• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Jumat, 25 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 4)

17.52 // by Wisnu Yuwandono // , // No comments


Rinjani, Lombok
Segara Anak dilihat dari Plawangan

“Somewhere over the rainbow
Way up high,
There's a land that I heard of once in a lullaby.




Somewhere over the rainbow
Skies are blue,
And the dreams that you dare to dream
Really do come true.”
(Ey Harburg)

15 Mei 2012

Mungkin sebagian besar diantara kita pernah bermimpi tentang suatu tempat yang sangat indah. Kebanyakan imajinasi itu ada waktu masih kecil, walaupun tidak sedikit yang tetap menghiasi pikiran ketika sudah beranjak dewasa. Dan bahkan tetap mencarinya. Saya sendiri selalu ingin pergi ke dunia dimana hanya ada keindahan dengan suara angin yang tenang dan gemericik air.

Pagi itu mungkin impian tentang negeri khayalan itu mulai terlihat. Pagi yang lebih cerah dari kemarin, meski kabut masih sedikit memeluk sinaran mentari. Puncak terlihat dari Pelawangan, tapi bukan itu sajian utamanya. Layaknya panggung opera ketika dibuka tirai penutupnya, yang seketika itu terlihat dekorasi panggung beserta para aktor dan aktrisnya yang sedang menari, menyayi bahkan berdansa, lalu riuh tepuk tangan dan decak kagum penonton dari bangku atau dari balkon. Nah, saya sekarang ini sedang duduk di balkon kelas VIP dalam pertujukan seni, bedanya bukan opera.Kabut yang berperan sebagai tirai panggung sedikit demi sedikit pudar menampilkan pesona keindahan. Hei pertunjukan sudah dimulai kawan. Pelan-pelan terlihat air, lalu meluas menjadi kolam raksasa. Danau Segara Anak, ya itulah sajian utamanya. Dikitari oleh punggungan-punggungan gunung yang membentuk barikade pelindung dengan pohon-pohon yang menghijau sebagai hiasan dan birunya langit menjadi atap, ahh perpaduan yang begitu sempurna. Dan seperti penonton yang merangsek maju untuk melihat artis pujaannya, kali ini kami juga akan menuju ke tempat itu.

Barang-barang sudah dipacking setelah selesai sarapan, walaupun sebenarnya hari sudah mendekati siang. Tenda yang awalnya dibawa porter ketika naik, sekarang ditenteng oleh Pak Djoko (yang kemudian nantinya bergantian dengan kimwur). Kami hanya menyewa porter sampai Plawangan saja, karena merasa kami akan kuat ketika perjalanan menuju danau dan turun lewat senaru, sekaligus untuk mengirit ongkos karena biaya porter lumayan mahal, sekitar 125 rb/hari.

Rinjani, Lombok
Jalanan menuju Segara Anak
Diawal perjalanan sempat rintik gerimis turun walau tak berapa lama kemudian langit benar-benar cerah dan menyengat. Jalan turun menuju danau sangat berbahaya ketika belum jauh dari Plawangan. Batu-batuan yang licin ditambah jalan yang sempit membuat kami harus sangat berhati-hati dan fokus dengan apa yang kami pijak. Apalagi jurang menganga di depan sana siap menelan siapa saja yang lengah. Fokus ke jalan sepertinya hal yang sangatlah susah, bagaimana tidak di kejauhan sana pemandangan yang menawan mata seperti memanggil terus-menerus untuk dilihat, sementara di depan sana, walaupun disebut jurang tapi pemandangannya tak kalah bagus, dengan air yang mengalir diantara lembah yang sesekali tertutup awan.

