• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Oktober 2017

Museum Sumpah Pemuda dan Bait ke 3

09.58 // by dalijo // // 13 comments

Sudah hampir 3 tahun saya tinggal di Jakarta, beberapa kali sudah saya melewati Jalan Kramat, tapi belum pernah saya berhenti dan menyambangi Museum Sumpah Pemuda yang terletak di jalan tersebut. Namun satu pekan sebelum peringatan 89 tahun hari bersejarah tersebut, saya niatkan diri untuk singgah barang sejenak ke museum ini.

Terletak di jalan yang cukup ramai tak membuatnya dikunjungi banyak orang, bahkan seperti dilupakan. Berdasarkan buku tamu yang ada pada meja receptionist, saya adalah orang/rombongan ke 30 yang berkunjung pada bulan Oktober. Padahal hanya dua ribu rupiah harga tiket untuk masuk ke gedung ini. Nilai yang sangat kecil pada saat ini, bahkan untuk parkir di mal saja lebih mahal dari itu.

Saya tidak memahami gaya bangunan ini, mungkin perpaduan antara Eropa dan China. Mengingat gedung ini awalnya merupakan milik Sie Kong Liang dan didirikan pada masa pendudukan Belanda, jadi kemungkinan besar kedua kebudayaan tersebut mempengaruhi desain arsitektur bangunan ini. Di bagian depan, terdapat beberapa patung setengah badan tokoh-tokoh penting dalam Kongres Pemuda 2 yang diadakan di gedung ini pada tahun 1928. Selain di bagian luar, patung-patung tersebut juga bertengger di bagian dalam. Terdapat pula patung diorama menggambarkan aktivitas diskusi pemuda-pemuda pada saat itu.

Sebagian besar ruangan berukuran tidak terlalu besar, layaknya kamar kosan mahasiswa. Sebelum digunakan sebagai tempat dideklarasikannya Sumpah Pemuda, tempat ini disewa oleh mahasiswa yang berkuliah di sekitarnya sebagai tempat pemondokan. Beberapa dari mahasiswa tersebut nantinya akan menjadi tokoh penting bangsa ini, sebut saja Muhammad Yamin dan Amir Sjarifoedin, serta tokoh-tokoh lainnya. Di sini pula banyak dilakukan diskusi oleh pemuda-pemuda yang berhasrat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa,

Memasuki gedung ini seperti berjalan melalui labirin masa perjuangan. Tiap ruangan saling terhubung satu sama lain. Dinding-dinding sesak dengan poster berisi informasi mengenai gedung ini maupun tentang peristiwa sumpah pemuda. Memang informasi yang terdapat pada poster-poster tersebut sangat penting, akan tetapi saya merasa bahwa penempatannya terlalu ramai sehingga malah membuat ruangan terlihat sesak. Selain itu, terdapat pula beberapa komputer yang berisi informasi dengan grafis yang mudah untuk dioperasikan.
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Bait ke-3 Sumpah Pemuda

Di bagian tengah gedung, terdapat ruangan yang cukup luas. Beberapa patung berpose sedang duduk seperti mendengarkan Rudolf W. Supratman yang sedang memainkan biola melantunkan “calon” lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lirik lagu pada saat itu tidak sama persis dengan lirik lagu kebangsaan kita saat ini. Salah satunya adalah jumlah stanza yang awalnya ada 3 kemudian direduksi menjadi 1. Ada pula beberapa lirik yang diganti.


Di ruangan ini pula terdapat teks sumpah pemuda terukir di dinding. Saya melihat tulisan tersebut lalu baru menyadari bahwa bait ke tiga agak berbeda dengan dua bait pertama. Jika merujuk pada bait pertama dan ke dua, maka bait ke tiga juga semestinya berbunyi “ berbahasa yang satu, Bahasa Indonesia”. Nyatanya bait ke tiga tidak berbunyi demikian, alih-alih berbunyi “menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Tentu hal ini cukup menggelitik bagi saya, mengapa yang satu ini berbeda dari yang lainnya. Saya mencoba mencari tahu cerita dibalik hal tersebut.

Menurut Majalah Tempo edisi 2 November 2008, pada saat Kongres Pemuda Pemuda II, Muhammad Yamin, yang bertindak sebagai sekretaris kongres, membisikkan kalimat kepada ketua kongres, Soegondo Djojopoespito, “Saya punya rumusan resolusi yang elegan.” Setelah membacanya, tanpa perlu pikir panjang, sang ketua lalu memparafnya.

