• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Jumat, 13 Mei 2016

Tips Memilih Hotel Saat Liburan

10.14 // by Wisnu Yuwandono // // 2 comments

Tips memilihi hotel saat liburan


Liburan boleh jadi merupakan salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh kita dan keluarga setelah sekian lama berkutat dengan aktivitas sehari-hari yang tak jarang membuat frustrasi dan stres melanda. Apalagi sedang ada promo tiket pesawat dari tiket2.com, sehingga kita bisa menurunkan biaya transportasi. Nah, untuk mendapatkan liburan yang sempurna, kita tentu tidak akan lupa untuk menyiapkan berbagai hal penting, salah satunya adalah menentukan tempat tujuan liburan bersama keluarga. Selain itu, kita harus pula memastikan tempat untuk menginap selama melakukan perjalanan untuk liburan. Hotel menjadi pilihan utama untuk mendapatkan kenyamanan ketika berada jauh dari rumah, tetapi tentu memilih hotel harus dilakukan dengan seksama, sehingga pilihan hotel tersebut bisa sesuai dengan bujet dan tingkat kenyamanan yang kita inginkan. 

Ketika akan memesan hotel, sebaiknya pilihlah hotel yang mempunyai lokasi yang cukup dekat dengan tempat wisata yang ingin kita tuju. Hal ini sangat penting karena dengan demikian kita bisa menghemat biaya transportasi untuk mencapai tujuan wisata yang ingin dikunjungi. Jika memungkinkan, sebaiknya pilihlah hotel yang memungkinkan untuk berjalan kaki menuju lokasi wisata yang kita inginkan sehingga kita tak perlu mengeluarkan biaya transportasi sama sekali. Memperkirakan bujet untuk menyewa kamar hotel adalah sebuah kewajiban. Selain mencari tahu lebih lanjut mengenai harga sewa kamar hotel itu sendiri, kita juga perlu memeriksa biaya-biaya lain yang akan muncul dan diperlukan sehingga kita tidak akan terkejut ketika tagihan datang. 


Tips memilih hotel saat liburan
Kenyamanan adalah hal yang utama
Ada hal penting lain yang perlu kita periksa ketika memilih hotel. Sebaiknya jangan lupa memeriksa keamanan hotel ketika akan meninggalkan barang bawaan di hotel tersebut. Bawalah ekstra gembok untuk mengunci tas ransel atau koper. Simpan barang-barang berharga di safe deposit box agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan kita sudah mencegahnya lebih dahulu. Kita juga perlu mencermati pelayanan yang ditawarkan oleh hotel tersebut. Kita akan merasa nyaman menginap di hotel jika pegawai hotel mempunyai etika yang baik dan melayani pelanggan dengan ramah.


Home isn't a place, it's a feeling.

Ketika melakukan traveling, hotel merupakan rumah sementara kita. Hal yang membuat kita rindu dengan rumah adalah kenyamanan yang kita rasakan. Begitu pula dengan sebuah hotel, kenyamanan merupakan hal paling utama. Hotel mahal belum tentu nyaman, malah kadang kala hotel dengan biaya murah justru menghadirkan kenyamanan. Perasaan nyaman tentang rumah adalah rasa senang ketika meninggalkannya dan sangat bahagia ketika akan pulang. Jika menemukan hotel yang seperti itu, jangan ragu untuk memilihnya.


Tips memilih hotel saat liburan
Fasilitas juga tidak kalah penting untuk dipertimbangkan
Fasilitas yang ditawarkan oleh hotel pun sebaiknya tidak luput dari perhatian. Kita sebaiknya memesan kamar hotel lebih awal dan merencanakan liburan lebih awal. Segala aturan termasuk aturan kecil yang ada di hotel harus kita perhatikan. Carilah informasi sebanyak mungkin untuk mendapatkan harga sewa penginapan atau hotel yang paling murah. 

Selamat berburu hotel nyaman namun murah!

Rabu, 09 Maret 2016

Telusur Glodok

13.32 // by Wisnu Yuwandono // , , // 16 comments


glodok
Candranaya

Sebagian besar dari kita, terutama orang Jakarta, pasti tahu bahwa kawasan Glodok adalah area pusat untuk mencari peralatan elektronik atau keping DVD  film-film luar. Tapi dibalik nama itu ternyata tempat ini menyimpan lorong-lorong sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Satu hari sebelum hari raya Imlek, saya memiliki kesempatan itu.

Berawal dari ketidaksengajaan membaca twit tentang Jakarta Walking Tour yang diprakarsai oleh Jakarta Good Guide, saya tertarik untuk mencicipi bergabung dengan salah satu acaranya. Ternyata hari Minggu tanggal 7 Februari 2016 jadwal tournya adalah ke kawasan Glodok. Mumpung satu hari sebelum Imlek pasti feelnya udah terasa, pikir saya. Saya akhirnya ikut acara tersebut.

Jam 9 pagi adalah jadwal dimulainya tour yang diawali dari sebuah minimarket di kompleks Hotel Novotel Jalan Gajah Mada. Peserta tour ada 7 orang dengan seorang guide, namanya Mas Farid. Karena ada 3 peserta berasal dari luar negeri, maka penjelasan dilakukan menggunakan Bahasa Inggris. Meskipun perlu waktu bagi otak saya untuk menerjemahkan setiap kata yang meluncur dari mulut Mas Farid, tetapi penjelasan yang disampaikan cukup mudah untuk dimengerti.

