• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 23 Maret 2014

Di Bukit Nilo

23.37 // by Wisnu Yuwandono // , // 6 comments

Bukit Nilo, Maumere
Bukit Nilo dari kejauhan

Maumere adalah ibukota Kabupaten Sikka di Pulau Flores. Letaknya ada di antara Kabupaten Ende dengan Kabupaten Flores Timur. Kebalikan dengan Kota Ende yang terletak di pesisir selatan Flores, Kota Maumere letaknya ada di bagian sisi utara Pulau Flores. Bagian pantai utara inilah yang pernah terkena bencana tsunami awal 90an.

Selain didominasi kawasan pantai, sama seperti wilayah Flores lainnya Maumere juga memiliki banyak bukit dan gunung. Salah satu bukit yang cukup terkenal adalah Bukit Nilo. Hal yang membuat bukit ini menarik adalah adanya patung Yesus dan Bunda Maria di puncaknya. Daratan Flores memang mayoritas penduduknya beragama Katolik sehingga monumen keagamaan seperti ini tidak jarang ditemui di tempat lainnya.

Siang tak terlalu panas, sebagian besar langit ditutupi awan kelabu tipis. Setelah menyisir sebagian wilayah pantai di Maumere, saya bersama partner saya mengarahkan sepeda motor menuju Bukit Nilo.

Sebenarnya partner saya sudah pernah ke sana akan tetapi dia lupa jalannya sehingga ketika bertemu percabangan pertama setelah dari kota kami sudah langsung bertanya kepada penduduk setempat. Pemuda yang kami tanyai menunjukkan jalan belok ke kanan, alih-alih untuk mengikuti jalan utama yang mengarah lurus. Karena saya buta arah sedangkan partner saya lupa arah, kami percaya saja. Hanya sekitar satu atau dua kilometer jalan utama yang kami lalui ini buntu sedangkan jalan percabangan -yang letaknya tidak jauh dari jalan buntu- putus karena ada turunan curam yang tak diaspal. Kami bertanya lagi kepada seorang tante yang ada di dekat jalan yang putus itu, dia membenarkan ini jalan untuk menuju Bukit Nilo. Kami terus melaju.

Jalan yang kami lewati selanjutnya adalah jalan kecil, sepi dan aspalnya sudah rusak. Kami sempat bertanya arah lagi kepada sebuah keluarga yang sedang menggarap ladang untuk ditanami kacang. Setelah menunjukkan arah mana yang harus kami pilih, salah satu tante meminta partner saya untuk menggenggam biji kacang yang hendak ditanam, “biar tumbuh subur” katanya.

Perjalanan semakin buruk karena rumah-rumah penduduk sudah tidak ditemui dan jalan semakin rusak. Kami ragu apakah ini jalan yang benar, akan tetapi sayang juga jika harus kembali ke Maumere karena jalan yang kami lalui sudah terlampau jauh, apalagi Bukit Nilo sudah semakin terlihat dalam pandangan. Penderitaan kami bertambah dengan kondisi motor pinjaman yang kurang bagus. Shock breaker ban depan sangat keras, sehingga ketika ada jalan berlubang hentakannya begitu terasa dan bunyinya bikin was-was, bisa-bisa terjadi kejadian buruk di jalan yang sepi ini. Semoga hal itu tidak terjadi, doa yang terus terucap di dada saya.

Bukit Nilo, Maumere
Patung Yesus
Setelah hampir putus asa karena tak kunjung menemui jalan terang, justru saat itu kami bertemu dengan jalan bagus. Ternyata ada jalur lain yang jalannya relatif lebih bagus dan lebih lebar dari jalan yang kami lalui tadi. Ternyata jalan yang kami pilih tadi adalah jalan alternatif, memang jaraknya lebih dekat untuk sampai Bukit Nilo dari Maumere akan tetapi setiap alternatif selalu mengadung resiko, dan resikonya adalah kualitas jalannya buruk ditambah tingkat sepinya sangat tinggi.

