• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Oktober 2016

Melegakan Dahaga di Ragusa

16.35 // by dalijo // , // 19 comments

ragusa es italia

Mendung, meskipun sinar matahari tertutup awan yang artinya sinarnya tidak langsung menyengat, seringkali justru malah membuat udara terasa tidak nyaman. Gerah atau sumuk kalau orang Jawa bilang. Sama seperti saat Jumat siang tanggal 28 Oktober 2016 yang lalu. Selepas sholat Jumat, cuaca yang awalnya cerah menjadi gelap karena awan hitam menyelubungi langit. Kelembaban udara ikut naik sehingga menyebabkan rasa gerah pada sekujur tubuh dan haus pada tenggorokan. Sepertinya es krim adalah penawar yang sempurna.

Beruntung saya mendapatkan jadwal off kerja pada hari itu. Sehingga saya bisa menyempatkan diri mengunjungi kedai es krim yang cukup melegenda di Jakarta, nama tempatnya adalah Ragusa Es Italia. Terletak di Jalan Veteran 1 No 10, Gambir, menempatkannya di kawasan “klasik” kota ini karena lokasinya tak jauh dengan pusat pemerintahan zaman sekarang maupun dahulu. Posisinya berada di antara deretan tempat makan, sehingga tidak ada salahnya apabila setalah makan lalu ingin mencoba merasakan makanan pencuci mulut.

Seperti namanya, warung ini menawarkan sajian es krim khas Italia dan bahan utamanya adalah susu. Berdiri sejak 1932 membuatnya sudah berpengalaman dalam menyajikan resep turun-menurun dari keluarga Ragusa. Ya, toko ini diberi nama sama dengan nama keluarga pendirinya. Keluarga Ragusa memang berasal dari Italia, sehingga memang tidak heran apabila mereka memberi embel-embel nama Italia di belakang es krim buatannya. Namun, sekarang pemilik dari toko ini bukanlah keluarga langsung dari Ragusa.
ragusa es italia
Ruangan di dalam Ragusa Es Italia
Siang itu, dari sekitar 12 meja yang ada, mungkin hanya beberapa meja saja yang kosong. Akan tetapi tidak lama setelah saya duduk di kursi yang desainnya klasik, kursi dan meja memang desainnya terlihat kuno, kebanyakan dari pengunjung ini telah menyelesaikan santapan mereka. Saya harap mereka tidak buru-buru menghabiskan hidangan karena kedatangan saya.
ragusa es italia
Foto Keluarga Ragusa
Ruangan restoran terlihat vintage dengan beberapa foto lawas tentang tempat ini bertengger di dinding. Di dinding bagian atas terdapat foto-foto es krim dan minuman yang disajikan di sini. Pelayan-pelayan terlihat sudah berumur dan berpakaian apa adanya tanpa menggunakan seragam atau pakaian  yang menunjukkan ciri khas bahwa mereka adalah pelayan tempat ini. Memasuki ruangan ini terasa seperti memasuki zaman lampau.
ragusa es italia
Cassata Siciliana, masih dibungkus dengan semacam kertas alumunium foil

ragusa es italia
Spaghetti Ice Cream
Saya memesan Spaghetti Ice Cream, sedangkan istri saya memesan Cassata Siciliana. Rentang harganya dari 15.000,- rupiah sampai dengan 35.000,- rupiah. Penyajiannya cukup cepat, karena tidak begitu lama dari memesan es krim segera datang. Spaghetti Ice Cream berbentuk layaknya setumpuk mie yang berwara putih susu dengan taburan remah-remah kacang dan sukade yang berwana-warni. Sedangkan Cassata Siciliana berbentuk potongan es krim yang memanjang dengan beberapa warna yang menunjukkan rasanya.

Saya bukanlah pengamat makanan ataupun pemilik lidah yang bisa mencecap dan menilai rasa dengan baik. Menurut apa yang saya rasakan, Spaghetti Ice Cream terasa lembut, rasa susunya sangat menonjol, tidak terlalu manis. Akan tetapi rasa sukadenya seperti merusak rasa keseluruhan karena terasa asam dan aneh. Sekali lagi ini penilaian dari seorang yang bukan ahli. Berbeda dengan Cassata Siciliana yang tidak ada bahan yang merusak rasa. Dalam satu potongan cassata terdapat 4 rasa, menurut saya hanya rasa coklat saja yang terasa menonjol, rasa yang lain tidak begitu terasa.