Candranaya
Obyek tour pertama adalah Candranaya. Letaknya ternyata sangat dekat dengan meeting point kami, bahkan masih satu kompleks dengan Hotel Novotel, tepatnya kompleks Green Central City. Rumah dengan arsitektur Tionghoa yang khas ini diapit oleh bangunan-bangunan tinggi modern, meski begitu aura klasiknya masih jelas terpancar.
glodok
Mas Farid menjelaskan arti gambar di dalam Gedung Candranaya

glodok
Kolam di belakang gedung
Sebuah kain merah bertuliskan huruf emas tionghoa bertengger di depan pintu utama, tepat di atasnya tertempel papan bertuliskan Candranaya. Memasuki bangunan ini terasa masuk ke dalam suasana rumah klasik seperti di film-film dari Tiongkok. Langit-langit yang tinggi didesain agar udara tidak terasa pengap dan panas ketika berada di dalam rumah. Beberapa lampion tergantung di atas, tulisan-tulisan Tionghoa, tempat sembahyang dan tak ketinggalan kolam di bagian belakang benar-benar ingin meyakinkan bahwa inilah gaya arsitektur rumah masyarakat Tionghoa.

Candranaya dahulu merupakan kediaman Mayor Khouw Kim An, Mayor Tionghoa terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942). Gelar mayor diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada pemimpin etnis Tionghoa yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa.

Perhimpunan sosial Xin Ming Hui pada tahun 1946 menyewa bangunan ini sebagai gedung perkumpulan. Organisasi ini sendiri bertujuan untuk membantu korban perang. Pada tahun 1965, tahun di mana warga Tionghoa dianjurkan untuk mengubah nama Tionghoa menjadi nama-nama Indonesia, gedung ini juga terkena dampaknya. Tempat ini selanjutnya dinamakan dengan Candranaya yang berarti sinar rembulan.

*****

“Ada dua versi asal-muasal nama Glodok,” Mas Farid menjelaskan ketika kami meninggalkan Candranaya menuju obyek berikutnya.

Versi pertama adalah dari sebuah pancuran yang ada di halaman gedung balaikota, dimana mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari para serdadu kompeni dan tidak ketinggalan untuk minum kuda tunggangan. Air pancuran ini berbunyi grojok-grojok, sehingga selanjutnya dilafalkan dengan glodok.

Versi kedua adalah dari Bahasa Sunda, Golodog, yang artinya pintu masuk rumah. Posisi Glodok yang berada di utara atau dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa membuatnya seperti menjadi pintu masuk bagi segala manusia maupun barang. Dari kata golodog itu selanjutnya lidah lebih enak menyebutnya Glodok.

“Dua versi tersebut sangat masuk akal, silahkan mau percaya yang mana” lanjut Mas Farid.

Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri Jalan Gajah Mada menuju kawasan Petak Sembilan. Bagian yang cukup terkenal di daerah ini adalah Gang Pancoran. Di gang ini banyak pedagang yang menjajakan barang layaknya di pasar tradisional. Kebetulan waktu itu adalah satu hari menjelang imlek, banyak pedagang yang menjual pernik-pernik imlek seperti kue keranjang, amplop angpao, sampai lampion.
glodok
Kue Keranjang

Ikan yang dijual di Gang Pancoran
Ada salah satu tradisi masyarakat Tionghoa dalam merayakan imlek, yaitu samseng yang kira-kira berarti tiga binatang kurban. Ketiga binatang ini mewakili unsur udara, darat dan air. Unsur udara biasanya diwakili oleh bangsa unggas, lalu darat oleh babi, dan air oleh ikan. Tidah heran jika tiga unsur tersebut mudah saya ditemukan di pasar Gang Pancoran.

Vihara Dharma Bhakti
Di ujung Gang Pancoran ada sebuah kelenteng atau vihara tertua di Jakarta, namanya Vihara Dharma Bhakti atau Kim Tek Le atau Jin De Yuan.
glodok
Pintu gerbang Vihara Dharma Bhakti

“Kelenteng ini berdiri pada tahun 1650,” terang Mas Farid meyakinkan bahwa sudah sangat tua umur tempat ini.

Istilah kelenteng hanya ada di Indonesia dan itupun awal munculnya dari tempat ini. Dulu nama tempat ibadah ini adalah Kwan Im Teng atau paviliun Kwan Im (Dewi Kwan Im). Karena lidah masyarakat Indonesia susah untuk melafalkannya, lebih mudah mengucapkannya dengan kelenteng maka sejak saat itu tempat ibadah masyarakat Tionghoa lebih dikenal dengan istilah kelenteng.
glodok
Sembahyang

glodok
Terlihat tiang-tiang yang menghitam bekas terbakar

glodok
Bagian dalam vihara

Vihara Dharma Bakti bisa dibilang menjadi pusat peribadatan masyarakat Tionghoa terutama di kawasan Glodok. Menyambut imlek, tempat ini menjadi sangat ramai.  Tidak hanya manusia, benda-benda peribadatan seperti lilin yang sangat besar juga memenuhi ruangan. Lilin-lilin besar ini adalah sebuah nazar atau bentuk ucapan syukur dari orang yang doanya telah dikabulkan. Layaknya api yang menyala, doa dan harapan juga tak pernah padam. Sayangnya, pada tahun 2015, lilin-lilin ini kemungkinan yang menyebabkan terbakarnya Vihara Dharma Bhakti. Sisa kebakaran masih bisa terlihat jelas pada tiang-tiang pada kelenteng yang terlihat hitam seperti arang. Sampai saat ini, tempat ini masih dalam tahap renovasi.

