• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 28 Oktober 2017

Museum Sumpah Pemuda dan Bait ke 3

09.58 // by Wisnu Yuwandono // // 2 comments

Sudah hampir 3 tahun saya tinggal di Jakarta, beberapa kali sudah saya melewati Jalan Kramat, tapi belum pernah saya berhenti dan menyambangi Museum Sumpah Pemuda yang terletak di jalan tersebut. Namun satu pekan sebelum peringatan 89 tahun hari bersejarah tersebut, saya niatkan diri untuk singgah barang sejenak ke museum ini.

Terletak di jalan yang cukup ramai tak membuatnya dikunjungi banyak orang, bahkan seperti dilupakan. Berdasarkan buku tamu yang ada pada meja receptionist, saya adalah orang/rombongan ke 30 yang berkunjung pada bulan Oktober. Padahal hanya dua ribu rupiah harga tiket untuk masuk ke gedung ini. Nilai yang sangat kecil pada saat ini, bahkan untuk parkir di mal saja lebih mahal dari itu.

Saya tidak memahami gaya bangunan ini, mungkin perpaduan antara Eropa dan China. Mengingat gedung ini awalnya merupakan milik Sie Kong Liang dan didirikan pada masa pendudukan Belanda, jadi kemungkinan besar kedua kebudayaan tersebut mempengaruhi desain arsitektur bangunan ini. Di bagian depan, terdapat beberapa patung setengah badan tokoh-tokoh penting dalam Kongres Pemuda 2 yang diadakan di gedung ini pada tahun 1928. Selain di bagian luar, patung-patung tersebut juga bertengger di bagian dalam. Terdapat pula patung diorama menggambarkan aktivitas diskusi pemuda-pemuda pada saat itu.

Sebagian besar ruangan berukuran tidak terlalu besar, layaknya kamar kosan mahasiswa. Sebelum digunakan sebagai tempat dideklarasikannya Sumpah Pemuda, tempat ini disewa oleh mahasiswa yang berkuliah di sekitarnya sebagai tempat pemondokan. Beberapa dari mahasiswa tersebut nantinya akan menjadi tokoh penting bangsa ini, sebut saja Muhammad Yamin dan Amir Sjarifoedin, serta tokoh-tokoh lainnya. Di sini pula banyak dilakukan diskusi oleh pemuda-pemuda yang berhasrat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa,

Memasuki gedung ini seperti berjalan melalui labirin masa perjuangan. Tiap ruangan saling terhubung satu sama lain. Dinding-dinding sesak dengan poster berisi informasi mengenai gedung ini maupun tentang peristiwa sumpah pemuda. Memang informasi yang terdapat pada poster-poster tersebut sangat penting, akan tetapi saya merasa bahwa penempatannya terlalu ramai sehingga malah membuat ruangan terlihat sesak. Selain itu, terdapat pula beberapa komputer yang berisi informasi dengan grafis yang mudah untuk dioperasikan.
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Bait ke-3 Sumpah Pemuda

Di bagian tengah gedung, terdapat ruangan yang cukup luas. Beberapa patung berpose sedang duduk seperti mendengarkan Rudolf W. Supratman yang sedang memainkan biola melantunkan “calon” lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lirik lagu pada saat itu tidak sama persis dengan lirik lagu kebangsaan kita saat ini. Salah satunya adalah jumlah stanza yang awalnya ada 3 kemudian direduksi menjadi 1. Ada pula beberapa lirik yang diganti.


Di ruangan ini pula terdapat teks sumpah pemuda terukir di dinding. Saya melihat tulisan tersebut lalu baru menyadari bahwa bait ke tiga agak berbeda dengan dua bait pertama. Jika merujuk pada bait pertama dan ke dua, maka bait ke tiga juga semestinya berbunyi “ berbahasa yang satu, Bahasa Indonesia”. Nyatanya bait ke tiga tidak berbunyi demikian, alih-alih berbunyi “menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Tentu hal ini cukup menggelitik bagi saya, mengapa yang satu ini berbeda dari yang lainnya. Saya mencoba mencari tahu cerita dibalik hal tersebut.

Menurut Majalah Tempo edisi 2 November 2008, pada saat Kongres Pemuda Pemuda II, Muhammad Yamin, yang bertindak sebagai sekretaris kongres, membisikkan kalimat kepada ketua kongres, Soegondo Djojopoespito, “Saya punya rumusan resolusi yang elegan.” Setelah membacanya, tanpa perlu pikir panjang, sang ketua lalu memparafnya.