Bagi saya Ragusa cukup memberikan kenikmatan untuk melegakan dahaga dengan resep tradisionalnya yang legendaris. Suasana dan interior design yang bisa dibilang mirip dengan zaman dahulu membuat kita bisa membayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu menikmati es krim.

Rabu, 09 Maret 2016

Telusur Glodok

13.32 // by dalijo // , , // 28 comments


glodok
Candranaya

Sebagian besar dari kita, terutama orang Jakarta, pasti tahu bahwa kawasan Glodok adalah area pusat untuk mencari peralatan elektronik atau keping DVD  film-film luar. Tapi dibalik nama itu ternyata tempat ini menyimpan lorong-lorong sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Satu hari sebelum hari raya Imlek, saya memiliki kesempatan itu.

Berawal dari ketidaksengajaan membaca twit tentang Jakarta Walking Tour yang diprakarsai oleh Jakarta Good Guide, saya tertarik untuk mencicipi bergabung dengan salah satu acaranya. Ternyata hari Minggu tanggal 7 Februari 2016 jadwal tournya adalah ke kawasan Glodok. Mumpung satu hari sebelum Imlek pasti feelnya udah terasa, pikir saya. Saya akhirnya ikut acara tersebut.

Jam 9 pagi adalah jadwal dimulainya tour yang diawali dari sebuah minimarket di kompleks Hotel Novotel Jalan Gajah Mada. Peserta tour ada 7 orang dengan seorang guide, namanya Mas Farid. Karena ada 3 peserta berasal dari luar negeri, maka penjelasan dilakukan menggunakan Bahasa Inggris. Meskipun perlu waktu bagi otak saya untuk menerjemahkan setiap kata yang meluncur dari mulut Mas Farid, tetapi penjelasan yang disampaikan cukup mudah untuk dimengerti.

Candranaya
Obyek tour pertama adalah Candranaya. Letaknya ternyata sangat dekat dengan meeting point kami, bahkan masih satu kompleks dengan Hotel Novotel, tepatnya kompleks Green Central City. Rumah dengan arsitektur Tionghoa yang khas ini diapit oleh bangunan-bangunan tinggi modern, meski begitu aura klasiknya masih jelas terpancar.
glodok
Mas Farid menjelaskan arti gambar di dalam Gedung Candranaya

glodok
Kolam di belakang gedung
Sebuah kain merah bertuliskan huruf emas tionghoa bertengger di depan pintu utama, tepat di atasnya tertempel papan bertuliskan Candranaya. Memasuki bangunan ini terasa masuk ke dalam suasana rumah klasik seperti di film-film dari Tiongkok. Langit-langit yang tinggi didesain agar udara tidak terasa pengap dan panas ketika berada di dalam rumah. Beberapa lampion tergantung di atas, tulisan-tulisan Tionghoa, tempat sembahyang dan tak ketinggalan kolam di bagian belakang benar-benar ingin meyakinkan bahwa inilah gaya arsitektur rumah masyarakat Tionghoa.

Candranaya dahulu merupakan kediaman Mayor Khouw Kim An, Mayor Tionghoa terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942). Gelar mayor diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada pemimpin etnis Tionghoa yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa.

Perhimpunan sosial Xin Ming Hui pada tahun 1946 menyewa bangunan ini sebagai gedung perkumpulan. Organisasi ini sendiri bertujuan untuk membantu korban perang. Pada tahun 1965, tahun di mana warga Tionghoa dianjurkan untuk mengubah nama Tionghoa menjadi nama-nama Indonesia, gedung ini juga terkena dampaknya. Tempat ini selanjutnya dinamakan dengan Candranaya yang berarti sinar rembulan.

*****

“Ada dua versi asal-muasal nama Glodok,” Mas Farid menjelaskan ketika kami meninggalkan Candranaya menuju obyek berikutnya.

Versi pertama adalah dari sebuah pancuran yang ada di halaman gedung balaikota, dimana mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari para serdadu kompeni dan tidak ketinggalan untuk minum kuda tunggangan. Air pancuran ini berbunyi grojok-grojok, sehingga selanjutnya dilafalkan dengan glodok.

Versi kedua adalah dari Bahasa Sunda, Golodog, yang artinya pintu masuk rumah. Posisi Glodok yang berada di utara atau dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa membuatnya seperti menjadi pintu masuk bagi segala manusia maupun barang. Dari kata golodog itu selanjutnya lidah lebih enak menyebutnya Glodok.