*****

Kami melanjutkan berjalan menyusuri Jalan Kemenangan di wilayah Glodok. Tujuan berikutnya adalah Gereja Santa Maria de Fatima. Karena sedang ada misa, hanya beberapa saja dari kami yang bisa masuk ke gereja yang dibangun pada tahun 50an itu.
glodok
Di depan gereja

glodok
Gereja Santa Maria de Fatima

Rintik-rintik kecil air mulai turun saat kami berjalan menuju Kelenteng Toa Se Bio. Letaknya tidak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima. Sama seperti Vihara Dharma Bhakti, kelenteng ini juga dipenuhi dengan lampion, lilin dan arsitektur bernuansa merah. Bau dupa tercium ketika langkah kaki memasuki kelenteng ini. Memang banyak orang yang sedang bersembahyang di dalam ruangan kelenteng yang bisa dibilang tidak terlalu luas sehingga terasa sangat ramai.
glodok
Kelenteng Toa Se Bio

Kami tidak terlalu lama berada di Kelenteng Toa Se Bio, selanjutnya kami berjalan melewati gang-gang kecil menuju Gang Gloria. Banyak orang yang menyebutnya sebagai gang kuliner. Memang tidak salah sebutan tersebut, karena banyak makanan yang dapat ditemui, bahkan beberapa diantaranya cukup terkenal. Sebut saja Kopi Es Tak Kie, Gado-gado Direksi, mie kangkung, dll. Tapi pastikan dulu dengan bertanya apakah makanan yang hendak dibeli halal atau tidak, karena banyak juga makanan yang mengandung daging babi.
glodok
Salah satu penjual di Gang Gloria

glodok
Mie Kangkung

Di ujung Gang Gloria, berujung pula walking tour kali ini. Mas Farid mengakhiri tour ini dengan meminta foto bersama kami. Tak lupa kami berterimakasih karena penjelasan yang bagus dan jelas selama tour ini berlangsung. Peserta berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Saya dan istri memilih untuk mengisi perut kami dengan menyantap mie kangkung yang memang terasa sangat lezat untuk mengakhiri tour yang sangat menambah wawasan.

Di Glodok pernah terjadi pembantaian ribuan warga Tionghoa saat jaman Belanda, di Glodok pula pernah terjadi huru-hara saat masa reformasi, tapi di tempat ini pula geliat ekonomi Kota Jakarta berkembang.


Informasi tentang Jakarta Walking tour bisa dilihat di https://jakartagoodguide.wordpress.com/

Sabtu, 20 Februari 2016

Bosscha

16.01 // by Wisnu Yuwandono // // 6 comments

Bosscha

Tayangan film atau televisi seringkali mengangkat tempat-tempat yang tidak terlalu dikenal menjadi terkenal. Sebagai contoh, Kawah Putih di daerah Bandung selatan yang booming  setelah muncul dalam film Heart. Bagi yang umurnya sudah tidak ABG lagi pasti masih ingat dengan film Petualangan Sherina yang menampilkan kawasan Lembang dan tempat yang sangat unik, Bosscha. Siapa yang tidak tahu Bosscha berarti dia tidak menonton film yang tayang perdana pada tahun 2000 tersebut.

Penghujung bulan Januari yang lalu, saya akhirnya bisa mengobati rasa ingin tahu yang terpendam sejak pertama kali menonton film musikal tadi. Dengan mengendarai sepeda motor dari Kota Bandung, saya sampai tempat ini sekitar jam 9.30, sayang sesi pertama kunjungan dimulai pada pukul 9.00, mau tidak mau saya harus ikut sesi selanjutnya yang dimulai pukul 11.00. Biaya masuk cukup terjangkau, hanya Rp 15.000,- per orang. Suasana yang sejuk dengan banyak pepohonan serta rumput hijau membuat waktu menunggu tak terasa membosankan.

Pengunjung mulai berdatangan bahkan cukup banyak ketika ada rombongan guru-guru sekolah dari Jakarta yang datang. Jam 11.00 tepat, seseorang muncul dari pintu masuk bangunan kubah yang menjadi bangunan utama dari tempat ini. Kami dipersilakan masuk satu persatu, kemudian berdiri melingkari sebuah teleskop yang sangat besar yang dibatasi oleh pagar besi. Kesan pertama ketika melihatnya adalah “woww teleskop yang sangat besar”. Rasa penasaran tentang tempat ini akhirnya terhapus.
Bosscha
Peralatan Radio

Bosscha
Toko Souvenir
Denny Mandey, seorang peneliti di Bosscha, menjelaskan kepada kami seluk beluk tempat ini. “Tempat yang kita masuki ini namanya bukan Bosscha (dibaca bos-ka, bukan bos-sya atau bos-ca) tapi kupel, Bosscha adalah nama keseluruhan tempat penelitian ini, Bosscha ada banyak gedung bukan hanya gedung ini saja” kata beliau menerangkan kesalahan umum yang sering terjadi di masyarakat.
Bosscha
Bangunan ini disebut kupel, bukan Bosscha
Bosscha
Bapak Denny Mandey, sedang mempraktekkan menggeser arah teleskop
Nama Bosscha diambil dari nama penyandang dana utama atas pendirian tempat yang merupakan satu-satunya observatorium yang dimiliki oleh Indonesia. Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha pemilik kebun teh Malabar yang luasnya sangat besar bersedia membagikan sebagian kekayaannya untuk membangun sebuah observatorium. Untuk menghormati jasanya, namanya diabadikan sebagai nama observatorium yang diresmikan pada tahun 1928 ini.