Rinjani, Lombok
Segara Anak yang mulai dekat
Setelah sekitar satu jam perjalanan, trek mulai mendatar dengan tikungan yang sangat tajam. Tepukan riuh penonton menggema ketika Lorenzo berhasil mendahului Stoner saat Stoner menambal bannya. Haha sori-sori malah ngelantur :)). Jadi jalananya sekarang memang datar, tapi panjang banget rasanya. Air juga mulai menipis dan matahari sungguh mengeringkan tenggorokan. Ketika melewati sungai yang tidak mengalir terpaksa saya minum air di genangan yang tertampung di batu-batu. Pemandangan sebenarnya masih sangat menakjubkan dengan ilalang berwarna hijau, tekstur lembah dan jurang yang menawan, ditambah gumpalan awan di langit yang biru, dan lagi di depan sana danau menunggu.

Tepat jam 3 sore, kami sampai di base camp Danau Segara Anak. Suasanya cukup rame disini. Banyak tenda-tenda yang sudah dibangun, mungkin sebagian sudah dari kemaren. Banyak juga para pemancing melakukan aktivitas nambang, haha pemancing ya aktivitasnya mancing lah :p. Ada pendaki yang memang sengaja membawa pancing, ada juga para porter yang memancing untuk para pendaki yang memakai jasanya, dan ada juga pemancing yang memang ke rinjani niatnya untuk mancing, bukan untuk mendaki.

Rinjani, Lombok
saya berpose di dekat air terjun
Air danau yang sangat melimpah ini sebenarnya tidak boleh serta merta langsung bisa diminum, karena mungkin kandungan belerangnya cukup tinggi, meskipun ikan masih bisa hidup. Kecuali terpaksa sih :p. Tak jauh dari danau ada sumber air yang relatif lebih bersih daripada air di danau. Awalnya pak Djoko dan Bastian yang mengambil air, tapi karena dirasa masih kurang dikirimlah pasukan kedua untuk mengambil air. Saya, kimreng dan Hasan lah orang yang beruntung itu.

Air danau yang melimpah ruah itu mengalir membentuk sungai dan air terjun. Nah dalam perjalanan mengambil air bersih itu, kami melewati air terjun tersebut, yeiiii. Setelah semua botol tempat air terisi, tibalah saatnya kami mengunjungi air terjun. Tapi bukan air terjun itu tujuan utama kami, karena disamping air terjun sumber mata air panas. Jadilah kami berendam di kolam air panas, disamping air terjun, oh i called it heaven.

Tak terlalu lama kami berendam, karena banyak pendaki lain yang berdatangan, gantian lah, ga enak kalo berbanyak berendam disana. Konon, beberapa waktu yang lalu ada 3 kolam air panas disini, akan tetapi karena terjadi longsor 2 kolam hancur dan sekarang tinggal satu saja.

Rinjani, Lombok
senja di Segara Anak 
Balik ke camp, saatnya untuk masak buat makan malam. Menunya adalah mie dan sarden. Nikmat sekali menikmati makanan sambil melihat danau di depan mata dengan sinaran senja. Langit menjadi berwarna biru tua dan sebagian semburat jingga menjadi atap dari air danau yang tenang, hmmmm. Ketika langit benar-benar gelap, sekarang giliran ribuan bintang yang bertahta disana, beberapa diantaranya jatuh entah kemana :p. Dan malam itu kami terlelap diiringi lagu-lagu lawas yang dinyanyikan oleh rombongan mas Haekal yang ngecamp di sebelah, bawa gitar juga mereka #okesip.


Hamparan langit maha sempurna, 
Bertahta bintang - bintang angkasa
Namun satu bintang yang berpijar, 
Teruntai turun menyapa ku

Ada tutur kata terucap, 
Ada damai yang kurasakan
Bila sinarnya sentuh wajahku, 
Kepedihanku pun... terhapuskan


Alam rayapun semua tersenyum, 
Merunduk dan memuja hadirnya
Terpukau aku menatap wajahnya, 
Aku merasa mengenal dia...



Tapi ada entah dimana, 
Hanya hatiku mampu menjawabnya
Mahadewi resapkan nilainya, 
Pencarianku pun... usai sudah

0 comments:

Posting Komentar