Di puncak Nilo ada sebuah desa, tak begitu padat, rumah-rumahnya pun sangat sederhana.  Ada dua patung di dua ujung bukit. Di ujung satu ada patung Yesus yang disalib dan di ujung satunya ada patung Bunda Maria yang bentuknya sangat besar. Di sepanjang jalan antara dua patung ini ada banyak patung kecil yang bisa dibilang sebagai diorama peristiwa perjalanan hidup Yesus.

Setelah mengunjungi patung Yesus yang disalib, kami mengarahkan motor ke ujung sebaliknya. Di tempat ini Patung Bunda Maria berwarna putih berdiri tegar mengahadap kota Maumere dengan posisi tangan yang terbuka seperti hendak menebarkan kasihnya kepada seluruh warga. Sayangnya sebelum sampai ke patung tersebut, hujan deras mengguyur. Kami berteduh di satu-satunya kios yang ada di sana. Kios ini menjual peralatan beribadah serta aksesoris lainnya. Di tempat ini pula pengunjung mengisikan namanya pada buku tamu. Hanya ada satu tante dan selanjutnya datang seorang Bruder yang menjaga kios ini. Tak ada pengunjung lain selain kami, suasananya begitu sepi kecuali air hujan yang begitu ramai mengguyur.
 
Bukit Nilo, Maumere
Patung Bunda Maria dari belakang
Satu jam kemudian hujan baru mereda, kami hanya sebentar saja melihat-lihat sekitar patung. Dari sini kota Maumere terlihat kelabu karena mendung dan kabut masih menyelimuti. Garis pantai dan lautan juga terlihat buram. Waktu sudah hampir jam 3 sore dan kami belum sempat makan siang jadi secepatnya kami hendak meninggalkan Bukit Nilo. Sialnya kami harus menunda lagi memberi asupan makanan pada perut kami karena ban belakang motor kami bocor. Di puncak bukit yang letaknya di pelosok ini kami mengharapkan mukjizat agar ada tambal ban di sekitar sini. Sayangnya mukjizat itu tidak datang.

“Tambal ban terdekat ada di bawah, jauh. Kalau mau jalan dan dorong motor bisa 2 jam lebih” kata seorang tante yang seketika membuat kami lumpuh layu. Perut kami kosong dan harus menguras sisa energi untuk berjalan dan mendorong motor selama 2 jam. Sungguh akan menjadi hari yang sangat melelahkan.
 
Bukit Nilo, Maumere
Patung Bunda Maria di Bukit Nilo
“Begini saja, minta bantuan Oom di rumah sebelah buat melepas ban nya lalu minta dia antar ke bawah untuk menambal bannya. Dia punya peralatannya.” lanjut tante tadi sambil menunjuk rumah om yang dia maksud. Ternyata Tuhan masih memberikan pilihan bantuan.

Kami mendatangi rumah yang dimaksud. Sebenarnya kami tidak enak hati karena Oom itu ternyata sedang tidur siang, tapi bagaimana lagi kami juga sedang dilanda kesusahan. Setelah menceritakan maksud kami, Oom tersebut dengan ikhlas bersedia membantu kami. Semoga Tuhan memberikan rezeki berlimpah untuknya dan keluarganya.

Namanya Lorenz. Dari paras mukanya mungkin usianya sekitar pertengahan tiga puluhan. Saya memanggilnya Oom, karena biasanya di Flores memanggil orang yang lebih tua dengan Om itu sudah biasa. Badannya kecil, rambutnya ikal dan dipotong pendek. Anaknya dua orang dan masih kecil. Gaya bicaranya halus dan ramah dan saya seratus persen yakin dia adalah orang yang sangat baik.

Peralatan standar bengkel dia keluarkan. Motor tetap berada di jalan karena di halaman rumah Om Lorenz tak dilapisi dengan semen sehingga motor akan lebih stabil berdiri jika tetap di atas aspal jalan. Akan tetapi hujan kembali mengguyur saat kami hendak mencopot ban motor. Saya pikir Om Lorenz hendak menunda pekerjaan ini akan tetapi dia mengambil payung untuk menghindari air hujan. Saya hanya bisa memegangi payungnya dan sesekali hanya ikut membantu memegang ban atau memilih kunci yang pas. Ah begitu tak bergunanya saya.

