• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Kamis, 05 Juni 2014

Kebiasaan Bersahabat dengan Lingkungan

09.34 // by Wisnu Yuwandono // // 14 comments

Sumber daya alam adalah pendukung utama dalam kehidupan makhluk hidup. Selama ini kita selalu berkoar-koar bahwa kita adalah bangsa dengan sumber daya alam yang melimpah ruah hingga seolah-olah dalam pikiran bawah sadar kita terasa bahwa itu semua tak akan pernah habis. Tapi apakah benar demikian?



Secara umum SDA (sumber daya alam) dibagi menjadi dua, terbarukan dan tidak terbarukan. Terbarukan adalah SDA yang bisa diregenerasi lagi, atau juga yang keberadaannya tak terbatas. Sedangkan yang tak terbarukan adalah SDA yang tidak bisa diregenarasi lagi atau kalau bisa butuh waktu yang sangat lama.  Dari dua kategori ini jika dipikir secara sederhana seharusnya untuk memenuhi energi, penggunaan SDA terbarukan lebih diutamakan dan terus diregenerasi keberadaannya sedangkan yang tak terbarukan harusnya digunakan sesedikit mungkin, diirit dan dieman-eman. Kenyataannya tak seperti itu.

Kita ambil contoh SDA tak terbarukan yang paling umum, minyak. Minyak sejatinya adalah sumber dari berbagai macam produk. Jangan pikir minyak hanya bisa menghasilkan minyak tanah dan bensin saja. Bahan-bahan plastik juga adalah turunan dari minyak bumi. Eksploitasi minyak ini benar-benar banyak sekali. Penggunaanya tak kalah banyak, malah lebih banyak. Di Jawa terutama, dari zaman generasi orang tua kita atau mungkin dari generasi di atasnya, mereka dimanjakan dengan harga minyak yang murah dan melimpah. Dari situ terbentuk sebuah perilaku yang menurun ke anak cucu mereka tentang pemanfaatan minyak sebagai bahan bakar. Mereka (kita) memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk memasak dan bahan bakar kendaraan. Penggunaan sebagai bahan bakr kendaraan juga sangat dipengaruhi oleh transportasi publik yang tidak pernah dibagun dengan memadai oleh pemerintah. Kebiasaan untuk mengendarai kendaraan pribadi ini telah tertanam sangat dalam di kebiasaan kita. Jadinya, banyak yang merasa malas untuk menggunakan transportasi publik, meskipun seandainya sudah ada. Itu karena sudah terbiasa.

Lalu apa pengaruhnya? Anggapan bahwa negara kita ini raja minyak itu sudah tidak sepenuhnya benar, bahkan cenderung salah. Jumlah minyak yang kita produksi sudah tidak mampu lagi memenuhi permintaan minyak dalam negeri. Lalu selanjutnya kita mengimpor. Iya kita impor minyak. Jangan pikir kita yang dulu adalah eksportir minyak akan tetap mempunyai predikat eksportir selamanya, sekarang kita sudah kehilangan predikat itu. Lalu karena kita impor minyak dan tak kuasa untuk menanggung besarnya subsidi, maka sedikit demi sedikit harganya dinaikkan. Masyarakat kita yang sebagian besar masih tidak mampu, menghadapi kenaikan harga BBM mereka kaget, kelabakan. Tapi apakah mereka lalu menghemat penggunaan BBM? Jawabannya tidak.

Sekali lagi kebiasaan kita tetap susah dihilangkan. Siapa yang membuat kebiasaan ini berlangsung terus menerus? Saya pikir kita bisa menyalahakan kebijakan pemerintah dari dulu, tidak hanya kebijakan yang sekarang. Moda transportasi massal yang sangat buruk, bahkan banyak tempat malah tidak ada sama sekali membuat kita terbiasa untuk menggunakan kendaran pribadi. Sekarang ketika kendaraan pribadi memenuhi jalanan, mereka baru kebingungan membangun fasilitas transportasi. Terlambat? Iya, sangat. Tapi itu tetap harus dilakukan. Mengapa? Karena cadangan minyak kita semakin menipis. Selain itu kita butuh untuk menciptakan kebiasaan baru, tidak menggunakan kendaraan pribadi. Menciptakan kebiasaan baru itu sangat sulit, setidaknya butuh beberapa masa untuk sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan lama.

