• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 12 April 2014

Pantai Pede Merana

13.02 // by Wisnu Yuwandono // , // 7 comments

Pantai Pede, Labuan Bajo
Sampah sabun cuci muka
Beberapa bulan lalu acara puncak Sail Komodo begitu meriah dibuka oleh Presiden Republik Indonesia di sebuah pantai di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Nama pantai itu adalah Pantai Pede. Pantai yang indah, tapi melihat kondisinya yang sekarang akan membuatnya tidak merasa pede –percaya diri-, yang ada kondisinya mengenaskan.

Sore yang cerah di pertengahan Februari, dari tempat saya menginap di Labuan Bajo, saya berjalan kaki menuju pantai ini. Pantai Pede merupakan pantai yang mudah dijangkau dari kawasan penginapan di Labuan Bajo. Letaknya tidak terlalu jauh dari dermaga, kira-kira tak lebih dari 2 kilometer jaraknya. Hal ini seharusnya membuat pantai ini menjadi primadona bagi para wisatawan yang hendak menikmati pantai pasir putih di Labuan Bajo sebelum atau sesudah sailing dari Pulau Komodo.

Februari atau sekitar 5 bulan setelah acara sail, kondisi pantai berubah sangat drastis. Ketika acara sail, pantai ini disulap dengan tenda-tenda dan dibersihkan dari sampah. Sekarang yang ada justru sampah. Saya malah merasa jangan-jangan sampah yang ada ini justru sisa acara sail. Jika memang itu benar, lalu manfaat Sail Komodo itu apa bagi pantai yang menjadi tempat acara puncaknya? Entahlah.
Pantai Pede, Labuan Bajo
Di depan saya sampah, sedangkan Hotel La Prima di belakang sana
Pantai Pede, Labuan Bajo
Pantai Pede, you are drunk
Pantai Pede posisinya memanjang dari utara ke selatan. Di ujung utara ada hotel berbintang La Prima dan ujung satunya ada hotel mewah juga yaitu Bintang Flores. Bagian pantai yang ada di kedua hotel tersebut cukup bersih, tapi pantai yang berada di antaranya sangat kotor sekali. Bahkan saya melihat semua jenis sampah ada di sana. Dari sampah alami seperti daun atau ranting pohon, sampai botol minuman keras ada. Atau mau disebut satu-satu? Sampah sayur? Ada. Sampah botol air mineral? Ada, banyak banget. Sampah sabun cuci muka, kaleng baygon, kaleng parfum, sandal bekas? Ada semuanya. Sampai susah saya mengingat ada sampah apa saja di sana.
Pantai Pede, Labuan Bajo
Ada kaleng obat nyamuk tapi banyak nyamuk

Pantai Pede, Labuan Bajo
Sampahhh...
Pantai Pede, Labuan Bajo
Coba sampah ini tidak ada pasti sunsetnya sangat indah
Saya pikir sangat ironis sekali melihat kondisi sekarang dengan saat acara Sail Komodo. Padahal di pantai ini seharusnya kita bisa berenang, jalan-jalan di atas pasirnya atau melihat sunset yang indah dengan sesekali ada pemandangan kapal besar lewat di kejauhan. Sayangnya hal itu terganggu oleh sampahnya yang menumpuk.
Pantai Pede, Labuan Bajo
Tuh kan keren kalau sampahnya tidak dimasukkan ke frame :|

Senin, 07 April 2014

Desa Bena

10.21 // by Wisnu Yuwandono // , // 2 comments


Desa Bena, Bajawa
Bena dan Gunung Inerie di belakangnya
Di kaki Gunung Inerie, sebuah kampung adat masih lestari menjaga tradisinya, Desa Bena namanya. Letaknya tidak begitu jauh dari pusat Kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, Flores. Jumlah rumah adatnya ada 45 buah, uniknya ada 9 suku yang ada di desa ini. Bayangkan ada satu suku yang cuma memiliki 3 rumah. Menarik sekali bukan.
Desa Bena, Bajawa
Desa Bena
Desa Bena, Bajawa
Kuburan yang ada di tengah-tengah desa
Desa Bena, Bajawa
Jajaran rumah
Desa Bena, Bajawa
Atap rumah
Desa Bena, Bajawa
Bunga Bougenville
Desa Bena, Bajawa
Seorang nenek sedang menggulung benang untuk menenun
Desa Bena, Bajawa
Kain tenun, tanduk kerbau, snack, dan deterjen
Desa Bena, Bajawa
Kain tenun yang dijual
Desa Bena, Bajawa
Seorang ibu sedang menenun
Desa Bena, Bajawa
Seorang ibu sedang membuat pola kain tenun

