• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 28 April 2015

Antara Aku, Kau dan Jakarta

10.49 // by Wisnu Yuwandono // , // 17 comments

Aku, Kau dan Jakarta

Masih pagi sekali ketika kutulis ini. Sketsa wajahmu tergambar dalam secangkir kopi yang meski tanpa gula tapi tak terasa pahit saat kunikmati. Sudah terbayang, bagaimana nanti kita akan menjelajah setapak demi setapak berdua, dan sebelum saat itu tiba, akan kupastikan segalanya telah kupersiapkan dengan baik.

Aku memilih Jakarta sebagai kota untuk menjejakkan kaki kita bersama. Sudah beberapa waktu aku tinggal di kota ini. Aku tahu jika kau kurang menyukai kota ini, aku sebenarnya pun sama denganmu. Tapi akan kubuktikan nanti, Jakarta tak semembosankan itu. Mungkin kau akan membalas pesanku dengan “Kenapa aku yang harus ke Jakarta, bukan kamu yang mendatangiku?” katamu. Tapi, kota ini juga layak untuk dijejaki dan aku sudah mencarikan penginapan untukmu melalui aplikasi Traveloka di ponselku.

Mari kuceritakan sedikit tentang bagaimana rencanaku membawamu berkeliling Jakarta. Kita akan mulai dari pagi-pagi sekali. Pagi itu tenang, pagi itu segar, dan pagi itu syahdu. Lagi pula pagi membuat kita punya banyak waktu jalan-jalan nanti. Layanan Traveloka akan membuat pencarian dan pemesanan akomodasi di Jakarta menjadi lebih mudah lagi. Kita bebas memilih penginapan yang sesuai dengan kebutuhan selama di Jakarta.

Kita akan mulai dengan kawasan Kota Tua dan berkeliling museum di sekitarnya. Jajaran bangunan klasik yang membawa kita seolah hidup kembali di awal abad 19. Kau yang begitu bangga dengan keragaman budaya nusantara, sangat berbinar saat kuajak melangkah masuk ke Museum Wayang. Di museum, jemarimu menelusuri setiap etalase yang memajang beragam karya daerah, ‘Aku baru benar-benar menyadari, nusantara itu ternyata begitu kaya,’ katamu takjub.

Selesai dengan museum, matamu tertarik melihat sepeda onthel warna-warni di kawasan ini. Kau meraih topi yang tak kalah berwarna di atas sepeda, “Mari kita adu cepat!” katamu sambil mengerling. Aku tak mau kalah, buru-buru meraih sepeda sejenis. Tak menunggu lama, kita sudah berada di atas sepeda masing-masing. Meski awalnya kau mengajakku balapan, tapi justru kau tak tahu harus ke mana, malah memilih mengekor di belakangku dan rencana adu cepat tinggallah angan.

Sampai kemudian tawamu terhenti dan berganti dengan ekspresi bingung ketika lautan menjadi pembatas daratan dan jajaran pinisi membentengi dermaga. Ini Pelabuhan Sunda Kelapa. Kau singkirkan sepedamu segera, “Sepeda tak bisa melaju di atas air,” katamu sambil menunjuk perahu nelayan. Demi menikmati rona bahagiamu, aku membuat kesepakatan dengan nelayan, kita akan berlayar ke laut menggunakan perahunya.

Pelabuhan Sunda Kelapa terlihat lebih cantik saat senja. Kita bisa melihat deretan kapal dengan latar cahaya jingga. Kita tak membutuhkan kamera. Keindahan ini ada baiknya kita nikmati sendiri, tanpa harus membaginya dengan yang lain. Lagipula buat apa kamera ketika aku bisa mengabadikan pesonamu dalam pikiranku. Rupanya aku salah, senja tak lebih cantik daripada kilau wajahmu dan gambaran itu sudah terpasang dan terbingkai di dalam otakku.

I wish I was a camera sometimes, So I could take your picture with my mind, Put it in a frame for you to seeHow beautiful you really are to me (Bon Jovi)

Menjelajah Jakarta memang tak cukup hanya sehari. Berkeliling Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa tampaknya tak cukup membuat kita lelah. Di malam hari, kita kesampingkan masalah istirahat dan lebih memilih menikmati makan malam romantis di rooftop hotel di Jakarta, tempat kita menginap.

Keesokan harinya, aku sudah punya rencana untuk kita berdua. Aku memilih tempat yang agak asing untuk orang-orang umum. Bukan tempat ramai yang biasa dikunjungi orang banyak. Justru tempat ini adalah tempat yang sangat sepi bahkan membayangkannya pun banyak yang merasa ngeri. Karena tempat ini adalah sebuah makam. Ereveld Menteng Pulo namanya. Sebuah makam tempat bersemayam para tentara Belanda yang dikelilingi bangunan gedung-gedung tinggi menjulang.

Aku, Kau dan Jakarta
Ereveld Menteng Pulo
Melihat jajaran makam yang membentuk pola yang sangat rapi itu membuat kita merenung, hidup ini begitu singkat, jangan pernah menyia-nyiakan waktu yang sangat singkat itu hanya untuk hal-hal yang tak berguna. Aku bersyukur karena aku mengenalmu dan jatuh cinta padamu, membuatku merasa hidupku tak pernah sia-sia.

Jakarta membuatku berangan-angan lebih tentang kisah perjalanan kita di masa depan. Menjelajah nusantara lebih dalam dan jauh lagi, agar kita punya banyak cerita untuk anak-cucu nanti. Selanjutnya kau boleh mengambil alih perencanaan ini, kau yang memilih mana kota setelah Jakarta yang akan kita kunjungi, terutama untuk bulan madu kita nanti.

17 komentar:

  1. Keren sekali bang tulisanya :)
    Salam kenal

    BalasHapus
  2. WAH INI SERIUS BANGET TULISANNYA!! wkwk
    keep up the good work. Aku wis ngenten2i adegan "syur" tapi kok ga ada. Kecewa saya.. ghaghagha

    BalasHapus
  3. ciieeeeee ... keren bang (y) .. salken yeee :)

    BalasHapus
  4. cieeeee... romantis-romantisaaannnn.....

    BalasHapus
  5. tulisan dari ahli bikin puisi nih mah, heheheh

    BalasHapus
  6. Kopi tanpa gula, nice. Keep drinking Indonesia Coffee and enjoy Jakarta yo :D

    BalasHapus