• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 01 Februari 2011

Rumahku......

08.13 // by Wisnu Yuwandono // // 3 comments


“another summer day has come and gone away in Paris and Rome
but I wanna go home...”
Pastinya anda tahu lirik lagu itu, ya sepenggal lirik lagu Michael Bubble yang secara implisit menggambarkan betapa eksotisnya kota Paris dan Roma, tetapi masih saja kalah nyaman dengan rumah kita sendiri. Dan mengajak kita untuk selalu pulang.
Manusia sekarang sudah tidak seperti jaman purba yang no madden alias berpindah-pindah tempat tinggal. Sekarang, seandainya pindah–pindah rumah pun pasti ada selang waktu tinggal yang tidak sesebentar jaman purba alias menetap dalam waktu yang cukup untuk membuat memori dari sebuah rumah. Seburuk apapun rumah kita pasti terasa nyaman (kecuali dalam kasus-kasus khusus yang membuat seseorang benci rumahnya,dan itupun hanya sedikit kasus).


Baiti jannati, kosakata Arab yang berarti rumahku surgaku. Kemanapun orang jauh-jauh pergi, dia akan rindu pulang ke rumah. Sebagus apapun tempat yang anda lihat diluar sana tak bisa menandingi kehangatan rumah. Surga yang ada di dunia itu bukan di Bahama atau Karibia atau manalah, tapi tidak jauh dari kita yaitu rumah kita.
Kebanyakan orang tua akan menanyakan kepada calon menantunya yang akan melamar anak perempuannya dengan pertanyaan tentang pekerjaannya dan yang kedua adalah apakah sudah memiliki rumah. Pertanyaan pertama adalah apakah anak perempuannya akan memperoleh nafkah kelak, dan pertanyaan yang kedua adalah apakah kelak anak perempuannya akan diberi kenyamanan oleh si calon menantu. Oh kalau ini cuma jawaban rekaan saya saja J.
2 November 1987, saya dilahirkan ke dunia. Setelah itu, saya menghirup udara tidak jauh-jauh dari rumah sederhana orang tua yang terletak di pedesaan yang jauh dari hingar bingar kota, pun suara bising kendaraan bermotor. Yang saya dengar sehari-hari adalah suara cicit burung yang sering bertengger di pohon-pohon yang tumbuh sembarang disekitar rumah. Tiap pagi kokok ayam menyemangati untuk memulai hari dan kalau malam kadang suara jangkrik berdendang riang mengantar tidur, ah bahkan suara burung hantu sering membuat malam menjadi sendu. Mungkin suara-suara itu kalau dipadukan akan terdengar seperti orkestra musik yang bermain dalam opera yang dimainkan di surga, bukan di surga tapi di rumah saya sendiri.
Bunga mawar, melati, adenium, euphorbia dan entah bunga apa lagi yang lain adalah warna-warna cerah di halaman, dipadu dengan rumput hijau yang liar tumbuh di sela-sela pot coklat yang mulai kusam. Hmm, itulah taman hati yang sangat elok, perpaduan warna yang mempesona, keharuman yang menyegarkan. Adalagi pohon buah-buahan, ada pepaya, rambutan, jambu, mangga, dan yang terkahir buah naga. Sekarang musim apa ya? Tinggal lihat saja pohon mana yang berbuah. Pohon kelapa juga jadi menara-menara yang menjulang membentengi pekarangan.
Disini saya dibesarkan, dibuai nyanyian bunda, dikuatkan oleh doa ayah, dan diajak menatap dunia oleh kakak. Disini saya mencoba merangkak, belajar berjalan, berusaha berlari. Disini saya menikmati jatuh cinta dan mengobati sakit hati. Disini saya melihat mentari pulang dan pergi, petir menyambar, langit cerah membiru, gemerlap bintang dan pesona rembulan, hujan badai menerjang dan bumi bergoncang hebat. Ya, gempa dahsyat sempat menghancurkan rumah kecil kami. Terpaksa kami tinggal di tenda selama kurang lebih 4 bulan, sambil memperbaiki istana kami yang porak poranda hingga kembali berdiri. Selanjutnya rumah kami agak berganti wajah dengan tambal sulam disana-sini, tetap saja tidak megah apalagi mewah tapi satu hal, tetap nyaman.
Ada saatnya nanti saya akan meninggalkan rumah ini, tetapi kenangan tetaplah abadi dan tak pernah tertinggal. Tuhan membuat kenangan agar ketika kita memejamkan mata kita masih bisa melihat dan merasakan. Saya akan selalu melihat dan merasakan kenyamananmu, rumahku.

3 komentar:

  1. Tuhan membuat kenangan agar ketika kita memejamkan mata kita masih bisa melihat dan merasakan.

    >> menarik :)

    btw, jadi inget tentang gempa. miris :(
    tapi kita beruntung lho.. rumah adalah tempat ternyaman. bagi beberapa orang, rumah justru tempat yang paling mengerikan :(

    BalasHapus
  2. rumahmu jg nyaman buatku *loh??
    hehehe

    BalasHapus
  3. huwaaaaahh, enaknyaa rumahnyaaaa :)
    ajakin mampir yah sekali-kali hehehhe

    BalasHapus