“Dua versi tersebut sangat masuk akal, silahkan mau percaya yang mana” lanjut Mas Farid.

Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri Jalan Gajah Mada menuju kawasan Petak Sembilan. Bagian yang cukup terkenal di daerah ini adalah Gang Pancoran. Di gang ini banyak pedagang yang menjajakan barang layaknya di pasar tradisional. Kebetulan waktu itu adalah satu hari menjelang imlek, banyak pedagang yang menjual pernik-pernik imlek seperti kue keranjang, amplop angpao, sampai lampion.
glodok
Kue Keranjang

Ikan yang dijual di Gang Pancoran
Ada salah satu tradisi masyarakat Tionghoa dalam merayakan imlek, yaitu samseng yang kira-kira berarti tiga binatang kurban. Ketiga binatang ini mewakili unsur udara, darat dan air. Unsur udara biasanya diwakili oleh bangsa unggas, lalu darat oleh babi, dan air oleh ikan. Tidah heran jika tiga unsur tersebut mudah saya ditemukan di pasar Gang Pancoran.

Vihara Dharma Bhakti
Di ujung Gang Pancoran ada sebuah kelenteng atau vihara tertua di Jakarta, namanya Vihara Dharma Bhakti atau Kim Tek Le atau Jin De Yuan.
glodok
Pintu gerbang Vihara Dharma Bhakti

“Kelenteng ini berdiri pada tahun 1650,” terang Mas Farid meyakinkan bahwa sudah sangat tua umur tempat ini.

Istilah kelenteng hanya ada di Indonesia dan itupun awal munculnya dari tempat ini. Dulu nama tempat ibadah ini adalah Kwan Im Teng atau paviliun Kwan Im (Dewi Kwan Im). Karena lidah masyarakat Indonesia susah untuk melafalkannya, lebih mudah mengucapkannya dengan kelenteng maka sejak saat itu tempat ibadah masyarakat Tionghoa lebih dikenal dengan istilah kelenteng.
glodok
Sembahyang

glodok
Terlihat tiang-tiang yang menghitam bekas terbakar

glodok
Bagian dalam vihara

Vihara Dharma Bakti bisa dibilang menjadi pusat peribadatan masyarakat Tionghoa terutama di kawasan Glodok. Menyambut imlek, tempat ini menjadi sangat ramai.  Tidak hanya manusia, benda-benda peribadatan seperti lilin yang sangat besar juga memenuhi ruangan. Lilin-lilin besar ini adalah sebuah nazar atau bentuk ucapan syukur dari orang yang doanya telah dikabulkan. Layaknya api yang menyala, doa dan harapan juga tak pernah padam. Sayangnya, pada tahun 2015, lilin-lilin ini kemungkinan yang menyebabkan terbakarnya Vihara Dharma Bhakti. Sisa kebakaran masih bisa terlihat jelas pada tiang-tiang pada kelenteng yang terlihat hitam seperti arang. Sampai saat ini, tempat ini masih dalam tahap renovasi.

*****

Kami melanjutkan berjalan menyusuri Jalan Kemenangan di wilayah Glodok. Tujuan berikutnya adalah Gereja Santa Maria de Fatima. Karena sedang ada misa, hanya beberapa saja dari kami yang bisa masuk ke gereja yang dibangun pada tahun 50an itu.
glodok
Di depan gereja

glodok
Gereja Santa Maria de Fatima

Rintik-rintik kecil air mulai turun saat kami berjalan menuju Kelenteng Toa Se Bio. Letaknya tidak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima. Sama seperti Vihara Dharma Bhakti, kelenteng ini juga dipenuhi dengan lampion, lilin dan arsitektur bernuansa merah. Bau dupa tercium ketika langkah kaki memasuki kelenteng ini. Memang banyak orang yang sedang bersembahyang di dalam ruangan kelenteng yang bisa dibilang tidak terlalu luas sehingga terasa sangat ramai.
glodok
Kelenteng Toa Se Bio

