• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Jumat, 25 Mei 2012

Rinjani: Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 3)

16.12 // by dalijo // , // 6 comments


Rinjani, Lombok
Pelawangan yang berkabut

14 Mei 2012
Brrrrrrrr,,,Suara gemuruh angin ditemani hujan yang turun cukup deras itu membangunkanku ditengah malam. Rencana awal jam 2 dini hari kami akan melakukan summit attack ke puncak Rinjani. Tapi apa mau dikata, semuanya kecuali saya tidak berani menerjang badai pagi itu, selain suaranya yang memang mengerikan, tubuh kami sepertinya masih butuh istirahat setelah menempuh perjalanan yang berat dihari kemarin. Dan semuanya kembali terlelap.

Sinar mentari membangunkan kami di pagi harinya, meski keseluruhan badannya tertutup kabut tebal, masih saja sinarnya sanggup menerobos hingga membuat ruangan di dalam tenda menjadi terang. Pagi yang dingin, dengan rintik hujan yang masih sesekali turun, dan angin yang belum berhenti menerjang membuat pohon di sekitar tenda kami bergoyang, tak terkecuali tenda kami sendiri. Badanku sendiri terasa pegal-pegal, terutama di bagian leher karena malamnya tidur dalam posisi yang tidak jelas. Kaki tidak bisa lurus dan kepala miring, hasilnya leher tengeng :D. Tenda kami memang kecil, idealnya maksimal untuk 3 orang, sedang ini kami mengisinya dengan 4 orang, saling gencet-gencetan, mirip sandwich terinjak :)).

Rabu, 23 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 2)

14.13 // by dalijo // , // 5 comments


Rinjani, Lombok

13 Mei 2012
Pagi sebelum mentari menghangatkan bumi, kami sudah menggerakkan tubuh dengan berkemas mengepak barang bawaan ke dalam backpack masing-masing. Dengan pertimbangan seksama, maka diputuskan untuk menyewa satu porter karena saya tidak akan kuat membawa barang, haha. Alhasil barang yang sangat memakan ruang dan berat dioper ke mas porter, yaitu tenda. Jadi barang yang dibawa porter adalah tenda, air mineral 1,5L jumlahnya 8 botol, beras, dan tubuh saya, ups ga ding :D. Yang penting beban porter maksimal 25 kg. Beban bawaan tiap orang tidak terlalu berat, saya sendiri mungkin membawa beban sekitar 10kg lebih. Walaupun sebagian barang sudah dibawa porter, tetap saja beban segitu cukup menguras tenaga karena perjalanan yang ditempuh sangat panjang.
Rinjani, Lombok
Gerbang Pendakian Rinjani via Sembalun (photo courtesy of Djoko Soetono)
Oh ya saya akan memperkenalkan anggota dulu. Yang pertama adalah pria bersahaja, muka rata, dan banyak ingusnya, kecil kerempeng dan bikin iba, nah itu saya :(,haha. Yang kedua adalah M. Fathkul Hakim, pembalap, pemuda berbadan gelap yang merupakan pencetus ide pendakian ini. Selanjutnya adalah Nor Hasan karyawan PLN yang kabur dari pekerjaannya di pulau antah berantah untuk mengikuti petualangan ini, badannya tua dan semangat juga tua, hehe. Selanjutnya adalah 4 karyawan pabrik pupuk terbesar se Gresik, silakan tebak perusahaan apa itu :p. Pertama adalah Hakim Rahman yang biasa dipanggil Hakim duwur yang masuk dalam panitia perencana pendakian. Lalu ada Pak Djoko Soetono, pemuda yang umurnya mendekati 50 tahun, tapi semangatnya 17 tahun lebih tua, haha, pak Djoko memiliki stamina paling prima diantara kami dan memilik kata andalan yaitu 'masuuukkk...'. Sebastian Nababan, pemuda asal Pekanbaru dengan perawakan besar dan tenaga yang tidak sebesar badannya. Risang Pradipta, yang belakangan saya ketahui dia adalah anak dari dosen pembimbing akademik saya, dunia begitu kecil. Dan yang terakhir dan merupakan satu-satunya wanita dalam kelompok ini dan menjadi hiasan diantara laki-laki buram, Zakiyah Derajat, atau biasa dipanggil Zaki atau Jeki atau Jeck, panggilannya banyak asal bukan Ojek atau Aki.

