• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 10 Februari 2013

Selamatkan Lumba-lumba

21.43 // by Wisnu Yuwandono // 4 comments

Selamatkan Lumba-lumba, savedolphin
Foto dari JAAN

"Pertunjukan lumba-lumba hanyalah tampilan dominasi manusia atas satwa. Mereka mendidik lumba-lumba seperti halnya Mickey Mouse si tikus." - Ric O'Barry-

Ketika umur saya menginjak medio 7 tahun, atau sekitar hampir dua puluh tahun yang lalu, saya pernah melihat pertunjukan lumba-lumba atau bisa dikatakan sebagai sirkus lumba-lumba. Waktu itu kebetulan di Yogyakarta ada event sekaten yang tiap tahunnya sering menampilkan pertunjukan ini. Sama seperti anak sepantaran saya, melihat pertunjukan hewan yang lucu dengan berbagai aksi yang memukau tentulah rasa senang menghinggapi apalagi ditambah sesi foto naik perahu yang didorong lumba-lumba atau pose ketika pipi kita dicium olehnya. Epic.

Belum lama ini Sekaten juga digelar di Jogja, pertunjukan sirkus lumba-lumba masih saja menjadi maskot setia yang mengiringinya. Dengan dalih pendidikan, penelitian dan konservasi dijadikan pembenaran untuk membawanya berkeliling dari kota ke kota menghibur masyarakat. Penonton terhibur, penyelenggara untung, lalu bagaimana dengan sang pemeran utama, bahagiakah??

Lumba-lumba adalah makhluk yang sangat cerdas. Mereka memiliki otak besar yang kompleks, mereka mengenali diri mereka dan mereka juga menciptakan bahasa yang kompleks. Mirip sekali dengan manusia, pintar. Mereka dapat berenang dengan kecepatan mencapai 40 km/jam. Pintar dan cepat.

Sebelumnya sama seperti orang awam yang lain, saya melihat lumba-lumba di sirkus itu begitu lucu, hewan pintar itu pastilah senang dilatih dengan bermacam-macam aksi apalagi tanpa harus mengejar ikan di laut mereka sudah diberi makan, tinggal minggir lalu mangap, ikan kecil sudah berada di mulutnya siap untuk disantap. Tapi anggapan seperti ini ternyata salah besar. Hal yang terjadi sebenarnya adalah mereka tersiksa.

Ditangkap dari lautan lepas tempat habitat asli mereka, lalu diangkut menggunakan truck kecil yang diisi air laut dan dibawa menuju kota yang akan ‘menampung’ mereka. Perjalanannya saja sungguh menyiksa, tapi itu belum seberapa. Di kolam yang katanya rumah baru mereka, tak ada hal mewah yang menemaninya. Dengan luas kolam yang tak seberapa dan air yang sering mengandung chlorine berlebihan bisa saja menjadi racun yang membakar kulit dan mata mereka. Ikan yang masih hidup yang biasa ditangkap di lautan diganti dengan ikan mati yang kadangkala malah sudah busuk. Mereka terlihat sebagai hewan penurut padahal hal ini terjadi karena mereka 'dilaparkan'. Dengan begitu kalau mereka tidak menurut apa yang diperintahkan pelatih, maka mereka tidak mendapatkan makanan. Di alam, lumba-lumba selalu bergerak hingga beratus-ratus mil setiap hari. Mereka menjelajahi banyak tempat, dengan sonar yang dimiliki mereka bisa mengenali daerah sekitar layaknya GPS yang sangat akurat. Bermain, berenang bersama keluarga dan teman-temannya dalam kelompok yang erat adalah hal yang biasa dilakukan. Tetapi di kolam semua itu tak bisa dilakukan. Mereka ini seperti berada di dalam jeruji penjara dan di situ pula sonar mereka menjadi rusak. Jika manusia menyebut rumah mereka dengan istilah Arab baitii jannatii (rumahku surgaku) maka bisa saja lumba-lumba menyebut kolam tempat tinggal mereka dengan baitii jahiimi (rumahku nerakaku).

Awal Februari ini saya menghadiri acara diskusi tentang lumba-lumba dan pemutaran film ‘The Cove’ di Hotel Tugu Bali, seminggu sebelumnya acara ini juga diselenggarakan di Jakarta. Acara yang merupakan kelanjutan dari petisi di change.org tentang stop sirkus lumba-lumba ini dihadiri oleh Ric O’Barry sang sutradara sekaligus bintang film pemenang oscar ‘The Cove’, Femke den Haas dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Usman Hamid aktivis HAM yang juga menjadi direktur kampanye Indonesia Change.org. Hanya ada beberapa orang Indonesia yang menghadiri acara ini, entahlah mereka abai atau tak tahu adanya acara ini, saya tidak tahu.
Selamatkan Lumba-lumba, savedolphin
Femke den Haas
Femke memaparkan berbagai masalah yang dihadapi oleh lumba-lumba di Indonesia. Hal ini membuat saya terkesiap karena begitu banyaknya hal buruk yang menimpa mereka. Di Bali yang merupakan tempat wisata kelas dunia ternyata ada tempat yang menawarkan ‘Dine with Dolphin’ dimana pengunjung bisa makan malam di depan kolam yang berisi lumba-lumba. Sayangnya kolam itu begitu kecil dan bahkan airnya berwarna keruh. Pengunjung makan malam dengan nyaman, lumba-lumba makan malam dengan tersiksa. Ada lagi di Singaraja, daerah yang letaknya di bagian utara Bali, di sebuah hotel mewah dengan daya tariknya adalah terdapat lumba-lumba di kolam yang katanya tempat ‘penangkarannya’.
Selamatkan Lumba-lumba, savedolphin
Usman Hamid
Usman Hamid yang wajahnya tidak asing di mata saya karena sering muncul di layar televisi memaparkan kemajuan dari petisi stop sirkus lumba-lumba yang berhasil membuat Hero, Giant, Coca-Cola dan Lottemart untuk tidak mendukung sirkus lumba-lumba dengan tidak menyediakan tempat parkir untuk rombongan sirkus. Usman juga memaparkan bahwa Garuda Indonesia tidak akan mendukung lagi sirkus lumba-lumba, mengingat maskapai penerbangan ini pernah menjadi alat transportasi yang membawa lumba-lumba dari Bali menuju Jakarta. Saat ini sirkus lumba-lumba keliling masih ada di Indonesia yang konon di dunia sudah tidak ada lagi kegiatan semacam ini, justru ijin dari pemerintah lah yang membuatnya tetap eksis. Saya tahu sekali hal ini karena di sirkus yang ada di sekaten Jogja lalu, tiap hari sirkus ini selalu diiklankan oleh surat kabar lokal yang begitu ternama di Jogja. Bahkan di akhir pertunjukan dimuat berita dengan foto walikota sedang dicium oleh si ikan pintar. Mungkin lumba-lumba terlihat bahagia dengan ekspresi senyum yang manis. Tapi itu hanya seolah-olah saja, karena bentuk wajah mereka memang seperti itu. Yang paling membuat geleng kepala adalah walikota mengatakan kepada penyelenggara agar acara ini diadakan terus tiap tahun. Sadis.

