• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Rabu, 23 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 2)

14.13 // by Wisnu Yuwandono // , // 2 comments


Rinjani, Lombok

13 Mei 2012
Pagi sebelum mentari menghangatkan bumi, kami sudah menggerakkan tubuh dengan berkemas mengepak barang bawaan ke dalam backpack masing-masing. Dengan pertimbangan seksama, maka diputuskan untuk menyewa satu porter karena saya tidak akan kuat membawa barang, haha. Alhasil barang yang sangat memakan ruang dan berat dioper ke mas porter, yaitu tenda. Jadi barang yang dibawa porter adalah tenda, air mineral 1,5L jumlahnya 8 botol, beras, dan tubuh saya, ups ga ding :D. Yang penting beban porter maksimal 25 kg. Beban bawaan tiap orang tidak terlalu berat, saya sendiri mungkin membawa beban sekitar 10kg lebih. Walaupun sebagian barang sudah dibawa porter, tetap saja beban segitu cukup menguras tenaga karena perjalanan yang ditempuh sangat panjang.
Rinjani, Lombok
Gerbang Pendakian Rinjani via Sembalun (photo courtesy of Djoko Soetono)
Oh ya saya akan memperkenalkan anggota dulu. Yang pertama adalah pria bersahaja, muka rata, dan banyak ingusnya, kecil kerempeng dan bikin iba, nah itu saya :(,haha. Yang kedua adalah M. Fathkul Hakim, pembalap, pemuda berbadan gelap yang merupakan pencetus ide pendakian ini. Selanjutnya adalah Nor Hasan karyawan PLN yang kabur dari pekerjaannya di pulau antah berantah untuk mengikuti petualangan ini, badannya tua dan semangat juga tua, hehe. Selanjutnya adalah 4 karyawan pabrik pupuk terbesar se Gresik, silakan tebak perusahaan apa itu :p. Pertama adalah Hakim Rahman yang biasa dipanggil Hakim duwur yang masuk dalam panitia perencana pendakian. Lalu ada Pak Djoko Soetono, pemuda yang umurnya mendekati 50 tahun, tapi semangatnya 17 tahun lebih tua, haha, pak Djoko memiliki stamina paling prima diantara kami dan memilik kata andalan yaitu 'masuuukkk...'. Sebastian Nababan, pemuda asal Pekanbaru dengan perawakan besar dan tenaga yang tidak sebesar badannya. Risang Pradipta, yang belakangan saya ketahui dia adalah anak dari dosen pembimbing akademik saya, dunia begitu kecil. Dan yang terakhir dan merupakan satu-satunya wanita dalam kelompok ini dan menjadi hiasan diantara laki-laki buram, Zakiyah Derajat, atau biasa dipanggil Zaki atau Jeki atau Jeck, panggilannya banyak asal bukan Ojek atau Aki.


Rinjani, Lombok
perjalanan ke pos 1
Dengan diiringi doa, start dimulai pukul 8.00 WITA tentu terlebih dahulu foto di bawah pintu gerbang pendakian via Sembalun. Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan tanah berbatu yang landai. Banyak dari rombongan lain yang menggunakan jasa ojek untuk sampai di titik dimana motor bebek sudah tak sanggup melewati. Cukup jauh juga lho, nyesel deh ga ikut naik ojek :|. Setelahnya perjalanan melewati padang ilalang yang sangat luas, indah sekali. Subhanallah, kata yang sering keluar dari mulut saya ketika itu. Beberapa kali saya juga membentangkan kedua tangan untuk menyentuh ilalang, seperti terbang rasannya. Kalau di Merbabu pemandangan seperti ini hanya ada di dekat puncak (via Selo), disini sejauh mata memandang adalah sabana dengan warna antara hijau dengan kuning. Sayang mendung dan rintik hujan mulai menemani tiap langkah kaki. Saya agak takut untuk mengeluarkan kamera karena walaupun hanya gerimis tapi rintiknya konstan, tak berkurang.



Hampir 3 jam perjalanan baru sampailah di pos 1. Pos 1 terletak di tengah-tengah padang ilalang. Dari sini laut utara Lombok bisa terlihat. Apasih nama lautnya, laut Bali bukan ya??ga jago geografi nih :D. Di tempat ini banyak yang beristirahat, ada beberapa bule juga. Dan pasangan bule di depan saya tiba-tiba melakukan adegan ciuman, sialannn, jadi kepengen kan,haha.