Selasa, 22 Mei 2012

Rinjani : Imagi yang tak lagi Sebuah Mimpi (bag 1)

12.20 // by dalijo // , // 6 comments


12 Mei 2012
Lamunanku terpecah ketika suara pengumuman di Bandara Ngurah Rai memberi tahu bahwa penumpang tujuan Lombok untuk segera masuk ke pesawat. Pikiranku memang sudah melayang ke tempat tujuan utama dari perjalanan ini. Bagaimana tidak, tujuan kali ini benar-benar menguras emosi, pikiran dan juga hmm materi. Tujuan yang sudah dari dulu diimpikan, imagi yang selama ini selalu hanya menjadi mimpi, Rinjani.


Bandara Lombok Praya

Pesawat segera berlari meninggalkan landas pacu tak lama setelah saya menyandarkan bahu di seat pesawat. Bali –Lombok sangatlah cepat jika ditempuh dengan pesawat. Oh ya kenapa saya memilih pesawat daripada perjalanan darat-laut. Pertama, meeting point rombongan di bandara Lombok, nah saya gak tau sama sekali tentang Lombok. Kedua, pendakian akan sangat menguras energi, jika perjalanan darat-laut saya lakukan pastinya energi saya sudah terkuras duluan, apalagi saya sudah sangat jarang berolahraga, bisa-bisa tewas sebelum berperang. Yang ketiga ternyata tiket pesawat tidak terlalu mahal. Akhirnya pesawatlah yang menjadi pilihan.

Saya orang pertama dari rombongan yang tiba di Lombok, saat keluar bandara ternyata banyak sekali orang diluar, seperti pasar. Disini orang yang pergi atau datang, diantar atau dijemput sekeluarga. Suasana kekeluargaan khas Indonesia. Jam 10.30 WITA pesawat sudah landing, sedang teman-teman landing sekitar jam 12.00 WITA. Ga ada hiburan selama menunggu. FYI, bandara Lombok ini baru dan letaknya di pelosok, jadi belum banyak ‘hiburan’ di sekitarnya.

Rabu, 18 April 2012

Tokina 11-16mm : Mari Bercinta

20.36 // by dalijo // // 6 comments


Tokina 11-16
Pantai Dreamland
Ada yang  tau salah satu senjata spesial para traveller? Kamera. Nah dijaman serba digital gini kamera khususnya digital sangat diperlukan dan bukan merupakan barang yang tergolong sangat mewah lagi. Apalagi untuk para traveller, kamera jadi barang wajib nomor satu yang harus dibawa saat bepergian. No picture : hoax, istilah yang sangat populer saat ini.

Oke, sekarang lagi ga mau bahas tentang penggunaan kamera dalam travelling tapi ini tentang peralatan baru yang baru saya punya, hehe. Selain kamera, lensa adalah kesatuan yang sangat dibutuhkan. Nah tiap lensa memiliki kharakterisitik masing-masing dan sepertinya tidak ada satu lensa yang mempunya keseluruhan kharakterisitik. Karena saya suka memoto landscape, dari dulu pengen banget punya lensa lebar. Secara kebetulan ada kakak angkatan yang menjual lensa sama dengan yang saya inginkan. Tawar-menawar dan deal, dan secara kebetulan juga dia pas mau ke Bali, jadi si lensa ga perlu dikirim via jasa pengiriman. Yeay, beruntung sekali.

Minggu, 25 Maret 2012

Arak-arakan Ogoh-ogoh Menyambut Nyepi

15.01 // by dalijo // // 3 comments


Ogoh-ogoh, Bali
Ogoh-Ogoh
Kamis ini beda dari hari-hari biasanya. Entah sudah berapa hari sang surya tak berani menampakkan dirinya dengan gagah seperti seharusnya. Tapi hari ini lain, matahari dengan gagah menerangi cakrawala, membuat langit tertumpah warna biru yang sempurna, mencolok dan menyilaukan.