Muhammad Yamin, sang ahli hukum sekaligus ahli sastra dan sejarah tentu tidak asal-asalan dalam merangkai kalimat yang kemudian menjadi mantra ampuh dalam mempersatukan bangsa ini. Dia paham bahwa bangsa ini memiliki ratusan bahasa daerah dan tiap penuturnya merasa lebih nyaman menggunakannya dalam percakapan sehari-hari dibanding menggunakan bahasa lain. Keanekaregaman bahasa menggambarkan betapa kayanya budaya bangsa ini. Tak mau memaksakan untuk digunakannya satu bahasa saja, Yamin menyusun bait ke tiga Sumpah Pemuda dengan kalimat yang berbeda.

“Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” itu berarti tidak serta merta meninggalkan bahasa ibu dan bercakap dengan satu bahasa saja. Dalam keseharian kita tetap diperbolehkan untuk menggunakan bahasa daerah. Namun ketika berkomunikasi dengan penduduk dari daerah lain dan dalam forum formal atau nasional menggunakan bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sejatinya belum ada pada saat dilangsungkan Kongres Pemuda II, yang ada adalah Bahasa Melayu. Muhammad Yamin melihat bahwa Bahasa Melayu memiliki jumlah penutur yang sangat banyak dan digunakan sebagai bahasa kebudayaan, penghubung/pergaulan, dan alat komunikasi oleh para pedagang di nusantara. Hal tersebut sudah mengakar sejak zaman dahulu, oleh karena itu Yamin mengusulkannya sebagai bahasa nasional. Namun, Mohammad Tabrani dan Sanusi Pane menginginkan “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa nasional bukan Bahasa Melayu. Menurut Tabrani, “Bahasa adalah salah satu jalan untuk menguatkan persatuan Indonesia dan karena itu haruslah berikhtiar untuk memiliki satu bahasa yang lambat laun akan dapat diberi nama Bahasa Indonesia.”

Indonesia memiliki setidaknya 700 lebih bahasa. Namun, sayangnya kita menghadapi ancaman kepunahan terhadap bahasa tersebut. Hal ini dikarenakan banyaknya orang yang enggan menggunakan bahasa daerah, hingga akhirnya tidak adanya lagi penutur dari suatu bahasa. Memang di masa yang sangat maju sekarang ini kita dituntut untuk menguasai berbagai macam bahasa untuk berkomunikasi. Tapi melupakan bahasa daerah bukanlah pilihan yang bijak. Bapak bangsa ini, Sukarno, setidaknya menguasai 10 bahasa, tetapi masih sering menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya. Kita, yang mungkin menguasai bahasa tidak sebanyak beliau, malah enggan menggunakan bahasa daerah. Jangan sampai nasib bahasa lokal kita seperti nasib Museum Sumpah Pemuda, dilupakan di tengah keramaian.

Selasa, 17 Januari 2017

Snapshots : Jalan Surabaya, Menteng

08.38 // by dalijo // // 19 comments

Jalan Surabaya, Menteng

Minggu siang, tanggal 15 Januari 2017, saya berkunjung ke Jalan Surabaya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Langit rata diselimuti oleh mendung tipis, enak untuk jalan-jalan. Suasana di jalan yang tak terlalu lebar ini cukup sepi oleh pengunjung, mungkin hanya orang-orang dengan minat khusus saja yang biasa berkunjung ke sini.

Jalan Surabaya terkenal dengan pasar antiknya. Begitu banyak barang-barang antik, kuno, unik dan bahkan ada barang yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya dijual di sini. Dari lampu, keramik, tas, kaset, buku, jam tangan atau dinding, dan bermacam-macam jenis barang lainnya.

Saya sejujurnya tidak berniat membeli barang-barang antik di sini, saya hanya ingin melihat dan merasakan suasana serta mengambil foto. Namun saat menemukan sebuah toko yang menjual buku-buku bekas, saya jadi tergoda untuk membelinya.

