• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Senin, 25 Mei 2015

Rencanakan Perjalananmu dan Terbang Gratis dengan Traveloka

12.06 // by dalijo // 20 comments

Pernah merencanakan perjalanan untuk menemui seseorang (orang tua, saudara, pacar, teman, atau siapapun) yang tinggalnya jauh? Sebagian besar mungkin menjawab dengan “iya, pernah”. Lalu apakah rencana itu bisa terlaksana sampai saat ini? Nah, kalau untuk pertanyaan yang ini mungkin separuh jawaban menjawab dengan “sudah” sedangkan sisanya menjawab dengan “belum”. Untuk yang belum dan susah merealisasikan rencananya, saat ini ada kesempatan buat kita untuk terbang gratis menuju tempat orang spesial yang ingin kita temui itu hanya dengan menuliskan rencananya. Traveloka akan mengabulkan rencana perjalanan kita dengan memberi 20 tiket Citilink PP ke semua rute untuk 10 orang pemenang.

Tertarik?

Begini caranya :
  • - Follow akun Twitter @Traveloka dan like Facebook Page  Traveloka.
  • - Buat artikel dengan tema “Andai bisa terbang gratis, aku  akan menemuinya” sesuai ketentuan artikel.
  • - Artikel ditulis pada media publik di internet, seperti:  WordPress, Blogspot, Forum, Kompasiana, dll.
  • - Link (URL) artikel dikirim melalui formulir online  di http://goo.gl/forms/GQxNhlLAqO
Ketentuan artikel:
  • - Memiliki minimal 400 kata.
  • - Artikel harus berisi:
    • - Siapa orang yang ingin kamu temui dan alasan ketemu  dengannya.
    • - Aktivitas apa yang ingin dilakukan dengannya.
    • - Itinerary perjalanan memakai pesawat Citilink.
    • - Screenshot halaman “Review Pemesanan” tiket Citilink  dan hotel yang mau dipesan dari Traveloka App.
    • - Kesan positif menggunakan Traveloka App.
  • - Contoh artikel bisa dilihat di Blog Traveloka.
Informasi lengkapnya bisa dilihat di sini.


Kalian sudah download aplikasi Traveloka di HP kan? Karena selain lewat ikut kontes menulis, kita juga bisa dapat tiket pulang pergi gratis lewat cara lain. Saat ini ada program “Fly for Free” dari Traveloka yang membagikan 300 tiket Citilink  pulang pergi gratis. Caranya mudah sekali, hanya dengan pesan tiket Citilink via Traveloka App dengan rute apapun dan periode terbang kapanpun. Lengkapnya bisa dibuka di link ini

Mudah kan? Ayo ceritakan perjalananmu untuk menemui seseorang yang berarti bagimu semenarik mungkin, buat itinerarynya, posting di blogmu, dan kalau beruntung kamu akan terbang ke tempat dia berada.

Senin, 11 Mei 2015

Segarnya Curug Sawer

07.13 // by dalijo // , , // 22 comments

Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Melepas kepenatan setelah bekerja dan tinggal dalam ritme kehidupan Kota Jakarta banyak caranya. Salah satunya adalah pergi berlibur. Meski di Jakarta sendiri banyak menyediakan tempat liburan, saya memilih untuk sejenak ke luar dari gegap gempitanya kota ini. Tak terlalu jauh, melipir ke selatan, saya sudah bisa menghirup udara yang lebih segar. Letaknya ada di daerah Sukabumi.

Lokasi yang saya kunjungi ini berupa air terjun, namanya Curug Sawer. Terletak hampir sekitar 130 kilometer dari titik nol ibu kota negara, tempat ini jauh dari riuhnya keramaian. Atau mungkin saya sedang beruntung karena saat itu sedang sepi pengunjung. Posisinya ada di kaki Gunung Gede Pangrango. Untuk mencapai Curug Sawer, dari Jakarta saya bersama teman-teman naik KRL Commuter Line pagi-pagi sekali menuju Stasiun Bogor. Selanjutnya disambung dengan naik kereta Pangrango dari Stasiun Paledang menuju Sukabumi berangkat pada pukul 7.55 WIB. Stasiun Paledang ini letaknya tidak jauh dari Stasiun Bogor, tak lebih dari 1 kilometer.