Jumat, 16 Maret 2012

Ketika Rumput Tetangga Terlihat Lebih Hijau

11.46 // by dalijo // 2 comments

Sekarang ini travelling sudah menjadi lifestyle di kalangan penduduk Indonesia, tidak hanya bagi yang berusia emas tapi juga orang yang sudah tergolong berumur maupun para ABG. Sekedar ingin melepas penat setelah ratusan jam bergumul dengan pekerjaan, ingin menyalurkan jiwa petualangan, atau karena ingin menyombongkan diri karena pernah pergi ke suatu tempat, dan alasan-alasan lain yang mendorong mereka bepergian, telah membuat banyak orang menjadi seorang traveller.

Sabtu, 25 Februari 2012

Tips Snorkeling

09.19 // by dalijo // , // 5 comments

Tips Snorkeling
Snorkeling dengan banyak ikan
  
Ada pepatah sebelum belajar renang, belajar ngapung dulu, mungkin pepatah itu bisa kita kembangkan menjadi sebelum belajar diving (menyelam) sebaiknya snorkelingan dulu aja. Di negara kita ini banyak spot terumbu karang yang sangat bagus dan sangat cocok sekali untuk snorkeling di permukaannya.

Jumat, 24 Februari 2012

Beberapa Catatan tentang Backpacking ke Bromo

16.37 // by dalijo // , , // 14 comments

Bromo, Jawa Timur
Gunung Bromo

Untuk kali ini saya tidak akan menceritakan tentang profil Bromo, dikarenakan informasi yang saya peroleh langsung tidak terlalu banyak dan lagi cerita-cerita tentang Bromo sudah banyak sumber-sumbernya. Kali ini saya akan menulis catatan-catatan bagi yang hendak ke Bromo dengan metode murah atau backpacking.

1. Rencanakan berapa lama anda akan berwisata ke Bromo, apa akan menginap atau hanya sehari saja. Ini penting agar pengeluaran bisa diperkirakan, dan harus disesuaikan dengan budget yang anda miliki.
2. Kota yang paling dekat dan juga merupakan tempat terakhir menuju Bromo adalah Probolinggo (sebenarnya bisa dari Malang tetapi angkutan umumnya sepertinya sulit untuk menuju Bromo). Jadi pelajari angkutan apa yang bisa mengantar anda dari kota asal menuju Probolinggo. Bisa dari kota anda ke Surabaya dulu baru naik bus menuju Probolinggo.
3. Dari Probolinggo ke Bromo ada angkutan sejenis Elf. Elf ini akan berangkat apabila jumlah penumpangnya sudah mencukupi kuota agar mereka dapat untung, kira-kira setelah dapat minimal 10 penumpang maka akan berangkat. Ongkos per orang sekitar 25 ribu. Jadi kalau anda memiliki rombongan banyak tidak perlu menunggu lama untuk berangkat. Elf ini stand by di dekat terminal Probolinggo.
4. Usahakan untuk sampai di Probolinggo sebelum jam 4 sore, karena itu batas terakhir Elf beroperasi, kecuali anda memiliki rombongan yang banyak maka Elf tetap akan mau mengantar anda. Ada hal lain juga yang perlu diperhatikan, anda sampai di Probolinggo sebelum jam 4 tetapi penumpang Elf hanya sedikit, bisa jadi sopir Elf tidak mau berangkat atau berangkat pada esok hari sampai penumpang memenuhi kuota, kecuali anda mau membayar mahal. Jadi kira-kira sekali jalan si sopir Elf mengantongi sekitar 250ribu, kalau anda mau membayar segitu ya monggo. Disini terlihat keuntungan apabila anda memiliki rombongan.
5. Sesampainya di Bromo, jika anda mau mencai penginapan jangan meminta bantuan pada sopir atau kernet Elf, karena biaya penginapan akan melonjak dari harga sebenarnya. Usahakan ketika anda mencari penginapan, si sopir atau kernet Elf sudah pergi. Homestay rata-rata menawarkan harga 100 ribu/malam.
6. Ada beberapa tempat dan momen yang bisa anda dapatkan dari Bromo, yang pertama adalah melihat sunrise dari penanjakan, lalu naik ke puncak Bromo, padang pasir tempat shooting film Pasir Berbisik, dan terkahir adalah padang rumput atau orang sekitar menyebutnya bukit Teletubbies.
7. Untuk menikmati itu semua jika anda kuat anda bisa berjalan kaki, tapi jelas membutuhkan waktu lama dan capek. Pilihan kedua adalah naik jeep. Ini adalah pilihan yang paling banyak diambil. Biaya sewa satu buah jeep 350 ribu dengan kapasitas penumpangnya 6 orang, jadi saetiap orang akan membayar sekitar 60ribu. Kelebihan dari jeep ini jelas kenyamanan. Tapi ada kekurangannya yaitu dengan harga segitu kita hanya diantar ke Penanjakan dan Gunung Bromo saja, jika ingin ke pasir berbisik dan bukit teletubbies harus bayar lagi. Dan lagi dengan harga segitu maksimal jam 10 pagi kita harus balik lagi ke penginapan. Pilihan yang terkahir adalah naik ojek, ongkos naik ojek sebesar 80 ribu, kita akan diantarkan ke Penanjakan, Gunung Bromo(sampai kaki gunung, kalau jeep pemberhentiannya masih agak jauh dari kaki gunung), pasir berbisik, dan bukit teletubbies. Lengkap dan tidak dibatasi waktu. Kekurangannya adalah jika terjadi hujan kita akan basah.
8. Kawasan Bromo dan Tengger berada di ketinggian lebih dari 1000 mdpl, jadi suhu disana cukup dingin, siapkan jaket yang tebal agar ketika malam menjelang anda tidak kedinginan.

