• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 01 Juni 2013

Sebuah Pelajaran

15.08 // by Wisnu Yuwandono // , , // 16 comments

gunung merapi
Menatap alam dari Merapi
Pada medio tahun 2010, beberapa bulan sebelum Merapi marah dengan membabi buta yang konon merupakan letusan terbesarnya sejak beberapa abad sebelumnya, saya sempat mendakinya. Tapi bukan karena letusannya itu yang membuat saya pada waktu itu merasa begitu kecil dan begitu lemah. Justru karena kesalahan yang saya (kami) buat sendiri.

Masa kuliah, saya sering sekali mendaki gunung. Gunung-gunung di daerah Jawa Tengah merupakan tempat yang cukup akrab dengan saya karena memang posisi tempat saya tinggal di Yogyakarta, maka tempat-tempat itulah yang menjadi ajang petualangan untuk memuaskan gairah masa muda. Kalau untuk pergi ke gunung yang jauh susah di biaya, maklum mahasiswa pas-pasan.

Sebelumnya saya sudah mendaki Gunung Merapi sebanyak lima kali, jadi kali ini adalah pendakian ke enam saya. Bisa dibilang saya cukup mengenal jalur yang akan dilalui sampai puncak. Saya selalu mengambil jalur dari Selo, selain ini adalah jalur yang paling pendek dan paling mudah, konon memang hanya dari jalur ini pula kita dapat menggapai puncak Garuda (puncak Merapi pada saat itu sebelum letusan 2010). Dari basecamp di Selo sampai Pasar Bubrah (tempat camp sebelum puncak yang merupakan tempat datar yang luas dengan banyak batu besar yang berserak tidak beraturan sehingga disebut Pasar Bubrah/Pasar Rusak) umumnya memerlukan waktu kurang lebih 4 jam. Lalu dari Pasar Bubrah ke puncak waktunya sekitar satu jam. Karena waktu yang dibutuhkan relatif tidak terlalu lama untuk mencapai puncak, maka tidak heran jika banyak pendaki yang mengejar melihat sunrise di puncak memulai pendakian dari basecamp pada tengah malam, dan tidak perlu “ngecamp” di Pasar Bubrah. Barang yang dibawa tidak terlalu banyak, bekalpun biasanya juga hanya secukupnya saja, alhasil tas terasa ringan dan tidak terlalu menyulitkan pergerakan kaki mendaki jalan yang menanjak. Pada waktu itu saya dan teman-teman menyebut tipe pendaki ini tidak menikmati keindahan alam, karena sangat cepat total waktu pendakian dan turunnya.
edelweis, merapi
Edelweis di Pasar Bubrah
Nah waktu itu saya bersama dua teman mencoba merasakan tipe pendakian seperti itu. Naik dini hari sampai puncak pas sunrise, lihat-lihat sebentar langsung turun, lalu sampai rumah pada siangnya. Cepat dan tak perlu persiapan yang banyak-banyak. Tenda yang sangat diperlukan ketika hujan mendera tidak diperlukan karena ini kan musim kemarau mana ada hujan, pikir kami. Namun kenyataannya tak semudah yang kami pikir.

Berangkat dari Jogja sudah cukup malam, sekitar jam 22.00 WIB. Perlu waktu sekitar 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor untuk sampai basecamp Merapi di Selo. Tepat dinihari kami sampai di sana. Ternyata bukan hanya rombongan kami saja yang ada di basecamp ada beberapa rombongan lain yang juga memiliki rencana untuk mulai jalan pada malam ini. Kami beristirahat sebentar untuk memulihka tenaga setelah perjalanan 2 jam di atas goncangan motor. 2 teman saya bisa langsung tidur pulas sedangkan saya hanya memejamkan mata tapi tak sempat terlelap. Satu jam berikutnya mereka bangun dan kami pun siap mendaki.

Barang yang ada di dalam tas kami tak banyak, bahkan bisa dibilang sedikit. Tiga dari kami yang membawa tas carrier hanya satu orang saja, yang lain hanya daypack biasa saja. Di dalamnya yang paling banyak memakan volume tas hanyalah sleeping bag yang meskipun volumenya lumayan besar tetapi beratnya ringan. Selain itu masing-masing dari kami membawa air mineral satu botol ukuran 1,5 liter(yang tas carrier 2 botol) dan satu botol ukuran 700 ml, beberapa snack, mie instan, dan tidak lupa jas hujan. Juga satu kompor kecil dan gasnya, tapi saya lupa dibawa siapa. Cukup minim perlengkapan bukan?

Tak ada hal yang cukup dirisaukan selama perjalanan sampai ke Pasar Bubrah, wong beban juga tak seberapa. Mulus-mulus saja. Sampai di Pasar Bubrah pun sesuai dengan perhitungan, jam 4 lebih sedikit kami sampai di sana. Ada cukup banyak pendaki yang berkerumun, dan mereka juga tidak memakai tenda. Hanya ada beberapa tenda saja yang kami lihat berdiri di antara bebatuan besar yang berserakan.