Bintang sore itu tidak lain adalah Ric O’Barry. Aktivis penyelamat lumba-lumba yang berasal dari Amerika. Dulunya Ric adalah bagian dari bisnis lumba-lumba, dia adalah trainer lumba-lumba yang cukup terkenal dan mencapai puncaknya ketika menjadi pelatih lumba-lumba untuk serial televisi yang terkenal di Amerika ‘Flipper’. Dari lumba-lumba dia menjadi seorang jutawan tapi akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan dunia itu setelah lumba-lumba yang dia latih bunuh diri. Dia baru menyadari bahwa lumba-lumba yang hidup di kolam itu mengalami stres tingkat tinggi. Stres itu pula yang menyebabkan umur lumba-lumba yang ikut sirkus hanya sampai 5 tahun, padahal di alam bebas mereka bisa mencapai umur 40-50 tahun.
Selamatkan Lumba-lumba, savedolphin
Ric O''Barry
Ric O’Barry membuat film dokumenter tentang perburuan dan pembantaian lumba-lumba di Teluk Taiji, Jepang. Film itu juga diputar di acara yang saya hadiri ini. Miris melihat darah lumba-lumba sampai membuat warna air laut di sekitar habitatnya menjadi merah. Dia membuat film ini dengan cara sembunyi dari kejaran security dan pihak pengusaha. Hal ini memang sulit mengingat waktu itu di daerah sekitar tempat pembantaian itu ada program makan daging lumba-lumba bagi anak-anak. Tapi Ric terus berusaha mengkampanyekan tentang penyelamatan lumba-lumba di dunia internasional. Di kemudian hari hasilnya adalah dihentikannya pembantaian dan program makan daging lumba-lumba di Jepang. Selain maksud yang telah sebagian tercapai dari adanya film tersebut, dunia perfilman juga mengakui kualitasnya dan mendapatkan beberapa penghargaan diantaranya adalah Best Documentary Feature di 82nd Academy Award (2010).

Setelah menjadi aktivis dan menjadi terkenal setelah film itu, saat ini hidup Ric O’Barry malah jadi tidak aman. Dia sering diterror oleh orang yang kemungkinan besar adalah suruhan pengusaha yang menggeluti bidang pertunjukan lumba-lumba. Memang saat ini musuh terbesar dari para aktivis ini adalah pengusaha yang mengeruk untung sangat banyak. Faktor perputaran uang yang sangat besar itulah yang membuat sangat sulitnya menghentikan aktivitas ini. Sedang pemerintah tidak tegas menindak mereka, tidak tegas atau tidak berani, entahlah.

Hidup di alam bebas juga tidak menjamin kesehatan lumba-lumba. Mereka sering ditemukan terluka atau terdampar di pantai, hal ini membuat mereka juga memerlukan perawatan medis dan rehabilitasi. Oleh karena itu Ric dan JAAN membangun pusat rehabilitasi lumba-lumba di Karimunjawa (Jawa Tengah) yang merupakan pusat rehabilitasi lumba-lumba pertama di dunia.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan lumba-lumba??
  1. Tidak membeli tiket untuk pertunjukan lumba-lumba, program berenang bersama lumba-lumba, ataupun hal yang mengeksplotasi lumba-lumba dari tempat aslinya.
  2. Beritahu teman-teman anda dan keluarga agar tidak mendukung penangkaran lumba-lumba dan paus kecil.
  3. Mendukung penangkaran alternatif seperti wisata melihat lumba-lumba di alam (habitat)nya, pameran tanpa lumba-lumba hidup, diving dn snorkeling.
  4. Begabung dengan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) atau komunitas yang bekerja untuk membebaskan lumba-lumba dari penangkaran/sirkus.

Mari kita berkontribusi nyata menyelamatkan mereka dari penyiksaan. Tagar #savedolphin di twitter sudah sering kita lihat semoga itu bisa menimbulkan efek yang luas dan aksi nyata kita masih dibutuhkan untuk mendukungnya.

#savedolphin

*Sebagian besar info diperoleh dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN)

4 komentar: