• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 08 Maret 2014

Air Terjun Oenesu yang Terlupakan

12.12 // by Wisnu Yuwandono // , , // 8 comments


Air Terjun OenesuSelepas mengunjungi Gua Kristal, kami melanjutkan menuju ke objek lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Nama tempatnya adalah Air Terjun Oenesu. Namanya sama dengan nama desa tempat air terjun tersebut berada. Untungnya GPS masih bisa menunjukkan letaknya, jadi tidak perlu sering-sering berhenti dan bertanya pada penduduk.

Jalan yang kami lalui sangat sepi karena kami memilih jalan pintas dari posisi Gua Kristal. Untungnya kualitas jalannya bisa dibilang tidak jelek, hanya beberapa titik saja yang bergelombang. Sawah dan ladang menjadi pemandangan di sepanjang jalan sedangkan rumah-rumah masih sedikit, hanya beberapa kali melewati perkampungan.

Sekitar setengah jam saja waktu yang ditempuh dari Gua Kristal kami sudah sampai di daerah Oenesu. GPS tak mampu menunjukkan di mana letak air terjun, saat itulah kami bertanya pada tante yang sedang berada di pinggir jalan. Ternyata kami sudah dekat dengan temppat tujuan, hanya beberapa ratus meter lagi ada papan petunjuk Air Terjun Oenesu ke kanan, atau keluar dari jalan utama. Justru sudah mau sampai lokasi kualitas jalan menjadi jauh menurun.

Air Terjun Oenesu
Gerbang dan Pos Retribusi
Sebuah gerbang berbentuk gapura yang terlihat masih baru menjadi pintu masuk objek wisata ini. Sayangnya pos jaga yang sekaligus menjadi tempat pos retribusi kondisinya berbanding terbalik, malah bisa dibilang mengenaskan. Tidak ada yang bertugas di sana, jadi kami melenggang masuk begitu saja. Tempat parkir beralaskan paving block, ukurannya tidak begitu luas dan terlihat sepi hari itu. Selain kami hanya ada satu motor lain yang terparkir di sana, mungkin karena ini bukan akhir pekan atau hari libur jadi tidak ada yang berekreasi di sini atau memang tempat ini kurang menarik bagi warga Kupang, entahlah.

Memandang di sekitaran parkiran terlihat kios-kios yang tak terawat dan tertutup rapat. Sebenarnya perut kami sudah berteriak untuk minta diisi. Sepanjang perjalanan dari Gua Kristal kami tidak menemukan warung makan. Memang jarang sekali warga asli yang berjualan makanan, kebanyakan adalah orang Jawa atau Minang dan mereka tidak melebarkan sayap usahanya di sepanjang jalan yang kami lalui. Harapan bahwa di obyek wisata akan ada penjual juga telah sirna, mau tak mau suara keroncong di perut harus di tahan sampai kembali ke Kota Kupang.
Air Terjun Oenesu
Rumput-rumput yang tak terawat
Selain kios, ada beberapa gasebo yang berdiri di petak taman yang luasnya mungkin sekitar setengah lapangan bola. Sayangnya nasib gasebo ini tak lebih bagus dari kios atau pos retribusi. Ada yang atapnya berlubang bahkan miring dan sangat kotor. Yang terlihat tumbuh dengan bagus adalah rumput ilalang, karena pertumbuhannya tidak ada yang mengendalikan sehingga ketinggiaannya merusak pemandagan dan membuat nyamuk senang bersembunyi di sana. Kaki dan tangan saya langsung terdapat beberapa bentol-bentol dari nyamuk, mungkin ini adalah ucapan selamat datang dari mereka.

Air Terjun Oenesu
Gasebo yang rusak
Jangan tanya tentang sampah. Beberapa tempat sampah yang ada terisi oleh sampah yang banyak. Tempat sampah tersebut sebenarnya belum penuh akan tetapi sampah di sekitarnya juga sangat banyak. Mungkin orang-orang merasa di sekitar tempat sampah juga merupakan tempat membuang sampah. Seharusnya sampah-sampah itu juga selanjutnya diolah lebih lanjut lagi, tapi yang ada sampah itu dibiarkan teronggok membusuk di sana. Baru datang tapi kesan pertama yang terlihat adalah tak terawat.

Letak air terjun tak jauh dari tempat parkir. Setelah melewati deretan kios yang tutup, ada tangga turun menuju air terjun. Sebenarnya dari atas pun sudah terdengar gemericik air yang semakin mendorong kaki untuk terus melangkah menuruni tangga menuju bawah. Tak terlalu banyak tangga yang harus dilewati dan ketika sampai, pengorbanan untuk mencapai sini tak ada artinya karena pemandangan yang dilihat sangat menarik yaitu air terjun dengan empat tingkat.
 
Air Terjun Oenesu
Air terjun tingkat pertama

Air Terjun Oenesu
Air terjun tingkat kedua

Jalan yang akan kita lalui ketika sampai paling bawah berupa jembatan yang melintang di atas sungai, tepatnya di depan tingkat air terjun yang paling bawah. Hal ini membuat pengunjung akan merasa berada di tengah-tengah sungai dan tepat berada di hadapan air terjun. Memang debit air dari sungai tidak terlalu besar sehingga derasnya air terjun juga tidak seberapa, air pun tidak terlalu jernih namun juga tidak berwarna coklat keruh. Warna air antara hijau dengan biru. Hal ini tetap tidak terlalu mengurangi keindahan air terjun Oenesu.
Air Terjun Oenesu
Air Terjun Oenesu

Dengan potensi yang dimiliki seharusnya pemerintah Kupang harus bertindak dengan baik agar kondisi obyek ini terselamatkan. Letak Oenesu yang hanya berjarak sekitar 17 km dari Kupang seharusnya menjadi alternatif wisata yang menjanjikan. Akan tetapi dengan jarak yang tak begitu jauh itupun pemerintah seperti tidak tahu bahwa tempat ini sangat terbengkalai.

8 komentar:

  1. Apa ini ya air terjun yg pernah saya kunjungin hampir 7 tahun yang lalu?? *lupanamanya
    Mirip gitu batuan di air terjunnya, tp saat itupun airnya tidak jernih makanya saya gak mandi disitu.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin saja ini mas,,tapi kalo agak jauh dr Kupang ada air terjun Oehala di daerah Soe

      Hapus
  2. ahhh selalu sedih kalo lihat alam yang dikotori banyak sampah.
    Ntah kapan ya masyarakat bisa punya kesadaran buat menjaga keindahan alam :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak,,sayang bgt
      kesadaran msyarakat kita masih kurang :(

      Hapus
  3. akh jadi inget masa lalu ne hehe..akh saya belum pernah review air terjun ini

    BalasHapus
  4. itu bentuknya mirip gorilla ama singa loh kak di oenesu ini

    BalasHapus