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

All pictures taken with Panasonic Lumix GX85 and Panasonic Lumix G 20mm f/1.7 II ASPH

Senin, 31 Oktober 2016

Melegakan Dahaga di Ragusa

16.35 // by dalijo // , // 20 comments

ragusa es italia

Mendung, meskipun sinar matahari tertutup awan yang artinya sinarnya tidak langsung menyengat, seringkali justru malah membuat udara terasa tidak nyaman. Gerah atau sumuk kalau orang Jawa bilang. Sama seperti saat Jumat siang tanggal 28 Oktober 2016 yang lalu. Selepas sholat Jumat, cuaca yang awalnya cerah menjadi gelap karena awan hitam menyelubungi langit. Kelembaban udara ikut naik sehingga menyebabkan rasa gerah pada sekujur tubuh dan haus pada tenggorokan. Sepertinya es krim adalah penawar yang sempurna.

Beruntung saya mendapatkan jadwal off kerja pada hari itu. Sehingga saya bisa menyempatkan diri mengunjungi kedai es krim yang cukup melegenda di Jakarta, nama tempatnya adalah Ragusa Es Italia. Terletak di Jalan Veteran 1 No 10, Gambir, menempatkannya di kawasan “klasik” kota ini karena lokasinya tak jauh dengan pusat pemerintahan zaman sekarang maupun dahulu. Posisinya berada di antara deretan tempat makan, sehingga tidak ada salahnya apabila setalah makan lalu ingin mencoba merasakan makanan pencuci mulut.

Seperti namanya, warung ini menawarkan sajian es krim khas Italia dan bahan utamanya adalah susu. Berdiri sejak 1932 membuatnya sudah berpengalaman dalam menyajikan resep turun-menurun dari keluarga Ragusa. Ya, toko ini diberi nama sama dengan nama keluarga pendirinya. Keluarga Ragusa memang berasal dari Italia, sehingga memang tidak heran apabila mereka memberi embel-embel nama Italia di belakang es krim buatannya. Namun, sekarang pemilik dari toko ini bukanlah keluarga langsung dari Ragusa.
ragusa es italia
Ruangan di dalam Ragusa Es Italia
Siang itu, dari sekitar 12 meja yang ada, mungkin hanya beberapa meja saja yang kosong. Akan tetapi tidak lama setelah saya duduk di kursi yang desainnya klasik, kursi dan meja memang desainnya terlihat kuno, kebanyakan dari pengunjung ini telah menyelesaikan santapan mereka. Saya harap mereka tidak buru-buru menghabiskan hidangan karena kedatangan saya.
ragusa es italia
Foto Keluarga Ragusa
Ruangan restoran terlihat vintage dengan beberapa foto lawas tentang tempat ini bertengger di dinding. Di dinding bagian atas terdapat foto-foto es krim dan minuman yang disajikan di sini. Pelayan-pelayan terlihat sudah berumur dan berpakaian apa adanya tanpa menggunakan seragam atau pakaian  yang menunjukkan ciri khas bahwa mereka adalah pelayan tempat ini. Memasuki ruangan ini terasa seperti memasuki zaman lampau.
ragusa es italia
Cassata Siciliana, masih dibungkus dengan semacam kertas alumunium foil

ragusa es italia
Spaghetti Ice Cream
Saya memesan Spaghetti Ice Cream, sedangkan istri saya memesan Cassata Siciliana. Rentang harganya dari 15.000,- rupiah sampai dengan 35.000,- rupiah. Penyajiannya cukup cepat, karena tidak begitu lama dari memesan es krim segera datang. Spaghetti Ice Cream berbentuk layaknya setumpuk mie yang berwara putih susu dengan taburan remah-remah kacang dan sukade yang berwana-warni. Sedangkan Cassata Siciliana berbentuk potongan es krim yang memanjang dengan beberapa warna yang menunjukkan rasanya.

Saya bukanlah pengamat makanan ataupun pemilik lidah yang bisa mencecap dan menilai rasa dengan baik. Menurut apa yang saya rasakan, Spaghetti Ice Cream terasa lembut, rasa susunya sangat menonjol, tidak terlalu manis. Akan tetapi rasa sukadenya seperti merusak rasa keseluruhan karena terasa asam dan aneh. Sekali lagi ini penilaian dari seorang yang bukan ahli. Berbeda dengan Cassata Siciliana yang tidak ada bahan yang merusak rasa. Dalam satu potongan cassata terdapat 4 rasa, menurut saya hanya rasa coklat saja yang terasa menonjol, rasa yang lain tidak begitu terasa.

Bagi saya Ragusa cukup memberikan kenikmatan untuk melegakan dahaga dengan resep tradisionalnya yang legendaris. Suasana dan interior design yang bisa dibilang mirip dengan zaman dahulu membuat kita bisa membayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu menikmati es krim.

