• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Jumat, 23 November 2012

Traveling Tak Melulu untuk Bertemu Orang Baru

01.18 // by Wisnu Yuwandono // , // 3 comments

Foto courtesy of Wiryawan Suraji

Tepat pukul 8.00 pagi (15/11/12) bus yang saya tumpangi memasuki Terminal Arjosari, terminal utama di Kota Malang. Langit agak mendung sementara suasana terminal belum terlalu ramai kecuali banyaknya orang yang menggendong carrier-carrier besar mereka. Saya sendiri hanya membawa tas punggung tanggung. Rupanya banyak yang akan mengikuti gathering nasional di Gunung Semeru yang diadakan oleh salah satu merk peralatan outdoor.

Hari itu seperti sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya, saya dan teman-teman saya akan berkumpul di Malang. Ceritanya jalan-jalan sekaligus reuni.


Meeting pointnya adalah di Stasiun Kotabaru, Malang. Dari terminal saya menyewa ojek untuk sampai tempat itu, walaupun ternyata ada angkot yang menuju kesana, maklum agak males nanya. Sampai di stasiun ternyata para penggendong carrier jauh lebih banyak daripada di terminal tadi. Kabar yang katanya ada lebih dari 2000 pendaki yang akan berkumpul di Semeru bukan kabar angin ternyata, membludak..

Sekitar jam 9.00 kereta yang ditumpangi rombongan Jakarta sampai, saat itu pula semua peserta sudah datang, lengkap sudah 6 orang. Wajah-wajah kuyu setelah perjalanan panjang sontak menjadi cerah ketika rindu terlepas. Tapi kangen yang menguap itu tetap tak bisa menghapus rasa lapar, karena itu makan jadi pengobat lapar paling mujarab. Pecel, makanan khas daerah Jawa Timur kami santap dengan lahap.

Tidak ada rencana untuk mengubek-ubek kota Malang, tujuan kami adalah Kota Batu, kota kecil yang sejuk yang letaknya berdekatan dengan Malang. Untuk mencapai Batu, atau orang setempat menyebutnya mBatu, dari stasiun kami menggunakan angkot. Melewati jalanan sambil bercerita dan bercanda seperti angkot milik kami sendiri, menyenangkan.

Tak perlulah menyewa hotel mewah, karena cuma numpang tidur saja, begitulah alasan yang dikemukakan, yang dengan mantap saya amin-i juga,hehe. Di kamar kecil nan sederhana ini kami akan menumpang tidur. 2 kamar untuk 6 orang, masing-masing diisi 3 orang dibagi berdasar jenis kelamin.

Kota Batu awalnya konon dibangun dari zaman Raja Sindok (Mpu Sendok) berkuasa, diperuntukkan untuk wisata keluarga kerajaan. Karena letaknya yang relatif tinggi dengan dikelilingi berbagai gunung membuat suasananya terasa sejuk dan pemandangannya cukup indah. Pantas saja kalau dijadikan tempat wisata sampai sekarang. Apalagi sekarang Kota Batu memiliki fasilitas wisata modern, salah satunya Batu Night Spectacular. Itulah tempat yang kami kunjungi sore itu.
Salah satu pemandangan di Taman Lampion

Orbiter, salah satu wahana yang ada di BNS
Saya tak sempat menaiki wahana yang ada. Sebenarnya bukan tak sempat tapi memilih untuk tidak menaiki, karena ditakutkan akan muntah,hehe. Semakin malam suasana semakin ramai, apalagi jarak antar wahana begitu dekat sehingga terasa begitu sumpek. Sekitar jam 9 malam, ada pertunjukan air mancur di depan panggung yang ada di food court, tidak spektakuler memang tapi cukup bagus.

Waktu semakin beranjak malam ketika kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Beristirahat sampai bangun kesiangan di hari berikutnya.

