• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Rabu, 02 April 2014

Arung Riung

15.55 // by Wisnu Yuwandono // , , // 17 comments


Riung, Ngada, Flores
Awal Februari musim angin barat masih bertiup kencang di wilayah Nusantara tak terkecuali Riung, sebuah kecamatan di pesisir utara Kabupaten Ngada, Flores. Kabupaten Ngada tak begitu dikenal di masyarakat negara ini, kecuali beberapa bulan lalu saat bupatinya memblokir bandara sehingga salah satu pesawat tak jadi mendarat. Angin barat membuat gelombang bergejolak, awan hitam sering berarak, suatu keberuntungan jika mendapatkan hari dengan cuaca cerah pada bulan-bulan seperti itu. Kami mengharapkan keberuntungan itu.

Kemarin ketika saya bersama partner saya baru datang ke Riung cuaca sangat cerah, langit begitu biru akan tetapi angin berhembus sangat kencang dan gelombang bergejolak. Kami memiliki harapan lebih untuk keesokan hari ketika kami akan berlayar mengarungi beberapa pulau di Riung, meski itu bisa dibilang anomali jika cuaca cerah, angin sepoi dan gelombang yang landai. Pagi ini saat kami hendak melakukan perjalanan itu, harapan kami menunjukkan perwujudannya, benar-benar sebuah anomali.

Taman Nasional Riung dan 17 Pulau masih cukup asing bagi kebanyakan orang. Di antara mereka yang pernah mendengar pun mungkin banyak yang tidak begitu tahu bahwa jumlah pulau yang ada sebenarnya lebih dari 17 pulau. Angka 17 digunakan untuk semacam pengingat atau bahkan penghargaan terhadap tanggal kemerdekaan Indonesia. Konon sejatinya ada 24 pulau yang tersebar di wilayah ini.

Jam 8 pagi kami mulai meninggalkan dermaga menuju lautan. Sebuah kapal yang tak begitu besar, bisa dibilang kecil malah, kami gunakan untuk menyambangi beberapa pulau. Ada 5 penumpang dalam kapal kecil ini. Selain saya dan partner saya penumpang lainnya adalah seorang bule yang sudah cukup tua dan dia berkeliling Indonesia sendirian. Namanya Carlos, asalnya dari Swiss, dengan jenggotnya yang lebat beberapa orang setempat memanggilnya Surya Paloh. Dia hanya senyum-senyum saja entah dia tahu atau tidak siapa orang yang dimaksud itu. Dua penumpang lainnya adalah awak kapal, satu bernama Adam keturunan Suku Bajo, satu lagi saya lupa namanya yang jelas keturunan dari Suku Bugis. Kawasan pesisir memang sering kali kita jumpai keberadaan kedua suku pelaut tersebut.
 
Riung, Ngada, Flores
Kelelawar yang bergantungan di pohon
Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Kalong atau Kelelawar. Sudah bisa ditebak mengapa pulau ini dinamakan demikian. Ya, ada banyak sekali kelelawar yang bergantungan di pepohanan. Ini adalah pagi beranjak siang, artinya ini adalah jam tidur bagi mereka. Akan tetapi salah satu crew dari kapal lainnya membangunkan mereka dengan suara seperti auman, tak hanya satu atau dua kelelawar yang terbangun, tapi mungkin ribuan. Mereka berhamburan terbang di birunya langit. Seharusnya kami meminta maaf telah mengganggu tidur mereka.
Riung, Ngada, Flores
Carlos menatap kelelawar yang terbang
Sebenarnya ada hal menarik lainnya di pulau ini. Menurut Adam di sini ada binatang yang sangat mirip dengan komodo. Bedanya ukurannya lebih kecil dan corak badannya lebih berwarna. Kemarin saat kami berjalan-jalan di kawasan daratan Riung memang ada sebuah patung komodo, pertama saya pikir orang Riung juga bangga dengan komodo yang ada di kawasan Pulau Komodo, ternyata bukan begitu. Riung juga memiliki komodo mereka sendiri. Kami tidak turun di pulau kelelawar, dan sayangnya dari pinggiran pulau kami tidak melihat komodo yang dimaksud tersebut.

Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rutong. Sebelum sampai ke sana, kami akan melakukan snorkeling. Tapi gelombang perlahan-lahan mulai berubah menjadi lebih besar. Kapal mulai bergoyang mengikuti alunan gelombang. Apalagi saat kapal berhenti di spot yang hendak kami ceburi untuk bersnorkeling. Di saat kapal berhenti itu goyangan kapal benar-benar mengikuti gelombang, terombang-ambing. Saya pusing, pun demikian dengan partner saya, sedang Carlos malah tertawa melihat kami.

Sebenarnya pemandangan bawah laut di spot ini cukup bagus. Coral warna-warni berjajar rapat dan terlihat sehat. Hanya saja di bulan-bulan seperti ini visibility nya memang tidak terlalu bagus, dan sekali lagi gelombangnya begitu tinggi. Karena sudah pusing sebelum nyebur, setelah di permukaan air, kami mendapat tambahan rasa lain lagi, mual. Mabuk laut mungkin sebentar lagi menyapa saya, tapi tidak demikian dengan partner saya, ternyata dia sudah berkenalan lebih dahulu dengan mabuk laut itu, beberapa kali bahkan dia menyapanya dengan muntah. Sarapan pagi ini sudah terbuang keluar.
Riung, Ngada, Flores
Pulau Rutong dari atas bukit
Tidak terlalu lama kami snorkeling, mual dan pusing telah menguasai kami berdua. Sedang Carlos sebenarnya masih menikmati snorkelingnya. Suara terbanyak yang menang, kami langsung menuju ke Pulau Rutong. Pulau ini sangat indah, pasir putihnya sangat lembut dan bentuknya landai sampai ke tengah laut. Airnya bening dan ombaknya pelan, cocok untuk berlari-lari bermain air. Ada sebuah bukit di tengah pulau yang bisa didaki. Dari atas kita bisa melihat lautan lepas dengan warna air bergradasi berdasarkan kedalamannya. Di kejauhan Pulau Flores dengan bukit-bukitnya terlihat begitu gagah. Indah sekali.
Riung, Ngada, Flores
Nampang di blog sendiri

