• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 01 Februari 2011

Alam Menuju Keseimbangannya

09.31 // by Wisnu Yuwandono // // No comments



Semua materi di dunia ini selalu bergerak menuju keseimbangan, tak terkecuali alam. Semua itu adalah aturan baku dari Tuhan, tak bisa diganggu gugat kecuali oleh Tuhan sendiri. Alam begerak menuju keseimbangan dengan caranya sendiri, dengan dan tanpa campur tangan manusia, alam tetaplah kesatuan yang sangat perkasa.
Gunung, hutan, sungai, lautan dan bentang alam yang lain saling berhubungan. Satu sakit yang lain bisa tertular. Gunung, dalam arti harfiahnya adalah tonjolan permukaan Bumi yang disebabkan oleh gejala tektonik atau vulkanik dengan ketinggian lebih dari 600 mdpl. Dari gunung ini air hujan ditampung lalu menghidupi tumbuhan yang membentuk gerombolan barisan hutan yang mengelilinginya, sehingga simpanan air dari hujan tadi semakin banyak. Air yang melimpah tersebut dialirkan menjadi saluran air yang berkelok-kelok memanjang yang disebut sungai dan berakhirlah di muara yang airnya sangat melimpah, lautan. Perpaduan yang menakjubkan.


Gunung vulkanik atau gunung berapi dalam istilah yang lebih familiar di telinga kita, menjadi malaikat sekaligus hantu yang sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat kita. Ratusan gunung berapi ada di negeri ini, mana mungkin kita tidak kenal mereka. Dari cerita-cerita legenda yang memasukkan mereka menjadi sosok yang kebanyakan berperan antagonis, menyeramkan dan sebagai tempat tinggal makhluk-makhluk mengerikan, entah itu hewan ganas, hantu ataupun orang yang sudah dikutuk. Entah cerita-cerita itu benar atau tidak, kita bisa ambil sisi positifnya. Gunung-gunung yang pastinya dikelilingi hutan lebat itu akan lestari dan air sungai akan tetap mengalir seperti biasanya, tidak berkurang atau tidak berlebihan, tetap pada keseimbangannya.
Sampai datangnya sebuah fase yang merusak kepercayaan dan legenda-legenda itu, modernitas. Modernitas yang mempunyai senjata hebat yang disebut ilmu pengetahuan dan teknologi telah memukul mundur local wisdom sampai tak berkutik. Semua itu dianggap takhayul, konyol, tak sesuai dengan ilmu yang berkembang, tak ada teknologi yang bisa membuktikan kebenaran legenda itu yang berarti itu adalah cerita bohong. Ah begitu piciknya modernitas itu. Tapi sayangnya dari majunya iptek itu bukan hanya kemudahan yang diberikan akan tetapi kerusakan. Ya, kerusakan yang merajalela. Manusia sudah tak takut lagi merambah gunung dan hutan. Semuanya dibabat habis.
Alam murka atau Tuhanlah yang murka? Jika keduanya tidak murka pun kejadian-kejadian yang menjadi bencana bagi manusia (jika kita memperlakukan alam seperti saat ini) tetaplah akan terjadi. Alam menuju ke keseimbangan yang baru. Gunung dan hutan memiliki keseimbangan dalam menampung air, semakin sedikit jumlah pohon otomatis semakin sedikit jumlah air yang sanggup ditampung, padahal hujan tetap bercucuran sama derasnya dari tahun ke tahun. Anda bisa memprediksi apa yang akan terjadi kan??
Keseimbangan bisa bergeser ke titik terendah, pergeseran itu kita sendiri yang menyebabkan, dan sayangnya pergeseran itu menjadi bencana. L

0 comments:

Posting Komentar