Hari kedua masih tetap di Batu. Tak jauh dari BNS ada Jawa Timur Park. Ada Jatim Park 1 dan 2. Kami memilih untuk ke Jatim Park 2. Jatim Park 2 sendiri dipisah jadi 2, museum satwa dan Batu Secret Zoo.
Museum Satwa

Replika fosil dinosaurus di Museum Satwa

Museum Satwa adalah gedung yang penampakan depannya bergaya arsitektur Eropa berisi patung-patung hewan dari seluruh dunia. Patung-patung tersebut ditempatkan dalam kotak kaca dengan diberi suasana seperti tempat dia hidup di alam bebas, sehingga terlihat hidup dan nyata. Banyak sekali koleksi yang ada sampai lelah menelusuri satu-satu.

Batu Secret Zoo adalah kebun binatang yang didesain secara modern, beda dengan kebun binatang pada umumnya. Kesan modern itu terlihat dari kandang binatang dibuat agar pas dinikmati pengunjung, fasilitasnya cukup lengkap, arsitektur yang menarik, dan adanya wahana permainan yang menghibur.
Di depan ruang aquarium (foto courtesy of Wiryawan Suraji)

Flamingo (foto courtesy of Wiryawan Suraji)

Kebun binatang pada dasarnya dibuat untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Jikalau pengetahuan itu tidak didapat dari sini, saya akan marah pada mereka para pembuat kebun binatang. Kita ambil contoh cheetah si pelari tercepat hanya mempunyai kandang yang tak segitu luas untuk melatih kemampuannya lari, saya bertaruh kemampuannya jauh menurun drastis daripada kalau dia hidup di alam bebas.

Tepat ketika kebun binatang ini hendak ditutup pukul 18.00 kami baru selesai mengelilingi ‘sajian’ yang ada. Capek tapi seru dan informatif.

Ikon lain Kota Batu adalah alun-alunnya. Disini ada sebuah ferris wheel yang cukup besar. Di sekitarannya juga ada beberapa warung yang menjual makanan khas Kota Batu, salah satunya adalah Pos Ketan yang begitu ramai pembelinya.

Tak sampai larut malam kami menikmati alun-alun, karena besoknya kami harus pagi-pagi sekali berangkat menuju Pulau Sempu, sebuah pulau yang ada di selatan Malang.

Jauh sebelum matahari muncul, sekitar jam 2 pagi kami sudah siap-siap untuk petualangan berikutnya. Cukup jauh jarak yang harus ditempuh sampai ke tempat ini. Melewati desa-desa dengan jalan berliku dan naik turun. Sempat menikmati sunrise yang muncul dari balik bukit, pemandangan ini kami nikmati dari dalam mobil yang melaju.

Cerita tentang Pulau Sempu sendiri ada di postingan sebelumnya.
Jajaran perahu di Pantai Sendang Biru, dermaga menuju Pulau Sempu
Lewat tengah hari setelah dari Pulau Sempu rencananya kami hendak ke Pantai Balekambang akan tetapi hujan deras membuat rencana itu dibatalkan. Selanjutnya, sekali lagi kami menikmati alun-alun Kota Batu, menikmati saat-saat sebelum kami berpisah lagi.

Hari Minggu tiba, dan saatnya semua harus kembali ke tempatnya masing-masing. Filsuf traveler, kalau boleh saya menyebutnya demikian, bilang kalau hal yang paling menyenangkan dari travelling adalah ketika berkenalan dengan orang-orang baru. Itu betul. Tapi bagi saya ada hal yang juga sangat menyenangkan ketika menikmati perjalanan di tempat-tempat baru dengan sahabat dekat yang sudah lama tak bertemu, rasanya seperti memakai baju andalan yang sudah lama tidak kita pakai untuk pergi ke tempat yang kita impikan. Rasanya? Nyaman.

Sampai bertemu lagi sahabat (foto courtesy of Wiryawan Suraji)

3 komentar:

  1. it's about the journey, not the destination

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah berbagi cerita menarik tentang kota Malang, cukup bermanfaat..
    Lombok juga tidak kalah menarik dg Malang :)

    BalasHapus