• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Rabu, 17 April 2013

Wajah Kelimutu

10.23 // by Wisnu Yuwandono // , , // 6 comments


Danau Kelimutu, Ende, Flores
Danau Kelimutu
Pertandingan leg kedua Liga Champion antara Manchester United melawan Real Madrid menjadi hambatan. Pilih nonton atau melihat sunrise di puncak Kelimutu. Pilihannya adalah melihat satu babak pertandingan lalu baru berangkat. Tapi ternyata  kami tidak dapat keduanya, gagal menonton MU juga ketinggalan melihat sunrise

Tempat saya menginap Hotel Grand Wisata Ende yang merupakan salah satu hotel cukup bagus di kota Ende ternyata tidak memiliki fasilitas TV kabel, hanya menggunakan parabola biasa. Antena umum tidak bisa digunakan di daerah ini, tidak bisa menangkap sinyal, karena memang antena  relay stasiun televisi nihil di sini. Alhasil seperti umumnya saat siaran pertandingan sepakbola yang menangkap siaran televisi menggunakan parabola biasa terkena hukum acak. Siarannya diganti atau seperti di tempat saya menginap hanya terdengar suara komentator saja tanpa terlihat pertandingannya. Jadi seperti mendengar radio saja. Ya sudah, diputuskan untuk langsung ke Kelimutu, siapa tahu dapat mengejar sunrise. Tapi ternyata rintanggan tiba-tiba muncul. Pak sopir mobil yang kami sewa terlambat datangnya, ditambah salah satu teman ada yang telat bangunnya. Sepertinya sunrise tinggal angan-angan saja.

Kelimutu terletak di Kabupaten Ende, meski masih dalam satu kabupaten tapi butuh waktu hampir 2 jam untuk mencapainya dari kota Ende. Jam 5 pagi kami berangkat dari Ende, hari masih gelap jadi tak bisa melihat pemandangan. Saya memutuskan untuk tidur saja selama perjalanan, lagi pula jalanannya berkelok-kelok naik turun membuat pusing, apalagi saya termasuk orang dengan penyakit rawan mabok perjalanan.
Ketika membuka mata, sang surya sudah menampakkan dirinya. Jalanan masih berbelok tidak karuan bedanya sekitar jalan semua tampak. Kiri kanan banyak pohon pinus, menandakan sudah memasuki wilayah dataran tinggi. Sesekali melewati pinggiran lereng, sehingga terlihat pemandangan di seberang sana begitu indah. Jendela mobil dibuka sehingga saya bisa merasakan sejuknya udara pegunungan. Kelimutu sudah dekat.

Jam 7 kami sampai di tujuan, matahari sudah mulai merangkak naik. Hanya ada sedikit kendaraan di tempat parkir, satu bus dan beberapa mobil saja. Memang ini bukan hari libur atau weekend sehingga wajar kalau tak banyak pengunjung. Dari tempat parkir, saya bergegas menyusuri jalan yang berbentuk tangga. Jalannya tidak curam sehingga tidak terlalu menyulitkan kaki dan nafas yang sudah mulai menua ini. Apalagi udara yang segar begitu melegakan pernafasan. Hanya saja angin yang berhembus cukup kencang di tempat berketinggian di atas 1600 mdpl membuat tubuh saya cukup menggigil. Sialnya lagi sweater saya sangat tipis.