Riung, Ngada, Flores
Pemandangan dari Pulau Rutong
Siang sudah menjelang, Adam dan temannya membakar 2 ikan yang sudah dibawa dari pelabuhan. Ukurannya lumayan besar, cukup untuk menjadi lauk bagi kami berlima. Selain ikan tersebut, Adam juga sudah membawa bekal nasi, mie goreng, sayuran dan krupuk. Makan siang yang sangat nikmat di bawah pepohonan di Pulau Rutong.

Di sela-sela makan Adam memutar lagu-lagu lama dari handphonenya. Jujur saya tidak tahu lagu itu dan siapa penyanyinya.

“Inka Christie” tiba-tiba Carlos nyeletuk sambil bergumam mendendangkan lagu mengikuti suara dari handphone.
Riung, Ngada, Flores
Makan siang kami
Ohh ternyata orang barat ini lebih tahu daripada saya. Dia lalu bercerita banyak band Indonesia yang dia suka, salah satunya Boomerang. Coba kalau Adam tidak memutar lagu yang sudah lama sekali, coba dia memutar lagu Boomerang, pasti saya juga tahu, Carlos.

Setelah siang tergelincir kami melanjutkan pengarungan lagi. Tujuan kami berikutnya adalah Pulau Tiga. Sama seperti tadi, sebelum sampai pulau kami akan bersnorkeling ria lagi. Bedanya sekarang kami dilepas di tengah laut lalu akan bersnorkeling sampai daratan Pulau Tiga. Kapal akan membuntuti kami dan siap siaga apabila kami tidak kuat sampai pulau. Di spot ini, terumbu karang tidak sepadat spot sebelumnya.

Riung, Ngada, Flores
Pulau Tiga
Sayangnya keadaan Pulau Tiga agak kotor dengan sampah sisa makanan pengunjung. Menyebalkan sekali melihat pulau yang indah dan tak berpenghuni malah dikotori oleh pengunjungnya yang hanya beberapa jam saja singgah. Ironis sekali.


Riung, Ngada, Flores
Sampah di Pulau Tiga
Jam 3 lebih cuaca  yang awalnya cerah kembali menjadi seharusnya di bulan angin barat. Langit tiba-tiba saja berwarna gelap. Kami memutuskan untuk kembali ke Riung setelah puas bersnorkeling. Gelombang landai sudah menjadi angan-angan, yang terjadi adalah gelombang yang sangat tinggi. Kapal terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Saya dan partner saya cemas dan juga mual. 2 awak kapal terlihat tenang-tenang saja, sedangkan Carlos malah menertawai kami. Parahnya dia mengambil kameranya dan mengabadikan ekspresi cemas dari wajah kami. Saya berharap kapal segera sampai ke dermaga dan Carlos tak mendapat foto yang banyak dari kami. Saya bersyukur harapan saya terwujud.

17 komentar:

  1. ngiler liat masakannya, nyam nyam,.... salam

    nice places

    BalasHapus
    Balasan
    1. momennya membuat rasanya lebih enak,hehe

      Hapus
  2. ya ampunnnn,,,,marai mupeng ae,,,huhuhu

    BalasHapus
  3. Nampang di blog sendiri itu wajar kak :) Nampang di blog orang, mungkin rada susah.. :D :D
    Aku belum pernah ke sini nih.. :( dan teteuppp belum pernah ketemuan sama Kakak. Berkabar ya Kak kalau ke Yogya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi kapan ya bisa nampang di blog kece nya kak first :D

      Hapus
  4. ahh.. selalu pingin nyebur kalo liat pantai yg bening.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo aku sih pake pelampung nyeburnya,hehe

      Hapus
  5. Curiga di Flores itu tersembunyi rumah Batman, secara di beberapa pulau banyak dihuni oleh kelelawar seperti Pulau Kalong di kep. Komodo dan di Riung ini hehehe. Berapa yang harus dibayar buat sewa kapalnya, bro?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha bisa jadi bisa jadi :))
      sama makan siang bertiga 600rb om,,klo kapalnya aja sktr 400-450rb

      Hapus
  6. pengen ke sini lagi..... ~ batin menjerit kangen

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha samaaa (padahal baru 2 bulan yg lalu)

      Hapus
  7. Florida Sitepu9 Agustus 2014 14.40

    Mas, ada cp tuk sewa kapalnya? Rencananya liburan sekolah thn depan mau ajak keluarga saya ke Riung... Tq

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini kak 081236177638 namanya bang adam

      Hapus
  8. Mas berapa lama untuk mengelilingi 17Riung island? Saya ada rencana berlibur ke Indonesia dan mengunjungi Flores Oktober ini , ada cp untuk rent car selama di Flores ? Thanks ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya menginap di riung 2 malam,,
      maaf saya ga ada cp rent car, saya pake kendaraan umum keliling floresnya :)

      Hapus
    2. Thanks Mas :)

      Hapus