Itu adalah salah satu contoh saja dalam penghamburan penggunaan minyak. Masih banyak lagi contoh penggunaanya yang berlebihan. Dengan eksploitasi seperti ini minyak bumi diprediksi tak lama lagi akan habis. Semuanya kebingungan bagaimana untuk memperlama umur ketersediaannya. Berbagai sumber alternatif diupayakan tapi tetap saja tidak terlalu memuaskan bahkan hanya memindahkan kegunaan minyak kepada SDA tak terbarukan lain. Solusi yang kurang solutif.

Di negara yang posisinya berada tepat di garis khatulistiwa dan dianugerahi sebagai negara kepulauan dengan lautan yang berada di sekeliling kita dan juga berada di jalur ring of fire, mereka ini sesungguhnya adalah SDA terbarukan yang seharusnya kita sadari dan memanfaatkannya jauh lebih banyak daripada SDA tak terbarukan. Sayangnya panas matahari yang tak habis sepanjang tahun, angin yang selalu berhembus kencang dan titik panas bumi yang tersebar itu tak dimanfaatkan dengan baik. Sayang sekali.

Kebijakan-kebijakan ini memang membuat semuanya menjadi korban. Bumi kita tercabik oleh pertambangan yang membabi buta, tapi kita sebagai masyarakat tak mendapatkan nilai yang setimpal. Jadi peran apa yang bisa kita mainkan dalam kehidupan untuk mempengaruhi penggunaan sumber daya alam dengan baik? Banyak. Kurangi penggunaan minyak dan turunannya (plastik, dll) (baca : Bawa Botol Minummu Sendiri), gunakan transportasi umum, dan masih banyak lagi kebiasaan bagus yang ramah lingkungan.

Sebenarnya hidup menyatu dengan alam juga bisa menjadi solusi jitu yang bisa diaplikasikan. Sustainable village (baca : Desa Mandiri Energi), begitu kalau tidak salah program utama saat saya mengambil Kuliah Kerja Nyata (KKN) saat di bangku kuliah. Desa seperti apa itu? Desa yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Jadi begini sebuah desa memiliki berbagai macam komoditi yang bisa memenuhi apa yang menjadi permintaan warganya. Kebutuhan listrik didapat dari pembangkit listrik mikrohidro dari sungai mengalir. Nasi didapat dari sawah. Hasil dari kulit bulir padi bisa dimanfaatkan sebagai media tanam tanaman hias. Lalu pupuk untuk sawah didapat dari pupuk kompos yang berasal dari ternak. Peternakan sapi atau kerbau sendiri bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk membajak sawah. Lalu kotoran ternak dan manusia bisa diolah menjadi biogas, menjadi sumber energi untuk masak atau bahkan bisa dijadikan sumber untuk penerangan. Itu hanya beberpa contoh saja karena masih banyak lagi sumber yang bisa dimanfaatkan, bahkan hasil samping dari suatu produk bisa digunakan untuk mendukung proses lain.
Go Green
Sungai yang ada di dekat Desa Waerebo
Waerebo di Manggarai, Flores adalah salah satu desa tradisional yang masih menyatu dengan alam. Untuk membangun rumah, sebagian besar mereka dapatkan dari memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Saat ini mereka masih menggunakan generator diesel untuk penerangan di malam hari. Tapi sebentar lagi mereka akan memanfaatkan air terjun yang tak jauh letaknya untuk dijadikan sumber energi. Di samping itu, mereka juga menjaga hutan di sekitarnya agar air sungai di sekitarnya tetap mengalir.

