• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Rabu, 13 Agustus 2014

Pariwisata Menyelamatkan Waerebo

13.12 // by Wisnu Yuwandono // // 17 comments

Pariwisata Waerebo
7 rumah kerucut di Desa Waerebo
Lebih dari beberapa dasawarsa mbaru niang atau rumah tradisional berbentuk kerucut yang ada di Desa Waerebo jumlahnya tinggal empat buah saja. Rumah yang tersisa itu pun sebenarnya sudah sekarat kondisinya, lapuk dimakan usia. Masyarakatnya tak mampu lagi untuk membangun kembali dan melengkapinya menjadi tujuh buah rumah sepeti seharusnya. Kurangnya biaya menjadi alasan utama.

Tahun 2008 datanglah rombongan Yori Antar bersama rekan-rekanya. Mereka adalah para arsitek yang penasaran dengan kampung tradisional di pedalaman Flores ini. Hanya berdasarkan informasi dari internet dan kartu pos yang bergambar Waerebo membuat mereka begitu tertarik lalu nekat berangkat ke sana.

“Kami kaget dengan kedatangan rombongan turis dalam negeri. Mereka adalah wisatawan Indonesia pertama yang datang ke Waerebo” kata Alexander Ngandus, tetua Desa Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Pak Alex, tetua desa
Pak Alex bercerita tentang kedatangan mereka saat itu. Warga Waerebo sedang memperbaiki salah satu rumah kerucut bersama dengan orang-orang dari Taiwan. Hujan begitu deras mengguyur, namun semangat mereka tidak luntur untuk terus bekerja. Pada saat sedang sibuk-sibuknya itu muncul rombongan warga Indonesia dengan keadaan basah kuyup.

“Sebenarnya ada rasa jengkel saat itu. Kami sedang sibuk memperbaiki rumah tapi tiba-tiba harus menerima tamu yang cukup banyak. Kami hanya bisa menyambut mereka dengan seadanya saja. Hanya kain sarung yang bisa kami sediakan untuk menutupi badan mereka yang basah kuyup” kenang Pak Alex.

Tak disangka justru kedatangan Yori Antar dan kawan-kawan yang awalnya ‘merepotkan’ ini malah selanjutnya memberi anugerah kepada masyarakat Waerebo. Melihat kondisi Waerebo yang sudah sekarat, Yori Antar dengan Yayasan Rumah Asuh berupaya untuk mengembalikan keadaannya kembali sehat. Bantuan dari swasta dan pemerintah serta beberapa donatur mulai mengalir, mereka tergerak untuk menyelamatkan Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Pak Rofinus yang menyambut kami di Mbaru Tembong(rumah utama)
Tahun 2010, dua rumah kerucut yang sudah sekarat direnovasi. Selanjutnya tahun 2011 tiga rumah kerucut yang sebelumnya hilang dibangun kembali. Akhirnya Waerebo memiliki tujuh rumah kerucut lagi seperti sedia kala. Tahun berikutnya dua rumah lagi direnovasi, sehingga sekarang ketujuh rumah ini dalam kondisi yang sangat bagus.

“Sangat sulit untuk membangun kembali mbaru niang tanpa bantuan dari luar Waerebo” terang Blasius Monta, warga Waerebo yang menjadi guru SD Denge. Pak Blasius sendiri sekarang tidak tinggal di Waerebo, dia tinggal di Denge, desa terakhir sebelum ke Waerebo.

“Pada tahun 1997 Pemda Manggarai pernah merenovasi Mbaru Tembong -rumah utama di Waerebo- biayanya sekitar Rp 30 juta. Lalu yang kemarin ini satu rumah membutuhkan biaya sekitar Rp 300-an juta. Kami tidak mampu kalau harus menanggungnya sendiri” lanjutnya.

Untuk membangun kembali ketujuh rumah tersebut, kebanyakan material memang tersedia di sekitar desa. Akan tetapi jumlahnya tidak mencukupi lagi, sehingga ada beberapa material yang harus di datangkan dari luar daerah. Itulah yang menyebabkan biaya menjadi membengkak.
Pariwisata Waerebo
Bagian dalam rumah yang khusus dipake untuk para tamu
Pak Blasius menceritakan sebelum kedatangan rombongan Yori Antar yang membuat Waerebo dikenal di dalam negeri, kampung ini sudah banyak dikenal oleh kalangan wisatawan asing. Sebelum tahun 2000-an hanya ada beberapa turis saja yang datang. Dari situ Pak Blasius meminta foto-foto dari mereka. Selanjutnya pada awal tahun 2000-an Pak Blasius berupaya mengenalkan kampung halamannya dengan memasang foto-foto tersebut di beberapa hotel dan travel agen di kota Ruteng. Dari foto-foto tersebut pada awal tahun 2002 datanglah beberapa turis asing ke desa ini. Lambat laun menyebarlah berita tentang keindahan arsitektur dan keramahan Waerebo ke berbagai kalangan.

Rumah Pak Blasius disulap menjadi homestay untuk mengakomodir kebutuhan istirahat para tamu sebelum berangkat atau sesudah turun dari Waerebo. Homestay Wejang Asih miliknya tersedia setidaknya 11 kamar yang bisa disinggahi untuk mengumpulkan kekuatan sebelum berjalan sekitar 3 jam atau lebih ke Waerebo ataupun untuk mengembalikan tenaga ketika setelah turun.

