• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Senin, 18 Maret 2013

Renungan Sukarno

15.59 // by Wisnu Yuwandono // // No comments

Renungan Soekarno, Ende
Rumah Pengasingan Sukarno di Ende
Dipenjarakan di Penjara Banceuy dan Sukamiskin tidak membuat Sukarno jera melawan Belanda. Beliau malah menjadi tambah bersemangat untuk meraih kemerdekaan. Di penjara yang disebut pertama itu pula tulisan Indonesia Menggugat dibuatnya, sebuah pledoi yang begitu terkenal.

Keluar dari Sukamiskin, Sukarno merasakan cobaan yang lebih berat lagi, untuk membatasi pergerakan politiknya oleh Belanda beliau diasingkan di Ende, Flores. Jauh dari peradaban kota dan akses info berita yang sangat lambat membuatnya merasa tergoncang batinnya. Apalagi dijauhkan dengan kawan maupun lawan politiknya membuatnya merasa takut kehilangan sense berpolitik. Sukarno menggalau.


Renungan Soekarno, Ende
Bagian dalam rumah
Adalah Inggit Garnasih istri yang selalu setia menemaninya. Dengan penuh kasih sayang seorang istri, dia menjadi pelipur lara bagi sang ksatria. Sifat keibuannya menjadikan Sukarno bisa bangkit dari kegalauan dan tetap bersemangat untuk memerdekakan bangsanya dari kungkungan penjajahan. Inggit dan Ratna Djuami (anak angkatnya) beserta Ibu Amsi mertuanya menemani Sukarno selama di pengasingan.

Sebuah rumah kecil milik Abdullah Ambuwaru di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kota Ratu menjadi tempat tinggal selama di Ende. Rumah sederhana dengan dua kamar tidur yang kecil menjadi saksi bisu selama 4 tahun (1934-1938) tinggal di pengasingan.

Saat itu Ende masih sangat kecil dan masih menjadi tempat endemik malaria. Sayangnya penyakit itu juga menjangkiti sang calon pemimpin negeri. Penyakit ini jugalah yang sering mengganggu kinerjanya di kemudian hari karena malaria adalah penyakit yang kambuhan.
Renungan Soekarno, Ende
Salah satu tempat tidur yang ada di rumah pengasingan
Meski tidak dipenjarakan, namun berada ditempat yang terpencil juga terasa terpenjara. Apalagi berita pergerakan revolusi kemerdekaan tidak terdengar di sini. Satu hal yang terasa lebih enak adalah kebebasan yang lebih dari pada di dalam penjara meskipun dalam kesehariannya gerak-geriknya juga tetap selalu diawasi. Oleh karena itu untuk mengisi kesehariannya, Soekarno melakukan berbagai aktifitas, salah satunya berkesenian. Beberapa naskah tonil dia ciptakan yang selanjutnya dia juga menyutradarainya untuk dipentaskan di Paroki Imakulata yang ada di Ende. Tonil Kelimoetoe begitulah namanya. Disamping mengolah jiwa seninya, dengan tonil itu pula beliau menyisipkan pelajaran tentang kemerdekaan kepada masyarakat. Gelora revolusi itu harus terus disebarkan.

Renungan Soekarno, Ende
Syafrudin yang sekarang menjaga rumah pengasingan
yang sebelumnya diemban oleh ayah dan kakeknya
Sukarno lahir dari suami istri Jawa-Bali. ayahnya Sukemi Sosrodiharjo adalah seorang Jawa yang bekerja sebagai guru dan berteman dengan HOS Cokroaminoto. Ketika bersekolah di HBS (Hoogere Burger School) di Surabaya, Sukarno tinggal di rumah pendiri Syarikat Islam itu. Hal inilah yang membuat Soekarno melek politik sejak kecil. Dari tempat itu pula Sukarno banyak belajar tentang agama Islam. Ibunya adalah Ida Ayu Nyoman Rai, seorang wanita Bali yang mengajarkan adiluhungnya kebudayaan Bali kepadanya. Kebudayaan yang berbaur dengan agama Hindu, yang otomatis juga mengalir dalam didikan dan kasih sayangnya kepada Sukarno. Dari kedua orangtuanya itu Sukarno bisa mendapatkan pelajaran kehidupuan dari budaya yang berbeda.

Ende adalah kota yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani. Ada beberapa pastor yang biasa diajak berdiskusi dengan Sukarno tentang segala hal, begitu pula tentang agama. Begitu dekatnya dengan pastor, itu pula yang membuatnya bisa mementaskan tonil di gudang sebuah gereja. Dengan seringnya berdiskusi dengannya, Sukarno bisa mengenal satu agama lagi. Hal ini membuatnya menyadari bahwa satu agama saja tak bisa menjadi satu landasan utama untuk mempersatukan bangsa. Harus ada formula yang tepat.

Grup tonil yang dia bentuk diberi nama Kelimoetoe/Kelimutu, sesuai dengan danau tiga warna yang letaknya tak jauh dari Ende. Dia adalah pendiri, penulis naskah sekaligus sutradaranya. Ada satu judul sandiwara yang sangat menarik yang dia ciptakan, judulnya adalah "Indonesia 45". Sukarno memprediksi Indonesia akan merdeka pada tahun 1945. Entah kebetulan atau bagaimana hal itu memang menjadi perwujudan yang nyata.

Seringkali ketika risau menghinggapi, Sukarno merenung sendiri di bawah pohon sukun di Kota Ende. Pohon yang letaknya dekat pantai tersebut membuat Sukarno leluasa melihat lautan lepas sambil memikirkan nasib bangsa ini.

“Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.” kenang Sukarno tentang pohon sukun dan Ende.

Diasingkan tak membuatnya merasa terasing. Dimatikan karir politiknya tak membuat semangatnya mati. Dari kota Ende inilah lima butir dasar negara ini terfikirkan oleh sang calon proklamator.

0 comments:

Posting Komentar