Langit tidak terlihat waktu itu, bukan karena mendung tapi karena kabut sangat tebal. Sangat riskan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke puncak. Lagipula kami juga merasa lelah. Lalu diputuskan untuk istirahat sebentar di Pasar Bubrah, selain untuk meredakan ketegangan otot juga menunggu sampai kabut hilang. Tidak dapat sunrise di puncak tidak masalah.

Jas hujan digelar untuk alas tidur, karena saya pernah membaca jika tidur di tanah tanpa alas maka panas tubuh akan tertransfer ke tanah, sehingga tubuh akan menjadi dingin. Maka diperlukan isolator untuk meminimalisir panas tubuh kita tertransfer. Idealnya alas/isolator yang digunakan adalah matras, karena kami tidak membawanya maka jas hujan yang mensubtitusi tugasnya, meskipun sebenarnya juga tidak ngaruh dalam menghambat transfer panas, cuma mengahambat sleeping bag terkena kotor dari tanah. Alih-alih jas hujan digunakan untuk menutupi bagian atas agar terhidar dari kabut. Di sini mulai terjadi masalah. Sleeping bag yang saya pakai sangatlah tipis. Sedangkan kondisi cuaca sangat berkabut. Angin juga berhembus sangat kencang, dingin sekali. Kabut adalah uap air, dan jika kontak langsung terus menerus maka yang terjadi adalah sleeping bag saya basah. Di suhu yang sangat dingin dengan sleeping bag yang basah adalah sebuah siksaan yang sangat menyakitkan. Tanpa disadari seluruh tubuh saya menggigil dengan sendirinya, di luar kesadaran. Tubuh bergoncang. Saya melihat kedua teman saya tidur dengan pulas, mengingat sleeping bag yang mereka gunakan cukup tebal.

Saya tak bisa berpikir banyak dan dalam keadaan setengah sadar. Justru di situ pula kesalahan saya. Seharusnya dalam keadaan seperti itu pikiran harus terjaga, karena jika pikiran sudah tidak terjaga maka bisa-bisa nyawa juga akan tidak terjaga. Tubuh tergoncang semakin kuat, mungkin sebentar lagi saya akan mendapati bagaimana itu hypothermia. Hingga akhirnya salah satu teman saya tanpa sadar bergerak dalam tidurnya dan menyentuh bagian kaki saya. Karena kaki saya juga bergetar menggigil, maka teman saya terbangun dan mendapati saya kedinginan. Cepat-cepat saja dia bangun lalu memberikan sleeping bag nya untuk menghangatkan. Lalu memasak air untuk membuat minuman panas agar tubuh saya naik suhunya. Alhamdulillah saya selamat.
puncak merapi
Puncak Merapi di belakang sana
Pengalaman ini sungguh membekas dalam pikiran saya. Sejak saat itu tidak pernah lagi saya mau mendaki tanpa membawa tenda. Sebuah pendakian haruslah dipersiapkan dengan semaksimal mungkin. Pendaki yang paling baik adalah pendaki yang mempersiapkan segalanya dengan sangat baik pula, bukan karena merasa hebat lalu tak perlu membawa banyak peralatan. Kita ini hanyalah manusia, alam jauh lebih besar dari kita, dan jauh lebih besar lagi adalah Tuhan yang Maha Besar. Takutlah kepada Nya.

Jangan pernah meremehkan alam, dan lebih luas lagi jangan pernah meremehkan semua yang ada di dunia ini.

16 komentar:

  1. merapi tak pernah ingkar janji wis #halah

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu kata Pak Surono ketua BMKG :D

      Hapus
  2. Terkadang kita menganggap diri kita kuat untuk menghadapi alam tanpa tahu potensi bencana yg mereka sebabkan pada kita. Pelajaran yg sangat berharga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sipp bang Rotua Damanik :)
      terima kasih sudah mampir

      Hapus
  3. safety firstnya belajar dari pengalaman, sama kek saya kali pertama ke merapi ;)

    BalasHapus
  4. sepakat kaya komen di atas..safety first..karena perjalanan itu sindiri adalah pelajarn..:-)

    BalasHapus
  5. dimana saja, kapan saja, selalu utamakan keselamatan ya mas dalijo! :D

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. aihhh di komen kak bowo,,makasih kak :))

      Hapus
  7. Pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga ya Mas...
    Akhir maret 2010, naik merapi tek tok dari kaki puncak. Naik subuh turun sore via Selo. Pas turun, kaki rasanya gempor. Semuanya memang harus dipersiapkan ya :)
    Senang sekali membaca pengalamannya Mas Wisnu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. woww naik gunung pas siang2 gitu gosong ga?hehe
      terima kasih om yudi udah mampir :)

      Hapus
  8. sangat setuju dengan kalimat: "Kita ini hanyalah manusia, alam jauh lebih besar dari kita, dan jauh lebih besar lagi adalah Tuhan yang Maha Besar. Takutlah kepada Nya."

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Messa,,makasih udah mampir di sini :)

      Hapus