• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 01 Maret 2014

Gua Kristal yang Tersembunyi

11.34 // by Wisnu Yuwandono // , , // 10 comments

Gua Kristal, Kupang, NTT
Gua Kristal
Meski cuaca tidak terlalu cerah tetapi udara Kupang cukup menyengat hari itu. Saya bersama travelmate saya menyusuri jalanan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menuju daerah Bolok menggunakan sepeda motor sewaan. Tidak terlalu jauh jaraknya, sekitar belasan kilometer saja.

GPS menjadi acuan saya untuk mengarahkan motor. Arah tujuan kami adalah Gua Kristal, salah satu objek wisata di Kupang. Akan tetapi GPS tak mampu menunjukkan letak pasti dimanakah letak gua tersebut. Karena Gua Kristal terletak di daerah Bolok maka saya menugaskan aplikasi tersebut untuk membimbing saya ke sana.

Jalanan yang dilalui cukup bagus dan juga tidak terlalu ramai. Laut yang biru sempat terlihat dari jalan yang membuat konsentrasi kadang terpecah, melihat lurus ke jalan atau meleng ke pemandangan yang indah ini. Kami juga sempat lewat depan Pabrik Semen Kupang yang terlihat agak kusam. Dulu beberapa teman saya ada yang kerja di sini, tapi hanya bertahan beberapa bulan saja. Tidak kerasan katanya.

Tak begitu lama perjalanan kami sudah sampai di daerah Bolok, lalu dimanakah letak Gua Kristal itu? Saya menghentikan motor ketika menemukan sebuah bengkel, saya yakin mereka lebih hebat dari GPS. Ketika saya bertanya kepada seorang ibu yang ada di sana, ternyata kemampuannya tak jauh beda dengan GPS, dia kebingungan. Untungnya montir bengkel tahu letak Gua Kristal ini.

“Lurus terus aja, ketemu pertigaan ada tanda Polair belok kanan” kalimat penunjuk yang sangat berguna bagi kami.

Saya mematuhi ucapan tadi dan melanjutkan mengendarai sepeda motor. Ternyata letak pertigaan dengan tanda Polair itu tidak terlalu jauh. Jalan berubah menjadi lebih kecil dan agak rusak. Sebenarnya saya agak ragu, benar tidak ini arah ke Gua Kristal, karena tidak ada tanda atau tulisan mengenai gua tersebut. Kebetulan ada anak muda yang berada di dekat sana. Katanya memang benar ini arahnya, “Ikuti jalan ini saja lalu ketika menemukan pipa belok kiri”.

Jalanan ini sangat sepi, di kanan kiri hanya ada ladang dengan ditumbuhi banyak rumput. Di jalan juga kami menemukan banyak ranjau kotoran sapi tapi sayangnya pipa yang dijadikan patokan itu tidak kami temukan. Tak berapa lama kami malah sudah sampai di ujung jalan di mana kantor Polair berdiri.

Kantor Polair (Polisi Air) terletak di ujung jalan, berbatasan dengan laut. Saat itu, sedang ada kerja bakti kalau tidak salah membangun pagar. Saya bertanya kepada salah satu polisi tentang letak Gua Kristal. Dia dengan baik hati tidak hanya memberi petunjuk malah mau mengantarkan kami ke sana. Di tengah pandangan buruk masyarakat tentang Polisi, sebenarnya masih banyak anggotanya yang berperilaku sangat baik.

Roy begitu namanya saat kami berkenalan. Mukanya bulat, perawakannya tinggi dengan badan besar. Kulitnya coklat, terkesan sangar memang, tetapi tutur katanya sangat ramah dan sopan. Sejatinya dia berasal dari Ambon, juga pernah bertugas di Rote selama beberapa tahun. Di Polair Kupang, Pak Roy sudah mengabdi sekitar dua tahun lamanya.
 
Gua Kristal, Kupang, NTT
Melewati ladang menuju Gua Kristal
Kami diantar menyusuri jalan aspal yang tadi kami lewati. Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 50 meter dari kantor Polair tepatnya di ladang seberang bangunan SMK Kelautan, kami belok ke kanan. Tidak ada tanda-tanda sama sekali kalau ini adalah jalan menuju sebuah objek wisata. Jalannya pun tidak terlalu kelihatan, tersamar oleh rumput-rumput dan ilalang.

