• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 08 Oktober 2013

Kurang Puas Menikmati Gunung Batur

09.57 // by Wisnu Yuwandono // , // 8 comments

Gunung Batur
Bagi yang sering mendaki gunung, Gunung Batur di Bali bukanlah gunung yang tinggi dan tantangannya tidak terlalu tinggi. Memang dengan ketinggian sekitar 1.717 mdpl membuatnya terlihat ‘pendek’ dibanding gunung-gunung raksasa yang lain. Tapi yang namanya naik gunung pasti selalu memberi kesan yang mendalam saat mendakinya, begitu pula yang saya alami.

Sudah cukup lama saya tidak mendaki gunung, terakhir kali adalah bulan Mei tahun yang lalu saat mendaki Gunung Rinjani di Lombok. Aroma dan cita rasa yang ditimbulkan saat mendaki sudah mulai hilang dalam aliran nafas saya, jadi ketika diajak naik Gunung Batur awalnya agak termangu karena badan sudah mulai menua dan nafas sudah ngos-ngosan. Apalagi mengajaknya cukup mendadak, tak ada persiapan fisik dan mental terlebih dahulu. Siap-siap kepayahan nih pikir saya.

Dalam rangka Festival Danau Batur tahun 2013, salah satu acara yang diadakan adalah pendakian bersama ke Gunung Batur. Sekaligus memperingati satu tahun diresmikannya kawasan Gunung Batur sebagai Geopark. Enak nih rame-rame mendakinya, jadi banyak teman, apalagi ini hari minggu pasti yang ikut banyak.

Bersama dengan teman saya, jam 4 pagi kami sudah sampai di pos pendakian. Prediksi saya memang tidak salah. Selain para peserta, ada banyak juga turis asing yang ikut. Pada hari biasa Gunung Batur memang sering didaki oleh para turis yang ingin merasakan naik gunung berapi aktif tanpa butuh waktu yang terlalu lama. Pos pendakian yang cukup bagus dengan banyak guide yang tersedia siap menemani dan mengantarkan ke puncak, hal ini membuat paket pendakian ke tempat ini sering dijual oleh para travel agent.Konon pesohor yang sempat berlibur ke Bali macam Katty Perry pernah menjejakkan kaki di puncak gunung ini.

Tak perlu berjalan cukup jauh untuk memulai perjalanan ke puncak karena kebetulan ada mobil double cabin yang bagian belakangnya masih lowong. Langsung saja saya menumpang dan duduk di bagian belakang. Mobil ini dari Dinas Sosial Kabupaten Bangli yang hendak menuju kaki gunung. Memang jajaran pegawai Pemda Bangli banyak yang mengikuti acara ini, bahkan Bupati Bangli sendiri terjun langsung untuk memimpin para pegawainya mendaki gunung.

Tentu saja dengan naik mobil bisa disebut cara shortcut,hehe. Tanpa perlu jalan jauh sudah sampai di bagian kaki gunung dan kami siap memulai pendakian. Kami memilih jalur Pura Pasar Agung. Selain dari jalur ini, kalau tidak salah ada jalur Bukit Mentik, namun jalur yang satu ini tidak cukup populer dan fasilitas pos pendakiannya tidak ada.

Medan pertama memang tidak sulit karena jalur masih mendatar. Meski begitu nafas saya sudah terasa agak berat, saya tidak ingin memakluminya tapi bagaimana lagi jeratan umur tak bisa bohong, haha. Medan mulai menanjak setelah melewati Pura Pasar Agung. Walaupun suhu cukup dingin, namun peluh mulai bercucuran dari muka saya. Beberapa kali saya harus berhenti untuk menyeka keringat dan mengambil nafas dalam-dalam, huffttt.