Di dalam kupel, terdapat sebuah teropong besar bermerk Zeiss (dibaca cais) yang berumur hampir 90 tahun. Meski sudah sangat tua dan bisa dibilang ketinggalan jaman, namun teropong ini masih berfungsi sangat baik. Hanya saja untuk membidik bintang mana yang akan dilihat, teropong harus digeser dengan kekuatan manusia, pada saat pembuatannya dulu belum ada teknologi yang bisa menggeser teropong secara otomatis. Tapi jangan kira teknologi di dalam kupel ini tidak ada yang canggih, atap kubah bisa diputar secara mekanis hanya dengan memencet tombol, begitupun lantai tempat peneliti bisa bergerak naik turun juga dengan memencet tombol. Teknologi yang cukup mutakhir pada jaman itu.
Bosscha
Teleskop Zeiss

Bosscha
Di dalam gedung ini ada teleskop juga, namanya teleskop Bamberg
“Membidik bintang di atas sana menggunakan teropong sebesar ini bukan berarti bintang yang kita lihat menjadi lebih besar, sama saja hanya terlihat titik-titik, namun titik-titik itu memancarkan cahaya yang lebih terang, bahkan bintang yang tidak terlihat dengan mata telanjang bisa terlihat”, terang Pak Denny.

Pada saat mulai dibangun  tahun 1923, kawasan Lembang merupakan tempat yang sangat sepi dan jarang terdapat rumah. Keterbatasan cahaya lampu tersebut membantu pengamatan bintang, sehingga bintang terlihat lebih cerah. Berbeda jauh saat ini, Lembang sudah penuh dengan cahaya bahkan cahaya lampu dari kota Bandung yang sangat tinggi intensitasnya telah membuat pengamatan menjadi sangat susah. Cahaya bintang sudah kalah jauh. Banyak bintang-bintang yang memiliki cahaya yang redup, dulu masih bisa diamati namun sekarang sudah tidak terlihat.

Konon pemerintah akan membuat observatorium lagi di daerah NTT. Di sana dianggap sebagai area yang  polusi cahayanya masih tingkat minimum. Bosscha sudah sangat tua dan polusi cahaya di Bandung sudah terlalu tinggi untuk pengamatan bintang. Memang seharusnya Indonesia memiliki observatorium lagi yang lebih modern dan letaknya dapat mendukung penelitian. Pertanyaan retoris yang selalu muncul, kapan itu akan terlaksana? Entahlah.

Info tentang kunjungan ke Observatorium Bosscha bisa dilihat di http://bosscha.itb.ac.id/en/visit.html

Minggu, 14 Februari 2016

Teman Menapaki Perjalanan Hidup

14.02 // by Wisnu Yuwandono // // 32 comments

travelmate

Pertengahan semester pertama tahun 2013 adalah masa-masa yang tidak terduga sebelumnya. Saya yakin bahwa saya akan mendapatkan pengalaman yang sangat indah ketika saya melakukan perjalanan ke Kepulauan Komodo, tapi saya tidak menyangka bahwa apa yang saya dapatkan kemudian jauh lebih indah daripada yang pernah saya bayangkan sebelumnya.
travelmate
Di Gili Lawa
Seperti yang sudah saya ceritakan di posting berjudul kebetulan yang menyenangkan. Untuk melanjutkan hubungan atau untuk sekedar bertemu adalah sebuah perjuangan besar bagi kami. Apakah saya yang mengunjunginya ke Flores ataukah dia yang terbang menemui saya di Bali, keduanya membutuhkan banyak pengorbanan baik materi maupun niat. Untungnya kami mampu melalui perjuangan itu. Bahkan ketika akhirnya kami meninggalkan dua tempat tersebut, meski tetap tidak dalam satu kota, saya meninggalkan Bali untuk selanjutnya tinggal di Jakarta dan dia meninggalkan Flores untuk melanjutkan kehidupan lagi di Surabaya, kami masih bisa melaluinya.

31 Oktober 2015 menjadi angka-angka yang akan selalu kami ingat. Karena pada tanggal itu kami meresmikan hubungan pada sebuah ikatan resmi, ikatan yang sah. Saya menjadi suami dan dia menjadi istri. Ikatan dua unsur yang berbeda yang selanjutnya menjadi senyawa yang tidak bisa dipisahkan.
travelmate
Sudah Sah :)
Perjalanan panjang kami dimulai dari sebuah perjalanan. Seperti sebuah reaksi awal yang selanjutnya memicu banyak reaksi berantai di kemudian hari. Peristiwa tersebut akan selalu saya kenang sebagai awal mula kami menjadi pasangan perjalanan menapaki kehidupan di depan.