Muhammad Yamin, sang ahli hukum sekaligus ahli sastra dan sejarah tentu tidak asal-asalan dalam merangkai kalimat yang kemudian menjadi mantra ampuh dalam mempersatukan bangsa ini. Dia paham bahwa bangsa ini memiliki ratusan bahasa daerah dan tiap penuturnya merasa lebih nyaman menggunakannya dalam percakapan sehari-hari dibanding menggunakan bahasa lain. Keanekaregaman bahasa menggambarkan betapa kayanya budaya bangsa ini. Tak mau memaksakan untuk digunakannya satu bahasa saja, Yamin menyusun bait ke tiga Sumpah Pemuda dengan kalimat yang berbeda.

“Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia” itu berarti tidak serta merta meninggalkan bahasa ibu dan bercakap dengan satu bahasa saja. Dalam keseharian kita tetap diperbolehkan untuk menggunakan bahasa daerah. Namun ketika berkomunikasi dengan penduduk dari daerah lain dan dalam forum formal atau nasional menggunakan bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sejatinya belum ada pada saat dilangsungkan Kongres Pemuda II, yang ada adalah Bahasa Melayu. Muhammad Yamin melihat bahwa Bahasa Melayu memiliki jumlah penutur yang sangat banyak dan digunakan sebagai bahasa kebudayaan, penghubung/pergaulan, dan alat komunikasi oleh para pedagang di nusantara. Hal tersebut sudah mengakar sejak zaman dahulu, oleh karena itu Yamin mengusulkannya sebagai bahasa nasional. Namun, Mohammad Tabrani dan Sanusi Pane menginginkan “Bahasa Indonesia” sebagai bahasa nasional bukan Bahasa Melayu. Menurut Tabrani, “Bahasa adalah salah satu jalan untuk menguatkan persatuan Indonesia dan karena itu haruslah berikhtiar untuk memiliki satu bahasa yang lambat laun akan dapat diberi nama Bahasa Indonesia.”

Indonesia memiliki setidaknya 700 lebih bahasa. Namun, sayangnya kita menghadapi ancaman kepunahan terhadap bahasa tersebut. Hal ini dikarenakan banyaknya orang yang enggan menggunakan bahasa daerah, hingga akhirnya tidak adanya lagi penutur dari suatu bahasa. Memang di masa yang sangat maju sekarang ini kita dituntut untuk menguasai berbagai macam bahasa untuk berkomunikasi. Tapi melupakan bahasa daerah bukanlah pilihan yang bijak. Bapak bangsa ini, Sukarno, setidaknya menguasai 10 bahasa, tetapi masih sering menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya. Kita, yang mungkin menguasai bahasa tidak sebanyak beliau, malah enggan menggunakan bahasa daerah. Jangan sampai nasib bahasa lokal kita seperti nasib Museum Sumpah Pemuda, dilupakan di tengah keramaian.

Kamis, 03 Agustus 2017

Bali: Homecoming

09.37 // by Wisnu Yuwandono // // No comments

Sue Monk Kidd wrote in her book, The Mermaid Chair, “You can go other places, all right, you can live on the other side of the world, but you can’t ever leave home.”

I couldn’t agree more with Ms. Kidd. For me, home is not the only place where you were born or grew up, or place where your parents live, but you can also call a place where you find the light when everything grows dark as home.

Bali is one of the several places I call home. Even though I don’t have any house or dwelling place there, but my part of heart left in this island. How could this happen? The answer is because I have lived more than 3 years in Bali.

After leaving this island since 2015, finally, in the middle of last July, I have a chance to come back. A bunch of memories encourages me to wander around my happiest moment from my past. I miss them all and I will try to encounter some.

Back in 2011, I left Jogja for Bali to live there with my friend’s family. My friend and I had a dream to be an entrepreneur. We built a venture engaged in procurement and construction, though those fields aren’t exactly related with our majoring at university but we had a lot of optimism to be successful businessman. Apparently, we faced the cruel of this world without good weapons, after more than 3 years living in that realm, I gave up.



I try to search my old pathways in Bali. There is no big difference in Bali compared 2 years ago. This place is still beautiful and warm as can be. Kintamani is still as cold as ice, but its sunrise is as warm as a hug from your loved ones. Kuta is as hot as a slap in your cheek but its sunset is as cool as the mountain breeze. However, I have to admit that the traffic congestion is getting easier to be found.

