• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 29 Juni 2014

Ingatan pada Sebuah Pagi di Bulan Ramadhan

18.36 // by Wisnu Yuwandono // 4 comments

Dulu, setiap pagi setelah sholat subuh di bulan ramadhan, suara ledakan mercon selalu terdengar di daerah rumahku. Aku tak tahu di tempat lain, tapi aku rasa di daerah Bantul atau Jogja hal itu adalah suatu hal yang jamak terjadi. Lambat laun seiring bertambah umurku, aku semakin jarang mendengar ledakan mercon di bulan puasa. Konon katanya mercon sudah dilarang oleh polisi. Memang suaranya yang terdengar keras sering membuat telinga pekak dan membuat jantung berdebar lebih kencang, tapi sejujurnya aku merindukan suasana itu.

Mercon (sumber)
Aku teringat pada satu peristiwa yang sudah lama terjadi. Kira-kira dua dasawarsa yang lalu, saat aku berada di bangku kelas 2 SD. Aku punya teman yang umurnya 3 atau 4 tahun lebih tua dariku. Kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Kami bukanlah teman yang bisa dibilang teman akrab, perbedaan usia memang berbicara. Bisa dibilang aku hanyalah ngintili dia, atau bahasa sekarang aku follower nya. Untuk anak yang masih kecil, mereka selalu ingin agar cepat-cepat menjadi lebih tua, mengikuti orang yang lebih dewasa adalah adalah salah satu cara instan untuk terlihat lebih dewasa, itu pula yang kulakukan.

Nama temanku itu adalah Hadi. Menurutku dia adalah anak yang sangat kreatif. Berbagai permainan dia kuasai dengan mahir, begitu pula dalam membuat alat mainan. Aku ingat dia pernah membuat pedang-pedangan dari kayu. Bentuknya mirip pedang sungguhan. Ada gagangnya, dan bentuk parangnya pun begitu persis. Aku pernah mengambilnya diam-diam, karena begitu ingin memilikinya. Salah satu kreatifitasnya yang lain, yang mungkin orang lain tidak menganggapnya demikian, adalah membuat mercon.

Saat itu ada berbagai jenis mercon yang beredar di pasaran. Yang paling terkenal adalah mercon lombok dan mercon leo. Mercon lombok atau cabe, adalah mercon yang ukurannya kecil seukuran cabe. Suaranya tidak terlalu nyaring dan radius suaranya juga tak begitu luas. Seingatku waktu itu satu bungkus harganya seribu rupiah berisi 10 buah. Sedangkan mercon leo adalah mercon dengan merk Leo. Ukurannya lebih besar daripada mercon lombok, kira-kira sebesar ibujari orang dewasa. Suaranya pun lebih nyaring daripada mercon lombok. Harganya sekitar 250 rupiah per buahnya.

Banyak anak-anak jail yang ingin mendapatkan suara ledakan yang lebih besar daripada mercon Leo, bahkan ingi jauh lebih besar, akan tetapi untuk mencari mercon dengan ukuran yang lebih besar dari mercon Leo gampang-gampang susah. Untuk mengakalinya, mereka membuat mercon sendiri dengan ukuran yang lebih besar dengan menggabungkan beberapa mercon Leo menjadi satu. Hal ini pula yang dilakukan oleh Hadi, temanku.

Hal pertama yang dilakukan adalah membuat pembungkus mercon. Caranya dengan menggunakan kertas dari buku bekas. Kertas tersebut dipotong menjadi dua, lalu disambung hingga panjang. Selanjutnya digulung pada sebuah spidol/pensil, hingga membentuk gulungan yang cukup tebal, seperti gulungan kertas tisu. Ketika dirasa sudah cukup, spidol tersebut ditarik dari gulungan sehingga meninggalkan rongga di tengah gulungan. Rongga ini lah yang menjadi tempat mesiu nantinya. Bubuk mercon atau katakanlah mesiu didapat dari mercon Leo yang dibongkar. Jumlahnya tergantung besar mercon baru yang kita buat. Saat itu, Hadi membuat 2 mercon rakitan beda ukuran. Kalau tidak salah satu mercon dengan isi dari 4 mercon leo, dan satu lagi dengan isi 6 mercon leo.

Bagian bawah mercon disumbat dengan menekan bagian bawah gulungan mercon masuk ke dalam. Setelah satu bagian tersumbat, mesiu dimasukkan ke dalam gulungan. Sumbu mercon bisa diambil dari mercon Leo atau membuatnya sendiri dengan kertas yang dilumuri mesiu. Jadilah mercon rakitan.

Besoknya, seperti pagi yang lain di bulan ramadhan, setelah sholat subuh berjamaah di masjid kami berjalan-jalan keliling sekitar kampung. Sebenarnya setelah sholat subuh ada siraman rohani, akan tetapi tak pernah satupun anak-anak sebaya dengan kami ada yang mengikutinya. Bukannya sholat subuh atau siraman rohani yang disebut dengan subuhan, lucunya kami malah menyebut jalan-jalan setelah subuh itu dengan subuhan, istilah yang terbalik. Tak lupa 2 mercon rakitan dengan ukuran besar yang telah dibuat kemarin menjadi bekal pagi itu.

Beberapa rombongan anak dari kampung lain sudah melakukan tugasnya menyalakan mercon mereka masing-masing. Ada yang suaranya begitu nyaring, tak sedikit pula yang hanya membawa mercon lombok. Ada rasa kompetisi antar kampung, saling berlomba mercon siapa yang paling nyaring. Di pagi seperti itu, jalanan sudah begitu riuh dan kotor oleh tebaran potongan kertas dari mercon.

“Tunggu saja suara dari mercon yang kami bawa pasti yang paling memekakkan telinga”, begitu pikir kelompok kami.

Hadi mengeluarkan mercon yang lebih besar dulu. Dia lalu meletakkannya di tengah jalan yang beraspal. Kami sedikit demi sedikit mundur perlahan menjauhi mercon yang hendak dinyalakan. Hadi mengeluarkan korek dan dengan cepat menyalakan sumbu mercon lalu dengan dia lari menjauhinya. Sumbu seketika itu juga terbakar dan menjalar masuk ke dalam mercon. Kami memerhatikannya dan tanpa aba-aba kami semua menutup telinga.

Kami menunggu ledakan. Tapi beberapa saat kemudian, tetap tak ada ledakan. Padahal sumbu sudah habis terbakar. Apa gerangan yang terjadi dengan mercon jumbo ini.

“Wah mejen mercone!!!” seru salah satu dari kami. Mejen adalah istilah di daerah kami untuk mercon yang tak berhasil meledak. Ada beberapa faktor yang membuatnya demikian. Pertama mungkin karena mesiu dalam keadaan lembab sehingga tak bisa terbakar. Kedua, ukuran gulungan kertas jauh lebih besar dan tak sebanding dengan jumlah mesiu, jadinya mesiu tak mampu menghancurkannya. Ketiga, sumbat tidak terlalu rapat, sehingga ketika mesiu terbakar, dia tidak meledak, tapi malah terbakar seperti kembang api air mancur. Mungkin masih ada faktor-faktor lain lagi. Karena tak muncul tanda kembang api kami menyimpulkan kalau kegagalan ini karena kasus pertama atau kasus kedua.

Setelah ditunggu beberapa saat, kami memastikan bahwa mercon itu benar-benar mejen. Hadi dengan berani mengambilnya lagi. Selanjutnya dia memberikan mercon itu ke teman lain karena Hadi akan menyalakan satu lagi mercon rakitannya. Orang yang menerima mandat membawa mercon mejen itu adalah Rusman. Teman yang seumuran dengan Hadi. Ia tak membawa tas atau sejenisnya sehingga ia hanya menggenggam mercon itu dengan tangan kirinya.

Mercon kedua hendak dinyalakan. Sama dengan prosesi menyalakan mercon pertama tadi, setelah memantikkan api Hadi lalu pergi menjauh.

Sumbu mulai terbakar.

“Dhuaaarrrrr……!!!”

“Dhuaarrrr….!!!”

Ledakannya cukup keras. Potongan kertas mercon berhamburan ke atas seperti confeti. Kami puas dengan suaranya. Meski agak aneh kenapa ada dua suara ledakan mercon. Ahh mungkin cuma perasaan saja, pikir saya.

“Ahhhhhh….” ada suara erangan di sekitar kami. Semuanya saling menoleh mencari sumber suara. Ternyata itu adalah suara Rusman.

“Tolongggg….” erangnya lagi. Dari tangan kirinya mengucur darah segar.

Kami mendekatinya. Telapak tangannya robek. Selain berwarna merah karena darah, sebagian telapak tangannya berwarna abu-abu. Mercon yang divonis mejen tadi ternyata tetap meledak. Naasnya, Rusman membawa mercon itu dengan tangannya.

Mulutnya meringis kesakitan. Tangan kanannya memegang erat pergelangan tangan kirinya. Kami bisa merasakan betapa sakitnya hal itu. Sesekali matanya memejam, dari ujungnya muncul air yang sudah hendak menetes. Kami hanya bisa terdiam menyadari apa yang baru saja terjadi.

Buru-buru kami mengantarnya ke bidan yang tak jauh letaknya. Memang saat itu tak banyak dokter yang ada di sekitar rumah kami. Bidan yang sebenarnya spesialisasinya adalah masalah ibu hamil atau anak-anak sering menghadapi kasus-kasus umum kesehatan.

Meski malang, untungnya luka yang diderita Rusman tak terlalu parah. Luka di telapak tangannya memerlukan jahitan dan selanjutnya dia mendapat dampratan marah dari orang tuanya.

Selama sisa ramadhan, Rusman tak lagi ikut acara jalan-jalan setelah subuh. Kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga buat kami. Sayangnya hal itu tak membuat kami jera, hanya lebih waspada. Memang dasar anak nakal.

4 komentar:

  1. aku ga suka ama mercon dan sejenisnya, ngeselin abis kl ada anak2 yg main kek gituan di depan rumah,rasanya pengen sirem air :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha,,kalo nyalain seru mbak :))))

      Hapus
  2. Jadi ingat dulu...merconya dimasukin ke dalam rokok, terus di kasih sama orang gila...dan...duarrr..

    BalasHapus