Itu beberapa catatan dari saya tentang berbackpacking ke Gunung Bromo.
Selamat berwisata :)
Bukit Teletubbies, Bromo, Jawa Timur
Padang Savana (Bukit Teletubbies)
Pasir Berbisik, Bromo, Jawa Timur
Padang Pasir tempat shooting film Pasir Berbisik

Kawah Bromo, Bromo, Jawa Timur
Kawah Bromo

Jumat, 18 November 2011

Tanah Lot, Tanah Keindahan

14.56 // by dalijo // // 3 comments

Tanah Lot, Bali
Tanah Lot
Ada satu tempat di Bali yang cukup terkenal dan sering diabadikan dalam foto. Seringkali tempat ini dijadikan ikon Pulau Dewata, juga dijadikan gambar di kartu pos maupun perangko. Pura Tanah Lot, atau sering disebut dengan Tanah Lot, itulah nama tempat ini. Cukup terkenal karena bentuknya yang unik dan tempatnya begitu eksotik. Bagaimana tidak, Pura ini terletak di atas karang yang berada di depan pantai, saat gelombang pasang naik karang ini seperti berada di tengah laut.

Senin, 14 Maret 2011

Korelasi Yang Kurang Tepat

14.52 // by dalijo // 1 comment

Sering kali ketika kita mendengar orang membicarakan sepakbola negara kita, para komentator, entah itu orang awam atau bahkan wartawan sepakbola berkata, ‘kita ini bangsa besar, penduduk kita 200juta jiwa lebih, masa nemuin 11 orang yang bisa maen bola saja ga bisa’. Saya pikir itu adalah korelasi yang kurang tepat. Apa hubungannya jumlah penduduk dengan kemampuan bermain sepakbola. Jika korelasi itu benar-benar berfungsi berarti RRC sudah juara piala dunia berpuluh-puluh kali, karena RRC memiliki penduduk semiliar. Sepak bola tidak bisa dirumuskan dengan matematika, tidak bisa diprediksi dengan lemparan dadu, atau apalah dan yang jelas tidak bisa dikorelasikan dengan jumlah penduduk. Kita memang punya penduduk 200 juta jiwa lebih tapi tak ada yang benar-benar terlatih, apalah gunanya itu. Bisa saya katakan 1 orang pintar lebih berguna daripada 10 orang bodoh. Maaf mungkin agak kasar, hmm kita bilang saja penduduk kita kurang terlatih.