• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 25 Agustus 2013

Sunset Pura Batubolong yang Fotogenik

22.22 // by Wisnu Yuwandono // , // 12 comments

Pura Batubolong, Bali
Pura Batubolong
Banyak yang tidak tahu di mana letak Pura Batubolong di Bali. Kebetulan ada tempat dengan nama yang sama di Pulau Lombok yang memang lebih terkenal dari yang di Bali. Bahkan ada yang salah sangka tempat ini sama dengan Pantai Karang Bolong yang ada di Anyer dan Kebumen. Atau jangan-jangan ada tempat lain yang memiliki nama yang mirip. Mungkin memang karang dan batu yang bolong adalah hal yang begitu mainstream di negara kita.

Jumat, 23 Agustus 2013

Apa yang Mereka Dapatkan?

08.14 // by Wisnu Yuwandono // , // 2 comments

Pantai Lovina, Bali
Pantai Lovina
 "Saya ingin sekali melihatnya di lautan lepas, di rumah mereka."
Angin semilir membawa uap air dengan bau khas, aroma laut. Perahu-perahu berjejer di pinggir pantai, tak segaris tapi masih tetap terlihat rapi. Matahari baru saja lepas dari persembunyiannya, belum terlalu kuat menghalau kabut-kabut yang menutupi barisan bukit di belakang pantai.  Meski cuaca tak terlalu cerah, gelombang air masih begitu tenang, suasana pun tak ramai dengan pengunjung. Lovina begitu syahdu pagi ini.

Kamis, 22 Agustus 2013

Menyapa Orah Sang Naga

18.35 // by Wisnu Yuwandono // , , // 4 comments

Komodo, Nusa Tenggara Timur
Komodo dengan nama latin Varanus Komodoensis
Sudah lebih 3 jam perahu yang saya naiki melaju di perairan laut. Pulau-pulau yang entah apa namanya cuma dilewati begitu saja. Labuan Bajo sama sekali tak terlihat lagi. Ombak yang mengombang-ambingkan perahu sudah mulai terasa biasa bagi tubuh saya, adaptasi yang memang saya harapkan. Di depan sudah menyapa Loh Liang yang walaupun perairannya cukup tenang, namun namanya terdengar menyeramkan. Loh berarti teluk, Loh Liang berarti Teluk Liang, disinilah perahu-perahu bersandar untuk menurunkan orang-orang untuk menjenguk sang hewan purba legendaris di rumahnya, Pulau Komodo.

Rabu, 21 Agustus 2013

Selayang Pandang Nusa Lembongan

18.15 // by Wisnu Yuwandono // , // 4 comments

Nusa Lembongan, Bali
Nusa Lembongan
Banyak yang menyangka bahwa Provinsi Bali hanya memiliki satu pulau yaitu Pulau Bali saja. Padahal sebenarnya ada beberapa pulau lain yang cukup menarik untuk dikunjungi jika sudah merasa ‘bosan’ dengan sajian utama dari Bali. Salah satu pulau itu adalah Pulau Nusa Lembongan.

Rabu, 14 Agustus 2013

Mencari Keberuntungan di Tirta Empul

14.11 // by Wisnu Yuwandono // , // 6 comments

Tirta Empul, Bali

Pura Tirta Empul tak begitu ramai siang ini. Tak seramai ketika saya pernah kesini sebelumnya. Memang waktu saya kesini sebelumnya tepat pada hari minggu dan juga ketika bulan purnama. Sedangkan saat ini adalah hari biasa, bukan hari libur maupun hari penting untuk bersembahyang umat Hindu. Bisa disimpulkan kalau ingin melihat orang berjubel di sini carilah hari libur atau hari sembahyang umat Hindu, kalau pengen yang selo ya seperti saya saat ini.

Pura ini agak lain dari kebanyakan pura di Bali. Selain letaknya yang di dekat Istana Kepresidenan Tampak Siring (Pura Tirta Empul jauh lebih dulu ada dibanding istana), juga karena adanya mata air dan pancuran untuk membersihkan diri.
Tirta Empul, Bali
Kolam untuk melukat
Ada 3 kolam untuk melukat atau membersihkan diri. Kolam pertama cukup besar mungkin sekitar 20 x 5 meter, lalu kolam kedua ukurannya kecil sekitar 3 x 5 m, sedangkan kolam terakhir berukuran medium sekitar 10 x 5 meter. Total pancuran yang ada berjumlah 20 pancuran. Kolam pertama dipisahkan tembok dari kolam kedua dan ketiga. Yang saya lihat kebanyakan para peziarah hanya melukat di kolam pertama saja karena ternyata memang kedua kolam lainnya diperuntukkan bagi keperluan yang lain. Ketika saya mencoba menyentuh airnya, nyessss dinginnn.
Tirta Empul, Bali
Orang yang melukat/membersihkan diri

Tirta Empul, Bali
Bule pun ikut melukat
Yang hendak membersihkan diri, mereka akan membasuh kepala dengan air yang mengalir dari pancuran. Satu persatu pancuran didatangi lalu berdoa di depannya dan selanjutnya membasuh kepala mereka. Jika membawa canang yang berisi sesaji akan diletakkan di atas pancuran. Begitu terus sampai ke pancuran terakhir.
Tirta Empul, Bali
Pancuran dengan canang sesaji di atasnya
Air yang mengalir di pancuran tadi berasal dari sumber mata air yang berada tak jauh dari kolam. Air terlihat keluar menyembur dari tanah membuatnya terlihat seperti mendidih. Di sekelilingnya banyak terdapat tumbuhan hijau  menandakan airnya cukup sehat untuk ditumbuhi makhluk hidup.

Tiba-tiba teman saya menunjuk ke arah rimbunnya tumbuhan hijau tersebut lalu bilang bahwa dia melihat ada belut dengan ukuran yang cukup besar. Saya mencoba mengikuti arah dari jari telunjuknya itu, namun tetap tak melihat hewan yang dimaksud. Sampai akhirnya hewan itu bergerak dan saya hanya melihat sekelebat ekornya saja.
Tirta Empul, Bali
Sumber Mata Air Tirta Empul
“Mas ini akan dapat keberuntungan”, kata bapak yang meminjami selendang di depan pura yang mendengar kisah kami tentang belut (untuk memasuki pura memang semua orang harus memakai selendang).

Menurut kepercayaan di sini, orang yang melihat belut raksasa itu akan mendapat keberuntungan dalam hidupnya. Bila dipikir kami memanglah orang beruntung bisa melihat belut itu yang menyaru di antara tumbuhan yang hidup di dalam kolam mata air. Tak banyak yang pernah melihatnya meskipun konon tak hanya ada satu belut saja yang tinggal di sana.

“Di kolam lain pun sebenarnya ada belutnya, mas. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya”, lanjut bapak tadi.

Wah ternyata saya bukanlah termasuk diantara orang-orang tertentu itu.
Tirta Empul, Bali
Kolam dengan banyak koin
Yang menarik adalah di kolam mata air ada papan peringatan agar tidak melemparkan koin ke dalamnya, mengingat ada kolam lain di kompleks ini yang sudah cukup banyak dilempari koin. Hal ini mirip dengan kepercayaan akan memperoleh keberuntungan apabila melempar koin pada beberapa air mancur yang ada di Eropa. Ahhh ternyata kolam kuno yang ada di pelosok Bali pun sudah terkena kepercayaan masyarakat barat. Untungnya saya tidak membawa satu koin pun untuk dilempar. Sayang juga sama koinnya.