Rabu, 09 Maret 2016

Telusur Glodok

13.32 // by dalijo // , , // 29 comments


glodok
Candranaya

Sebagian besar dari kita, terutama orang Jakarta, pasti tahu bahwa kawasan Glodok adalah area pusat untuk mencari peralatan elektronik atau keping DVD  film-film luar. Tapi dibalik nama itu ternyata tempat ini menyimpan lorong-lorong sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Satu hari sebelum hari raya Imlek, saya memiliki kesempatan itu.

Berawal dari ketidaksengajaan membaca twit tentang Jakarta Walking Tour yang diprakarsai oleh Jakarta Good Guide, saya tertarik untuk mencicipi bergabung dengan salah satu acaranya. Ternyata hari Minggu tanggal 7 Februari 2016 jadwal tournya adalah ke kawasan Glodok. Mumpung satu hari sebelum Imlek pasti feelnya udah terasa, pikir saya. Saya akhirnya ikut acara tersebut.

Jam 9 pagi adalah jadwal dimulainya tour yang diawali dari sebuah minimarket di kompleks Hotel Novotel Jalan Gajah Mada. Peserta tour ada 7 orang dengan seorang guide, namanya Mas Farid. Karena ada 3 peserta berasal dari luar negeri, maka penjelasan dilakukan menggunakan Bahasa Inggris. Meskipun perlu waktu bagi otak saya untuk menerjemahkan setiap kata yang meluncur dari mulut Mas Farid, tetapi penjelasan yang disampaikan cukup mudah untuk dimengerti.

Candranaya
Obyek tour pertama adalah Candranaya. Letaknya ternyata sangat dekat dengan meeting point kami, bahkan masih satu kompleks dengan Hotel Novotel, tepatnya kompleks Green Central City. Rumah dengan arsitektur Tionghoa yang khas ini diapit oleh bangunan-bangunan tinggi modern, meski begitu aura klasiknya masih jelas terpancar.
glodok
Mas Farid menjelaskan arti gambar di dalam Gedung Candranaya

glodok
Kolam di belakang gedung
Sebuah kain merah bertuliskan huruf emas tionghoa bertengger di depan pintu utama, tepat di atasnya tertempel papan bertuliskan Candranaya. Memasuki bangunan ini terasa masuk ke dalam suasana rumah klasik seperti di film-film dari Tiongkok. Langit-langit yang tinggi didesain agar udara tidak terasa pengap dan panas ketika berada di dalam rumah. Beberapa lampion tergantung di atas, tulisan-tulisan Tionghoa, tempat sembahyang dan tak ketinggalan kolam di bagian belakang benar-benar ingin meyakinkan bahwa inilah gaya arsitektur rumah masyarakat Tionghoa.

Candranaya dahulu merupakan kediaman Mayor Khouw Kim An, Mayor Tionghoa terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942). Gelar mayor diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada pemimpin etnis Tionghoa yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa.

Perhimpunan sosial Xin Ming Hui pada tahun 1946 menyewa bangunan ini sebagai gedung perkumpulan. Organisasi ini sendiri bertujuan untuk membantu korban perang. Pada tahun 1965, tahun di mana warga Tionghoa dianjurkan untuk mengubah nama Tionghoa menjadi nama-nama Indonesia, gedung ini juga terkena dampaknya. Tempat ini selanjutnya dinamakan dengan Candranaya yang berarti sinar rembulan.

*****

“Ada dua versi asal-muasal nama Glodok,” Mas Farid menjelaskan ketika kami meninggalkan Candranaya menuju obyek berikutnya.

Versi pertama adalah dari sebuah pancuran yang ada di halaman gedung balaikota, dimana mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari para serdadu kompeni dan tidak ketinggalan untuk minum kuda tunggangan. Air pancuran ini berbunyi grojok-grojok, sehingga selanjutnya dilafalkan dengan glodok.

Versi kedua adalah dari Bahasa Sunda, Golodog, yang artinya pintu masuk rumah. Posisi Glodok yang berada di utara atau dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa membuatnya seperti menjadi pintu masuk bagi segala manusia maupun barang. Dari kata golodog itu selanjutnya lidah lebih enak menyebutnya Glodok.

“Dua versi tersebut sangat masuk akal, silahkan mau percaya yang mana” lanjut Mas Farid.

Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri Jalan Gajah Mada menuju kawasan Petak Sembilan. Bagian yang cukup terkenal di daerah ini adalah Gang Pancoran. Di gang ini banyak pedagang yang menjajakan barang layaknya di pasar tradisional. Kebetulan waktu itu adalah satu hari menjelang imlek, banyak pedagang yang menjual pernik-pernik imlek seperti kue keranjang, amplop angpao, sampai lampion.
glodok
Kue Keranjang

Ikan yang dijual di Gang Pancoran
Ada salah satu tradisi masyarakat Tionghoa dalam merayakan imlek, yaitu samseng yang kira-kira berarti tiga binatang kurban. Ketiga binatang ini mewakili unsur udara, darat dan air. Unsur udara biasanya diwakili oleh bangsa unggas, lalu darat oleh babi, dan air oleh ikan. Tidah heran jika tiga unsur tersebut mudah saya ditemukan di pasar Gang Pancoran.

Vihara Dharma Bhakti
Di ujung Gang Pancoran ada sebuah kelenteng atau vihara tertua di Jakarta, namanya Vihara Dharma Bhakti atau Kim Tek Le atau Jin De Yuan.
glodok
Pintu gerbang Vihara Dharma Bhakti

“Kelenteng ini berdiri pada tahun 1650,” terang Mas Farid meyakinkan bahwa sudah sangat tua umur tempat ini.

Istilah kelenteng hanya ada di Indonesia dan itupun awal munculnya dari tempat ini. Dulu nama tempat ibadah ini adalah Kwan Im Teng atau paviliun Kwan Im (Dewi Kwan Im). Karena lidah masyarakat Indonesia susah untuk melafalkannya, lebih mudah mengucapkannya dengan kelenteng maka sejak saat itu tempat ibadah masyarakat Tionghoa lebih dikenal dengan istilah kelenteng.
glodok
Sembahyang

glodok
Terlihat tiang-tiang yang menghitam bekas terbakar

glodok
Bagian dalam vihara

Vihara Dharma Bakti bisa dibilang menjadi pusat peribadatan masyarakat Tionghoa terutama di kawasan Glodok. Menyambut imlek, tempat ini menjadi sangat ramai.  Tidak hanya manusia, benda-benda peribadatan seperti lilin yang sangat besar juga memenuhi ruangan. Lilin-lilin besar ini adalah sebuah nazar atau bentuk ucapan syukur dari orang yang doanya telah dikabulkan. Layaknya api yang menyala, doa dan harapan juga tak pernah padam. Sayangnya, pada tahun 2015, lilin-lilin ini kemungkinan yang menyebabkan terbakarnya Vihara Dharma Bhakti. Sisa kebakaran masih bisa terlihat jelas pada tiang-tiang pada kelenteng yang terlihat hitam seperti arang. Sampai saat ini, tempat ini masih dalam tahap renovasi.

*****

Kami melanjutkan berjalan menyusuri Jalan Kemenangan di wilayah Glodok. Tujuan berikutnya adalah Gereja Santa Maria de Fatima. Karena sedang ada misa, hanya beberapa saja dari kami yang bisa masuk ke gereja yang dibangun pada tahun 50an itu.
glodok
Di depan gereja

glodok
Gereja Santa Maria de Fatima

Rintik-rintik kecil air mulai turun saat kami berjalan menuju Kelenteng Toa Se Bio. Letaknya tidak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima. Sama seperti Vihara Dharma Bhakti, kelenteng ini juga dipenuhi dengan lampion, lilin dan arsitektur bernuansa merah. Bau dupa tercium ketika langkah kaki memasuki kelenteng ini. Memang banyak orang yang sedang bersembahyang di dalam ruangan kelenteng yang bisa dibilang tidak terlalu luas sehingga terasa sangat ramai.
glodok
Kelenteng Toa Se Bio

Kami tidak terlalu lama berada di Kelenteng Toa Se Bio, selanjutnya kami berjalan melewati gang-gang kecil menuju Gang Gloria. Banyak orang yang menyebutnya sebagai gang kuliner. Memang tidak salah sebutan tersebut, karena banyak makanan yang dapat ditemui, bahkan beberapa diantaranya cukup terkenal. Sebut saja Kopi Es Tak Kie, Gado-gado Direksi, mie kangkung, dll. Tapi pastikan dulu dengan bertanya apakah makanan yang hendak dibeli halal atau tidak, karena banyak juga makanan yang mengandung daging babi.
glodok
Salah satu penjual di Gang Gloria

glodok
Mie Kangkung

Di ujung Gang Gloria, berujung pula walking tour kali ini. Mas Farid mengakhiri tour ini dengan meminta foto bersama kami. Tak lupa kami berterimakasih karena penjelasan yang bagus dan jelas selama tour ini berlangsung. Peserta berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Saya dan istri memilih untuk mengisi perut kami dengan menyantap mie kangkung yang memang terasa sangat lezat untuk mengakhiri tour yang sangat menambah wawasan.