Saya dan juga kita semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, tidak akan pernah tahu berapa banyak lagi perjalanan yang akan kita lakukan, tapi saya sudah tahu siapa yang akan menemani perjalanan saya nanti. Perkenalkan, istri sekaligus travelmate saya, Okky Marita Ardy :)
travelmate
Istri sekaligus travelmate
Tulisan ini dibuat dalam rangka #posbar bersama teman-teman Travel Bloggers Indonesia bertema #ultimatetravelmate. Jangan lupa untuk mampir ke postingan teman-teman saya berikut :
6. Mas Edy Masrur - Istriku Travelmate-ku
7. Olive Bendon – My Guardian Angel
9. Indri Juwono - Si Pelari Selfie, sebut saja namanya Adie
10. Rembulan Indira - Ultimate Travelmate - Kakatete
11. Karnadi Lim - Teman Perjalananku dan Kisahnya
12. Rey Maulana - Ke Mana Lagi Kita Berjalan, Kawan?
13. Atrasina Adlina - Menjelajah Sebagian Ambon Bareng Bule Gila
14. Richo Sinaga - My Travelmate, Pria Berjenggot dengan Followers 380K
15. Puspa Siagian - Travelmate : GIGA
16. Sutiknyo Tekno Bolang : Mbok Jas Teman Perjalanan Terbaik
17. Taufan Gio - Travelmate Drama, Apa Kamu Salah Satunya?
18. Lenny Lim - 3 Hal Tentang Travel-Mate
19. Matius Nugroho - 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita
20. Fahmi Anhar - Teman Perjalanan Paling Berkesan
21. Liza Fathia - Naqiya is My Travelmate
22. Imama Insani - Teman Perjalanan
23. Putri Normalitas - My Unbelievable Travelmate
24. Vika Octavia - Sesaat bersama Supardi

Selasa, 09 Februari 2016

Reuni Kecil di Pondok Kopi

22.44 // by Wisnu Yuwandono // , , // 4 comments

reuni di pondok kopi
Tim hore
Baru saja merebahkan badan pada kasur yang terletak di rumah teman, saya harus kembali menegakkan badan lagi karena teman yang juga tuan rumah ini mengajak kami menuju sebuah tempat. Sebenarnya punggung masih pegal setelah perjalanan semalam dari Jakarta menuju Semarang menggunakan kereta api. Tapi bagaimana lagi, ajakan kali ini membuat badan yang capek dan mata yang kantuk menjadi segar kembali. Kami akan menuju daerah Bandungan di Semarang bagian selatan.

Jika belum tahu, sesungguhnya Semarang ada dua wilayah, satu Kotamadya Semarang dan satu lagi Kabupaten Semarang. Bandungan sendiri terletak di Kabupaten Semarang, tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Karena itu pula kawasan Bandungan memiliki suhu yang sejuk. Sudah bisa ditebak di tempat ini banyak tempat peristirahatan, hotel, ataupun villa. Layaknya kawasan puncak di Bogor bagi masyarakat Jakarta, inilah lokasi favorit melepas penat warga Semarang.

Lokasi yang kami tuju adalah Umbul Sidomukti. Tempat wisata dengan daya tariknya adalah kolam-kolam pemandian buatan berbentuk bulat di atas bukit dengan pemandangan hijau di depannya. Terletak lebih dari 30 km dari pusat Kota Semarang, tidak membuat tempat ini sepi. Ada beberapa rombongan yang datang ke sini untuk melakukan aktivitas outbound, banyak juga pemuda-pemudi yang berenang di kolam sambil bercanda dan berfoto.
umbul sidomukti
Kolam di Umbul Sidomukti
umbul sidomukti
Pilih mana?
umbul sidomukti
he's flying without wings
Selain kolam yang menjadi ciri khas, sebenarnya tempat ini menyajikan banyak wahana lain yang cukup menghibur dan menantang adrenalin. Ada flying fox yang konon menjadi flying fox tertinggi di Indonesia, ada marine bridge, ada juga ATV, dan masih ada beberapa permainan lainnya. Bisa dibilang tempat wisata yang lengkap. Meski cukup variatif apa yang ditawarkan, kami hanya berkeliling dan melihat-lihat saja, dan tidak begitu tertarik untuk mencoba permainan yang bisa dibilang ekstrim tersebut karena kami sudah tua, karena kami penakut, karena sedang tidak berminat saja.

Sejatinya ini adalah reuni kecil-kecilan, kami berempat sudah lama tidak bertemu. Kami butuh tempat yang tenang untuk berbagi cerita, mengabarkan hal-hal yang sudah kami alami selama ini, ataupun sekedar mengingat kisah masa lalu. Untungnya tak jauh dari lokasi Umbul Sidomukti, bahkan masih satu kawasan, terdapat tempat nongkrong yang enak dan nyaman, namanya Pondok Kopi. Letaknya beberapa ratus meter ke atas dari Umbul Sidomukti atau tepat di bawah Basecamp Mawar, tempat start jika ingin mendaki Gunung Ungaran.

Hujan rintik-rintik mulai turun saat kami sampai ke tempat ini. Selapis halimun menutupi pemandangan yang ada di depan sana. Dari tempat ini, seharusnya Rawa Pening terlihat jelas, namun saat ini hanya samar-samar saja. Karena gerimis yang turun pula, kami mengurungkan niat untuk memilih tempat duduk outdoor.

Meski tengah hari tetapi sejuk seketika berubah menjadi dingin saat angin juga ikut mendampingi turunnya hujan. Kami segera memilih hidangan yang bisa menghangatkan badan kami, lucunya meskipun nama tempat ini Pondok Kopi tapi tidak ada satupun dari kami yang memesan kopi. Saya sendiri memesan susu jahe panas. Untuk masalah makanan, kami semua memesan Bakmi Jawa, sangat monoton, empat orang menunya sama. Kudapan singkong susu menjadi makanan pelengkapnya.