Hampir 2 jam di atas kereta, Stasiun Cisaat menjadi pemberhentian kami selanjutnya. Stasiun yang cukup kecil, bahkan pintu dari gerbong ekonomi 4 yang kami naiki tidak mendapatkan peron untuk turun dari kereta. Kami harus turun pada bagian bawah tembok tempat gudang sementara perusahaan semen.

Curug Sawer, Sukabumi
Jalan setapak
Tujuan berikutnya adalah pangkalan angkot atau lebih tepatnya tempat mangkal angkot yang rute trayeknya ke arah Curug Sawer, ada dua pilihan untuk menuju ke sana dari stasiun, naik angkot juga atau jalan kaki. Kami memilih opsi yang kedua. Tempat ngetem angkot ada di dekat Polsek Cisaat. Untuk membedakan rute angkot bisa dilihat dari warnanya. Angkot warna merah adalah angkot yang akan membawa kami ke Kadudampit, tujuan kami. Diiringi lagu yang mendayu-dayu yang diputar di dalam angkot, kurang dari satu jam kami sampai di daerah Kadudampit. Dari sini kami harus berjalan sekitar 200-300m sampai ke Pos Bumi Perkemahan Cinumpang. Perjalanan yang lebih susah baru akan dimulai dari sini karena jalan berikutnya adalah jalur setapak yang menanjak. Sebenarnya ada pilihan bantuan untuk mempercepat perjalanan dengan naik ojek, tetapi kami lebih memilih untuk berjalan, lebih menantang, meski kadang harus bersusah payah mengatur nafas yang sudah mulai termakan umur tersengal-sengal.

Di tengah perjalanan ada beberapa warung yang menjual gorengan dan beberapa makanan maupun minuman ringan. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sedikit melepas lelah. Sejatinya jarak yang ditempuh tidaklah jauh, hanya sekitar 1,4 kilometer, tapi entah karena badan yang jarang berolahraga atau ada faktor lainnya, saya merasa berat untuk melangkah setapak demi setapak jalanan tanah liat yang menanjak. Atau mungkin saya harus menyalahkan alas kaki saya yang hanya bersandal jepit.
Curug Sawer, Sukabumi
Pos retribusi
Sekitar setengah jam berjalan kami sudah sampai di tujuan utama kami, Curug Sawer. Air terjun turun dari ketinggian sekitar 25-30 meter dengan begitu deras. Debitnya juga cukup besar, sehingga tempias airnya terbang cukup jauh, terasa seperti rintik hujan. Hanya ada beberapa pengunjung selain kami.  Suasana yang cukup sepi, memang itulah tujuan kami, pergi dari keramaian.

Hawa terasa sejuk, nikmat sekali merasakannya. Menghirup udara seperti ini membuat paru-paru terasa segar. Pohon-pohon yang masih rimbun juga menjadi faktor pendukung yang sangat penting. Di sini memang adalah tempat sumbernya pepohonan. Seandainya saja semua tempat di bumi ini masih banyak pepohonan pasti polusi udara bisa jauh berkurang.
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Dagangan, gorengan dan minuman di Curug Sawer
Menikmati kesejukan seperti ini sangat cocok dikombinasikan dengan melahap makanan berkuah yang masih panas. Beruntung sekali ada beberapa penjual bakso. Salah satu penjual bakso itu adalah Mang Maman. Dari raut wajahnya kira-kira umurnya sekitar 50 tahun. “Sudah 10 tahun dik, mamang berjualan bakso di sini” kata Mang Maman. Baksonya agak unik, karena mie yang digunakan adalah mie instan. Jadi bukan bakso seperti pada umumnya, ini adalah mie instan yang diberi bakso.
Curug Sawer, Sukabumi
Mang Maman, sang penjual bakso
Curug Sawer, Sukabumi
Mie instan plus bakso
Menurut Mang Maman air terjun ini dinamakan Curug Sawer karena seringkali air tempiasnya sangat banyak dan terbang jauh sekali, seperti semprotan. “Makanya orang Sunda nyebutnya sawer, kaya orang nyawer” dengan logat Sunda yang kental Mang Maman menjelaskan.