Di Glodok pernah terjadi pembantaian ribuan warga Tionghoa saat jaman Belanda, di Glodok pula pernah terjadi huru-hara saat masa reformasi, tapi di tempat ini pula geliat ekonomi Kota Jakarta berkembang.


Informasi tentang Jakarta Walking tour bisa dilihat di https://jakartagoodguide.wordpress.com/

Selasa, 28 April 2015

Antara Aku, Kau dan Jakarta

10.49 // by dalijo // , // 19 comments

Aku, Kau dan Jakarta

Masih pagi sekali ketika kutulis ini. Sketsa wajahmu tergambar dalam secangkir kopi yang meski tanpa gula tapi tak terasa pahit saat kunikmati. Sudah terbayang, bagaimana nanti kita akan menjelajah setapak demi setapak berdua, dan sebelum saat itu tiba, akan kupastikan segalanya telah kupersiapkan dengan baik.

Aku memilih Jakarta sebagai kota untuk menjejakkan kaki kita bersama. Sudah beberapa waktu aku tinggal di kota ini. Aku tahu jika kau kurang menyukai kota ini, aku sebenarnya pun sama denganmu. Tapi akan kubuktikan nanti, Jakarta tak semembosankan itu. Mungkin kau akan membalas pesanku dengan “Kenapa aku yang harus ke Jakarta, bukan kamu yang mendatangiku?” katamu. Tapi, kota ini juga layak untuk dijejaki dan aku sudah mencarikan penginapan untukmu melalui aplikasi Traveloka di ponselku.

Mari kuceritakan sedikit tentang bagaimana rencanaku membawamu berkeliling Jakarta. Kita akan mulai dari pagi-pagi sekali. Pagi itu tenang, pagi itu segar, dan pagi itu syahdu. Lagi pula pagi membuat kita punya banyak waktu jalan-jalan nanti. Layanan Traveloka akan membuat pencarian dan pemesanan akomodasi di Jakarta menjadi lebih mudah lagi. Kita bebas memilih penginapan yang sesuai dengan kebutuhan selama di Jakarta.

Kita akan mulai dengan kawasan Kota Tua dan berkeliling museum di sekitarnya. Jajaran bangunan klasik yang membawa kita seolah hidup kembali di awal abad 19. Kau yang begitu bangga dengan keragaman budaya nusantara, sangat berbinar saat kuajak melangkah masuk ke Museum Wayang. Di museum, jemarimu menelusuri setiap etalase yang memajang beragam karya daerah, ‘Aku baru benar-benar menyadari, nusantara itu ternyata begitu kaya,’ katamu takjub.

Selesai dengan museum, matamu tertarik melihat sepeda onthel warna-warni di kawasan ini. Kau meraih topi yang tak kalah berwarna di atas sepeda, “Mari kita adu cepat!” katamu sambil mengerling. Aku tak mau kalah, buru-buru meraih sepeda sejenis. Tak menunggu lama, kita sudah berada di atas sepeda masing-masing. Meski awalnya kau mengajakku balapan, tapi justru kau tak tahu harus ke mana, malah memilih mengekor di belakangku dan rencana adu cepat tinggallah angan.

Sampai kemudian tawamu terhenti dan berganti dengan ekspresi bingung ketika lautan menjadi pembatas daratan dan jajaran pinisi membentengi dermaga. Ini Pelabuhan Sunda Kelapa. Kau singkirkan sepedamu segera, “Sepeda tak bisa melaju di atas air,” katamu sambil menunjuk perahu nelayan. Demi menikmati rona bahagiamu, aku membuat kesepakatan dengan nelayan, kita akan berlayar ke laut menggunakan perahunya.