Rinjani, Lombok
Pos 1
Perjalanan dilanjutkan menuju pos 2. Landscapenya tidak jauh berbeda dengan trek ke pos 1, Cuma bedanya kemiringan jalannya sudah bertambah. Rintik hujan tetap saja masih menemani walaupun kadang juga diselingi dengan sengatan matahari. Pos 2 tidak terlalu jauh jaraknya dari Pos 1. Butuh 1,5 jam untuk mencapainya. Pos 2 letaknya ada di dekat sebuah jembatan. Saat itu sih tidak ada air yang mengalir dari sungai di bawahnya. Karena jam menunjukkan waktu makan siang, ditempat ini banyak sekali pendaki yang beristirahat dan masak. Sementara itu walaupun sebenarnya saya sudah kepayahan dan kelaperan, ternyata diputuskan untuk tidak masak disini, oh crap. Sebagian besar rombongan belum merasa lapar katanya. Oke-oke, untuk mengganjal perut saya makan beberapa potong coklat.



Istirahat di pos 2 tidak terlalu lama, perjalanan segera dilanjutkan ke pos berikutnya. Diawal perjalanan matahari menyengat kulit ditambah trek yang mulai menerjal, sungguh menguras tenaga. Sabana tetap menjadi teman yang setia, disamping punggungan gunung semakin terlihat jelas di depan. Selepas sabana, trek semakin terjal dan sabana digantikan dengan tumbuhan sejenis lamtoro. Gerimis mulai turun lagi, dan trek mulai licin. Sering kali kami melewati jembatan. Oh ya disini jembatan dibangun dengan baik, dan konstruksinya pun cukup bagus, sehingga keselamatan pendaki tidak perlu dikhawatirkan ketika melewatinya, kecuali kalo pendakinya sedang mabok.

Lewat jam 2 kami sampai di Pos 3. Letak pos ini berada di sungai yang kering, sedang disampingnya ada tebing-tebing yang menjulang tinggi, ada juga yang membentuk seperti gua sehingga bisa digunakan sebagai tempat berteduh dari air hujan. Dan akhirnya kami masak juga,hehe. Menu kali ini adalah mie instan, menu itu dipilih untuk menyingkat waktu masak. Mie terasa sangat nikmat dimakan di gunung, entah kenapa tidak ada iklan mie yang syutingnya di gunung, padahal itu makanan pokok sebagian besar pendaki lho.

Senja semakin mendekat, rombongan dipecah menjadi 2. Rombongan pertama dengan speed yang tinggi berangkat dulu bersama porter. Diharapkan nanti ketika rombongan kedua yang speednya rendah sampai di pelawangan tenda sudah siap pakai. Tentu saja saya masuk rombongan kedua :D. Jam 4, rombongan kedua baru start dari pos 3. Rintik hujan semakin sering menyirami, beberapa kali kami harus menggunakan jas hujan agar baju tidak basah. Trek kali ini baru benar-benar mendaki, terjal dan licin. Baru beberapa langkah ke atas tubuh ini minta untuk diistirahatkan. Apalagi salah satu rombongan memiliki masalah dengan lututnya yang memaksanya untuk cepat berisirahat ketika beban lututnya semakin bertambah, sebut saja namanya Hasan :D. Saya sih memanfaatkannya untuk mengambil napas,hehe. Gerimis berganti dengan hujan ketika mentari menghilang. Gelap dan hujan berpadu dengan trek terjal dan licin, bad combination. Apalagi perut mulai berteriak kelaparan lagi. Satu per satu tanjakan terus dilewati, tanpa tahu berapa lama lagi tempat camp bisa digapai. Dipikiran saya saat itu hanya mensugesti diri bahwa camp sudah dekat, tinggal satu tanjakan lagi, begitu terus. Dan memang saat waktu menunjukkan jam 8 malam, kami menggapai camp yang ada di pelawangan. Pak Djoko, pendaki tertua di rombongan kami menyambut, rasanya ceessss seperti es yang mencair. Satu tenda sudah dibangun, sedang satu tenda lagi belum dibangun karena frame terbawa oleh rombongan kami.

Satu step sudah terlewati, dan satu step lagi menghadang di depan. Tetap semangat,,kami tidur dulu ya :p

“Yesterday, just a photograph of yesterday and all its edges folded and the corners faded sepia brown and yet it's all I have of our past love, a postscript to its ending” Al Jarreau - Spain

2 komentar: