• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 24 Mei 2014

Antara Maumere dengan Mbay

09.47 // by Wisnu Yuwandono // , // 4 comments

Maumere
Kantor Bupati Sikka
Perjalanan ini harus dimulai lagi meski perut belum sempat diisi oleh nasi. Jam 7 pagi bus sudah menjemput kami di tempat menginap. Kebetulan jalan di depan penginapan memang menjadi jalur bus yang akan kami tumpangi. Tadi malam kami sudah bilang ke pegawai penginapan untuk memesankan angkutan. Bus ini berangkat dari Maumere menuju Mbay, ibukota Nagekeo. Ya, kami hendak menuju Mbay.

Tujuan utama kami sebenarnya adalah Riung (baca : Arung Riung). Dari Maumere untuk bisa sampai ke sana adalah lewat Mbay. Untuk sampai Mbay ada dua pilihan, lewat jalur selatan melalui kota Ende atau langsung ke Mbay melalui jalur pesisir utara Pulau Flores. Kami memilih pilihan yang kedua.

Untungnya tadi malam kami sempat membeli gorengan dan tak sempat menghabiskannya. Beberapa potong masih tersisa untuk sekedar menjadi pengganjal perut yang masih kosong. Sungguh tidak enak apabila perut kosong dan harus berada dalam bus dalam waktu yang lama. Lagi pula memang sebaiknya lambung kami diisi lebih dahulu, karena kami hendak minum dimen, sejenis obat anti mabuk. Kami memang memiliki penyakit gampang mabuk jika berada dalam kendaraan yang melewati jalan yang berkelok-kelok. Walaupun sejujurnya kami tidak tahu bagaimana jalanan yang akan dilalui.

Setelah meninggalkan penginapan kami yang letaknya di dekat kantor Bupati Sikka (Maumere adalah ibu kota Kabupaten Sikka), bus melewati jalan yang bagus di pesisir pantai Maumere. Bus yang kami tumpangi bukanlah bus besar seperti bus antar kota di Jawa. Bus ini ukurannya tanggung, seperti ukuran bus kota kalau di Yogyakarta. Penumpang tidak terlalu banyak, masih ada beberapa kursi yang masih kosong. Namun meski kursi tidak semua diisi oleh penumpang, tetap saja bus ini terlihat penuh karena bawaan penumpang cukup banyak, seperti kardus bahkan ada karung.

Tak terlalu lama setelah lepas dari Kota Maumere, bus benar-benar melewati pinggiran pantai sementara di sisi sebaliknya adalah perbukitan hijau. Pemandangan yang indah sekali. Pantai pasir putih berbentuk teluk dengan ombak sangat kecil yang sangat sepi, dan pemandangan ini tak hanya sekali atau dua kali tapi banyak sekali kami melewati pantai seperti itu. Jalanan mulai berkelok mengikuti bentuk pantai yang melengkung dan karena tiap pantai dipisahkan oleh bukit maka jalanan juga naik turun. Saat itu pula seorang ibu yang duduk di belakang kami mulai terserang penyakit mabuk. Sebelum kami tertular, dimen yang kami minum tadi mulai menunjukkan reaksinya. Asal tahu saja, dimen ini menurut saya efek telernya lebih hebat daripada antimo. Jadi meskipun pemandangan yang terhampar begitu bagus, kantuk tetap tak bisa kami tahan. Kami terlelap.

Di tengah tidur kami yang nyenyak kami terbangun karena bus berhenti dan penumpang diminta untuk turun. Karena nyawa belum sepenuhnya terkumpul setelah tidur, kami bingung, ada apa ini. Kami berdua adalah penumpang terakhir yang belum turun selain sopir. Bahkan penumpang lain sudah berjalan meninggalkan bus. Kami selanjutnya turun mematuhi perintah awak bus. Jalan aspal ini benar-benar berada di tepi laut, dan ternyata jalan tepat di depan kami ambles. Jalan terputus.
 
Maumere Mbay
Jalanan yang ambles
Saya bertanya-tanya dalam hati, apa kami hanya sampai di sini saja. Apa jalan ambles ini bisa dilalui bus. Ternyata penumpang diturunkan agar muatan bus menjadi lebih ringan sehingga bisa melewati jalan ambles itu, tentu sopir juga melakukan tugasnya dengan baik karena bisa melaluinya dengan lancar. Kami bersyukur dan masuk bus lagi untuk melanjutkan perjalanan dan kembali tertidur.

Sekali lagi kami terbangun karena bus berhenti. Kali ini bukan karena jalan rusak karena sepanjang yang kami lihat di depan jalanan mulus-mulus saja. Kami sudah tidak berada di pinggir laut, kiri kanan jalan adalah rumah penduduk. Ternyata kami berhenti untuk makan pagi atau malah siang, karena saat itu pukul 10 lebih. Di daerah entah apa namanya saya lupa, yang jelas sudah memasuki Kabupaten Ende, di sini kami makan di warung masakan Padang. Bayangkan di pedalaman seperti ini ada Warung Padang, hebat sekali orang-orang Minang ini dalam merantau. Selanjutnya beberapa kali dalam perjalanan kami di NTT, warung Padang menyelamatkan kami dari kelaparan.

Yang menarik dari warung ini adalah meski berada di pelosok, bangunannya pun sebenarnya sederhana saja, akan tetapi mereka memiliki TV LED dengan layar yang cukup lebar, saya perkirakan ukurannya 42 inch. TV yang sangat lebar untuk wilayah pedalaman, bahkan orang kota pun jarang yang mempunyai TV dengan ukuran seperti itu. TV itu masih dilengkapi dengan layanan TV kabel Orange TV yang sedang ngetren di kota karena memiliki hak siar Liga Inggris. Saat kami makan, tayangan yang diputar adalah channel HBO dengan film box office nya. Lengkap sudah. Ternyata pedalaman tak semuanya tertinggal seperti bayangan saya.

Pinggiran laut sudah bukan menjadi jalur kami selanjutnya. Karena selain memasuki daerah pemukiman warga, jalur kami selanjutnya adalah hutan. Saya tak begitu melihat detail suasananya karena efek dimen masih menancap di saraf, sepanjang jalan selanjutnya hanya sesekali saja saya membuka mata. Penumpang sudah mulai banyak turun, hanya tinggal beberapa saja yang masih berada di dalam bus, berarti hanya sedikit pula yang tujuannya adalah Mbay.

Di dalam tidur, saya harus sering kali dipaksa bangun karena kepala saya terbentur besi yang menjadi pegangan di jendela.  Jalan di tengah hutan ini sangat jelek hingga membuat bus bergoyang ke kanan-kiri, tentu saja penumpang di dalamnya juga mengikuti arah goyangan. Hasilnya kepala saya benjol karena beberapa kali dengan keras terbentur besi. Namanya juga orang lagi tidur, digoyang dikit saja pasti juga tidak bisa menghindar.
 
Mbay, Nagekeo
Mbay yang sepi
Sekitar jam 2, akhirnya kami sampai di terminal Mbay. Angkutan ke Riung sudah tidak ada, jadi kami menginap semalam di kota ini. Mari kita menikmati suguhan kota Mbay yang sangat sepi.

*Perjalanan ini dilakukan pada 4 Februari 2014

4 komentar:

  1. hahhahhahhaa
    saya kira cuma saya seorang yang perlu antimo saat melakukan perjalanan jauh.
    Dimen akan saya coba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku ga tau sih nama asli obat itu, partnerku tuh yang ngasih. Tapi beneran, menurutku efeknya lebih dahsyat, hahaha...

      Hapus