Pelabuhan Sunda Kelapa terlihat lebih cantik saat senja. Kita bisa melihat deretan kapal dengan latar cahaya jingga. Kita tak membutuhkan kamera. Keindahan ini ada baiknya kita nikmati sendiri, tanpa harus membaginya dengan yang lain. Lagipula buat apa kamera ketika aku bisa mengabadikan pesonamu dalam pikiranku. Rupanya aku salah, senja tak lebih cantik daripada kilau wajahmu dan gambaran itu sudah terpasang dan terbingkai di dalam otakku.

I wish I was a camera sometimes, So I could take your picture with my mind, Put it in a frame for you to seeHow beautiful you really are to me (Bon Jovi)

Menjelajah Jakarta memang tak cukup hanya sehari. Berkeliling Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa tampaknya tak cukup membuat kita lelah. Di malam hari, kita kesampingkan masalah istirahat dan lebih memilih menikmati makan malam romantis di rooftop hotel di Jakarta, tempat kita menginap.

Keesokan harinya, aku sudah punya rencana untuk kita berdua. Aku memilih tempat yang agak asing untuk orang-orang umum. Bukan tempat ramai yang biasa dikunjungi orang banyak. Justru tempat ini adalah tempat yang sangat sepi bahkan membayangkannya pun banyak yang merasa ngeri. Karena tempat ini adalah sebuah makam. Ereveld Menteng Pulo namanya. Sebuah makam tempat bersemayam para tentara Belanda yang dikelilingi bangunan gedung-gedung tinggi menjulang.

Aku, Kau dan Jakarta
Ereveld Menteng Pulo
Melihat jajaran makam yang membentuk pola yang sangat rapi itu membuat kita merenung, hidup ini begitu singkat, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang sangat singkat itu hanya untuk hal-hal yang tak berguna. Aku bersyukur karena aku mengenalmu dan jatuh cinta padamu, membuatku merasa hidupku tak pernah sia-sia.

Jakarta membuatku berangan-angan lebih tentang kisah perjalanan kita di masa depan. Menjelajah nusantara lebih dalam dan jauh lagi, agar kita punya banyak cerita untuk anak-cucu nanti. Selanjutnya kau boleh mengambil alih perencanaan ini, kau yang memilih mana kota setelah Jakarta yang akan kita kunjungi, terutama untuk bulan madu kita nanti.

Senin, 02 Maret 2015

Keheningan Ereveld Menteng Pulo

12.08 // by dalijo // // 53 comments

Ereveld Menteng Pulo

Their silent wounds have speech
More eloquent than men
Their tones can deeper reach
Than human voice or pen.
(William Woodman)

Siang sudah mulai tergelincir. Matahari juga tak terlalu gahar karena awan putih dan sebagian lagi kelabu menutupi pancaran sinarnya. Suasana yang syahdu, apalagi saya sedang berada di kuburan.  Ereveld Menteng Pulo nama tempat ini, tak seperti umumnya pemakaman di Indonesia, tempat ini tak menunjukkan keangkeran, tetapi terlihat rapi dan asri, namun tetap saja sendu menyerbu ketika ada di sini.

Dikelilingi gedung-gedung tinggi, jasad para (sebagian besar) tentara Belanda terbaring dengan tenang di sini. Tempat ini dirawat dengan baik oleh Kerajaan Belanda. Berbeda dengan negara kita, jangankan orang yang sudah tiada, yang masih hidup saja dilupakan. Ah…

Lalu semua kembali sendu.

Ereveld Menteng Pulo
Pak Rachmat, salah satu pegawai penjaga Ereveld

Ereveld Menteng Pulo
Kuburan dan apartemen

Ereveld Menteng Pulo
Gereja di tengah makam

Ereveld Menteng Pulo
Om Tekno Bolang melintas

Ereveld Menteng Pulo
Gedung-gedung yang mengelilingi makam

Ereveld Menteng Pulo
Blok pemakaman

Ereveld Menteng Pulo
Kesunyian

Ereveld Menteng Pulo
Salib untuk penghormatan korban di Burma

Ereveld Menteng Pulo
Ornamen dalam gereja

Ereveld Menteng Pulo
Tangga menuju menara gereja

Ereveld Menteng Pulo
Gereja

Ereveld Menteng Pulo
Tatanan abu jenazah

Ereveld Menteng Pulo
Pola yang rapi

Ereveld Menteng Pulo
Kontras?

Ereveld Menteng Pulo
Lonceng di depan gereja
Ereveld Menteng Pulo
Kak Firsta sedang mengamati sebuah nisan
Ereveld Menteng Pulo
Kak Olive menutup gerbang untuk mengakhiri kunjungan kami