Untuk sampai ke tempat ini, mang Maman naik ojek dari rumahnya yang letaknya tak terlalu jauh. Peralatan dagangnya ia titipkan di pos retribusi, jadi dia hanya membawa bahan makanannya saja dari rumah. “Kalau libur begini biasanya kalau Sabtu sepi, Minggunya yang ramai. Kalau Sabtu ramai, Minggunya yang sepi” si mamang melanjutkan lagi ceritanya. Suasana Curug Sawer sangat ramai adalah ketika ada rombongan yang sedang kemah, baik di Cinumpang maupun di sekitar Situ Gunung.

Sebaiknya jika ingin merasakan dinginnya air curug jangan sampai mendekati lingkaran jatuhnya air. Selain alirannya jatuh dengan sangat deras, juga kedalamannya konon sampai 10 meter. Apalagi ada pusarannya yang bisa menarik orang masuk ke dalam dan susah untuk melepaskannya. “Pernah ada yang meninggal dik” Mang Maman mengingatkan. Saya memang tidak berniat untuk nyebur karena tidak membawa baju ganti. Untungnya teman-teman saya yang sudah duluan nyebur tidak mendekati jatuhnya air, tetapi mereka bermain di aliran sungai yang berjarak aman dari pusaran arus.

Waktu sudah mulai menggelincir meninggalkan siang, saatnya kami beranjak untuk menuju kembali ke ibu kota. Meskipun kami tak melihat pelangi yang biasanya muncul di samping air terjun seperti Mang Maman bilang, Curug Sawer sudah berhasil mengembalikan energi kami untuk menantang hari depan lagi.
Curug Sawer, Sukabumi
Miniatur mobil off road ikut nampang

Selasa, 28 April 2015

Antara Aku, Kau dan Jakarta

10.49 // by dalijo // , // 16 comments

Aku, Kau dan Jakarta

Masih pagi sekali ketika kutulis ini. Sketsa wajahmu tergambar dalam secangkir kopi yang meski tanpa gula tapi tak terasa pahit saat kunikmati. Sudah terbayang, bagaimana nanti kita akan menjelajah setapak demi setapak berdua, dan sebelum saat itu tiba, akan kupastikan segalanya telah kupersiapkan dengan baik.

Aku memilih Jakarta sebagai kota untuk menjejakkan kaki kita bersama. Sudah beberapa waktu aku tinggal di kota ini. Aku tahu jika kau kurang menyukai kota ini, aku sebenarnya pun sama denganmu. Tapi akan kubuktikan nanti, Jakarta tak semembosankan itu. Mungkin kau akan membalas pesanku dengan “Kenapa aku yang harus ke Jakarta, bukan kamu yang mendatangiku?” katamu. Tapi, kota ini juga layak untuk dijejaki dan aku sudah mencarikan penginapan untukmu melalui aplikasi Traveloka di ponselku.

Mari kuceritakan sedikit tentang bagaimana rencanaku membawamu berkeliling Jakarta. Kita akan mulai dari pagi-pagi sekali. Pagi itu tenang, pagi itu segar, dan pagi itu syahdu. Lagi pula pagi membuat kita punya banyak waktu jalan-jalan nanti. Layanan Traveloka akan membuat pencarian dan pemesanan akomodasi di Jakarta menjadi lebih mudah lagi. Kita bebas memilih penginapan yang sesuai dengan kebutuhan selama di Jakarta.