Saya rasa tak sampai satu kilometer berjalan kaki sudah sampai danau pertama. Tiwu Ata Poli begitu namanya yang tertulis di papan. Saat itu air danau berwarna hitam, katanya perubahan warna ini belum lama, sebelumnya air danau berwarna hijau. Memang perubahan warna dari air danau tidak bisa diprediksi. Bahkan mengapa air danau bisa berwarna pun masih menjadi perdebatan. Ada yang berasumsi bahwa warna air dipengaruhi oleh ganggang yang hidup subur di dasar danau. Ada pula yang bilang bahwa bebatuan yang mengeluarkan zat kimia di dasar danau, zat kimia yang lebih dominan mempengaruhi warna air. Disamping itu ada pula pengaruh dari aktivitas kawah dan kandungan mineral lainnya.
Danau Kelimutu, Ende, Flores
Tiwu Ata Poli
Selain Tiwu Ata Poli, masih ada dua danau lagi. Satu danau ada disamping danau pertama, dipisahkan oleh tebing yang bisa dibilang tidak terlalu tebal. Menurut cerita, dulu tebing pemisah cukup lebar sehingga bisa dilewati. Tapi karena pengaruh aktivitas vulkanik seperti gempa dan letusan menyebabkan tebing itu semakin lama menjadi kecil. Danau kedua ini disebut Tiwu Ata Koofai. Saat itu airnya berwarna hijau cerah dan sudah cukup lama tidak berubah warnanya.
Danau Kelimutu, Ende, Flores
Tiwu Ata Koofai
Dari dua danau tersebut, untuk melihat danau ketiga diperlukan perjuangan yang lebih untuk meniti anak tangga yang cukup banyak. Di ujung anak tangga tersebut, puncak sudah menunggu. Terdapat monumen yang berbentuk tugu. Dari tempat ini bisa terlihat ketiga danau Kelimutu. Danau ketiga sendiri bernama Tiwu Ata Mbupu yang berwarna hijau gelap.
Danau Kelimutu, Ende, Flores
Tiwu Ata Mbupu
Ada kepercayaan masyarakat setempat bahwa setiap danau tersebut merupakan tempat bersemayam roh nenek moyang. Danau pertama merupakan tempat arwah orang yang memiliki ilmu hitam. Siapa yang berbuat jahat, maka kelak arwahnya tinggal di kawah ini. Danau kedua adalah tempat bagi arwah muda-mudi. Konon dahulu ada sepasang muda-mudi yang menceburkan diri dikawah ini karena cinta mereka tidak direstui. Air danau yang selalu berwarna hijau/biru cerah menggambarkan gejolak kawula muda yang masih cerah kehidupannya. Danau terakhir yang berwarna hijau gelap adalah tempat bagi arwah orang tua. Airnya yang tenang dan berwarna agak gelap menjadi simbol orang tua yang tenang dalam menjalani hidup.
Danau Kelimutu, Ende, Flores
Bocah yang ikut orang tuanya berjualan di Kelimutu

***

Saya sempat mendapatkan candaan dari Bang Dalbo, sopir kami tentang danau yang pernah menjadi gambar uang lima ribuan jaman dulu ini. Dulu air danau pernah berwarna merah, putih dan biru.

“Itu karena dulu Belanda menjajah kita, makanya air danau berwarna sama dengan bendera mereka. Setelah Belanda pergi air danau berubah-ubah terus warnanya” candanya dengan logat khas daerah Ende.

Lalu bagaimana warna danau saat Jepang menjajah ya? Apakah berwarna putih lalu di tengahnya ada lingkaran berwarna merah? Entahlah.
Danau Kelimutu, Ende, Flores
Pak Markus
Ada pula Pak Markus yang sangat ceria menyapa kami. Dia ini adalah guide yang menemani para wisatawan menjelajahi Kelimutu. Cara dia bertutur kata begitu cepat dan menggebu-gebu. Senyum lebar selalu tersungging di bibirnya. Sambil memperkenalkan dirinya dan bercerita bahwa dia sudah lama tinggal di sana.

“Bapak dari mana? Dari Jawa ya?” tanyanya.
“Bapak dari Jawa, saya dari Kelimutu, kita berbeda tapi kita tetap satu untuk membela Indonesia. Seperti warna danau Kelimutu yang berbeda-beda tetapi tetap saja mereka ini adalah satu Kelimutu. Merdeka”, dengan berapi-api dia berbicara meski saya tak menanyakan apapun sebelumnya.

Saya menjabat tangannya selam perkenalan sekaligus salam perpisahan untuknya dan untuk Kelimutu. Sampai jumpa di lain kesempatan. Dan selanjutnya saya memaksa diri untuk terlelap lagi di dalam mobil karena mabok akan segera menghantui lagi. Untuk menghindarinya, mari kita tidur.

6 komentar:

  1. jadi kangen keindahan danau kelimutu. warnanya sama persis waktu saya kesana dulu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah lama sih, sekitar tahun 2008/2009

      Hapus
    2. teman saya kesana desember 2012 warna danau pertama tu hijau mirip sampingnya

      Hapus
  2. Kok MU vs Madrid? Bukannya Dortmund ya yg musim ini jadi lawan Madrid di semifinal? #salahfokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini udah lama kesananya,,pas 16 besar MU lawan Madrid waktu itu

      Hapus