This longing hasn’t been fully cured, but this glimpse of old memories is just like a ton of oxygen which I absorb and flow through my blood. Sometimes a glimpse of memories gives us a small, lovely look at ourselves. And sometimes that is enough.

PS: I write this writing in English isn’t because I mastered English fluently. I just wanna encourage myself to improve my English ability. I’m sorry if the grammar or diction or whatever I write is awful. If you want to give me some advice or suggestions or even corrections, just utter it and I will receive all with my pleasure. Cheers :D

Selasa, 17 Januari 2017

Snapshots : Jalan Surabaya, Menteng

08.38 // by Wisnu Yuwandono // // 15 comments

Jalan Surabaya, Menteng

Minggu siang, tanggal 15 Januari 2017, saya berkunjung ke Jalan Surabaya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Langit rata diselimuti oleh mendung tipis, enak untuk jalan-jalan. Suasana di jalan yang tak terlalu lebar ini cukup sepi oleh pengunjung, mungkin hanya orang-orang dengan minat khusus saja yang biasa berkunjung ke sini.

Jalan Surabaya terkenal dengan pasar antiknya. Begitu banyak barang-barang antik, kuno, unik dan bahkan ada barang yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya dijual di sini. Dari lampu, keramik, tas, kaset, buku, jam tangan atau dinding, dan bermacam-macam jenis barang lainnya.

Saya sejujurnya tidak berniat membeli barang-barang antik di sini, saya hanya ingin melihat dan merasakan suasana serta mengambil foto. Namun saat menemukan sebuah toko yang menjual buku-buku bekas, saya jadi tergoda untuk membelinya.

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

Jalan Surabaya, Menteng

All pictures taken with Panasonic Lumix GX85 and Panasonic Lumix G 20mm f/1.7 II ASPH

Senin, 31 Oktober 2016

Melegakan Dahaga di Ragusa

16.35 // by Wisnu Yuwandono // , // 16 comments

ragusa es italia

Mendung, meskipun sinar matahari tertutup awan yang artinya sinarnya tidak langsung menyengat, seringkali justru malah membuat udara terasa tidak nyaman. Gerah atau sumuk kalau orang Jawa bilang. Sama seperti saat Jumat siang tanggal 28 Oktober 2016 yang lalu. Selepas sholat Jumat, cuaca yang awalnya cerah menjadi gelap karena awan hitam menyelubungi langit. Kelembaban udara ikut naik sehingga menyebabkan rasa gerah pada sekujur tubuh dan haus pada tenggorokan. Sepertinya es krim adalah penawar yang sempurna.

Beruntung saya mendapatkan jadwal off kerja pada hari itu. Sehingga saya bisa menyempatkan diri mengunjungi kedai es krim yang cukup melegenda di Jakarta, nama tempatnya adalah Ragusa Es Italia. Terletak di Jalan Veteran 1 No 10, Gambir, menempatkannya di kawasan “klasik” kota ini karena lokasinya tak jauh dengan pusat pemerintahan zaman sekarang maupun dahulu. Posisinya berada di antara deretan tempat makan, sehingga tidak ada salahnya apabila setalah makan lalu ingin mencoba merasakan makanan pencuci mulut.

Seperti namanya, warung ini menawarkan sajian es krim khas Italia dan bahan utamanya adalah susu. Berdiri sejak 1932 membuatnya sudah berpengalaman dalam menyajikan resep turun-menurun dari keluarga Ragusa. Ya, toko ini diberi nama sama dengan nama keluarga pendirinya. Keluarga Ragusa memang berasal dari Italia, sehingga memang tidak heran apabila mereka memberi embel-embel nama Italia di belakang es krim buatannya. Namun, sekarang pemilik dari toko ini bukanlah keluarga langsung dari Ragusa.
ragusa es italia
Ruangan di dalam Ragusa Es Italia
Siang itu, dari sekitar 12 meja yang ada, mungkin hanya beberapa meja saja yang kosong. Akan tetapi tidak lama setelah saya duduk di kursi yang desainnya klasik, kursi dan meja memang desainnya terlihat kuno, kebanyakan dari pengunjung ini telah menyelesaikan santapan mereka. Saya harap mereka tidak buru-buru menghabiskan hidangan karena kedatangan saya.
ragusa es italia
Foto Keluarga Ragusa
Ruangan restoran terlihat vintage dengan beberapa foto lawas tentang tempat ini bertengger di dinding. Di dinding bagian atas terdapat foto-foto es krim dan minuman yang disajikan di sini. Pelayan-pelayan terlihat sudah berumur dan berpakaian apa adanya tanpa menggunakan seragam atau pakaian  yang menunjukkan ciri khas bahwa mereka adalah pelayan tempat ini. Memasuki ruangan ini terasa seperti memasuki zaman lampau.
ragusa es italia
Cassata Siciliana, masih dibungkus dengan semacam kertas alumunium foil