Kita akan mulai dengan kawasan Kota Tua dan berkeliling museum di sekitarnya. Jajaran bangunan klasik yang membawa kita seolah hidup kembali di awal abad 19. Kau yang begitu bangga dengan keragaman budaya nusantara, sangat berbinar saat kuajak melangkah masuk ke Museum Wayang. Di museum, jemarimu menelusuri setiap etalase yang memajang beragam karya daerah, ‘Aku baru benar-benar menyadari, nusantara itu ternyata begitu kaya,’ katamu takjub.

Selesai dengan museum, matamu tertarik melihat sepeda onthel warna-warni di kawasan ini. Kau meraih topi yang tak kalah berwarna di atas sepeda, “Mari kita adu cepat!” katamu sambil mengerling. Aku tak mau kalah, buru-buru meraih sepeda sejenis. Tak menunggu lama, kita sudah berada di atas sepeda masing-masing. Meski awalnya kau mengajakku balapan, tapi justru kau tak tahu harus ke mana, malah memilih mengekor di belakangku dan rencana adu cepat tinggallah angan.

Sampai kemudian tawamu terhenti dan berganti dengan ekspresi bingung ketika lautan menjadi pembatas daratan dan jajaran pinisi membentengi dermaga. Ini Pelabuhan Sunda Kelapa. Kau singkirkan sepedamu segera, “Sepeda tak bisa melaju di atas air,” katamu sambil menunjuk perahu nelayan. Demi menikmati rona bahagiamu, aku membuat kesepakatan dengan nelayan, kita akan berlayar ke laut menggunakan perahunya.

Pelabuhan Sunda Kelapa terlihat lebih cantik saat senja. Kita bisa melihat deretan kapal dengan latar cahaya jingga. Kita tak membutuhkan kamera. Keindahan ini ada baiknya kita nikmati sendiri, tanpa harus membaginya dengan yang lain. Lagipula buat apa kamera ketika aku bisa mengabadikan pesonamu dalam pikiranku. Rupanya aku salah, senja tak lebih cantik daripada kilau wajahmu dan gambaran itu sudah terpasang dan terbingkai di dalam otakku.

I wish I was a camera sometimes, So I could take your picture with my mind, Put it in a frame for you to seeHow beautiful you really are to me (Bon Jovi)

Menjelajah Jakarta memang tak cukup hanya sehari. Berkeliling Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa tampaknya tak cukup membuat kita lelah. Di malam hari, kita kesampingkan masalah istirahat dan lebih memilih menikmati makan malam romantis di rooftop hotel di Jakarta, tempat kita menginap.

Keesokan harinya, aku sudah punya rencana untuk kita berdua. Aku memilih tempat yang agak asing untuk orang-orang umum. Bukan tempat ramai yang biasa dikunjungi orang banyak. Justru tempat ini adalah tempat yang sangat sepi bahkan membayangkannya pun banyak yang merasa ngeri. Karena tempat ini adalah sebuah makam. Ereveld Menteng Pulo namanya. Sebuah makam tempat bersemayam para tentara Belanda yang dikelilingi bangunan gedung-gedung tinggi menjulang.

Aku, Kau dan Jakarta
Ereveld Menteng Pulo
Melihat jajaran makam yang membentuk pola yang sangat rapi itu membuat kita merenung, hidup ini begitu singkat, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang sangat singkat itu hanya untuk hal-hal yang tak berguna. Aku bersyukur karena aku mengenalmu dan jatuh cinta padamu, membuatku merasa hidupku tak pernah sia-sia.

Jakarta membuatku berangan-angan lebih tentang kisah perjalanan kita di masa depan. Menjelajah nusantara lebih dalam dan jauh lagi, agar kita punya banyak cerita untuk anak-cucu nanti. Selanjutnya kau boleh mengambil alih perencanaan ini, kau yang memilih mana kota setelah Jakarta yang akan kita kunjungi, terutama untuk bulan madu kita nanti.