Sayangnya pesanan kami tidak disajikan dengan cepat, sehingga ketika dihidangkan di depan kami, karena begitu dinginnya suhu udara, bakmi jawa yang seharusnya berkuah panas itu sudah menjadi hangat bahkan cenderung dingin. Susu jahe masih relatif panas. Untuk menjaga suhunya tidak cepat turun, salah satu teman saya menaruh tatakannya di atas cangkir. Untungnya dia berhasil menjaga panas tidak cepat pergi.
pondok kopi
Singkong susu yahud
pondok kopi
Santapan saya
Siap disantap

Pemandangan ketika cerah
Rasa bakmi jawa dan susu jahenya sebenarnya standar saja, namun singkong susunya yang terasa nendang. Saat hujan sudah reda, kabut mulai menghilang dan matahari muncul kembali, kami pindah tempat duduk ke area outdoor dan kami memesan lagi singkong susu. Pemandangan yang dari tadi kami nantikan akhirnya datang. Rawa Pening terlihat jelas, di sebelahnya juga terlihat bukit-bukit yang bergumul membentuk lekukan-lekukan yang menawan. Ditambah canda, tawa dan cerita tentang masa-masa di kampus dulu yang tak jauh dari buku, pesta dan cinta, ini adalah reuni kecil yang sempurna.

Senin, 25 Mei 2015

Rencanakan Perjalananmu dan Terbang Gratis dengan Traveloka

12.06 // by Wisnu Yuwandono // 19 comments

Pernah merencanakan perjalanan untuk menemui seseorang (orang tua, saudara, pacar, teman, atau siapapun) yang tinggalnya jauh? Sebagian besar mungkin menjawab dengan “iya, pernah”. Lalu apakah rencana itu bisa terlaksana sampai saat ini? Nah, kalau untuk pertanyaan yang ini mungkin separuh jawaban menjawab dengan “sudah” sedangkan sisanya menjawab dengan “belum”. Untuk yang belum dan susah merealisasikan rencananya, saat ini ada kesempatan buat kita untuk terbang gratis menuju tempat orang spesial yang ingin kita temui itu hanya dengan menuliskan rencananya. Traveloka akan mengabulkan rencana perjalanan kita dengan memberi 20 tiket Citilink PP ke semua rute untuk 10 orang pemenang.

Tertarik?

Begini caranya :
  • - Follow akun Twitter @Traveloka dan like Facebook Page  Traveloka.
  • - Buat artikel dengan tema “Andai bisa terbang gratis, aku  akan menemuinya” sesuai ketentuan artikel.
  • - Artikel ditulis pada media publik di internet, seperti:  WordPress, Blogspot, Forum, Kompasiana, dll.
  • - Link (URL) artikel dikirim melalui formulir online  di http://goo.gl/forms/GQxNhlLAqO
Ketentuan artikel:
  • - Memiliki minimal 400 kata.
  • - Artikel harus berisi:
    • - Siapa orang yang ingin kamu temui dan alasan ketemu  dengannya.
    • - Aktivitas apa yang ingin dilakukan dengannya.
    • - Itinerary perjalanan memakai pesawat Citilink.
    • - Screenshot halaman “Review Pemesanan” tiket Citilink  dan hotel yang mau dipesan dari Traveloka App.
    • - Kesan positif menggunakan Traveloka App.
  • - Contoh artikel bisa dilihat di Blog Traveloka.
Informasi lengkapnya bisa dilihat di sini.


Kalian sudah download aplikasi Traveloka di HP kan? Karena selain lewat ikut kontes menulis, kita juga bisa dapat tiket pulang pergi gratis lewat cara lain. Saat ini ada program “Fly for Free” dari Traveloka yang membagikan 300 tiket Citilink  pulang pergi gratis. Caranya mudah sekali, hanya dengan pesan tiket Citilink via Traveloka App dengan rute apapun dan periode terbang kapanpun. Lengkapnya bisa dibuka di link ini

Mudah kan? Ayo ceritakan perjalananmu untuk menemui seseorang yang berarti bagimu semenarik mungkin, buat itinerarynya, posting di blogmu, dan kalau beruntung kamu akan terbang ke tempat dia berada.

Senin, 11 Mei 2015

Segarnya Curug Sawer

07.13 // by Wisnu Yuwandono // , , // 21 comments

Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Melepas kepenatan setelah bekerja dan tinggal dalam ritme kehidupan Kota Jakarta banyak caranya. Salah satunya adalah pergi berlibur. Meski di Jakarta sendiri banyak menyediakan tempat liburan, saya memilih untuk sejenak ke luar dari gegap gempitanya kota ini. Tak terlalu jauh, melipir ke selatan, saya sudah bisa menghirup udara yang lebih segar. Letaknya ada di daerah Sukabumi.

Lokasi yang saya kunjungi ini berupa air terjun, namanya Curug Sawer. Terletak hampir sekitar 130 kilometer dari titik nol ibu kota negara, tempat ini jauh dari riuhnya keramaian. Atau mungkin saya sedang beruntung karena saat itu sedang sepi pengunjung. Posisinya ada di kaki Gunung Gede Pangrango. Untuk mencapai Curug Sawer, dari Jakarta saya bersama teman-teman naik KRL Commuter Line pagi-pagi sekali menuju Stasiun Bogor. Selanjutnya disambung dengan naik kereta Pangrango dari Stasiun Paledang menuju Sukabumi berangkat pada pukul 7.55 WIB. Stasiun Paledang ini letaknya tidak jauh dari Stasiun Bogor, tak lebih dari 1 kilometer.

Hampir 2 jam di atas kereta, Stasiun Cisaat menjadi pemberhentian kami selanjutnya. Stasiun yang cukup kecil, bahkan pintu dari gerbong ekonomi 4 yang kami naiki tidak mendapatkan peron untuk turun dari kereta. Kami harus turun pada bagian bawah tembok tempat gudang sementara perusahaan semen.