Setelah ban dilepas kami harus membawanya ke tambal ban paling dekat. Om Lorenz mengeluarkan sepeda motornya dan saya membonceng di belakangnya. Jalan yang diambil berbeda dengan jalan yang kami lalui saat berangkat, karena jalan kali ini memang jalan utama. Ternyata kualitasnya memang jauh lebih baik. Om Lorenz begitu terbiasa melewati jalan ini bahkan dia bisa hafal dimana ada lubang, sehingga dengan waktu yang tak terlalu lama kami sudah sampai di tukang tambal ban di jalan raya yang merupakan jalan menuju Ende dari Maumere.
 
Bukit Nilo, Maumere
Bersama dengan keluarga Oom Lorenz
Proses menambal ban tak begitu lama, dalam waktu yang singkat saya dan Oom Lorenz sudah kembali ke rumahnya untuk memasang kembali ban motor. Oom Lorenz meskipun gaya bicaranya kalem dan lemah lembut ternyata kerjanya begitu cekatan, proses memasang ban hanya butuh waktu sedikit saja. Setelah selesai, saya diajak masuk ke rumah untuk berbincang-bincang. Segelas teh hangat dan sepiring kacang dihidangkan oleh istrinya kepada saya dan partner saya. Tak ada kebaikan yang lebih lagi yang bisa kami harapkan dari ini. Kami mungkin tidak memiliki pengalaman spiritual seperti layaknya warga Nasrani yang mendatangi bukit Nilo, tapi kami merasakan pengalaman kebaikan nyata dari sebuah keluarga di Desa Nilo, itulah keluarga Om Lorenz.

Sabtu, 08 Maret 2014

Air Terjun Oenesu yang Terlupakan

12.12 // by Wisnu Yuwandono // , , // 8 comments


Air Terjun OenesuSelepas mengunjungi Gua Kristal, kami melanjutkan menuju ke objek lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Nama tempatnya adalah Air Terjun Oenesu. Namanya sama dengan nama desa tempat air terjun tersebut berada. Untungnya GPS masih bisa menunjukkan letaknya, jadi tidak perlu sering-sering berhenti dan bertanya pada penduduk.

Jalan yang kami lalui sangat sepi karena kami memilih jalan pintas dari posisi Gua Kristal. Untungnya kualitas jalannya bisa dibilang tidak jelek, hanya beberapa titik saja yang bergelombang. Sawah dan ladang menjadi pemandangan di sepanjang jalan sedangkan rumah-rumah masih sedikit, hanya beberapa kali melewati perkampungan.

Sekitar setengah jam saja waktu yang ditempuh dari Gua Kristal kami sudah sampai di daerah Oenesu. GPS tak mampu menunjukkan di mana letak air terjun, saat itulah kami bertanya pada tante yang sedang berada di pinggir jalan. Ternyata kami sudah dekat dengan temppat tujuan, hanya beberapa ratus meter lagi ada papan petunjuk Air Terjun Oenesu ke kanan, atau keluar dari jalan utama. Justru sudah mau sampai lokasi kualitas jalan menjadi jauh menurun.

Air Terjun Oenesu
Gerbang dan Pos Retribusi
Sebuah gerbang berbentuk gapura yang terlihat masih baru menjadi pintu masuk objek wisata ini. Sayangnya pos jaga yang sekaligus menjadi tempat pos retribusi kondisinya berbanding terbalik, malah bisa dibilang mengenaskan. Tidak ada yang bertugas di sana, jadi kami melenggang masuk begitu saja. Tempat parkir beralaskan paving block, ukurannya tidak begitu luas dan terlihat sepi hari itu. Selain kami hanya ada satu motor lain yang terparkir di sana, mungkin karena ini bukan akhir pekan atau hari libur jadi tidak ada yang berekreasi di sini atau memang tempat ini kurang menarik bagi warga Kupang, entahlah.