Senin, 02 Maret 2015

Keheningan Ereveld Menteng Pulo

12.08 // by dalijo // // 36 comments

Ereveld Menteng Pulo

Their silent wounds have speech
More eloquent than men
Their tones can deeper reach
Than human voice or pen.
(William Woodman)

Siang sudah mulai tergelincir. Matahari juga tak terlalu gahar karena awan putih dan sebagian lagi kelabu menutupi pancaran sinarnya. Suasana yang syahdu, apalagi saya sedang berada di kuburan.  Ereveld Menteng Pulo nama tempat ini, tak seperti umumnya pemakaman di Indonesia, tempat ini tak menunjukkan keangkeran, tetapi terlihat rapi dan asri, namun tetap saja sendu menyerbu ketika ada di sini.

Dikelilingi gedung-gedung tinggi, jasad para (sebagian besar) tentara Belanda terbaring dengan tenang di sini. Tempat ini dirawat dengan baik oleh Kerajaan Belanda. Berbeda dengan negara kita, jangankan orang yang sudah tiada, yang masih hidup saja dilupakan. Ah…

Lalu semua kembali sendu.

Ereveld Menteng Pulo
Pak Rachmat, salah satu pegawai penjaga Ereveld

Ereveld Menteng Pulo
Kuburan dan apartemen

Ereveld Menteng Pulo
Gereja di tengah makam

Ereveld Menteng Pulo
Om Tekno Bolang melintas

Ereveld Menteng Pulo
Gedung-gedung yang mengelilingi makam

Ereveld Menteng Pulo
Blok pemakaman

Ereveld Menteng Pulo
Kesunyian

Ereveld Menteng Pulo
Salib untuk penghormatan korban di Burma

Ereveld Menteng Pulo
Ornamen dalam gereja

Ereveld Menteng Pulo
Tangga menuju menara gereja

Ereveld Menteng Pulo
Gereja

Ereveld Menteng Pulo
Tatanan abu jenazah

Ereveld Menteng Pulo
Pola yang rapi

Ereveld Menteng Pulo
Kontras?

Ereveld Menteng Pulo
Lonceng di depan gereja
Ereveld Menteng Pulo
Kak Firsta sedang mengamati sebuah nisan
Ereveld Menteng Pulo
Kak Olive menutup gerbang untuk mengakhiri kunjungan kami

Sabtu, 14 Februari 2015

14 Foto Romantis di Sekitar Kepulauan Komodo

11.33 // by dalijo // , // 93 comments

Disclaimer : foto-foto berikut tidak bermaksud untuk membuat para jombloers iri atau untuk menyindir mereka. Ini murni untuk sharing moment spesial yang bisa diambil di sekitar Kepulauan Komodo. Cheers :)

Dalam rangka memperingati hari kasih sayang menyemarakkan posting bareng Travel Bloggers Indonesia bertema 14 on 14, saya akan menampilkan foto-foto pre wedding teman saya yang saya ambil sendiri di sekitaran Kepulauan Komodo. Sebelumnya saya sudah sempat membahasnya di sini.

Berikut foto-fotonya:     
1. Moment menggandeng tangan menuju puncak bukit di Pulau Kanawa.
Sebagian besar sesi foto memang diambil di Pulau Kanawa. Karena pulau ini sangat indah dan memiliki bukit yang di atasnya dapat melihat pemandangan yang sangat bagus. Cocok untuk yang ingin menyendiri ataupun berpacaran, hehe.


2. Bercengkerama di puncak bukit di Pulau Kanawa


3. Di puncak bukit di Pulau Kanawa ada sebuah bangku yang sangat duduk-able apalagi saat momen sunset karena kita bisa melihat matahari turun dan mewarnai langit menjadi orange. Lautan dan pulau-pulau yang ada di depannya menjadi ornamen yang mempercantik.


4. Menggendong pasangan



5. Bintang Laut Pulau Kanawa


6. Bintang Laut (lagi)
Di Pulau Kanawa memang banyak sekali bintang laut. Si Patrick ini sangat mudah terlihat di pantainya, apalagi saat surut.


7. Bintang Laut (lagi-lagi)

8. Puncak Pulau Gili Lawa
Gili Lawa adalah salah satu pulau yang ada di Kepulauan Komodo. View dari atas bukitnya memang tak bisa dibilang biasa saja tapi luar biasa. Cuma dengan duduk membelakangi kamera saja sudah terlihat sangat romantis.