Ada juga Desa Penglipuran, Bali yang memiliki hutan bambu. Mereka memanfaatkannya tidak dengan membabi buta. Saat membutuhkan mereka ambil seperlunya sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu masih ada waktu untuk tumbuhan bambu meregenerasi, satu ditebang satu ada yang tumbuh. Begitu terus, sehingga tetap terjaga keberadaannya.
Go Green
Hutan Bambu yang ada di Desa Penglipuran
Itu hanya contoh kecil saja. Saya yakin tak hanya dua desa itu saja yang mampu bersahabat dengan alam. Yang disayangkan adalah lebih banyak desa atau wilayah yang tak bisa mandiri, semuanya tergantung dari pasar.

Mari buat pola pikir dan kebiasaan yang lebih bermanfaat dan memihak kepada lingkungan. Tanamkan itu pada diri sendiri lalu menyebar ke orang-orang sekitar kita. Jika semua orang berperilaku seperti itu maka virus kebaikan ini akan terus menyebar. Ingat, sumber daya alam yang banyak digunakan sebagai sumber energi kita selama ini itu tak abadi, sebentar lagi habis. Segera cari alternatif sumber daya alam lain yang tak pernah habis dan ramah lingkungan.

Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati World Environment Day 2014.
Tulisan lain dari teman-teman Travel Bloggers Indonesia :
Menjelajajah Negeri Orang Laut oleh @dananwahyu
Selamat Datang di Masa Depan oleh @yofangga
Tentang Cagar Alam & Etika Jalan-jalan di Alam oleh @catperku
Interview with Tiza Mafira : Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik oleh @discoveryourindo
Dilema Wisata Karimunjawa oleh @fahmianhar
Hutan Kalimantan Nasibmu Kini oleh @backpackerborneo
Apa itu Green Tourism? oleh @FeliciaLasmana
5 Dosa Para Pendaku Gunung yang Harus Dihindari oleh @wiranurmansyah
Jatuh Cinta kepada Hijau oleh @miss_almayra
Ber-Ekowisata bersama Tintin di Hutan Kota Kemayoran oleh @oli3ve
Bersihnya Situ Gunung.. oleh @ubermoon
Menjaga Etika Perjalanan, Menjaga Alam oleh @efenerr
How Environment-Friendly Are You? oleh @duabadai
Musuh Abadi, Plastik oleh @adliencoolz
Ekosistem Pesisir di Ujung Negeri oleh @lostpacker

14 komentar:

  1. berat bahasannya, tapi sangat bermutu. makin sedikit kita menggunakan energi, semoga bumi lebih terselamatkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak muter gitu kak wisnu tulisan nyaa?

      Hapus
  2. Betul kak...kalau perlu bensin diganti sama sebotol air putih aja..buat dorong motor :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha,,pengganti dahaga ya kak :p

      Hapus
  3. postingan ini bikin merenung... apa yang sudah kita perbuat untuk lingkungan kita? apa yang akan selanjutnya kita lakukan? apa jadinya bila nantinya benar-benar sumber daya energi itu habis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saatnya sekarang cepat2 beralih ke sumber yg terbarukan kak,,yg paling feasible skrg adalah geothermal, ramah lingkungan dan tersedia banyak

      Hapus
  4. Sayang, biasanya manusia merusak alam tatkala ia sudah diburu oleh materi. Misalnya saja pertanian organik vs pertanian non-organik. Kuantitas pupuk sintetis yang digunakan pada tanaman pangan untuk menggenjot kuantitas produksi jelas bakal merusak unsur hara di tanah tersebut dan lambat laun tanah tak lagi subur untuk ditanami.

    Menurut saya ya itu, kalau kita ingin melestarikan alam, harap kita redam ambisi untuk mengejar materi. Setuju?

    BalasHapus
  5. Malu rasanya karena saya pribadi belum mampu maksimal menjaga lingkungan tapi setidaknya saya sudah memulai dari hal-hal terkecil, misalnya sudah tidak membuang sampah sembarang tempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dari hal kecil berlanjut yg lebih besar :)

      Hapus
  6. Mari jadikan kebiasaan :) Mulai dari hal kecil dan sebarkan!

    BalasHapus
  7. Mau Dus makanan yang ramah lingkungan? Aman bersentuhan dengan makanan Anda? Coba lihat selengkapnya di sini.

    BalasHapus