Memandang di sekitaran parkiran terlihat kios-kios yang tak terawat dan tertutup rapat. Sebenarnya perut kami sudah berteriak untuk minta diisi. Sepanjang perjalanan dari Gua Kristal kami tidak menemukan warung makan. Memang jarang sekali warga asli yang berjualan makanan, kebanyakan adalah orang Jawa atau Minang dan mereka tidak melebarkan sayap usahanya di sepanjang jalan yang kami lalui. Harapan bahwa di obyek wisata akan ada penjual juga telah sirna, mau tak mau suara keroncong di perut harus di tahan sampai kembali ke Kota Kupang.
Air Terjun Oenesu
Rumput-rumput yang tak terawat
Selain kios, ada beberapa gasebo yang berdiri di petak taman yang luasnya mungkin sekitar setengah lapangan bola. Sayangnya nasib gasebo ini tak lebih bagus dari kios atau pos retribusi. Ada yang atapnya berlubang bahkan miring dan sangat kotor. Yang terlihat tumbuh dengan bagus adalah rumput ilalang, karena pertumbuhannya tidak ada yang mengendalikan sehingga ketinggiaannya merusak pemandagan dan membuat nyamuk senang bersembunyi di sana. Kaki dan tangan saya langsung terdapat beberapa bentol-bentol dari nyamuk, mungkin ini adalah ucapan selamat datang dari mereka.

Air Terjun Oenesu
Gasebo yang rusak
Jangan tanya tentang sampah. Beberapa tempat sampah yang ada terisi oleh sampah yang banyak. Tempat sampah tersebut sebenarnya belum penuh akan tetapi sampah di sekitarnya juga sangat banyak. Mungkin orang-orang merasa di sekitar tempat sampah juga merupakan tempat membuang sampah. Seharusnya sampah-sampah itu juga selanjutnya diolah lebih lanjut lagi, tapi yang ada sampah itu dibiarkan teronggok membusuk di sana. Baru datang tapi kesan pertama yang terlihat adalah tak terawat.

Letak air terjun tak jauh dari tempat parkir. Setelah melewati deretan kios yang tutup, ada tangga turun menuju air terjun. Sebenarnya dari atas pun sudah terdengar gemericik air yang semakin mendorong kaki untuk terus melangkah menuruni tangga menuju bawah. Tak terlalu banyak tangga yang harus dilewati dan ketika sampai, pengorbanan untuk mencapai sini tak ada artinya karena pemandangan yang dilihat sangat menarik yaitu air terjun dengan empat tingkat.
 
Air Terjun Oenesu
Air terjun tingkat pertama

Air Terjun Oenesu
Air terjun tingkat kedua

Jalan yang akan kita lalui ketika sampai paling bawah berupa jembatan yang melintang di atas sungai, tepatnya di depan tingkat air terjun yang paling bawah. Hal ini membuat pengunjung akan merasa berada di tengah-tengah sungai dan tepat berada di hadapan air terjun. Memang debit air dari sungai tidak terlalu besar sehingga derasnya air terjun juga tidak seberapa, air pun tidak terlalu jernih namun juga tidak berwarna coklat keruh. Warna air antara hijau dengan biru. Hal ini tetap tidak terlalu mengurangi keindahan air terjun Oenesu.
Air Terjun Oenesu
Air Terjun Oenesu

Dengan potensi yang dimiliki seharusnya pemerintah Kupang harus bertindak dengan baik agar kondisi obyek ini terselamatkan. Letak Oenesu yang hanya berjarak sekitar 17 km dari Kupang seharusnya menjadi alternatif wisata yang menjanjikan. Akan tetapi dengan jarak yang tak begitu jauh itupun pemerintah seperti tidak tahu bahwa tempat ini sangat terbengkalai.

Sabtu, 01 Maret 2014

Gua Kristal yang Tersembunyi

11.34 // by Wisnu Yuwandono // , , // 10 comments

Gua Kristal, Kupang, NTT
Gua Kristal
Meski cuaca tidak terlalu cerah tetapi udara Kupang cukup menyengat hari itu. Saya bersama travelmate saya menyusuri jalanan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menuju daerah Bolok menggunakan sepeda motor sewaan. Tidak terlalu jauh jaraknya, sekitar belasan kilometer saja.