9. Menyibak ilalang Gili Lawa

10. Bermesraan di Pink Beach
Pink Beach adalah salah satu pantai yang menjadi maskot Pulau Komodo. Jangan lewatkan untuk mengabadikan momen spesial di sana.

11. Foto dengan komodo
Tak akan lengkap tanpa ada foto dengan hewan langka satu ini. 

11 foto di atas adalah foto-foto sesi prewedding teman saya. 3 foto selanjutnya adalah foto-foto saya sendiri. Tak ada salahnya untuk narsis di blog sendiri, hehe...

12. Inilah Gili Lawa
Gandengan seorang wanita yang mengajak saya untuk melihat indahnya Gili Lawa. Pose seperti ini memang diilhami dari foto-foto milik Murad Osmann yang bertema follow me.

13. Inilah Bukit Cinta
Sebenarnya ini bukanlah bukit cinta tetapi bukit di dekat bukit cinta. Jadi di Labuan Bajo ada sebuah bukit yang dinamakan Bukit Cinta. Mungkin dinamakan seperti itu karena biasa menjadi tempat pacaran anak-anak muda di sana.


14. Menunggu matahari terbenam
Lokasinya sama dengan foto nomor 3, di puncak bukit di Pulau Kanawa. Foto ini diambil dengan tripod dan mode self timer, karena kami tak ingin ada orang yang mengganggu tak ada orang yang bisa diminta bantuan untuk memoto. Sunset yang menawan bukan?

Itulah tadi 14 foto romantis di sekitar Pulau Komodo. Semoga dapat menjadi inspirasi untuk membuat foto yang lebih cetar membahana di lain tempat.


Baca juga postingan dari teman-teman Travel Bloggers Indonesia :
2. Arie Okta Friyanto :14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran
4. DanSapar : 14 Hal yang Manis dan Murah di Inggris
5. Fahmi Anhar : 14 Tempat Wisata Menarik di Dubai
6. Tekno Bolang : 14 Senja yang bisa bikin kamu Galau
7. Danan Wahyu Sumirat : 14 Alasan Mengunjungi Kerinci
8. Ridwan SK : 14 Barang yang Sebaiknya Kamu Bawa Ketika Traveling
9. Lenny : 14 Travel Selfies Around USA
10. Yofangga : 14 Film Inspirasi Perjalanan
11. Teguh Nugroho : 14 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Semarang
12. Dea Sihotang : 14 Things to do in Paris
13. Indri Juwono : 14 Tindak Tanduk Asyik di Waerebo
14. Parahita Satiti : 14 Tempat Cantik untuk Natarajasana
15. Titiw Akmar : 14 Lagu Momen untuk Traveling
16. Bobby Ertanto : 14 SEO Basic Travel Blogging ala Virustraveling.com
17. Adlien : 14 Alasan Kenapa Harus Traveling saat Muda
18. Rembulan Indira : 14 Places I Would Want to Share with My Loved One
19. Wira Nurmansyah : 14 Tips Simpel Agar Komposisi Foto Makin Kece
20. Olive Bendon : 14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa
21. Indra Setiawan : 14 Hal yang Bisa Dilakukan di Kota Palangkaraya
22. Taufan Gio : 14 Hal Seru Jalan-Jalan Bareng Traveler Dunia

Sabtu, 07 Februari 2015

Kebetulan yang Menyenangkan

11.14 // by dalijo // , , // 14 comments

romantisme komodo

Sudah cukup banyak aku menuliskan tentang perjalanan ke Komodo dan Nusa Tenggara Timur, tetapi tak ada penjelasan rinci mengapa aku begitu tergila-gila dengan daerah itu.  Komodo baik hewan maupun kepulauannya adalah sesuatu yang sangat istimewa tetapi bukan hanya itu saja yang membuatnya begitu membekas dalam hidupku. Jawabannya adalah karena aku menemukan cinta di sana.