ragusa es italia
Spaghetti Ice Cream
Saya memesan Spaghetti Ice Cream, sedangkan istri saya memesan Cassata Siciliana. Rentang harganya dari 15.000,- rupiah sampai dengan 35.000,- rupiah. Penyajiannya cukup cepat, karena tidak begitu lama dari memesan es krim segera datang. Spaghetti Ice Cream berbentuk layaknya setumpuk mie yang berwara putih susu dengan taburan remah-remah kacang dan sukade yang berwana-warni. Sedangkan Cassata Siciliana berbentuk potongan es krim yang memanjang dengan beberapa warna yang menunjukkan rasanya.

Saya bukanlah pengamat makanan ataupun pemilik lidah yang bisa mencecap dan menilai rasa dengan baik. Menurut apa yang saya rasakan, Spaghetti Ice Cream terasa lembut, rasa susunya sangat menonjol, tidak terlalu manis. Akan tetapi rasa sukadenya seperti merusak rasa keseluruhan karena terasa asam dan aneh. Sekali lagi ini penilaian dari seorang yang bukan ahli. Berbeda dengan Cassata Siciliana yang tidak ada bahan yang merusak rasa. Dalam satu potongan cassata terdapat 4 rasa, menurut saya hanya rasa coklat saja yang terasa menonjol, rasa yang lain tidak begitu terasa.

Bagi saya Ragusa cukup memberikan kenikmatan untuk melegakan dahaga dengan resep tradisionalnya yang legendaris. Suasana dan interior design yang bisa dibilang mirip dengan zaman dahulu membuat kita bisa membayangkan bagaimana orang-orang zaman dahulu menikmati es krim.

Jumat, 13 Mei 2016

Tips Memilih Hotel Saat Liburan

10.14 // by Wisnu Yuwandono // // 9 comments

Tips memilihi hotel saat liburan


Liburan boleh jadi merupakan salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh kita dan keluarga setelah sekian lama berkutat dengan aktivitas sehari-hari yang tak jarang membuat frustrasi dan stres melanda. Apalagi sedang ada promo tiket pesawat dari tiket2.com, sehingga kita bisa menurunkan biaya transportasi. Nah, untuk mendapatkan liburan yang sempurna, kita tentu tidak akan lupa untuk menyiapkan berbagai hal penting, salah satunya adalah menentukan tempat tujuan liburan bersama keluarga. Selain itu, kita harus pula memastikan tempat untuk menginap selama melakukan perjalanan untuk liburan. Hotel menjadi pilihan utama untuk mendapatkan kenyamanan ketika berada jauh dari rumah, tetapi tentu memilih hotel harus dilakukan dengan seksama, sehingga pilihan hotel tersebut bisa sesuai dengan bujet dan tingkat kenyamanan yang kita inginkan. 

Ketika akan memesan hotel, sebaiknya pilihlah hotel yang mempunyai lokasi yang cukup dekat dengan tempat wisata yang ingin kita tuju. Hal ini sangat penting karena dengan demikian kita bisa menghemat biaya transportasi untuk mencapai tujuan wisata yang ingin dikunjungi. Jika memungkinkan, sebaiknya pilihlah hotel yang memungkinkan untuk berjalan kaki menuju lokasi wisata yang kita inginkan sehingga kita tak perlu mengeluarkan biaya transportasi sama sekali. Memperkirakan bujet untuk menyewa kamar hotel adalah sebuah kewajiban. Selain mencari tahu lebih lanjut mengenai harga sewa kamar hotel itu sendiri, kita juga perlu memeriksa biaya-biaya lain yang akan muncul dan diperlukan sehingga kita tidak akan terkejut ketika tagihan datang. 


