• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 26 Januari 2013

Ring of Fire, Beruntung Saya Membacanya

22.14 // by Wisnu Yuwandono // 6 comments



“Ini adalah petualangan nyata: tanpa radio, es, persediaan darurat selama berbulan-bulan pada suatu waktu melalui salah satu yang paling berbahaya dan menarik di wilayah bumi.” Begitulah komentar Sir Richard Branson pendiri Virgin Group yang tertulis di cover depan sebuah buku yang cukup menarik perhatian saya di sebuah toko buku.

Adalah “Ring Of Fire, Indonesia Dalam Lingkaran Api” judul dari buku ini. Dengan cover gambar gunung berapi di seberang lautan yang sedang diarungi sebuah kapal pinisi dan latar warna berwarna jingga jelaslah membuatnya jadi eye catching ditambah lagi hard cover nya membuat terasa sebagai buku eksklusif. Tapi ketika mulai membuka lembar demi lembar halamannya, sampul yang begitu menarik itu terasa bukanlah tandingan dari isi yang begitu jauh lebih menarik.

Lawrence Blair dan Lorne Blair adalah kakak beradik penulis buku ini. Walaupun sebenarnya penulisnya hanyalah Lawrence akan tetapi isi tulisannya berasal dari hasil petualangan mereka berdua.

Cerita petualangan berawal ketika mereka berdua berencana memfilmkan Burung Cenderawasih Kuning-Besar yang berada di Kepulauan Aru. Burung ini begitu tersohor di Eropa sejak lama. Setelah mendapatkan sokongan dana dari Ringo Star (drummer The Beatles) berangkatlah mereka menuju Kepulauan Nusantara pada tahun 1972.

Pelayaran dimulai dari Makasar. Akan tetapi ekspedisi menuju Kepulauan Aru tidaklah semudah yang dibayangkan bahkan untuk mencari kapal yang akan digunakan mengarungi lautan sungguh sebuah kesulitan yang begitu besar. Selama usaha mencari kapal itu, mereka mendapati berita bahwa akan adanya pemakaman Raja Toraja yang diadakan secara besar-besaran. Hal itu tentu saja menarik mereka untuk memfilmkannya, mengingat Toraja adalah ‘suku asing’ yang belum terlalu mereka kenal akan tetapi saat itu menawarkan sebuah upacara besar yang jarang-jarang terjadi. Dalam upacara pemakaman Raja-raja Toraja sebelumnya biasanya akan dibakar rumah-rumah yang dibangun hanya untuk acara pemakaman, akan tetapi saat ini rumah-rumah tersebut rencananya tidak akan dibakar karena hanya akan menghamburkan biaya. Untuk menambah dramatis film yang mereka buat, kedua bersaudara ini melobi keturunan raja untuk membakar salah satu rumah. Setelah terjadi tarik ulur disepakati Blair bersaudara sanggup membayar satu rumah untuk dibakar. Yang menarik adalah rumah tersebut akhirnya dibakar ketika Blair sedang berada ditempat lain dan upaya mereka memfilmkan rumah yang terbakar itu gagal karena ketika sampai rumah tersebut tinggallah abu.

Kembali ke Makassar akhirnya mereka menemukan kapal pinisi tradisional khas suku Bugis di daerah Bira. Setelah menemukan kapal itu, mereka tidak bisa serta merta langsung berangkat berlayar. Mengingat kapal pinisi adalah kapal layar yang sepenuhnya berlayar bergantung angin, mereka harus menunggu waktu yang tepat agar angin Muson berhembus menuju timur untuk membawa mereka menuju Kepulauan Aru.

Setelah menemui waktu yang tepat, mereka akhirnya berangkat menuju Kepulauan Aru. Pelayaran bukanlah pelayaran langsung menuju tujuan akan tetapi singgah ke tempat-tempat yang dilewati. Tempat pertama adalah Pulau Buton dimana mereka disambut dengan sangat baik dan diperlakukan layaknya tamu negara. Ada tulisan yang menarik tentang penjabaran gadis Buton. Ini kutipannya “Saya sih ingin menjabarkan penampilan sang sultan, tapi mata saya terpaku pada hal lain, karena di samping duduk Sadria, salah satu putrinya yang jelita. Di sebuah pulau di mana sebagian besar gadis terlihat bagaikan putri, para putri raja terlihat seperti dewi – tidak terkecuali Sadria.”

