• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 07 Februari 2015

Kebetulan yang Menyenangkan

11.14 // by Wisnu Yuwandono // , , // 15 comments

romantisme komodo

Sudah cukup banyak aku menuliskan tentang perjalanan ke Komodo dan Nusa Tenggara Timur, tetapi tak ada penjelasan rinci mengapa aku begitu tergila-gila dengan daerah itu.  Komodo baik hewan maupun kepulauannya adalah sesuatu yang sangat istimewa tetapi bukan hanya itu saja yang membuatnya begitu membekas dalam hidupku. Jawabannya adalah karena aku menemukan cinta di sana.

Dua tahun lalu saat pertama kali mengunjungi Komodo, aku menumpang kapal rombongan dokter yang sedang tugas PTT di kawasan NTT.  Dari 11 orang dalam rombongan itu, 10 orang adalah perempuan, dan salah satunya adalah wanita yang mempesona hatiku.

Di antara rombongan dokter wanita yang semuanya terlihat seperti putri raja itu, dia terlihat seperti dewi kahyangan. Bagiku dia begitu sempurna, namun kesempurnaan itu juga tak membuatku memiliki nyali berlebih untuk sekedar menatapnya lebih dari 5 detik. Dari sekian banyak permata yang dia miliki, yang bisa aku curi hanyalah pandangan, ya aku hanya bisa mencuri pandang. Bahkan kacamata hitamku aku gunakan sebagai tameng untuk menutupi pandanganku padanya. Pengecut.

Aku justru berbincang dengan orang lain tentang diriku. Ada satu kata yang sepertinya menarik perhatiannya. Bali. Ya kata Bali. Aku mengungkapkan kalau saat itu homebaseku adalah di Bali. Mungkin itu adalah umpan kail yang sangat menarik bagi ikan raksasa yang susah untuk ditemukan dan tanpa sengaja dipasang di ujung kail lalu disambar oleh ikan yang diharapkan.

Dia lalu ikut dalam percakapanku. “Oh kamu tinggal di Bali ya, nanti kalau aku ke sana aku boleh nanya-nanya kamu ya?” kalimat pertama yang muncul dari mulutnya yang mungil kepadaku. Aku adalah lelaki dan dia adalah wanita, tapi justru dia yang memiliki kejantanan untuk memulai percakapan. Kalimat pertama pun bukan pertanyaan nama atau perkenalan tapi malah tentang tempat tinggal.

Setelah perkenalan yang agak unik itu, anehnya percakapan kami selanjutnya seperti kereta api eksekutif yang melaju di atas rel, jarang berhenti dan bahkan selalu didahulukan. Bahkan aku merasa kami sangat jarang berhenti di stasiun untuk sekedar menurunkan tensi percakapan, aku ingin melaju terus menuju stasiun pemberhentian terakhir.

Aku rasa aku jatuh cinta padanya. Cinta yang muncul meski belum lama bertatap muka. Aku pikir ini adalah eros. Eros adalah energi cinta yang terdalam dari seorang manusia kepada lawan jenisnya. Eros bukanlah storge (cinta pada keluarga), philia (pertemanan) ataupun agape (cinta pada Tuhan).

Ini seperti hujan deras yang turun setelah musim kemarau berkepanjangan. Ini adalah petrichor, bau wangi yang menguar dari tanah kering setelah tertimpa air hujan untuk pertama kali. Wangi yang menentramkan. Aku yakin inilah cinta yang datang setelah kehampaan. Aku yakin dialah jawabannya.

Kapal yang kami tumpangi terus melaju membelah lautan menuju Pulau Komodo. Semuanya terlihat begitu indah di mata, begitu juga dengan apa yang hatiku rasakan. Debar-debar yang menggetarkan jiwa. Air laut terlihat begitu bening hingga di dalamnya terlihat terumbu karang yang sangat elok. Meski hati wanita tak bisa dipadupadankan dengan kebeningan air laut ini, tapi aku juga bisa melihat menembus ke dalam hatinya bahwa di dasarnya dia juga merasakan debar-debar yang sama. Setidaknya siapa pula yang melarangku untuk merasakan optimisme ini.

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Benar saja, sepertinya Pulau Komodo mengajak dunia untuk membuatnya merasakan hal yang sama kepadaku. Selang beberapa minggu kemudian, kami layaknya sepasang kekasih yang saling berbagi cinta. Cinta pandangan pertama itu nyata. Menemukan cinta di ujung telapak kaki saat perjalanan itu bukan omong kosong belaka.

Cinta itu bisa datang tiba-tiba. Cinta itu bisa muncul dari sebuah kebetulan yang tak disangka. I believe this serendipity is written as my destiny.

15 komentar:

  1. Salam kenal untuk mbak dokternya mas wis.hehehe :D

    BalasHapus
  2. Wah seandainya aku ikut merekam kejadian itu.. pasti aku akan menulis lebih panjang dari mas Wisnu hahahaha... congrats buat cintanya, btw bu dokter yang sedang duduk di foto atas itu bukan?

    BalasHapus
  3. kira2, kapan ya saya bisa sekapal dengan rombongan dokter perempuan seperti itu?? #ngarep :)

    BalasHapus
  4. Semoga bisa mengunjungi Komodo tahun ini

    BalasHapus
  5. Kalo scorpion suka lawan jenis mah, EROS BANGETTT!!! Hahaha!! Horay!!! Banzaii!! Banzaii!! *serius bahagia banget baca pos ini*

    BalasHapus
  6. *nungguin jadwal tim dokter cowok PTT juga*

    BalasHapus
    Balasan
    1. om bolang bukan dokter mbakkk :))))

      Hapus