Tips memilih hotel saat liburan
Kenyamanan adalah hal yang utama
Ada hal penting lain yang perlu kita periksa ketika memilih hotel. Sebaiknya jangan lupa memeriksa keamanan hotel ketika akan meninggalkan barang bawaan di hotel tersebut. Bawalah ekstra gembok untuk mengunci tas ransel atau koper. Simpan barang-barang berharga di safe deposit box agar jika terjadi hal yang tidak diinginkan kita sudah mencegahnya lebih dahulu. Kita juga perlu mencermati pelayanan yang ditawarkan oleh hotel tersebut. Kita akan merasa nyaman menginap di hotel jika pegawai hotel mempunyai etika yang baik dan melayani pelanggan dengan ramah.


Home isn't a place, it's a feeling.

Ketika melakukan traveling, hotel merupakan rumah sementara kita. Hal yang membuat kita rindu dengan rumah adalah kenyamanan yang kita rasakan. Begitu pula dengan sebuah hotel, kenyamanan merupakan hal paling utama. Hotel mahal belum tentu nyaman, malah kadang kala hotel dengan biaya murah justru menghadirkan kenyamanan. Perasaan nyaman tentang rumah adalah rasa senang ketika meninggalkannya dan sangat bahagia ketika akan pulang. Jika menemukan hotel yang seperti itu, jangan ragu untuk memilihnya.


Tips memilih hotel saat liburan
Fasilitas juga tidak kalah penting untuk dipertimbangkan
Fasilitas yang ditawarkan oleh hotel pun sebaiknya tidak luput dari perhatian. Kita sebaiknya memesan kamar hotel lebih awal dan merencanakan liburan lebih awal. Segala aturan termasuk aturan kecil yang ada di hotel harus kita perhatikan. Carilah informasi sebanyak mungkin untuk mendapatkan harga sewa penginapan atau hotel yang paling murah. 

Selamat berburu hotel nyaman namun murah!

Rabu, 09 Maret 2016

Telusur Glodok

13.32 // by Wisnu Yuwandono // , , // 23 comments


glodok
Candranaya

Sebagian besar dari kita, terutama orang Jakarta, pasti tahu bahwa kawasan Glodok adalah area pusat untuk mencari peralatan elektronik atau keping DVD  film-film luar. Tapi dibalik nama itu ternyata tempat ini menyimpan lorong-lorong sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Satu hari sebelum hari raya Imlek, saya memiliki kesempatan itu.

Berawal dari ketidaksengajaan membaca twit tentang Jakarta Walking Tour yang diprakarsai oleh Jakarta Good Guide, saya tertarik untuk mencicipi bergabung dengan salah satu acaranya. Ternyata hari Minggu tanggal 7 Februari 2016 jadwal tournya adalah ke kawasan Glodok. Mumpung satu hari sebelum Imlek pasti feelnya udah terasa, pikir saya. Saya akhirnya ikut acara tersebut.

Jam 9 pagi adalah jadwal dimulainya tour yang diawali dari sebuah minimarket di kompleks Hotel Novotel Jalan Gajah Mada. Peserta tour ada 7 orang dengan seorang guide, namanya Mas Farid. Karena ada 3 peserta berasal dari luar negeri, maka penjelasan dilakukan menggunakan Bahasa Inggris. Meskipun perlu waktu bagi otak saya untuk menerjemahkan setiap kata yang meluncur dari mulut Mas Farid, tetapi penjelasan yang disampaikan cukup mudah untuk dimengerti.

Candranaya
Obyek tour pertama adalah Candranaya. Letaknya ternyata sangat dekat dengan meeting point kami, bahkan masih satu kompleks dengan Hotel Novotel, tepatnya kompleks Green Central City. Rumah dengan arsitektur Tionghoa yang khas ini diapit oleh bangunan-bangunan tinggi modern, meski begitu aura klasiknya masih jelas terpancar.
glodok
Mas Farid menjelaskan arti gambar di dalam Gedung Candranaya

glodok
Kolam di belakang gedung
Sebuah kain merah bertuliskan huruf emas tionghoa bertengger di depan pintu utama, tepat di atasnya tertempel papan bertuliskan Candranaya. Memasuki bangunan ini terasa masuk ke dalam suasana rumah klasik seperti di film-film dari Tiongkok. Langit-langit yang tinggi didesain agar udara tidak terasa pengap dan panas ketika berada di dalam rumah. Beberapa lampion tergantung di atas, tulisan-tulisan Tionghoa, tempat sembahyang dan tak ketinggalan kolam di bagian belakang benar-benar ingin meyakinkan bahwa inilah gaya arsitektur rumah masyarakat Tionghoa.