Setelah berjalan sekitar 100 meter saya sempat tidak menyadari kalau kami sudah berada di depan mulut gua. Batu-batu karang yang ada sayangnya beberapa sudah dikotori oleh tulisan-tulisan vandalisme. Ukuran pintu gua memang tidak terlalu besar, untuk memasukinya pun cuma bisa satu-satu, selain karena ukurannya juga karena batunya cukup licin. Pak Roy memandu kami untuk memasukinya.
Gua Kristal, Kupang, NTT
Mulut Gua Kristal
Di dalam gua, sinar matahari hanya malu-malu menerobos melalui pintu gua sehingga cuma sebagian kecil saja yang terkena cahaya, sisanya gelap gulita. Ada beberapa burng yang terbang di dalamnya, pertama saya kira itu adalah kelelawar tapi kata Pak Roy itu adalah burung walet. Hal ini memang terbukti saat nantinya Pak Roy menunjukkan sarang burung tersebut.

“Airnya ada di bawah sana” kata Pak Roy sambil mengarahkan tangannya menunjuk ke bawah.
 
Gua Kristal, Kupang, NTT
Air di Gua Kristal dilihat dari atas dekat mulut gua
Air yang katanya sangat bening itu tidak terlihat dengan jelas karena cahaya matahari tak sanggup menyinari sampai ke sana. Saya dan travelmate saya menyalakan senter dari powerbank, meski redup tapi samar-samar bisa menerangi. Untuk sampai ke bawah, jalan yang harus dilalui adalah jalan yang hampir tegak lurus alias vertikal. Kesulitan itu ditambah lagi batu-batunya sangat licin karena di dalam memang sangat lembab. Kecuali Pak Roy, dengan susah payah kami menuruninya.

Ternyata apa kata orang tentang kejernihan air di Gua Kristal itu bukanlah kiasan saja, memang terbukti benar. Di dasar gua, kolam air itu terlihat begitu jernih meski dengan cahaya minim dan senter tidak kami nyalakan. Saking beningnya, terlihat seperti mengeluarkan cahayanya sendiri. Dasar dari kolam air itu juga terlihat cukup dalam. Benar-benar sebening kristal.
 
Gua Kristal, Kupang, NTT
Pak Roy dan air Gua Kristal
“Kalau mau mandi, mandi saja. Tidak apa-apa. Airnya segar sekali, sayang kalau jauh-jauh ke sini tidak mandi” kata Pak Roy.

Saya sebenarnya agak tergoda oleh anjurannya, tapi saya tidak membawa baju ganti, dan lagi saya tak pandai berenang. Sepertinya Pak Roy bisa membaca gelagat saya bahwa saya tidak termasuk ahli renang.

“Kalau tidak berani, mari saya temani mandi”

Kami tetap memutuskan untuk tidak mandi dan berenang di sana. Tak adanya pakaian ganti menjadi alasan utamanya. Saya hanya membasuh muka dan memasukkan kaki ke dalam air. Rasanya memang segar. Nyesssss.

Air di gua ini adalah air payau. Kata Pak Roy air gua ini berasal dari laut. Ada lubang di dalam sana yang menghubungkan ke laut. Tinggi air di sini pun bergantung dengan pasang surut air laut. Tapi sekarang katanya lubang itu sudah tidak ada, jadi air laut masuk dari sini dari celah-celahnya saja.

“Saya pernah menyelami gua ini sampai bawah sana” katanya.

Karena kami tak jadi berenang, kami tidak berlama-lama di dalam. Tidak enak juga mengganggu pekerjaan Pak Roy yang harus meninggalkan teman-temannya yang sedang bekerja bakti demi menemani kami.

Saat perjalanan kembali saya bertanya kenapa gua sebagus ini tidak diberi fasilitas yang baik, jangankan jalan ke gua, tanda arah di mana letak gua pun tidak ada sama sekali.

“Gua ini masuk di wilayah tanah orang, tanah pribadi, dan orang itu tidak ada niat untuk mengembangkannya. Pemerintah pun diam saja” jelas Pak Roy.

10 komentar:

  1. Kayak nya enak banget berendam di sana ... Pak roy nanti antarkan juga saya kesana yaaa, sekalian pulangnya ongkosin #Ngarep

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha kasian pak roy nya,,kalo mau minta dibayarin minta pak roy sukro aja :))

      Hapus
  2. akhhh paling suka adalah guanya. airnya jernih pengin berendem tapi sepertinya agak menyeramkan hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa,,untung kami ditemeni pak polisi,hehe

      Hapus
  3. Waduh mas.. Harusnya mandi disitu, biar gak jago renang, kan ada pak roy.. Hehehee...

    BalasHapus
  4. oalah, baru tau juga kalo lokasi gua berada di tanah milik orang, mungkin pengunjung kesana terhitung dikit kali ya, kalo tempat sebagus itu disembuyiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang ga banyak yg tau kayanya, bahkan orang2 Kupang sendiri

      Hapus