• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 20 Februari 2016

Bosscha

16.01 // by Wisnu Yuwandono // // 8 comments

Bosscha

Tayangan film atau televisi seringkali mengangkat tempat-tempat yang tidak terlalu dikenal menjadi terkenal. Sebagai contoh, Kawah Putih di daerah Bandung selatan yang booming  setelah muncul dalam film Heart. Bagi yang umurnya sudah tidak ABG lagi pasti masih ingat dengan film Petualangan Sherina yang menampilkan kawasan Lembang dan tempat yang sangat unik, Bosscha. Siapa yang tidak tahu Bosscha berarti dia tidak menonton film yang tayang perdana pada tahun 2000 tersebut.

Penghujung bulan Januari yang lalu, saya akhirnya bisa mengobati rasa ingin tahu yang terpendam sejak pertama kali menonton film musikal tadi. Dengan mengendarai sepeda motor dari Kota Bandung, saya sampai tempat ini sekitar jam 9.30, sayang sesi pertama kunjungan dimulai pada pukul 9.00, mau tidak mau saya harus ikut sesi selanjutnya yang dimulai pukul 11.00. Biaya masuk cukup terjangkau, hanya Rp 15.000,- per orang. Suasana yang sejuk dengan banyak pepohonan serta rumput hijau membuat waktu menunggu tak terasa membosankan.

Pengunjung mulai berdatangan bahkan cukup banyak ketika ada rombongan guru-guru sekolah dari Jakarta yang datang. Jam 11.00 tepat, seseorang muncul dari pintu masuk bangunan kubah yang menjadi bangunan utama dari tempat ini. Kami dipersilakan masuk satu persatu, kemudian berdiri melingkari sebuah teleskop yang sangat besar yang dibatasi oleh pagar besi. Kesan pertama ketika melihatnya adalah “woww teleskop yang sangat besar”. Rasa penasaran tentang tempat ini akhirnya terhapus.
Bosscha
Peralatan Radio

Bosscha
Toko Souvenir
Denny Mandey, seorang peneliti di Bosscha, menjelaskan kepada kami seluk beluk tempat ini. “Tempat yang kita masuki ini namanya bukan Bosscha (dibaca bos-ka, bukan bos-sya atau bos-ca) tapi kupel, Bosscha adalah nama keseluruhan tempat penelitian ini, Bosscha ada banyak gedung bukan hanya gedung ini saja” kata beliau menerangkan kesalahan umum yang sering terjadi di masyarakat.
Bosscha
Bangunan ini disebut kupel, bukan Bosscha
Bosscha
Bapak Denny Mandey, sedang mempraktekkan menggeser arah teleskop
Nama Bosscha diambil dari nama penyandang dana utama atas pendirian tempat yang merupakan satu-satunya observatorium yang dimiliki oleh Indonesia. Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha pemilik kebun teh Malabar yang luasnya sangat besar bersedia membagikan sebagian kekayaannya untuk membangun sebuah observatorium. Untuk menghormati jasanya, namanya diabadikan sebagai nama observatorium yang diresmikan pada tahun 1928 ini.

Di dalam kupel, terdapat sebuah teropong besar bermerk Zeiss (dibaca cais) yang berumur hampir 90 tahun. Meski sudah sangat tua dan bisa dibilang ketinggalan jaman, namun teropong ini masih berfungsi sangat baik. Hanya saja untuk membidik bintang mana yang akan dilihat, teropong harus digeser dengan kekuatan manusia, pada saat pembuatannya dulu belum ada teknologi yang bisa menggeser teropong secara otomatis. Tapi jangan kira teknologi di dalam kupel ini tidak ada yang canggih, atap kubah bisa diputar secara mekanis hanya dengan memencet tombol, begitupun lantai tempat peneliti bisa bergerak naik turun juga dengan memencet tombol. Teknologi yang cukup mutakhir pada jaman itu.
Bosscha
Teleskop Zeiss

Bosscha
Di dalam gedung ini ada teleskop juga, namanya teleskop Bamberg
“Membidik bintang di atas sana menggunakan teropong sebesar ini bukan berarti bintang yang kita lihat menjadi lebih besar, sama saja hanya terlihat titik-titik, namun titik-titik itu memancarkan cahaya yang lebih terang, bahkan bintang yang tidak terlihat dengan mata telanjang bisa terlihat”, terang Pak Denny.

Pada saat mulai dibangun  tahun 1923, kawasan Lembang merupakan tempat yang sangat sepi dan jarang terdapat rumah. Keterbatasan cahaya lampu tersebut membantu pengamatan bintang, sehingga bintang terlihat lebih cerah. Berbeda jauh saat ini, Lembang sudah penuh dengan cahaya bahkan cahaya lampu dari kota Bandung yang sangat tinggi intensitasnya telah membuat pengamatan menjadi sangat susah. Cahaya bintang sudah kalah jauh. Banyak bintang-bintang yang memiliki cahaya yang redup, dulu masih bisa diamati namun sekarang sudah tidak terlihat.