Kami tidak terlalu lama berada di Kelenteng Toa Se Bio, selanjutnya kami berjalan melewati gang-gang kecil menuju Gang Gloria. Banyak orang yang menyebutnya sebagai gang kuliner. Memang tidak salah sebutan tersebut, karena banyak makanan yang dapat ditemui, bahkan beberapa diantaranya cukup terkenal. Sebut saja Kopi Es Tak Kie, Gado-gado Direksi, mie kangkung, dll. Tapi pastikan dulu dengan bertanya apakah makanan yang hendak dibeli halal atau tidak, karena banyak juga makanan yang mengandung daging babi.
glodok
Salah satu penjual di Gang Gloria

glodok
Mie Kangkung

Di ujung Gang Gloria, berujung pula walking tour kali ini. Mas Farid mengakhiri tour ini dengan meminta foto bersama kami. Tak lupa kami berterimakasih karena penjelasan yang bagus dan jelas selama tour ini berlangsung. Peserta berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Saya dan istri memilih untuk mengisi perut kami dengan menyantap mie kangkung yang memang terasa sangat lezat untuk mengakhiri tour yang sangat menambah wawasan.

Di Glodok pernah terjadi pembantaian ribuan warga Tionghoa saat jaman Belanda, di Glodok pula pernah terjadi huru-hara saat masa reformasi, tapi di tempat ini pula geliat ekonomi Kota Jakarta berkembang.


Informasi tentang Jakarta Walking tour bisa dilihat di https://jakartagoodguide.wordpress.com/

Selasa, 09 Februari 2016

Reuni Kecil di Pondok Kopi

22.44 // by dalijo // , , // 9 comments

reuni di pondok kopi
Tim hore
Baru saja merebahkan badan pada kasur yang terletak di rumah teman, saya harus kembali menegakkan badan lagi karena teman yang juga tuan rumah ini mengajak kami menuju sebuah tempat. Sebenarnya punggung masih pegal setelah perjalanan semalam dari Jakarta menuju Semarang menggunakan kereta api. Tapi bagaimana lagi, ajakan kali ini membuat badan yang capek dan mata yang kantuk menjadi segar kembali. Kami akan menuju daerah Bandungan di Semarang bagian selatan.

Jika belum tahu, sesungguhnya Semarang ada dua wilayah, satu Kotamadya Semarang dan satu lagi Kabupaten Semarang. Bandungan sendiri terletak di Kabupaten Semarang, tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Karena itu pula kawasan Bandungan memiliki suhu yang sejuk. Sudah bisa ditebak di tempat ini banyak tempat peristirahatan, hotel, ataupun villa. Layaknya kawasan puncak di Bogor bagi masyarakat Jakarta, inilah lokasi favorit melepas penat warga Semarang.

Lokasi yang kami tuju adalah Umbul Sidomukti. Tempat wisata dengan daya tariknya adalah kolam-kolam pemandian buatan berbentuk bulat di atas bukit dengan pemandangan hijau di depannya. Terletak lebih dari 30 km dari pusat Kota Semarang, tidak membuat tempat ini sepi. Ada beberapa rombongan yang datang ke sini untuk melakukan aktivitas outbound, banyak juga pemuda-pemudi yang berenang di kolam sambil bercanda dan berfoto.
umbul sidomukti
Kolam di Umbul Sidomukti
umbul sidomukti
Pilih mana?
umbul sidomukti
he's flying without wings
Selain kolam yang menjadi ciri khas, sebenarnya tempat ini menyajikan banyak wahana lain yang cukup menghibur dan menantang adrenalin. Ada flying fox yang konon menjadi flying fox tertinggi di Indonesia, ada marine bridge, ada juga ATV, dan masih ada beberapa permainan lainnya. Bisa dibilang tempat wisata yang lengkap. Meski cukup variatif apa yang ditawarkan, kami hanya berkeliling dan melihat-lihat saja, dan tidak begitu tertarik untuk mencoba permainan yang bisa dibilang ekstrim tersebut karena kami sudah tua, karena kami penakut, karena sedang tidak berminat saja.

Sejatinya ini adalah reuni kecil-kecilan, kami berempat sudah lama tidak bertemu. Kami butuh tempat yang tenang untuk berbagi cerita, mengabarkan hal-hal yang sudah kami alami selama ini, ataupun sekedar mengingat kisah masa lalu. Untungnya tak jauh dari lokasi Umbul Sidomukti, bahkan masih satu kawasan, terdapat tempat nongkrong yang enak dan nyaman, namanya Pondok Kopi. Letaknya beberapa ratus meter ke atas dari Umbul Sidomukti atau tepat di bawah Basecamp Mawar, tempat start jika ingin mendaki Gunung Ungaran.