Rabu, 02 April 2014

Arung Riung

15.55 // by Wisnu Yuwandono // , , // 17 comments


Riung, Ngada, Flores
Awal Februari musim angin barat masih bertiup kencang di wilayah Nusantara tak terkecuali Riung, sebuah kecamatan di pesisir utara Kabupaten Ngada, Flores. Kabupaten Ngada tak begitu dikenal di masyarakat negara ini, kecuali beberapa bulan lalu saat bupatinya memblokir bandara sehingga salah satu pesawat tak jadi mendarat. Angin barat membuat gelombang bergejolak, awan hitam sering berarak, suatu keberuntungan jika mendapatkan hari dengan cuaca cerah pada bulan-bulan seperti itu. Kami mengharapkan keberuntungan itu.

Kemarin ketika saya bersama partner saya baru datang ke Riung cuaca sangat cerah, langit begitu biru akan tetapi angin berhembus sangat kencang dan gelombang bergejolak. Kami memiliki harapan lebih untuk keesokan hari ketika kami akan berlayar mengarungi beberapa pulau di Riung, meski itu bisa dibilang anomali jika cuaca cerah, angin sepoi dan gelombang yang landai. Pagi ini saat kami hendak melakukan perjalanan itu, harapan kami menunjukkan perwujudannya, benar-benar sebuah anomali.

Taman Nasional Riung dan 17 Pulau masih cukup asing bagi kebanyakan orang. Di antara mereka yang pernah mendengar pun mungkin banyak yang tidak begitu tahu bahwa jumlah pulau yang ada sebenarnya lebih dari 17 pulau. Angka 17 digunakan untuk semacam pengingat atau bahkan penghargaan terhadap tanggal kemerdekaan Indonesia. Konon sejatinya ada 24 pulau yang tersebar di wilayah ini.

Jam 8 pagi kami mulai meninggalkan dermaga menuju lautan. Sebuah kapal yang tak begitu besar, bisa dibilang kecil malah, kami gunakan untuk menyambangi beberapa pulau. Ada 5 penumpang dalam kapal kecil ini. Selain saya dan partner saya penumpang lainnya adalah seorang bule yang sudah cukup tua dan dia berkeliling Indonesia sendirian. Namanya Carlos, asalnya dari Swiss, dengan jenggotnya yang lebat beberapa orang setempat memanggilnya Surya Paloh. Dia hanya senyum-senyum saja entah dia tahu atau tidak siapa orang yang dimaksud itu. Dua penumpang lainnya adalah awak kapal, satu bernama Adam keturunan Suku Bajo, satu lagi saya lupa namanya yang jelas keturunan dari Suku Bugis. Kawasan pesisir memang sering kali kita jumpai keberadaan kedua suku pelaut tersebut.
 
Riung, Ngada, Flores
Kelelawar yang bergantungan di pohon
Pulau pertama yang dikunjungi adalah Pulau Kalong atau Kelelawar. Sudah bisa ditebak mengapa pulau ini dinamakan demikian. Ya, ada banyak sekali kelelawar yang bergantungan di pepohanan. Ini adalah pagi beranjak siang, artinya ini adalah jam tidur bagi mereka. Akan tetapi salah satu crew dari kapal lainnya membangunkan mereka dengan suara seperti auman, tak hanya satu atau dua kelelawar yang terbangun, tapi mungkin ribuan. Mereka berhamburan terbang di birunya langit. Seharusnya kami meminta maaf telah mengganggu tidur mereka.
Riung, Ngada, Flores
Carlos menatap kelelawar yang terbang
Sebenarnya ada hal menarik lainnya di pulau ini. Menurut Adam di sini ada binatang yang sangat mirip dengan komodo. Bedanya ukurannya lebih kecil dan corak badannya lebih berwarna. Kemarin saat kami berjalan-jalan di kawasan daratan Riung memang ada sebuah patung komodo, pertama saya pikir orang Riung juga bangga dengan komodo yang ada di kawasan Pulau Komodo, ternyata bukan begitu. Riung juga memiliki komodo mereka sendiri. Kami tidak turun di pulau kelelawar, dan sayangnya dari pinggiran pulau kami tidak melihat komodo yang dimaksud tersebut.

Tujuan selanjutnya adalah Pulau Rutong. Sebelum sampai ke sana, kami akan melakukan snorkeling. Tapi gelombang perlahan-lahan mulai berubah menjadi lebih besar. Kapal mulai bergoyang mengikuti alunan gelombang. Apalagi saat kapal berhenti di spot yang hendak kami ceburi untuk bersnorkeling. Di saat kapal berhenti itu goyangan kapal benar-benar mengikuti gelombang, terombang-ambing. Saya pusing, pun demikian dengan partner saya, sedang Carlos malah tertawa melihat kami.

