• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 25 Maret 2012

Arak-arakan Ogoh-ogoh Menyambut Nyepi

15.01 // by Wisnu Yuwandono // // No comments


Ogoh-ogoh, Bali
Ogoh-Ogoh
Kamis ini beda dari hari-hari biasanya. Entah sudah berapa hari sang surya tak berani menampakkan dirinya dengan gagah seperti seharusnya. Tapi hari ini lain, matahari dengan gagah menerangi cakrawala, membuat langit tertumpah warna biru yang sempurna, mencolok dan menyilaukan.


Ogoh-ogoh, Bali
Para pemuda memainkan gamelan
Setelah tinggal di Bali lebih dari setengah tahun akhirnya kesempatan merasakan hari raya Nyepi datang juga. Nyepi tahun ini jatuh pada tanggal 23 Maret. Sebelum hari H, sehari sebelumnya biasanya diadakan upacara arak-arakan ogoh-ogoh yang kemudian dibakar diakhir acara.

Ogoh-ogoh adalah boneka besar yang berwujud raksasa atau setan yang merupakan simbol keburukan dan keangkaramurkaan sehingga nantinya dibakar sebagai harapan agar keangkarmurkaan itu sirna.

Ogoh-ogoh, Bali
Ogoh-ogoh dengan banyak wajah
Tengah hari di museum Kaldera Batur, telah berkumpul warga dari Desa Batur dan sekitarnya. Hampir tiap banjar membawa ogoh-ogoh masing-masing. Dari anak kecil sampai tua, laki-laki maupun perempuan semua berpartisipasi. Bentuk ogoh-ogoh pun bermacam-macam, tidak ada yang sama persis.

Jam 3 sore, ogoh-ogoh mulai diarak di sepanjang jalan raya Kintamani sampai batas desa Batur. Tiap kelompok pembawa ogoh-ogoh ini di tiap tempat yang agak luas melakukan 'atraksi' dengan berputar-putar sambil diiringi musik tradisional, ada juga kelompok yang tidak membawa gamelan mengiringi atraksi mereka dengan seperangkat sound sistem. Terlihat seperti karnaval.

Ogoh-ogoh, Bali
Ogoh-ogoh yang berbentuk iblis
Hari sudah menginjak malam ketika arak-arakan berakhir. Semua ogoh-ogoh dibawa ke kuburan desa Batur. Ogoh-ogoh dibakar. Mengakhiri rangkaian kegiatan. Masyarakat pulang dan bersiap melaksanakan Nyepi keesokan harinya. Semoga Nyepi ini membawa kebaikan bagi semuanya.

0 comments:

Posting Komentar