya sudah bisa menghirup udara yang lebih segar. Letaknya ada di daerah Sukabumi.

Lokasi yang saya kunjungi ini berupa air terjun, namanya Curug Sawer. Terletak hampir sekitar 130 kilometer dari titik nol ibu kota negara, tempat ini jauh dari riuhnya keramaian. Atau mungkin saya sedang beruntung karena saat itu sedang sepi pengunjung. Posisinya ada di kaki Gunung Gede Pangrango. Untuk mencapai Curug Sawer, dari Jakarta saya bersama teman-teman naik KRL Commuter Line pagi-pagi sekali menuju Stasiun Bogor. Selanjutnya disambung dengan naik kereta Pangrango dari Stasiun Paledang menuju Sukabumi berangkat pada pukul 7.55 WIB. Stasiun Paledang ini letaknya tidak jauh dari Stasiun Bogor, tak lebih dari 1 kilometer.

Hampir 2 jam di atas kereta, Stasiun Cisaat menjadi pemberhentian kami selanjutnya. Stasiun yang cukup kecil, bahkan pintu dari gerbong ekonomi 4 yang kami naiki tidak mendapatkan peron untuk turun dari kereta. Kami harus turun pada bagian bawah tembok tempat gudang sementara perusahaan semen.

Curug Sawer, Sukabumi
Jalan setapak
Tujuan berikutnya adalah pangkalan angkot atau lebih tepatnya tempat mangkal angkot yang rute trayeknya ke arah Curug Sawer, ada dua pilihan untuk menuju ke sana dari stasiun, naik angkot juga atau jalan kaki. Kami memilih opsi yang kedua. Tempat ngetem angkot ada di dekat Polsek Cisaat. Untuk membedakan rute angkot bisa dilihat dari warnanya. Angkot warna merah adalah angkot yang akan membawa kami ke Kadudampit, tujuan kami. Diiringi lagu yang mendayu-dayu yang diputar di dalam angkot, kurang dari satu jam kami sampai di daerah Kadudampit. Dari sini kami harus berjalan sekitar 200-300m sampai ke Pos Bumi Perkemahan Cinumpang. Perjalanan yang lebih susah baru akan dimulai dari sini karena jalan berikutnya adalah jalur setapak yang menanjak. Sebenarnya ada pilihan bantuan untuk mempercepat perjalanan dengan naik ojek, tetapi kami lebih memilih untuk berjalan, lebih menantang, meski kadang harus bersusah payah mengatur nafas yang sudah mulai termakan umur tersengal-sengal.

Di tengah perjalanan ada beberapa warung yang menjual gorengan dan beberapa makanan maupun minuman ringan. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sedikit melepas lelah. Sejatinya jarak yang ditempuh tidaklah jauh, hanya sekitar 1,4 kilometer, tapi entah karena badan yang jarang berolahraga atau ada faktor lainnya, saya merasa berat untuk melangkah setapak demi setapak jalanan tanah liat yang menanjak. Atau mungkin saya harus menyalahkan alas kaki saya yang hanya bersandal jepit.
Curug Sawer, Sukabumi
Pos retribusi
Sekitar setengah jam berjalan kami sudah sampai di tujuan utama kami, Curug Sawer. Air terjun turun dari ketinggian sekitar 25-30 meter dengan begitu deras. Debitnya juga cukup besar, sehingga tempias airnya terbang cukup jauh, terasa seperti rintik hujan. Hanya ada beberapa pengunjung selain kami.  Suasana yang cukup sepi, memang itulah tujuan kami, pergi dari keramaian.

Hawa terasa sejuk, nikmat sekali merasakannya. Menghirup udara seperti ini membuat paru-paru terasa segar. Pohon-pohon yang masih rimbun juga menjadi faktor pendukung yang sangat penting. Di sini memang adalah tempat sumbernya pepohonan. Seandainya saja semua tempat di bumi ini masih banyak pepohonan pasti polusi udara bisa jauh berkurang.
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Dagangan, gorengan dan minuman di Curug Sawer
Menikmati kesejukan seperti ini sangat cocok dikombinasikan dengan melahap makanan berkuah yang masih panas. Beruntung sekali ada beberapa penjual bakso. Salah satu penjual bakso itu adalah Mang Maman. Dari raut wajahnya kira-kira umurnya sekitar 50 tahun. “Sudah 10 tahun dik, mamang berjualan bakso di sini” kata Mang Maman. Baksonya agak unik, karena mie yang digunakan adalah mie instan. Jadi bukan bakso seperti pada umumnya, ini adalah mie instan yang diberi bakso.
Curug Sawer, Sukabumi
Mang Maman, sang penjual bakso
Curug Sawer, Sukabumi
Mie instan plus bakso
Menurut Mang Maman air terjun ini dinamakan Curug Sawer karena seringkali air tempiasnya sangat banyak dan terbang jauh sekali, seperti semprotan. “Makanya orang Sunda nyebutnya sawer, kaya orang nyawer” dengan logat Sunda yang kental Mang Maman menjelaskan.