Curug Sawer, Sukabumi
Jalan setapak
Tujuan berikutnya adalah pangkalan angkot atau lebih tepatnya tempat mangkal angkot yang rute trayeknya ke arah Curug Sawer, ada dua pilihan untuk menuju ke sana dari stasiun, naik angkot juga atau jalan kaki. Kami memilih opsi yang kedua. Tempat ngetem angkot ada di dekat Polsek Cisaat. Untuk membedakan rute angkot bisa dilihat dari warnanya. Angkot warna merah adalah angkot yang akan membawa kami ke Kadudampit, tujuan kami. Diiringi lagu yang mendayu-dayu yang diputar di dalam angkot, kurang dari satu jam kami sampai di daerah Kadudampit. Dari sini kami harus berjalan sekitar 200-300m sampai ke Pos Bumi Perkemahan Cinumpang. Perjalanan yang lebih susah baru akan dimulai dari sini karena jalan berikutnya adalah jalur setapak yang menanjak. Sebenarnya ada pilihan bantuan untuk mempercepat perjalanan dengan naik ojek, tetapi kami lebih memilih untuk berjalan, lebih menantang, meski kadang harus bersusah payah mengatur nafas yang sudah mulai termakan umur tersengal-sengal.

Di tengah perjalanan ada beberapa warung yang menjual gorengan dan beberapa makanan maupun minuman ringan. Kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk sedikit melepas lelah. Sejatinya jarak yang ditempuh tidaklah jauh, hanya sekitar 1,4 kilometer, tapi entah karena badan yang jarang berolahraga atau ada faktor lainnya, saya merasa berat untuk melangkah setapak demi setapak jalanan tanah liat yang menanjak. Atau mungkin saya harus menyalahkan alas kaki saya yang hanya bersandal jepit.
Curug Sawer, Sukabumi
Pos retribusi
Sekitar setengah jam berjalan kami sudah sampai di tujuan utama kami, Curug Sawer. Air terjun turun dari ketinggian sekitar 25-30 meter dengan begitu deras. Debitnya juga cukup besar, sehingga tempias airnya terbang cukup jauh, terasa seperti rintik hujan. Hanya ada beberapa pengunjung selain kami.  Suasana yang cukup sepi, memang itulah tujuan kami, pergi dari keramaian.

Hawa terasa sejuk, nikmat sekali merasakannya. Menghirup udara seperti ini membuat paru-paru terasa segar. Pohon-pohon yang masih rimbun juga menjadi faktor pendukung yang sangat penting. Di sini memang adalah tempat sumbernya pepohonan. Seandainya saja semua tempat di bumi ini masih banyak pepohonan pasti polusi udara bisa jauh berkurang.
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Curug Sawer, Sukabumi
Dagangan, gorengan dan minuman di Curug Sawer
Menikmati kesejukan seperti ini sangat cocok dikombinasikan dengan melahap makanan berkuah yang masih panas. Beruntung sekali ada beberapa penjual bakso. Salah satu penjual bakso itu adalah Mang Maman. Dari raut wajahnya kira-kira umurnya sekitar 50 tahun. “Sudah 10 tahun dik, mamang berjualan bakso di sini” kata Mang Maman. Baksonya agak unik, karena mie yang digunakan adalah mie instan. Jadi bukan bakso seperti pada umumnya, ini adalah mie instan yang diberi bakso.
Curug Sawer, Sukabumi
Mang Maman, sang penjual bakso
Curug Sawer, Sukabumi
Mie instan plus bakso
Menurut Mang Maman air terjun ini dinamakan Curug Sawer karena seringkali air tempiasnya sangat banyak dan terbang jauh sekali, seperti semprotan. “Makanya orang Sunda nyebutnya sawer, kaya orang nyawer” dengan logat Sunda yang kental Mang Maman menjelaskan.

Untuk sampai ke tempat ini, mang Maman naik ojek dari rumahnya yang letaknya tak terlalu jauh. Peralatan dagangnya ia titipkan di pos retribusi, jadi dia hanya membawa bahan makanannya saja dari rumah. “Kalau libur begini biasanya kalau Sabtu sepi, Minggunya yang ramai. Kalau Sabtu ramai, Minggunya yang sepi” si mamang melanjutkan lagi ceritanya. Suasana Curug Sawer sangat ramai adalah ketika ada rombongan yang sedang kemah, baik di Cinumpang maupun di sekitar Situ Gunung.

Sebaiknya jika ingin merasakan dinginnya air curug jangan sampai mendekati lingkaran jatuhnya air. Selain alirannya jatuh dengan sangat deras, juga kedalamannya konon sampai 10 meter. Apalagi ada pusarannya yang bisa menarik orang masuk ke dalam dan susah untuk melepaskannya. “Pernah ada yang meninggal dik” Mang Maman mengingatkan. Saya memang tidak berniat untuk nyebur karena tidak membawa baju ganti. Untungnya teman-teman saya yang sudah duluan nyebur tidak mendekati jatuhnya air, tetapi mereka bermain di aliran sungai yang berjarak aman dari pusaran arus.

Waktu sudah mulai menggelincir meninggalkan siang, saatnya kami beranjak untuk menuju kembali ke ibu kota. Meskipun kami tak melihat pelangi yang biasanya muncul di samping air terjun seperti Mang Maman bilang, Curug Sawer sudah berhasil mengembalikan energi kami untuk menantang hari depan lagi.
Curug Sawer, Sukabumi
Miniatur mobil off road ikut nampang

Selasa, 28 April 2015

Antara Aku, Kau dan Jakarta

10.49 // by Wisnu Yuwandono // , // 16 comments

Aku, Kau dan Jakarta

Masih pagi sekali ketika kutulis ini. Sketsa wajahmu tergambar dalam secangkir kopi yang meski tanpa gula tapi tak terasa pahit saat kunikmati. Sudah terbayang, bagaimana nanti kita akan menjelajah setapak demi setapak berdua, dan sebelum saat itu tiba, akan kupastikan segalanya telah kupersiapkan dengan baik.