Dua tahun lalu saat pertama kali mengunjungi Komodo, aku menumpang kapal rombongan dokter yang sedang tugas PTT di kawasan NTT.  Dari 11 orang dalam rombongan itu, 10 orang adalah perempuan, dan salah satunya adalah wanita yang mempesona hatiku.

Di antara rombongan dokter wanita yang semuanya terlihat seperti putri raja itu, dia terlihat seperti dewi kahyangan. Bagiku dia begitu sempurna, namun kesempurnaan itu juga tak membuatku memiliki nyali berlebih untuk sekedar menatapnya lebih dari 5 detik. Dari sekian banyak permata yang dia miliki, yang bisa aku curi hanyalah pandangan, ya aku hanya bisa mencuri pandang. Bahkan kacamata hitamku aku gunakan sebagai tameng untuk menutupi pandanganku padanya. Pengecut.

Aku justru berbincang dengan orang lain tentang diriku. Ada satu kata yang sepertinya menarik perhatiannya. Bali. Ya kata Bali. Aku mengungkapkan kalau saat itu homebaseku adalah di Bali. Mungkin itu adalah umpan kail yang sangat menarik bagi ikan raksasa yang susah untuk ditemukan dan tanpa sengaja dipasang di ujung kail lalu disambar oleh ikan yang diharapkan.

Dia lalu ikut dalam percakapanku. “Oh kamu tinggal di Bali ya, nanti kalau aku ke sana aku boleh nanya-nanya kamu ya?” kalimat pertama yang muncul dari mulutnya yang mungil kepadaku. Aku adalah lelaki dan dia adalah wanita, tapi justru dia yang memiliki kejantanan untuk memulai percakapan. Kalimat pertama pun bukan pertanyaan nama atau perkenalan tapi malah tentang tempat tinggal.

Setelah perkenalan yang agak unik itu, anehnya percakapan kami selanjutnya seperti kereta api eksekutif yang melaju di atas rel, jarang berhenti dan bahkan selalu didahulukan. Bahkan aku merasa kami sangat jarang berhenti di stasiun untuk sekedar menurunkan tensi percakapan, aku ingin melaju terus menuju stasiun pemberhentian terakhir.

Aku rasa aku jatuh cinta padanya. Cinta yang muncul meski belum lama bertatap muka. Aku pikir ini adalah eros. Eros adalah energi cinta yang terdalam dari seorang manusia kepada lawan jenisnya. Eros bukanlah storge (cinta pada keluarga), philia (pertemanan) ataupun agape (cinta pada Tuhan).

Ini seperti hujan deras yang turun setelah musim kemarau berkepanjangan. Ini adalah petrichor, bau wangi yang menguar dari tanah kering setelah tertimpa air hujan untuk pertama kali. Wangi yang menentramkan. Aku yakin inilah cinta yang datang setelah kehampaan. Aku yakin dialah jawabannya.

Kapal yang kami tumpangi terus melaju membelah lautan menuju Pulau Komodo. Semuanya terlihat begitu indah di mata, begitu juga dengan apa yang hatiku rasakan. Debar-debar yang menggetarkan jiwa. Air laut terlihat begitu bening hingga di dalamnya terlihat terumbu karang yang sangat elok. Meski hati wanita tak bisa dipadupadankan dengan kebeningan air laut ini, tapi aku juga bisa melihat menembus ke dalam hatinya bahwa di dasarnya dia juga merasakan debar-debar yang sama. Setidaknya siapa pula yang melarangku untuk merasakan optimisme ini.

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Benar saja, sepertinya Pulau Komodo mengajak dunia untuk membuatnya merasakan hal yang sama kepadaku. Selang beberapa minggu kemudian, kami layaknya sepasang kekasih yang saling berbagi cinta. Cinta pandangan pertama itu nyata. Menemukan cinta di ujung telapak kaki saat perjalanan itu bukan omong kosong belaka.

Cinta itu bisa datang tiba-tiba. Cinta itu bisa muncul dari sebuah kebetulan yang tak disangka. I believe this serendipity is written as my destiny.