Siksaan saat naik gunung selain kaki kecapekan bahkan bisa sampai kram dan badan kedinginan adalah serangan biologis terhadap pencernaan atau kata lain sakit perut kebelet pup. Sayangnya saya merasakan gangguan tersebut. Perjalanan masih separuh jalan dan siksaan itu malah menyerang. Saya bingung ingin turun atau melanjutkan ke atas dan berharap di sana ada toilet. Dengan terus menahannya saya menggerakkan kaki perlahan menuju ke atas.
Gunung Batur
Semburat jingga dari ufuk timur
Semburat jingga mulai terlihat dari timur dan puncak mulai terlihat dekat, tapi sayangya perut saya tetap memberontak. Aihhhhh. Untunglah tak begitu lama puncak pertama dimana ada warung di sana sudah saya gapai. Cepat-cepat saya cari toilet. Di belakang warung memang ada toilet. Tapi sayangnya ditutup karena tidak ada air. Walah-walah. Di samping toilet ini ada semak-semak dan di sekitarnya banyak tisu berserakan. Hummm, jadi ini yang disebut toilet alami. Melihat itu nafsu pup saya malah berkurang drastis.

Mari lupakan sejenak rasa kebelet karena matahari perlahan mulai beranjak keluar. Semburat oranye sedikit-sedikit mulai berbentuk bulat cerah. Danau Batur yang berada tepat di depan gunung mulai terlihat airnya. Di kejauhan, di samping titik munculnya matahari, Gunung Rinjani terlihat samar-samar. Lalu di belakang bukit Abang terlihat sedikit bagian puncak Gunung Agung. Indah sekali. Semua memencet tombol shutter cameranya masing-masing, begitu pula saya.
Gunung Batur
Matahari yang mulai muncul
Gunung Batur
Para penikmat sunrise
Bapak Bupati beserta jajarannya sudah sampai atas, menambah riuhnya penikmat sunrise. Sebenarnya tempat ini bukanlah puncak Gunung Batur, tapi tempat inilah yang paling cocok untuk melihat sunrise karena ada tempat cukup lapang dan warung untuk minum teh atau kopi panas yang bisa menghangatkan tubuh di tengah dinginnya udara. Puncak Gunung Batur sendiri tidak ada tempat yang cukup lapang karena berbentuk lereng.
Bupati Bangli
Bupati Bangli yang sedang melihat papan informasi
Gunung Batur
Ramaiiii
Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke puncak karena perut masih bergejolak. Meski ingin berlama-lama menikmati keindahan alam, masih kurang puas tapi dengan terpaksa saya harus turun. Seperti biasa, waktu turun memang lebih cepat dari waktu naik. Tapi ketika turun ini anehnya rasa kebelet saya malah mulai menghilang, aih kenapa hilangnya tidak di atas tadi sihhhh.

Sampai di titik di mana tadi kami turun dari mobil milik Dinas Sosial ternyata ada mobil yang persis yang akan menuju pos pendakian, tapi mobil yang sekarang ini milik kepolisian. Untung tak bisa ditolak, menumpang lagi lah kami.

Gunung Batur
Gunung Batur dengan Danau Batur sebagai foreground dilihat dari Kedisan
Pulangnya saya sempat melihat panggung utama Festival Danau Batur di dermaga Kedisan yang terlihat tidak terlalu meriah dan terkesan sepi. Sepertinya acara ini belum mendapatkan perhatian yang luas dan belum sukses mendatangkan wisatawan dengan jumlah yang banyak.

8 komentar:

  1. Sunrise Gunung Batur memang mempesona meski harus mendaki sampe ngos-ngos di jalan berbatu tajam. Ahh jadi kepingin ke sana lagi nih :-)
    Next time ke sana bareng yuk... :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk bareng..aku baru sekali jalan-jala ke bali..kalo numpang lewat sering..hehe

      Hapus
  2. Pas bgt nih.. kebetulan rencananya abis galungan besok saya mau naik ke batur, dan ini adalah pertama kalinya saya naik gunung (kalo jadi).. hehehee.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sipp mas,semangat,hehe
      aku sblm galungan mau ke gunung agung :D

      Hapus
  3. Waaah, dapet clear sunrise ya :D aku dulu enggak dapet sunrisenya masbro~~ pas mendung == jadi kangen kesana lagi deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya beruntung pas cerah :)
      ayo ke bali lagi :D

      Hapus