GPS menjadi acuan saya untuk mengarahkan motor. Arah tujuan kami adalah Gua Kristal, salah satu objek wisata di Kupang. Akan tetapi GPS tak mampu menunjukkan letak pasti dimanakah letak gua tersebut. Karena Gua Kristal terletak di daerah Bolok maka saya menugaskan aplikasi tersebut untuk membimbing saya ke sana.

Jalanan yang dilalui cukup bagus dan juga tidak terlalu ramai. Laut yang biru sempat terlihat dari jalan yang membuat konsentrasi kadang terpecah, melihat lurus ke jalan atau meleng ke pemandangan yang indah ini. Kami juga sempat lewat depan Pabrik Semen Kupang yang terlihat agak kusam. Dulu beberapa teman saya ada yang kerja di sini, tapi hanya bertahan beberapa bulan saja. Tidak kerasan katanya.

Tak begitu lama perjalanan kami sudah sampai di daerah Bolok, lalu dimanakah letak Gua Kristal itu? Saya menghentikan motor ketika menemukan sebuah bengkel, saya yakin mereka lebih hebat dari GPS. Ketika saya bertanya kepada seorang ibu yang ada di sana, ternyata kemampuannya tak jauh beda dengan GPS, dia kebingungan. Untungnya montir bengkel tahu letak Gua Kristal ini.

“Lurus terus aja, ketemu pertigaan ada tanda Polair belok kanan” kalimat penunjuk yang sangat berguna bagi kami.

Saya mematuhi ucapan tadi dan melanjutkan mengendarai sepeda motor. Ternyata letak pertigaan dengan tanda Polair itu tidak terlalu jauh. Jalan berubah menjadi lebih kecil dan agak rusak. Sebenarnya saya agak ragu, benar tidak ini arah ke Gua Kristal, karena tidak ada tanda atau tulisan mengenai gua tersebut. Kebetulan ada anak muda yang berada di dekat sana. Katanya memang benar ini arahnya, “Ikuti jalan ini saja lalu ketika menemukan pipa belok kiri”.

Jalanan ini sangat sepi, di kanan kiri hanya ada ladang dengan ditumbuhi banyak rumput. Di jalan juga kami menemukan banyak ranjau kotoran sapi tapi sayangnya pipa yang dijadikan patokan itu tidak kami temukan. Tak berapa lama kami malah sudah sampai di ujung jalan di mana kantor Polair berdiri.

Kantor Polair (Polisi Air) terletak di ujung jalan, berbatasan dengan laut. Saat itu, sedang ada kerja bakti kalau tidak salah membangun pagar. Saya bertanya kepada salah satu polisi tentang letak Gua Kristal. Dia dengan baik hati tidak hanya memberi petunjuk malah mau mengantarkan kami ke sana. Di tengah pandangan buruk masyarakat tentang Polisi, sebenarnya masih banyak anggotanya yang berperilaku sangat baik.

Roy begitu namanya saat kami berkenalan. Mukanya bulat, perawakannya tinggi dengan badan besar. Kulitnya coklat, terkesan sangar memang, tetapi tutur katanya sangat ramah dan sopan. Sejatinya dia berasal dari Ambon, juga pernah bertugas di Rote selama beberapa tahun. Di Polair Kupang, Pak Roy sudah mengabdi sekitar dua tahun lamanya.
 
Gua Kristal, Kupang, NTT
Melewati ladang menuju Gua Kristal
Kami diantar menyusuri jalan aspal yang tadi kami lewati. Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 50 meter dari kantor Polair tepatnya di ladang seberang bangunan SMK Kelautan, kami belok ke kanan. Tidak ada tanda-tanda sama sekali kalau ini adalah jalan menuju sebuah objek wisata. Jalannya pun tidak terlalu kelihatan, tersamar oleh rumput-rumput dan ilalang.