Aku memilih Jakarta sebagai kota untuk menjejakkan kaki kita bersama. Sudah beberapa waktu aku tinggal di kota ini. Aku tahu jika kau kurang menyukai kota ini, aku sebenarnya pun sama denganmu. Tapi akan kubuktikan nanti, Jakarta tak semembosankan itu. Mungkin kau akan membalas pesanku dengan “Kenapa aku yang harus ke Jakarta, bukan kamu yang mendatangiku?” katamu. Tapi, kota ini juga layak untuk dijejaki dan aku sudah mencarikan penginapan untukmu melalui aplikasi Traveloka di ponselku.

Mari kuceritakan sedikit tentang bagaimana rencanaku membawamu berkeliling Jakarta. Kita akan mulai dari pagi-pagi sekali. Pagi itu tenang, pagi itu segar, dan pagi itu syahdu. Lagi pula pagi membuat kita punya banyak waktu jalan-jalan nanti. Layanan Traveloka akan membuat pencarian dan pemesanan akomodasi di Jakarta menjadi lebih mudah lagi. Kita bebas memilih penginapan yang sesuai dengan kebutuhan selama di Jakarta.

Kita akan mulai dengan kawasan Kota Tua dan berkeliling museum di sekitarnya. Jajaran bangunan klasik yang membawa kita seolah hidup kembali di awal abad 19. Kau yang begitu bangga dengan keragaman budaya nusantara, sangat berbinar saat kuajak melangkah masuk ke Museum Wayang. Di museum, jemarimu menelusuri setiap etalase yang memajang beragam karya daerah, ‘Aku baru benar-benar menyadari, nusantara itu ternyata begitu kaya,’ katamu takjub.

Selesai dengan museum, matamu tertarik melihat sepeda onthel warna-warni di kawasan ini. Kau meraih topi yang tak kalah berwarna di atas sepeda, “Mari kita adu cepat!” katamu sambil mengerling. Aku tak mau kalah, buru-buru meraih sepeda sejenis. Tak menunggu lama, kita sudah berada di atas sepeda masing-masing. Meski awalnya kau mengajakku balapan, tapi justru kau tak tahu harus ke mana, malah memilih mengekor di belakangku dan rencana adu cepat tinggallah angan.

Sampai kemudian tawamu terhenti dan berganti dengan ekspresi bingung ketika lautan menjadi pembatas daratan dan jajaran pinisi membentengi dermaga. Ini Pelabuhan Sunda Kelapa. Kau singkirkan sepedamu segera, “Sepeda tak bisa melaju di atas air,” katamu sambil menunjuk perahu nelayan. Demi menikmati rona bahagiamu, aku membuat kesepakatan dengan nelayan, kita akan berlayar ke laut menggunakan perahunya.

Pelabuhan Sunda Kelapa terlihat lebih cantik saat senja. Kita bisa melihat deretan kapal dengan latar cahaya jingga. Kita tak membutuhkan kamera. Keindahan ini ada baiknya kita nikmati sendiri, tanpa harus membaginya dengan yang lain. Lagipula buat apa kamera ketika aku bisa mengabadikan pesonamu dalam pikiranku. Rupanya aku salah, senja tak lebih cantik daripada kilau wajahmu dan gambaran itu sudah terpasang dan terbingkai di dalam otakku.

I wish I was a camera sometimes, So I could take your picture with my mind, Put it in a frame for you to seeHow beautiful you really are to me (Bon Jovi)

Menjelajah Jakarta memang tak cukup hanya sehari. Berkeliling Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa tampaknya tak cukup membuat kita lelah. Di malam hari, kita kesampingkan masalah istirahat dan lebih memilih menikmati makan malam romantis di rooftop hotel di Jakarta, tempat kita menginap.

Keesokan harinya, aku sudah punya rencana untuk kita berdua. Aku memilih tempat yang agak asing untuk orang-orang umum. Bukan tempat ramai yang biasa dikunjungi orang banyak. Justru tempat ini adalah tempat yang sangat sepi bahkan membayangkannya pun banyak yang merasa ngeri. Karena tempat ini adalah sebuah makam. Ereveld Menteng Pulo namanya. Sebuah makam tempat bersemayam para tentara Belanda yang dikelilingi bangunan gedung-gedung tinggi menjulang.

Aku, Kau dan Jakarta
Ereveld Menteng Pulo
Melihat jajaran makam yang membentuk pola yang sangat rapi itu membuat kita merenung, hidup ini begitu singkat, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang sangat singkat itu hanya untuk hal-hal yang tak berguna. Aku bersyukur karena aku mengenalmu dan jatuh cinta padamu, membuatku merasa hidupku tak pernah sia-sia.

Jakarta membuatku berangan-angan lebih tentang kisah perjalanan kita di masa depan. Menjelajah nusantara lebih dalam dan jauh lagi, agar kita punya banyak cerita untuk anak-cucu nanti. Selanjutnya kau boleh mengambil alih perencanaan ini, kau yang memilih mana kota setelah Jakarta yang akan kita kunjungi, terutama untuk bulan madu kita nanti.