Candranaya dahulu merupakan kediaman Mayor Khouw Kim An, Mayor Tionghoa terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942). Gelar mayor diberikan pemerintah kolonial Belanda kepada pemimpin etnis Tionghoa yang bertugas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa.

Perhimpunan sosial Xin Ming Hui pada tahun 1946 menyewa bangunan ini sebagai gedung perkumpulan. Organisasi ini sendiri bertujuan untuk membantu korban perang. Pada tahun 1965, tahun di mana warga Tionghoa dianjurkan untuk mengubah nama Tionghoa menjadi nama-nama Indonesia, gedung ini juga terkena dampaknya. Tempat ini selanjutnya dinamakan dengan Candranaya yang berarti sinar rembulan.

*****

“Ada dua versi asal-muasal nama Glodok,” Mas Farid menjelaskan ketika kami meninggalkan Candranaya menuju obyek berikutnya.

Versi pertama adalah dari sebuah pancuran yang ada di halaman gedung balaikota, dimana mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari para serdadu kompeni dan tidak ketinggalan untuk minum kuda tunggangan. Air pancuran ini berbunyi grojok-grojok, sehingga selanjutnya dilafalkan dengan glodok.

Versi kedua adalah dari Bahasa Sunda, Golodog, yang artinya pintu masuk rumah. Posisi Glodok yang berada di utara atau dekat dengan pelabuhan Sunda Kelapa membuatnya seperti menjadi pintu masuk bagi segala manusia maupun barang. Dari kata golodog itu selanjutnya lidah lebih enak menyebutnya Glodok.

“Dua versi tersebut sangat masuk akal, silahkan mau percaya yang mana” lanjut Mas Farid.

Selanjutnya kami berjalan kaki menyusuri Jalan Gajah Mada menuju kawasan Petak Sembilan. Bagian yang cukup terkenal di daerah ini adalah Gang Pancoran. Di gang ini banyak pedagang yang menjajakan barang layaknya di pasar tradisional. Kebetulan waktu itu adalah satu hari menjelang imlek, banyak pedagang yang menjual pernik-pernik imlek seperti kue keranjang, amplop angpao, sampai lampion.
glodok
Kue Keranjang

Ikan yang dijual di Gang Pancoran
Ada salah satu tradisi masyarakat Tionghoa dalam merayakan imlek, yaitu samseng yang kira-kira berarti tiga binatang kurban. Ketiga binatang ini mewakili unsur udara, darat dan air. Unsur udara biasanya diwakili oleh bangsa unggas, lalu darat oleh babi, dan air oleh ikan. Tidah heran jika tiga unsur tersebut mudah saya ditemukan di pasar Gang Pancoran.

Vihara Dharma Bhakti
Di ujung Gang Pancoran ada sebuah kelenteng atau vihara tertua di Jakarta, namanya Vihara Dharma Bhakti atau Kim Tek Le atau Jin De Yuan.
glodok
Pintu gerbang Vihara Dharma Bhakti

“Kelenteng ini berdiri pada tahun 1650,” terang Mas Farid meyakinkan bahwa sudah sangat tua umur tempat ini.

Istilah kelenteng hanya ada di Indonesia dan itupun awal munculnya dari tempat ini. Dulu nama tempat ibadah ini adalah Kwan Im Teng atau paviliun Kwan Im (Dewi Kwan Im). Karena lidah masyarakat Indonesia susah untuk melafalkannya, lebih mudah mengucapkannya dengan kelenteng maka sejak saat itu tempat ibadah masyarakat Tionghoa lebih dikenal dengan istilah kelenteng.
glodok
Sembahyang

glodok
Terlihat tiang-tiang yang menghitam bekas terbakar

glodok
Bagian dalam vihara

Vihara Dharma Bakti bisa dibilang menjadi pusat peribadatan masyarakat Tionghoa terutama di kawasan Glodok. Menyambut imlek, tempat ini menjadi sangat ramai.  Tidak hanya manusia, benda-benda peribadatan seperti lilin yang sangat besar juga memenuhi ruangan. Lilin-lilin besar ini adalah sebuah nazar atau bentuk ucapan syukur dari orang yang doanya telah dikabulkan. Layaknya api yang menyala, doa dan harapan juga tak pernah padam. Sayangnya, pada tahun 2015, lilin-lilin ini kemungkinan yang menyebabkan terbakarnya Vihara Dharma Bhakti. Sisa kebakaran masih bisa terlihat jelas pada tiang-tiang pada kelenteng yang terlihat hitam seperti arang. Sampai saat ini, tempat ini masih dalam tahap renovasi.