Konon pemerintah akan membuat observatorium lagi di daerah NTT. Di sana dianggap sebagai area yang  polusi cahayanya masih tingkat minimum. Bosscha sudah sangat tua dan polusi cahaya di Bandung sudah terlalu tinggi untuk pengamatan bintang. Memang seharusnya Indonesia memiliki observatorium lagi yang lebih modern dan letaknya dapat mendukung penelitian. Pertanyaan retoris yang selalu muncul, kapan itu akan terlaksana? Entahlah.

Info tentang kunjungan ke Observatorium Bosscha bisa dilihat di http://bosscha.itb.ac.id/en/visit.html

Minggu, 14 Februari 2016

Teman Menapaki Perjalanan Hidup

14.02 // by Wisnu Yuwandono // // 35 comments

travelmate

Pertengahan semester pertama tahun 2013 adalah masa-masa yang tidak terduga sebelumnya. Saya yakin bahwa saya akan mendapatkan pengalaman yang sangat indah ketika saya melakukan perjalanan ke Kepulauan Komodo, tapi saya tidak menyangka bahwa apa yang saya dapatkan kemudian jauh lebih indah daripada yang pernah saya bayangkan sebelumnya.
travelmate
Di Gili Lawa
Seperti yang sudah saya ceritakan di posting berjudul kebetulan yang menyenangkan. Untuk melanjutkan hubungan atau untuk sekedar bertemu adalah sebuah perjuangan besar bagi kami. Apakah saya yang mengunjunginya ke Flores ataukah dia yang terbang menemui saya di Bali, keduanya membutuhkan banyak pengorbanan baik materi maupun niat. Untungnya kami mampu melalui perjuangan itu. Bahkan ketika akhirnya kami meninggalkan dua tempat tersebut, meski tetap tidak dalam satu kota, saya meninggalkan Bali untuk selanjutnya tinggal di Jakarta dan dia meninggalkan Flores untuk melanjutkan kehidupan lagi di Surabaya, kami masih bisa melaluinya.

31 Oktober 2015 menjadi angka-angka yang akan selalu kami ingat. Karena pada tanggal itu kami meresmikan hubungan pada sebuah ikatan resmi, ikatan yang sah. Saya menjadi suami dan dia menjadi istri. Ikatan dua unsur yang berbeda yang selanjutnya menjadi senyawa yang tidak bisa dipisahkan.
travelmate
Sudah Sah :)
Perjalanan panjang kami dimulai dari sebuah perjalanan. Seperti sebuah reaksi awal yang selanjutnya memicu banyak reaksi berantai di kemudian hari. Peristiwa tersebut akan selalu saya kenang sebagai awal mula kami menjadi pasangan perjalanan menapaki kehidupan di depan.

Saya dan juga kita semua tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, tidak akan pernah tahu berapa banyak lagi perjalanan yang akan kita lakukan, tapi saya sudah tahu siapa yang akan menemani perjalanan saya nanti. Perkenalkan, istri sekaligus travelmate saya, Okky Marita Ardy :)
travelmate
Istri sekaligus travelmate
Tulisan ini dibuat dalam rangka #posbar bersama teman-teman Travel Bloggers Indonesia bertema #ultimatetravelmate. Jangan lupa untuk mampir ke postingan teman-teman saya berikut :
6. Mas Edy Masrur - Istriku Travelmate-ku
7. Olive Bendon – My Guardian Angel
9. Indri Juwono - Si Pelari Selfie, sebut saja namanya Adie
10. Rembulan Indira - Ultimate Travelmate - Kakatete
11. Karnadi Lim - Teman Perjalananku dan Kisahnya
12. Rey Maulana - Ke Mana Lagi Kita Berjalan, Kawan?
13. Atrasina Adlina - Menjelajah Sebagian Ambon Bareng Bule Gila
14. Richo Sinaga - My Travelmate, Pria Berjenggot dengan Followers 380K
15. Puspa Siagian - Travelmate : GIGA
16. Sutiknyo Tekno Bolang : Mbok Jas Teman Perjalanan Terbaik
17. Taufan Gio - Travelmate Drama, Apa Kamu Salah Satunya?
18. Lenny Lim - 3 Hal Tentang Travel-Mate
19. Matius Nugroho - 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita
20. Fahmi Anhar - Teman Perjalanan Paling Berkesan
21. Liza Fathia - Naqiya is My Travelmate
22. Imama Insani - Teman Perjalanan
23. Putri Normalitas - My Unbelievable Travelmate
24. Vika Octavia - Sesaat bersama Supardi

Selasa, 09 Februari 2016

Reuni Kecil di Pondok Kopi

22.44 // by Wisnu Yuwandono // , , // 4 comments

reuni di pondok kopi
Tim hore
Baru saja merebahkan badan pada kasur yang terletak di rumah teman, saya harus kembali menegakkan badan lagi karena teman yang juga tuan rumah ini mengajak kami menuju sebuah tempat. Sebenarnya punggung masih pegal setelah perjalanan semalam dari Jakarta menuju Semarang menggunakan kereta api. Tapi bagaimana lagi, ajakan kali ini membuat badan yang capek dan mata yang kantuk menjadi segar kembali. Kami akan menuju daerah Bandungan di Semarang bagian selatan.