Hujan rintik-rintik mulai turun saat kami sampai ke tempat ini. Selapis halimun menutupi pemandangan yang ada di depan sana. Dari tempat ini, seharusnya Rawa Pening terlihat jelas, namun saat ini hanya samar-samar saja. Karena gerimis yang turun pula, kami mengurungkan niat untuk memilih tempat duduk outdoor.

Meski tengah hari tetapi sejuk seketika berubah menjadi dingin saat angin juga ikut mendampingi turunnya hujan. Kami segera memilih hidangan yang bisa menghangatkan badan kami, lucunya meskipun nama tempat ini Pondok Kopi tapi tidak ada satupun dari kami yang memesan kopi. Saya sendiri memesan susu jahe panas. Untuk masalah makanan, kami semua memesan Bakmi Jawa, sangat monoton, empat orang menunya sama. Kudapan singkong susu menjadi makanan pelengkapnya.

Sayangnya pesanan kami tidak disajikan dengan cepat, sehingga ketika dihidangkan di depan kami, karena begitu dinginnya suhu udara, bakmi jawa yang seharusnya berkuah panas itu sudah menjadi hangat bahkan cenderung dingin. Susu jahe masih relatif panas. Untuk menjaga suhunya tidak cepat turun, salah satu teman saya menaruh tatakannya di atas cangkir. Untungnya dia berhasil menjaga panas tidak cepat pergi.
pondok kopi
Singkong susu yahud
pondok kopi
Santapan saya
Siap disantap

Pemandangan ketika cerah
Rasa bakmi jawa dan susu jahenya sebenarnya standar saja, namun singkong susunya yang terasa nendang. Saat hujan sudah reda, kabut mulai menghilang dan matahari muncul kembali, kami pindah tempat duduk ke area outdoor dan kami memesan lagi singkong susu. Pemandangan yang dari tadi kami nantikan akhirnya datang. Rawa Pening terlihat jelas, di sebelahnya juga terlihat bukit-bukit yang bergumul membentuk lekukan-lekukan yang menawan. Ditambah canda, tawa dan cerita tentang masa-masa di kampus dulu yang tak jauh dari buku, pesta dan cinta, ini adalah reuni kecil yang sempurna.

Jumat, 02 Januari 2015

Mie Ayam Sendowo : Legendaris!

02.21 // by dalijo // , // 26 comments

Mie Ayam Sendowo


Waktu kuliah saya punya beberapa tempat makan favorit di dekat kampus. Ada syarat untuk masuk dalam daftar itu, enak dan murah. Enak dan mahal mungkin bisa menjadi pilihan, pada saat kantong tebal. Tapi saat tak ada momen spesial, untuk mahasiswa berkantong pas-pasan makanan murah dan enak adalah hal yang paling lumrah untuk dipilih. Porsinya banyak adalah bonus.

Ada banyak jenis makanan di sekitar kampus. Hampir tiap jenis makanan, saya memiliki tempat favorit sendiri. Ingin makan masakan Padang, maka seringkali memilih ke satu tempat. Lagi pengen makan soto, juga ada soto pilihan sendiri. Nah kalau untuk mie ayam, pilihan saya tertuju pada mie ayam Sendowo. Begitu juga dengan ayam kampus, saya punya tempat langganan sendiri.

Apa yang menarik dari warung mie ayam ini? Kalau dilihat dari bentuk warungnya, saya sangat yakin tak ada yang hal istimewa yang memaksa kita untuk singgah. Bagaimana tidak, warungnya kecil sekali mungkin tak lebih dari 4x4 m. Lebih mirip pos ronda. Di dalamnya hanya ada dua meja dengan masing-masing ada dua bangku yang saling berhadapan. Yang makan penuh dan berjejalan. Apanya yang menarik coba? Tapi ketika melihat sajian mie ayam spesialnya, kita akan tahu apa itu makna kata spesial. Tak ada mie ayam lain yang pantas menggunakan kata spesial lagi selain di tempat ini.
Mie Ayam Sendowo
Warung Mie Ayam Sendowo
Porsi kuli, begitu teman saya pernah bilang. Memang benar sekali karena mie ayam disajikan sampai mangkuknya terisi penuh. Mie ayam spesial akan diberi tambahan bakso goreng dan bakso biasa. Bakso gorengnya akan menutup hampir separuh permukaan mangkuk, sisanya akan ditutup oleh ayam dan bakso biasa. Alhasil mie hanya akan terlihat sedikit saja. Ketika membubuhkan saos, sambel atau kecap di atasnya, kita akan kesusahan untuk mengaduknya biar tercampur rata, karena bakso gorengnya akan jatuh kalau tidak hati-hati dalam mengaduk. Benar-benar porsi kuli.