Setelah berjalan sekitar 100 meter saya sempat tidak menyadari kalau kami sudah berada di depan mulut gua. Batu-batu karang yang ada sayangnya beberapa sudah dikotori oleh tulisan-tulisan vandalisme. Ukuran pintu gua memang tidak terlalu besar, untuk memasukinya pun cuma bisa satu-satu, selain karena ukurannya juga karena batunya cukup licin. Pak Roy memandu kami untuk memasukinya.
Gua Kristal, Kupang, NTT
Mulut Gua Kristal
Di dalam gua, sinar matahari hanya malu-malu menerobos melalui pintu gua sehingga cuma sebagian kecil saja yang terkena cahaya, sisanya gelap gulita. Ada beberapa burng yang terbang di dalamnya, pertama saya kira itu adalah kelelawar tapi kata Pak Roy itu adalah burung walet. Hal ini memang terbukti saat nantinya Pak Roy menunjukkan sarang burung tersebut.

“Airnya ada di bawah sana” kata Pak Roy sambil mengarahkan tangannya menunjuk ke bawah.
 
Gua Kristal, Kupang, NTT
Air di Gua Kristal dilihat dari atas dekat mulut gua
Air yang katanya sangat bening itu tidak terlihat dengan jelas karena cahaya matahari tak sanggup menyinari sampai ke sana. Saya dan travelmate saya menyalakan senter dari powerbank, meski redup tapi samar-samar bisa menerangi. Untuk sampai ke bawah, jalan yang harus dilalui adalah jalan yang hampir tegak lurus alias vertikal. Kesulitan itu ditambah lagi batu-batunya sangat licin karena di dalam memang sangat lembab. Kecuali Pak Roy, dengan susah payah kami menuruninya.

Ternyata apa kata orang tentang kejernihan air di Gua Kristal itu bukanlah kiasan saja, memang terbukti benar. Di dasar gua, kolam air itu terlihat begitu jernih meski dengan cahaya minim dan senter tidak kami nyalakan. Saking beningnya, terlihat seperti mengeluarkan cahayanya sendiri. Dasar dari kolam air itu juga terlihat cukup dalam. Benar-benar sebening kristal.
 
Gua Kristal, Kupang, NTT
Pak Roy dan air Gua Kristal
“Kalau mau mandi, mandi saja. Tidak apa-apa. Airnya segar sekali, sayang kalau jauh-jauh ke sini tidak mandi” kata Pak Roy.

Saya sebenarnya agak tergoda oleh anjurannya, tapi saya tidak membawa baju ganti, dan lagi saya tak pandai berenang. Sepertinya Pak Roy bisa membaca gelagat saya bahwa saya tidak termasuk ahli renang.

“Kalau tidak berani, mari saya temani mandi”

Kami tetap memutuskan untuk tidak mandi dan berenang di sana. Tak adanya pakaian ganti menjadi alasan utamanya. Saya hanya membasuh muka dan memasukkan kaki ke dalam air. Rasanya memang segar. Nyesssss.

Air di gua ini adalah air payau. Kata Pak Roy air gua ini berasal dari laut. Ada lubang di dalam sana yang menghubungkan ke laut. Tinggi air di sini pun bergantung dengan pasang surut air laut. Tapi sekarang katanya lubang itu sudah tidak ada, jadi air laut masuk dari sini dari celah-celahnya saja.

“Saya pernah menyelami gua ini sampai bawah sana” katanya.

Karena kami tak jadi berenang, kami tidak berlama-lama di dalam. Tidak enak juga mengganggu pekerjaan Pak Roy yang harus meninggalkan teman-temannya yang sedang bekerja bakti demi menemani kami.

Saat perjalanan kembali saya bertanya kenapa gua sebagus ini tidak diberi fasilitas yang baik, jangankan jalan ke gua, tanda arah di mana letak gua pun tidak ada sama sekali.

“Gua ini masuk di wilayah tanah orang, tanah pribadi, dan orang itu tidak ada niat untuk mengembangkannya. Pemerintah pun diam saja” jelas Pak Roy.