• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 22 Oktober 2013

Gunung Agung, Perizinan dan Angin Besar

14.58 // by Wisnu Yuwandono // , // 24 comments

Gunung Agung
Gunung Agung terlihat dari Jemeluk, Amed
“Enam ratus lima puluh ribu?”, setelah mengeluarkan kalimat itu mulut dan wajah saya lalu bengong karena kaget.

Gunung Agung dengan ketinggian 3.142 mdpl adalah gunung yang sangat disucikan oleh masyarakat Bali. Di tempat ini diyakini adalah tempat tinggal para dewa. Gunung Agung, gunung yang besar, gunung yang berwibawa. Dan untuk merasakan kewibawaannya sampai di puncak harus mengeluarkan uang enam ratus lima puluh ribu dahulu.

Saya hendak mendaki Gunung Agung melalui Pura Besakih. Sebelum mendaki saya melapor ke Kantor Polisi yang ada di dekat pura. Di sana, sebelum melapor saya (bersama satu teman) sudah ditodong oleh dua guide yang mengharuskan memakai jasanya.

“Naik Gunung Agung harus pakai guide mas.” jelasnya.

“Tidak bisa tidak, itu peraturan di sini dan sudah ada organisasi yang mengaturnya” imbuh guide yang satunya.

Pak Polisi akhirnya datang. Seperti fungsinya sebagai pengayom masyarakat saya juga berharap beliau juga akan mengayomi kami.

“Emang begitu dik, naik Gunung Agung harus pakai guide” kalimat pertama yang keluar dari Pak Polisi.

Duhhh...

Di tengah kebimbangan kami yang harus mengeluarkan cukup banyak uang untuk bisa mendaki, polisi dan kedua guide tadi mulai menjelaskan kronologi mengapa jasa pemandu ini harus dipakai. Awalnya sekitar tahun 2002 ada satu rombongan pendaki yang berjumlah 3 orang naik ke Gunung Agung dan sampai sekarang mereka bertiga belum juga turun gunung dengan kata lain mereka hilang. Berita itu cukup menghebohkan. Mulai saat itu warga sekitar menerapkan peraturan agar semua pendaki harus memakai pemandu untuk mencegah peristiwa tadi terjadi lagi.

“Tapi masa tarifnya segitu mahalnya pak?” iba saya.

“Mas maunya berapa?” balas salah satu guide.

“Saya kasih perbandingan ya pak, di Rinjani tarif porter perharinya rata-rata sekitar Rp 125.000,- lho pak, menurut saya harusnya ga jauh beda lah.” saya berkilah.

“Di sini guide dibayar 300 ribu per hari saja ga ada yang mau mas” jawabnya lagi

“*poker face*” muka saya.

Lalu mereka menjelaskan rincian biaya 650 ribu itu untuk apa saja. Jadi biaya guide sebenarnya sebesar 400 ribu, lalu 200 ribu lagi masuk kas organisasi, sedangkan biaya izin dari polisi sebesar 50 ribu. Sambil masih memberi tahu bahaya-bahaya apa saja yang akan dihadapi apabila tidak memakai guide, salah satunya tersesat karena jalur yang tidak jelas.

Kami masih bimbang dengan jumlah harga yang cukup banyak untuk naik gunung. Pada saat bersamaan Pura Besakih sedang banyak kedatangan turis dan para jemaat yang ingin bersembahyang. Kebetulan nanti malam adalah purnama jadi banyak yang bersembahyang. Saat itu pula pak guide dan pak polisi meninggalkan kami untuk mengamankan dan mengatur para tamu tersebut. Tentu saja mereka yang datang dalam jumlah yang banyak ini lebih penting dari kami.

“Udah kabur aja lewat jalan samping kantor polisi ke pura paling belakang. Aku dulu ga pake guide gapapa kok, jalannya jelas ga ada cabang-cabangnya” saran teman saya yang asli Bali ketika saya mengabarkan kejadian yang saya alami.

Kami lebih memilih untuk mengiyakan saran itu dari pada membayar 650 ribu.

***
Gunung Agung
Jalur pendakian yang cukup curam dengan bantuan tali dari tumbuhan
Singkat cerita, jam 11.30 kami sudah mulai mendaki Gunung Agung melalui jalur Pura Besakih. Selain dari jalur ini ada satu jalur lain yaitu jalur Pura Pasar Agung, hanya saja kabarnya jalur tersebut sangat menanjak dan tidak ada tempat untuk mendirikan tenda, sedangkan kami ingin memilih pendakian slow dan bisa tidur di tenda.

Tidak seperti yang dikatakan pak polisi tadi bahwa jalur yang akan dilalui tidak jelas dan banyak percabangan. Jalur yang kami lalui sangat jelas dan bahkan tidak ada percabangan karena hampir sepanjang jalan, jalur yang dilalui adalah punggungan di mana kanan kiri adalah jurang. Jika ada percabangan masa mau nyabang ke jurang.

Satu lagi yang meyakinkan bahwa ini adalah jalur yang benar adalah (sayangnya) berupa sampah bungkus makanan, ada bungkus permen, mie instan maupun air mineral. Ahh di gunung mana aja ternyata tetap ada sampah dari para orang yang menamakan diri pecinta alam.