Selain porsinya yang banyak, rasanya juga sangat enak. Ada cita rasa yang khas. Kuahnya lebih kental dari mie ayam kebanyakan sehingga bumbunya sangat terasa. Mienya kenyal sekaligus lembut. Ditambah dengan bakso goreng menambah nikmatnya merasakan mie. Satu kali menelan mie lalu diikuti dengan memakan bakso goreng, kriuk kriukkkk, hmmm nikmat sekali.

Mie Ayam Sendowo
Mie Ayam Spesial !
Mie Ayam Pak Wiyono, begitu sejatinya nama warung ini. Tapi nama tersebut sering terlupakan oleh pembelinya dan lebih terkenal dengan sebutan Mie Ayam Sendowo. Ini karena letak warungnya yang berada di kawasan Sendowo. Untuk mahasiswa UGM yang kampusnya berada di barat Jalan Kaliurang, wilayah ini tak begitu asing karena letaknya yang cukup dekat, yaitu di selatan Rumah Sakit dr. Sardjito. Bagi yang tidak tahu lokasi persisnya, dari RS Sardjito ambillah jalan lurus ke selatan, sampai pertigaan ujung FKG terus saja lurus sampai mentok di SD Percobaan, lalu belok ke kanan dan memasuki gapura Desa Sendowo, terus ke barat kira-kira 300 m sampai bertemu pertigaan, ambil ke kanan (utara) 100 meter, sampailah di tempat ini.
 
Mie Ayam Sendowo
Ibu yang sedang meracik pesanan
Pertama kali saya ke tempat ini pada tahun 2005, dan sampai sekarang bentuk dan ukuran warungnya tidak berubah. Padahal yang datang ke sini sangat banyak, jarang sekali sepi. Pada saat jam makan siang, warung selalu penuh, sering kali harus menunggu di luar sampai ada pembeli yang selesai dan pergi keluar sehingga ada bangku yang kosong. Inilah kelemahan dari warung ini. Ketika makan, seolah-olah kita diburu calon pembeli yang menunggu di luar. Hasilnya kita harus buru-buru menghabiskan makanan yang porsinya banyak sekali. Kita pun harus berhadap-hadapan dengan pembeli lain yang tidak kita kenal.  Agak tidak nyaman.
Mie Ayam Sendowo
Di dalam warung
Bagaimanapun saya selalu rindu merasakan nikmatnya mie ayam spesial Sendowo. Belum lama ini saya ke sana untuk melepas rasa kangen. Saya sengaja untuk tidak mengambil waktu jam makan siang sehingga bisa menikmatinya dengan santai dan sambil mengobrol dengan teman. Saya masih terkejut karena harganya tetap saja murah. Satu porsi mie ayam spesial dihargai dengan Rp 8.000,- saja, dan es teh manis Rp 1.500,-. Murah bukan?

Inilah mie ayam yang legendaris bagi saya. Mau mencobanya? Monggo silakan.

Rabu, 27 November 2013

Spesial Tuna di Pesinggahan

20.38 // by dalijo // , // 6 comments

Tuna Pesinggahan

Akhir tahun hampir setiap hari cuaca dihiasi dengan rintikan air hujan dan suhu yang agak dingin. Begitu juga hari itu. Suhu yang dingin ini membuat perut menjadi semakin mudah lapar. Meskipun sebenarnya di suhu seperti apapun perut saya juga cepat lapar. Obat dari rasa lapar itu tentu saja dengan makan dan beruntungnya siang itu ada ajakan makan dari seorang teman yang ingin berbagi rezeki.

Senin, 17 Desember 2012

Soto Pasaran

21.58 // by dalijo // , // 5 comments

soto pasar kintamani, bangli, bali
Soto Pasar Kintamani
Dingin sekali suhu di Kintamani, Bali. Apalagi menjelang subuh, dinginnya lebih menggigit. Jangan tanya pas pertengahan tahun, tak hanya kulit yang digigit tapi tulang rasanya seperti ditusuk jarum, dan jumlahnya ribuan.