Jika belum tahu, sesungguhnya Semarang ada dua wilayah, satu Kotamadya Semarang dan satu lagi Kabupaten Semarang. Bandungan sendiri terletak di Kabupaten Semarang, tepatnya di lereng Gunung Ungaran. Karena itu pula kawasan Bandungan memiliki suhu yang sejuk. Sudah bisa ditebak di tempat ini banyak tempat peristirahatan, hotel, ataupun villa. Layaknya kawasan puncak di Bogor bagi masyarakat Jakarta, inilah lokasi favorit melepas penat warga Semarang.

Lokasi yang kami tuju adalah Umbul Sidomukti. Tempat wisata dengan daya tariknya adalah kolam-kolam pemandian buatan berbentuk bulat di atas bukit dengan pemandangan hijau di depannya. Terletak lebih dari 30 km dari pusat Kota Semarang, tidak membuat tempat ini sepi. Ada beberapa rombongan yang datang ke sini untuk melakukan aktivitas outbound, banyak juga pemuda-pemudi yang berenang di kolam sambil bercanda dan berfoto.
umbul sidomukti
Kolam di Umbul Sidomukti
umbul sidomukti
Pilih mana?
umbul sidomukti
he's flying without wings
Selain kolam yang menjadi ciri khas, sebenarnya tempat ini menyajikan banyak wahana lain yang cukup menghibur dan menantang adrenalin. Ada flying fox yang konon menjadi flying fox tertinggi di Indonesia, ada marine bridge, ada juga ATV, dan masih ada beberapa permainan lainnya. Bisa dibilang tempat wisata yang lengkap. Meski cukup variatif apa yang ditawarkan, kami hanya berkeliling dan melihat-lihat saja, dan tidak begitu tertarik untuk mencoba permainan yang bisa dibilang ekstrim tersebut karena kami sudah tua, karena kami penakut, karena sedang tidak berminat saja.

Sejatinya ini adalah reuni kecil-kecilan, kami berempat sudah lama tidak bertemu. Kami butuh tempat yang tenang untuk berbagi cerita, mengabarkan hal-hal yang sudah kami alami selama ini, ataupun sekedar mengingat kisah masa lalu. Untungnya tak jauh dari lokasi Umbul Sidomukti, bahkan masih satu kawasan, terdapat tempat nongkrong yang enak dan nyaman, namanya Pondok Kopi. Letaknya beberapa ratus meter ke atas dari Umbul Sidomukti atau tepat di bawah Basecamp Mawar, tempat start jika ingin mendaki Gunung Ungaran.

Hujan rintik-rintik mulai turun saat kami sampai ke tempat ini. Selapis halimun menutupi pemandangan yang ada di depan sana. Dari tempat ini, seharusnya Rawa Pening terlihat jelas, namun saat ini hanya samar-samar saja. Karena gerimis yang turun pula, kami mengurungkan niat untuk memilih tempat duduk outdoor.

Meski tengah hari tetapi sejuk seketika berubah menjadi dingin saat angin juga ikut mendampingi turunnya hujan. Kami segera memilih hidangan yang bisa menghangatkan badan kami, lucunya meskipun nama tempat ini Pondok Kopi tapi tidak ada satupun dari kami yang memesan kopi. Saya sendiri memesan susu jahe panas. Untuk masalah makanan, kami semua memesan Bakmi Jawa, sangat monoton, empat orang menunya sama. Kudapan singkong susu menjadi makanan pelengkapnya.

Sayangnya pesanan kami tidak disajikan dengan cepat, sehingga ketika dihidangkan di depan kami, karena begitu dinginnya suhu udara, bakmi jawa yang seharusnya berkuah panas itu sudah menjadi hangat bahkan cenderung dingin. Susu jahe masih relatif panas. Untuk menjaga suhunya tidak cepat turun, salah satu teman saya menaruh tatakannya di atas cangkir. Untungnya dia berhasil menjaga panas tidak cepat pergi.
pondok kopi
Singkong susu yahud
pondok kopi
Santapan saya
Siap disantap

Pemandangan ketika cerah
Rasa bakmi jawa dan susu jahenya sebenarnya standar saja, namun singkong susunya yang terasa nendang. Saat hujan sudah reda, kabut mulai menghilang dan matahari muncul kembali, kami pindah tempat duduk ke area outdoor dan kami memesan lagi singkong susu. Pemandangan yang dari tadi kami nantikan akhirnya datang. Rawa Pening terlihat jelas, di sebelahnya juga terlihat bukit-bukit yang bergumul membentuk lekukan-lekukan yang menawan. Ditambah canda, tawa dan cerita tentang masa-masa di kampus dulu yang tak jauh dari buku, pesta dan cinta, ini adalah reuni kecil yang sempurna.