Bahasa Inggris cukup dikuasai oleh Pak Blasius. Hal ini dirasa penting olehnya karena memang turis asing masih mendominasi jumlah kunjungan, meskipun akhir-akhir ini traveler dalam negeri mulai mengimbangi. Selain Pak Blasius penduduk Waerebo juga sudah bisa mengucapkan beberapa kata umum dalam Bahasa Inggris. Beberapa kali ada bimbingan bahasa asing untuk warga Waerebo oleh mahasiswa sekolah bahasa dari Ruteng.

Waerebo terus berbenah dalam menerima tamu. Untuk menata administrasi pariwisata mereka membentuk Lembaga Pariwisata Waerebo (LPW). Dari lembaga ini ditentukan tarif untuk bermalam di Waerebo sebesar Rp 250 ribu sudah termasuk 3 kali makan. Jika tidak menginap pengunjung membayar retribusi Rp 100 ribu. Sebagian orang menganggapnya terlalu mahal untuk membayar sebesar itu. Tapi saya rasa uang sebesar itu cukup wajar mengingat bahan makanan yang kita makan saat di sana harus diambil dari desa di bawah yang jaraknya sekitar 9 km lebih. Mereka harus memikul beras dan kebutuhan pokok lain mendaki gunung untuk sampai kembali di Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Seorang ibu sedang menenun kain songke
Meski pariwisata terus menggeliat di sini, warga Waerebo tidak lantas berpangku tangan dari para wisatwan, mereka tetap bekerja di bidangnya seperti sebelumnya. Mereka memiliki kebun kopi yang hasilnya dijual ke desa di bawah dan selanjutnya ke para pengepul kopi. Ibu-ibu juga tetap menenun kain songke yang untuk dipakai pribadi atau dijual. Semuanya berjalan seperti biasa.
Pariwisata Waerebo
Seorang nenek sedang mengumpulkan kopi yang habis dijemur

Pariwisata Waerebo
Anak kecil yang bermain di halaman
Saat ini tiap malam sampai sekitar jam 22.00 WITA ada generator yang bekerja untuk menyalakan lampu. Sudah beberapa tahun hal ini berjalan. Hasil dari kunjungan wisatawan itu salah satunya untuk memberi minum solar kepada generator. Belum lama ini juga ada kelompok dari Bandung yang akan membangun PLTA untuk menggantikan generator solar. Mereka hendak memanfaatkan sumber air yang melimpah di sekitar Waerebo. Rencananya proyek ini akan dimulai tahun ini. Meskipun listrik sudah masuk ke sini, untuk menjaga keaslian rumah dan budaya mereka televisi masih dilarang keberadaannya.


"Tiap kali ada tamu yang datang ke sini selalu bilang kepada kami untuk menjaga adat yang kami miliki. Tanpa ada himbauan dari mereka pun kami akan tetap menjaga tradisi leluhur kami" Pak Alex menyudahi percakapan kami di salah satu Mbaru Niang tempat tinggalnya.
Pariwisata Waerebo
Seorang ibu yang pulang dari mencari kayu bakar


Tulisan lain tentang cara ke Desa Waerebo >> Jalan ke Waerebo


17 komentar:

  1. kak wisnuu,
    my wishlist place ini. semoga menyusul ahh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga bisa cepet kesini kak indri :)

      Hapus
    2. mas wisnu, kasih in list biaya nya dong dari transport, makan dll nya :o

      Hapus
    3. ada di sini mas >> http://www.tanpakendali.com/2014/02/jalan-ke-waerebo.html
      tp itu nilai tahun 2014, mungkin saat ini mengalami kenaikan

      Hapus
  2. nyesal gak mampir ke sini pas dulu ke Flores.. :-(

    BalasHapus
  3. Semoga bisa kesana dan ikut merasakan hangatnya perkampungan waerebo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya semoga terlaksana yg diinginkan :)

      Hapus
  4. Mas....acara JFC tgl 22-25 di jember
    3besar dunia

    BalasHapus
  5. 7 mbaru niang itu bener-bener bagus banget, terlihat kokoh. Ini salah satu contoh dimana pariwisata berdampak positif terhadap pelestarian adat lokal. Ah, sayang kemarin saya gak punya cukup waktu untuk ke Waerebo. Mesti ada next trip ke Flores kayaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak tempat menarik di Flores, sangat layak untuk dikunjungi berkali2 kak Bama :)

      Hapus
  6. ini sangat menarik, rumahnya unik sekali..
    semoga bisa berkunjung kesana..
    terimakasih untuk informasinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya doakan semoga bisa ke sana :)

      Hapus
  7. Kerenn mas wisnu..seneng bisa blogwalking kesini saat cari2 info ttg wae rebo..semoga bisa kesana tahun ini! Thanks for sharing dan salam teknik kimia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya doakan mas Indra bisa segera ke Waerebo :), amin.
      Lho dari teknik kimia juga mas?hehe
      Terima kasih sudah mampir,
      salam,

      Hapus