Selain menceritakan tentang pelayaran menuju Kepulauan Aru, buku ini juga ditulis dengan memberikan info dan cerita-cerita yang sangat menarik. Tentang perjalanan Wallace yang begitu menginspirasi mereka, ada juga mengenai cerita orang Eropa tentang suku Bugis. Dan yang lebih menarik mereka menuliskannya dibumbui dengan humor yang tidak mengurangi esensi dari buku yang isinya ‘berat’

Singkat cerita akhirnya mereka sampai juga di Kepulauan Aru setelah sebelumnya sempat mampir di Ambon, Banda Naira, Pulau Kei dan cerita hampir ditinggalkannya mereka oleh kapal pinisi yang ditumpanginya. Kepulauan Aru adalah penghasil mutiara kelas satu, mereka sempat ikut mencari barang itu dengan menyelam bersama penduduk setempat.

Burung Cenderawasih Kuning-Besar yang merupakan tujuan utama mereka akhirnya berhasil mereka temui dan mempesona mereka. “Mereka menari, menggelenyarkan ekor, kemudian membeku bagai bunga mekar di bawah siraman matahari, sebelum bergetar lagi dan melompat-lompat mengelilingi betina mereka yang berwarna suram, memikat mereka dengan mencengkeram bonggolan dan tonjolan di cabang pohon sebagai tiruan dari apa yang akan mereka lakukan sesungguhnya,” begitulah tulis mereka tentang Cenderawasih Kuning-Besar yang mereka lihat.

Setelah itu mereka kembali ke Inggris lewat Australia dengan menumpang kapal Australia yang berlabuh di Kepulauan Aru. Hal ini dilakukan karena visa kunjungan mereka ke Indonesia telah habis waktunya.

Dengan kembalinya mereka ke Inggris bukan berarti petualangan ke Indonesia berakhir. Mereka mulai mencintai seluk beluk Indonesia dan selanjutnya sering berkunjung untuk melakukan penelitian, membuat film dan menjadi pemandu tour. Mereka pernah ke Papua untuk menyelami suku Asmat yang konon adalah suku kanibal. Menemui naga yang tersisa di bumi di Pulau Komodo. Menjelajahi hutan Borneo yang ganas bersama Suku Dayak untuk menemui Suku Dayak Punan yang masih nomaden. Dan memfilmkan perang Pasola di Sumba yang begitu heroik.

Buku terbitan Ufuk Press ini sangat cocok dibaca bagi mereka yang suka petualangan maupun mereka yang ingin tau tentang Indonesia dengan berbagai misteri dibalik keindahannya. Memang dalam buku ini tidak memetakan keseluruhan kebudayaan kita akan tetapi dengan hanya sebagian saja wilayah yang diceritakan telah membuat saya tahu banyak tentang keanekaragaman ekosistem dan kebudayaan Nusantara. Kita diajak mengikuti petualangan dengan hati berdebar, otak yang berimajinasi tentang setting lanskap cerita, dan perasaan yang mengharu biru ketika mereka berhasil melewati bahaya dan sampai ke tujuan mereka. Oleh karena itu menurut saya buku ini sangat layak untuk dimiliki.


Detail Buku :
Judul Buku         : Ring of Fire : Indonesia Dalam Lingkaran Api
No. ISBN           : 9786029346077
Penulis                : Lawrence Blair
Penerbit               : Ufuk Press
Tanggal Terbit     : November 2012
Jumlah Halaman  : 420

6 komentar:

  1. saya belum pernah baca buku tersebut,
    namun lebih suka nonton acaranya di metro tv setiap minggu malam...
    .
    mampir balik ya mas
    ghozaliq.wordpress.com
    salam seloteh backpacker :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke mas,,
      acaranya d metro tv bagus,,tp bukunya bagus banget,hehe

      Hapus
  2. *masukin daftar belanjaan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah dapat royalti nih harusnya,hehe

      Hapus
  3. penasaran. harus baca bukunya deh ini!

    BalasHapus