• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 24 Desember 2013

Menghitamkan Loh Buaya

11.55 // by Wisnu Yuwandono // , // 2 comments

Komodo
Perahu mulai mengurangi kecepatannya saat memasuki wilayah teluk yang tenang. Lalu dengan pelan-pelan menepi ke dermaga yang berbentuk seperti jembatan kayu. Disangga balok-balok kayu yang cukup besar membuatnya terlihat kokoh untuk menyandarkan perahu-perahu yang singgah. Siang itu kebetulan tak banyak perahu yang bersandar. Di pangkal dermaga ada sebuah bangunan yang juga merupakan pintu gerbang memasuki wilayah ini, di atasnya terdapat papan bertuliskan nama tempat ini, Loh Buaya.

“Welcome to Loh Buaya”, sapa seorang ranger yang menyambut kami. Dia menyapa dalam Bahasa Inggris karena memang rombongan saya yang berjumlah 5 orang 3 diantaranya adalah warga negara asing.

“Loh means bay and buaya means crocodile” lanjutnya menjelaskan. Dahulu orang Flores tidak mengenal nama komodo, mereka menganggap repitilia besar ini sama saja dengan buaya. Loh Buaya adalah pintu gerbang untuk memasuki Pulau Rinca.

Ranger yang bernama Reno ini memiliki perawakan yang tak terlalu besar. Usianya mungkin sekitar 30 tahunan. Dia berasal dari daratan Flores tapi sekilas mukanya mirip orang Jawa bahkan ada sedikit kemiripan dengan artis Ramon Y Tungka, versi timur. Kulitnya yang gelap memberitahu bahwa di sini tak hanya komodo saja yang ganas tapi matahari pun tak segan untuk menyengat. Gaya bicaranya ramah dan informatif apalagi dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang bagus membuat saya merasa perjalanan kali ini akan sarat dengan pengetahuan. Meskipun saya sendiri kurang terlalu menguasai bahasa asing itu.

***
Tulisan ini dimuat di Majalah The Travelist Edisi 8. Cerita selengkapnya bisa dibaca dengan mengunduh majalah tersebut di sini.

2 komentar:

  1. ahaa....belum pernah ke Pulau Rinca sepertinya perlu dibikin acra ke sana neh...

    BalasHapus