*****

Kami melanjutkan berjalan menyusuri Jalan Kemenangan di wilayah Glodok. Tujuan berikutnya adalah Gereja Santa Maria de Fatima. Karena sedang ada misa, hanya beberapa saja dari kami yang bisa masuk ke gereja yang dibangun pada tahun 50an itu.
glodok
Di depan gereja

glodok
Gereja Santa Maria de Fatima

Rintik-rintik kecil air mulai turun saat kami berjalan menuju Kelenteng Toa Se Bio. Letaknya tidak jauh dari Gereja Santa Maria de Fatima. Sama seperti Vihara Dharma Bhakti, kelenteng ini juga dipenuhi dengan lampion, lilin dan arsitektur bernuansa merah. Bau dupa tercium ketika langkah kaki memasuki kelenteng ini. Memang banyak orang yang sedang bersembahyang di dalam ruangan kelenteng yang bisa dibilang tidak terlalu luas sehingga terasa sangat ramai.
glodok
Kelenteng Toa Se Bio

Kami tidak terlalu lama berada di Kelenteng Toa Se Bio, selanjutnya kami berjalan melewati gang-gang kecil menuju Gang Gloria. Banyak orang yang menyebutnya sebagai gang kuliner. Memang tidak salah sebutan tersebut, karena banyak makanan yang dapat ditemui, bahkan beberapa diantaranya cukup terkenal. Sebut saja Kopi Es Tak Kie, Gado-gado Direksi, mie kangkung, dll. Tapi pastikan dulu dengan bertanya apakah makanan yang hendak dibeli halal atau tidak, karena banyak juga makanan yang mengandung daging babi.
glodok
Salah satu penjual di Gang Gloria

glodok
Mie Kangkung

Di ujung Gang Gloria, berujung pula walking tour kali ini. Mas Farid mengakhiri tour ini dengan meminta foto bersama kami. Tak lupa kami berterimakasih karena penjelasan yang bagus dan jelas selama tour ini berlangsung. Peserta berpisah dan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Saya dan istri memilih untuk mengisi perut kami dengan menyantap mie kangkung yang memang terasa sangat lezat untuk mengakhiri tour yang sangat menambah wawasan.

Di Glodok pernah terjadi pembantaian ribuan warga Tionghoa saat jaman Belanda, di Glodok pula pernah terjadi huru-hara saat masa reformasi, tapi di tempat ini pula geliat ekonomi Kota Jakarta berkembang.


Informasi tentang Jakarta Walking tour bisa dilihat di https://jakartagoodguide.wordpress.com/

Sabtu, 20 Februari 2016

Bosscha

16.01 // by Wisnu Yuwandono // // 8 comments

Bosscha

Tayangan film atau televisi seringkali mengangkat tempat-tempat yang tidak terlalu dikenal menjadi terkenal. Sebagai contoh, Kawah Putih di daerah Bandung selatan yang booming  setelah muncul dalam film Heart. Bagi yang umurnya sudah tidak ABG lagi pasti masih ingat dengan film Petualangan Sherina yang menampilkan kawasan Lembang dan tempat yang sangat unik, Bosscha. Siapa yang tidak tahu Bosscha berarti dia tidak menonton film yang tayang perdana pada tahun 2000 tersebut.

Penghujung bulan Januari yang lalu, saya akhirnya bisa mengobati rasa ingin tahu yang terpendam sejak pertama kali menonton film musikal tadi. Dengan mengendarai sepeda motor dari Kota Bandung, saya sampai tempat ini sekitar jam 9.30, sayang sesi pertama kunjungan dimulai pada pukul 9.00, mau tidak mau saya harus ikut sesi selanjutnya yang dimulai pukul 11.00. Biaya masuk cukup terjangkau, hanya Rp 15.000,- per orang. Suasana yang sejuk dengan banyak pepohonan serta rumput hijau membuat waktu menunggu tak terasa membosankan.