Untuk sampai ke tempat ini, mang Maman naik ojek dari rumahnya yang letaknya tak terlalu jauh. Peralatan dagangnya ia titipkan di pos retribusi, jadi dia hanya membawa bahan makanannya saja dari rumah. “Kalau libur begini biasanya kalau Sabtu sepi, Minggunya yang ramai. Kalau Sabtu ramai, Minggunya yang sepi” si mamang melanjutkan lagi ceritanya. Suasana Curug Sawer sangat ramai adalah ketika ada rombongan yang sedang kemah, baik di Cinumpang maupun di sekitar Situ Gunung.

Sebaiknya jika ingin merasakan dinginnya air curug jangan sampai mendekati lingkaran jatuhnya air. Selain alirannya jatuh dengan sangat deras, juga kedalamannya konon sampai 10 meter. Apalagi ada pusarannya yang bisa menarik orang masuk ke dalam dan susah untuk melepaskannya. “Pernah ada yang meninggal dik” Mang Maman mengingatkan. Saya memang tidak berniat untuk nyebur karena tidak membawa baju ganti. Untungnya teman-teman saya yang sudah duluan nyebur tidak mendekati jatuhnya air, tetapi mereka bermain di aliran sungai yang berjarak aman dari pusaran arus.

Waktu sudah mulai menggelincir meninggalkan siang, saatnya kami beranjak untuk menuju kembali ke ibu kota. Meskipun kami tak melihat pelangi yang biasanya muncul di samping air terjun seperti Mang Maman bilang, Curug Sawer sudah berhasil mengembalikan energi kami untuk menantang hari depan lagi.
Curug Sawer, Sukabumi
Miniatur mobil off road ikut nampang

22 komentar:

  1. yeee...finally posted... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha finally, seolah2 wis suwe le mrono :p

      Hapus
  2. suegerrrr .. mantepp lahh ..

    BalasHapus
  3. ah nikmat banget hidupmu kak :D
    main ke blog aku kak : http://www.anekahotelmurah.com/

    BalasHapus
  4. Menarik juga nih buat wisata alternatif dari Jakarta :D
    Tanjakannya seberapa curam ya mas? Pengen coba ke sana, tapi agak jiper sama tanjakan curam, apalagi kalo sampe 45derajat kemiringannya.. hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo kak vira..
      tanjakannya ga terlalu tinggi kok, cuma karena aku gampang capek jd kerasa ngos2an jg,hehe...tp untungnya ga terlalu jauh jd cma sebentar aja capeknya,hehe

      Hapus
  5. Terima kasih untuk artikelnya, untuk mencapai Situ Gunung dengan Curug Sawer apa bisa dijadikan satu kali perjalanan??

    BalasHapus
  6. Kaka..Ikutan yuu lomba blog "Borneo Wild Adventure" , dengan hadiah keliling Kalimantan gratisss!!! Dan dapatkan juga Apple Macbook Pro.... selengkapnya di http://bit.ly/terios7wonders2015

    BalasHapus
  7. yeeeee sambil lihat air terjun, sambil makan mie, hmmmm sensasi yang belum pernah saya lakukan, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe mungkin bisa direncanakan untuk dicoba :D

      Hapus
  8. Makan bakso di tempat kayak gitu mantap sekalii (y)/
    http://lombokwandertour.com

    BalasHapus
  9. Wah, rumit juga ya rutenya, kira2 berapa jam yang diperlukan menggunakan mobil lewat jalur umum? Start kira2 dari tol sentul..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo tidak salah lewat jalan raya sukabumi lalu sampe polsek cisaat ambil kiri :)

      Hapus
  10. edun pisan Kang... apalagi di udara dingin.. itu mie nya... uuuuu yuummmy... pengen kesana juga ah.. makasih infonya Kang...
    Salam Sahabat
    Villa Istana Bunga

    BalasHapus
  11. waw keren bgt curugnya plus makan mie rebus lagi gmn gak ngiler orang liat nya wkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. mie instan campur bakso gimana rasaaa nya gan???

      Hapus