• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 31 Maret 2013

Senyum Pulau Messah

20.41 // by Wisnu Yuwandono // // 5 comments


Pulau Messah, NTT
Halo !!!
Malam sebelumnya ketika saya keluar dari tempat tidur di Pulau Kanawa, semuanya tampak gelap karena memang penerangan sangat minim di luar ruangan, lagipula listrik hanya ada dari jam 18.00 – 23.00 WITA. Hanya jutaan bintang di langit yang tetap bercahaya dan satu tempat yang kelihatan bernyala terang. Saya bertanya pada salah satu karyawan resort pulau apa itu. “Itu Pulau Messah mas, besok kita kesana setelah dari Rinca”, jawabnya.

Kamis, 21 Maret 2013

Balada Ketinggalan Pesawat

23.06 // by Wisnu Yuwandono // , // No comments


Malam tanggal 13 Maret 2013 saya sempat membuka twitter dan kebetulan sekali ada twit orang yang saya follow membahas tentang missed flight yang dialami olehnya. Saya tidak terlalu risau dan menaruh perhatian yang lebih tentang twit itu karena saya tidak pernah mengalaminya dan saya pikir jika saya datang tepat waktu sesuai dengan jadwal check in pesawat pastilah saya akan terbang. Pikir saya. Namun ternyata faktor naik pesawat itu tak semudah itu saja apalagi di daerah timur, untuk informasi saya sedang berada di Labuan Bajo, NTT.

Senin, 18 Maret 2013

Renungan Sukarno

15.59 // by Wisnu Yuwandono // // No comments

Renungan Soekarno, Ende
Rumah Pengasingan Sukarno di Ende
Dipenjarakan di Penjara Banceuy dan Sukamiskin tidak membuat Sukarno jera melawan Belanda. Beliau malah menjadi tambah bersemangat untuk meraih kemerdekaan. Di penjara yang disebut pertama itu pula tulisan Indonesia Menggugat dibuatnya, sebuah pledoi yang begitu terkenal.

Keluar dari Sukamiskin, Sukarno merasakan cobaan yang lebih berat lagi, untuk membatasi pergerakan politiknya oleh Belanda beliau diasingkan di Ende, Flores. Jauh dari peradaban kota dan akses info berita yang sangat lambat membuatnya merasa tergoncang batinnya. Apalagi dijauhkan dengan kawan maupun lawan politiknya membuatnya merasa takut kehilangan sense berpolitik. Sukarno menggalau.