Pengunjung mulai berdatangan bahkan cukup banyak ketika ada rombongan guru-guru sekolah dari Jakarta yang datang. Jam 11.00 tepat, seseorang muncul dari pintu masuk bangunan kubah yang menjadi bangunan utama dari tempat ini. Kami dipersilakan masuk satu persatu, kemudian berdiri melingkari sebuah teleskop yang sangat besar yang dibatasi oleh pagar besi. Kesan pertama ketika melihatnya adalah “woww teleskop yang sangat besar”. Rasa penasaran tentang tempat ini akhirnya terhapus.
Bosscha
Peralatan Radio

Bosscha
Toko Souvenir
Denny Mandey, seorang peneliti di Bosscha, menjelaskan kepada kami seluk beluk tempat ini. “Tempat yang kita masuki ini namanya bukan Bosscha (dibaca bos-ka, bukan bos-sya atau bos-ca) tapi kupel, Bosscha adalah nama keseluruhan tempat penelitian ini, Bosscha ada banyak gedung bukan hanya gedung ini saja” kata beliau menerangkan kesalahan umum yang sering terjadi di masyarakat.
Bosscha
Bangunan ini disebut kupel, bukan Bosscha
Bosscha
Bapak Denny Mandey, sedang mempraktekkan menggeser arah teleskop
Nama Bosscha diambil dari nama penyandang dana utama atas pendirian tempat yang merupakan satu-satunya observatorium yang dimiliki oleh Indonesia. Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha pemilik kebun teh Malabar yang luasnya sangat besar bersedia membagikan sebagian kekayaannya untuk membangun sebuah observatorium. Untuk menghormati jasanya, namanya diabadikan sebagai nama observatorium yang diresmikan pada tahun 1928 ini.

Di dalam kupel, terdapat sebuah teropong besar bermerk Zeiss (dibaca cais) yang berumur hampir 90 tahun. Meski sudah sangat tua dan bisa dibilang ketinggalan jaman, namun teropong ini masih berfungsi sangat baik. Hanya saja untuk membidik bintang mana yang akan dilihat, teropong harus digeser dengan kekuatan manusia, pada saat pembuatannya dulu belum ada teknologi yang bisa menggeser teropong secara otomatis. Tapi jangan kira teknologi di dalam kupel ini tidak ada yang canggih, atap kubah bisa diputar secara mekanis hanya dengan memencet tombol, begitupun lantai tempat peneliti bisa bergerak naik turun juga dengan memencet tombol. Teknologi yang cukup mutakhir pada jaman itu.
Bosscha
Teleskop Zeiss

Bosscha
Di dalam gedung ini ada teleskop juga, namanya teleskop Bamberg
“Membidik bintang di atas sana menggunakan teropong sebesar ini bukan berarti bintang yang kita lihat menjadi lebih besar, sama saja hanya terlihat titik-titik, namun titik-titik itu memancarkan cahaya yang lebih terang, bahkan bintang yang tidak terlihat dengan mata telanjang bisa terlihat”, terang Pak Denny.

Pada saat mulai dibangun  tahun 1923, kawasan Lembang merupakan tempat yang sangat sepi dan jarang terdapat rumah. Keterbatasan cahaya lampu tersebut membantu pengamatan bintang, sehingga bintang terlihat lebih cerah. Berbeda jauh saat ini, Lembang sudah penuh dengan cahaya bahkan cahaya lampu dari kota Bandung yang sangat tinggi intensitasnya telah membuat pengamatan menjadi sangat susah. Cahaya bintang sudah kalah jauh. Banyak bintang-bintang yang memiliki cahaya yang redup, dulu masih bisa diamati namun sekarang sudah tidak terlihat.

Konon pemerintah akan membuat observatorium lagi di daerah NTT. Di sana dianggap sebagai area yang  polusi cahayanya masih tingkat minimum. Bosscha sudah sangat tua dan polusi cahaya di Bandung sudah terlalu tinggi untuk pengamatan bintang. Memang seharusnya Indonesia memiliki observatorium lagi yang lebih modern dan letaknya dapat mendukung penelitian. Pertanyaan retoris yang selalu muncul, kapan itu akan terlaksana? Entahlah.

Info tentang kunjungan ke Observatorium Bosscha bisa dilihat di http://bosscha.itb.ac.id/en/visit.html