Sore hari kami memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat yang sebenarnya tak begitu luas. Jujur saja saya sudah kepayahan jika harus melanjutkan sampai ke tebing boyke (tujuan untuk mendirikan tenda). Setelah makan malam kami langsung terkapar lemas dan bermimpi.
Gunung Agung
Jalur pendakian dengan tumbuhan yang terlihat tertiup angin
Pagi harinya kami melanjutkan pendakian menuju puncak. Angin berhembus sangat kencang. Suaranya meraung-raung. Setelah melewati hutan pinus, pohon-pohon semakin jarang di sekitar jalur. Hal ini mengakibatkan angin terasa sangat keras menimpa tubuh kami karena tak ada yang menghalangi. Sesekali hampir saja saya terjungkal karena kerasnya laju angin.

Selepas tebing boyke, jalur berupa batu-batu dan sangat terbuka sekali karena melewati punggungan gunung. Angin tetap tak berhenti bertiup malah semakin kencang lajunya. Tepat ketika berada di atas tebing boyke, hembusan angin benar-benar sangat kencang dan tubuh saya terasa akan terhempas. Kami berlindung di balik tebing kecil sambil menunggu angin reda. Di tunggu beberapa lama, angin juga tak mereda.
Gunung Agung
Tebing Boyke yang tak lepas oleh vandalisme
Setelah berfikir dengan masak-masak resiko yang akan dihadapi nanti jika tetap akan meneruskan perjalanan. Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pendakian ke puncak. Jika kami berhasil melewati punggungan ini dengan selamat maka belum tentu kami bisa selamat melewati jalur menuju puncak, karena lebih berbahaya dengan jalan yang sempit dan diapit jurang menganga di kanan kirinya.
Gunung Agung
Puncak ada di depan sana, tapi pohon-pohon pun terlihat miring diterpa angin
Apakah angin kencang ini adalah kiriman dari pak polisi dan guide yang kami tinggalkan kemaren? Semoga bukan.

Pada tahun 1963 letusan gunung ini memakan hampir sekitar 1500 jiwa dan kami tidak ingin menambah jumlah daftar itu. Kami ke sini bukan untuk mengalahkan alam, karena memang dia tidak bisa dikalahkan. Dan saat ini alam sedang kurang baik kondisinya. Meski cuaca cerah tapi angin berhembus begitu kencang. Sifat alam susah sekali diprediksi karena memang bukan ilmu eksak yang langsung ketemu jawabannya dengan memencet tombol kalkulator. Dan keselamatan hidup lebih penting daripada kesombongan menggapai puncak.

24 komentar:

  1. waduh.. tempat di bali sekarang sudah jadi lahan subur bagi para oknum..
    Pemirsaah.. benarkah angin kencang itu kiriman dari polisi dan guide tadi?? terus saksikan silet ya...! hehehee..

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo gabisa bahasa bali kayanya peraturan harus pake guide akan berlaku -_-"

      Hapus
  2. kalau untuk sekelas wisnu, nda perlu lah ya pake guide2an :)

    BalasHapus
  3. Tak sanggup deh kalo naik gunung, meskipun ngak tinggi2 amat hehehe, tapi foto 1 keren banget dari jemeluk itu :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. enak lho mas naik gunung itu,,haha *mijit betis*

      Hapus
  4. aku juga belum sempat muncak ke gunung agung -,- padahal udah lama pengennya *hiks*

    BalasHapus
  5. Wah dahsyat banget perizinan naik gunung sampai semahal itu ya...
    Btw setuju banget sama Mas Cumilebay, foto #1 itu keren abis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kasian jg klo misal jauh2 dtg dr luar bali dan ga bawa bekal banyak trus ditodong segitu..
      makasih mas Rotua Damanik :)

      Hapus
  6. Benar sekali, untuk mendaki gunung harga tersebut terlalu mahal, bali memang sudah terlalu komersil. Dulu, kami mendaki jam 11 malam, tidak ada guide yang jaga di posnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kaget sih mas ketika ditodong harus bayar segitu

      Hapus
  7. untuk perijinan ke kantor polisi nya itu wajib apa nggak sih kak? trus sama katanya digunung agung itu banyak aturan aturan adatnya gitu ya sm untuk biaya total dari jakarta kl mau murah kira kira gimana ya untuk sampai ke gunung agung trims
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk keamanan sebaiknya melapor ke kantor polisi..
      setau saya sih tidak ada aturan adat yg banyak, sama seperti gunung lainnya,,karena ada banyak tempat sembahyang d sepanjang jalur, mungkin lebih dijaga aja perilakunya dan menghormati tmpt2 itu.
      Untuk dari Jakarta, maaf saya kurang tau :)

      Hapus
  8. Yg ketemu dengan kita d bawah boyke kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang masnya pasang tenda d jalur pendakian?
      wkwkwkwkwkw

      Hapus
    2. iya..tendanya masih jauh di bawah tebing boyke, masih di hutan

      Hapus
  9. Nice post..
    terima kasih untuk informasi jalur gratisnya :)

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. Keren abiz dong kalo gratis gtu :3 hehe

      Hapus
  11. Sewa guide ama bawa pacar ke mall hampir samaaa :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. high cost bgt mas pacarnya *ehhh :))

      Hapus