Sebenarnya pemandangan bawah laut di spot ini cukup bagus. Coral warna-warni berjajar rapat dan terlihat sehat. Hanya saja di bulan-bulan seperti ini visibility nya memang tidak terlalu bagus, dan sekali lagi gelombangnya begitu tinggi. Karena sudah pusing sebelum nyebur, setelah di permukaan air, kami mendapat tambahan rasa lain lagi, mual. Mabuk laut mungkin sebentar lagi menyapa saya, tapi tidak demikian dengan partner saya, ternyata dia sudah berkenalan lebih dahulu dengan mabuk laut itu, beberapa kali bahkan dia menyapanya dengan muntah. Sarapan pagi ini sudah terbuang keluar.
Riung, Ngada, Flores
Pulau Rutong dari atas bukit
Tidak terlalu lama kami snorkeling, mual dan pusing telah menguasai kami berdua. Sedang Carlos sebenarnya masih menikmati snorkelingnya. Suara terbanyak yang menang, kami langsung menuju ke Pulau Rutong. Pulau ini sangat indah, pasir putihnya sangat lembut dan bentuknya landai sampai ke tengah laut. Airnya bening dan ombaknya pelan, cocok untuk berlari-lari bermain air. Ada sebuah bukit di tengah pulau yang bisa didaki. Dari atas kita bisa melihat lautan lepas dengan warna air bergradasi berdasarkan kedalamannya. Di kejauhan Pulau Flores dengan bukit-bukitnya terlihat begitu gagah. Indah sekali.
Riung, Ngada, Flores
Nampang di blog sendiri

Riung, Ngada, Flores
Pemandangan dari Pulau Rutong
Siang sudah menjelang, Adam dan temannya membakar 2 ikan yang sudah dibawa dari pelabuhan. Ukurannya lumayan besar, cukup untuk menjadi lauk bagi kami berlima. Selain ikan tersebut, Adam juga sudah membawa bekal nasi, mie goreng, sayuran dan krupuk. Makan siang yang sangat nikmat di bawah pepohonan di Pulau Rutong.

Di sela-sela makan Adam memutar lagu-lagu lama dari handphonenya. Jujur saya tidak tahu lagu itu dan siapa penyanyinya.

“Inka Christie” tiba-tiba Carlos nyeletuk sambil bergumam mendendangkan lagu mengikuti suara dari handphone.
Riung, Ngada, Flores
Makan siang kami
Ohh ternyata orang barat ini lebih tahu daripada saya. Dia lalu bercerita banyak band Indonesia yang dia suka, salah satunya Boomerang. Coba kalau Adam tidak memutar lagu yang sudah lama sekali, coba dia memutar lagu Boomerang, pasti saya juga tahu, Carlos.

Setelah siang tergelincir kami melanjutkan pengarungan lagi. Tujuan kami berikutnya adalah Pulau Tiga. Sama seperti tadi, sebelum sampai pulau kami akan bersnorkeling ria lagi. Bedanya sekarang kami dilepas di tengah laut lalu akan bersnorkeling sampai daratan Pulau Tiga. Kapal akan membuntuti kami dan siap siaga apabila kami tidak kuat sampai pulau. Di spot ini, terumbu karang tidak sepadat spot sebelumnya.

Riung, Ngada, Flores
Pulau Tiga
Sayangnya keadaan Pulau Tiga agak kotor dengan sampah sisa makanan pengunjung. Menyebalkan sekali melihat pulau yang indah dan tak berpenghuni malah dikotori oleh pengunjungnya yang hanya beberapa jam saja singgah. Ironis sekali.


Riung, Ngada, Flores
Sampah di Pulau Tiga
Jam 3 lebih cuaca  yang awalnya cerah kembali menjadi seharusnya di bulan angin barat. Langit tiba-tiba saja berwarna gelap. Kami memutuskan untuk kembali ke Riung setelah puas bersnorkeling. Gelombang landai sudah menjadi angan-angan, yang terjadi adalah gelombang yang sangat tinggi. Kapal terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Saya dan partner saya cemas dan juga mual. 2 awak kapal terlihat tenang-tenang saja, sedangkan Carlos malah menertawai kami. Parahnya dia mengambil kameranya dan mengabadikan ekspresi cemas dari wajah kami. Saya berharap kapal segera sampai ke dermaga dan Carlos tak mendapat foto yang banyak dari kami. Saya bersyukur harapan saya terwujud.