• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Sabtu, 14 Februari 2015

14 Foto Romantis di Sekitar Kepulauan Komodo

11.33 // by dalijo // , // 96 comments

Disclaimer : foto-foto berikut tidak bermaksud untuk membuat para jombloers iri atau untuk menyindir mereka. Ini murni untuk sharing moment spesial yang bisa diambil di sekitar Kepulauan Komodo. Cheers :)

Dalam rangka memperingati hari kasih sayang menyemarakkan posting bareng Travel Bloggers Indonesia bertema 14 on 14, saya akan menampilkan foto-foto pre wedding teman saya yang saya ambil sendiri di sekitaran Kepulauan Komodo. Sebelumnya saya sudah sempat membahasnya di sini.

Berikut foto-fotonya:     
1. Moment menggandeng tangan menuju puncak bukit di Pulau Kanawa.
Sebagian besar sesi foto memang diambil di Pulau Kanawa. Karena pulau ini sangat indah dan memiliki bukit yang di atasnya dapat melihat pemandangan yang sangat bagus. Cocok untuk yang ingin menyendiri ataupun berpacaran, hehe.


2. Bercengkerama di puncak bukit di Pulau Kanawa


3. Di puncak bukit di Pulau Kanawa ada sebuah bangku yang sangat duduk-able apalagi saat momen sunset karena kita bisa melihat matahari turun dan mewarnai langit menjadi orange. Lautan dan pulau-pulau yang ada di depannya menjadi ornamen yang mempercantik.


4. Menggendong pasangan



5. Bintang Laut Pulau Kanawa


6. Bintang Laut (lagi)
Di Pulau Kanawa memang banyak sekali bintang laut. Si Patrick ini sangat mudah terlihat di pantainya, apalagi saat surut.


7. Bintang Laut (lagi-lagi)

8. Puncak Pulau Gili Lawa
Gili Lawa adalah salah satu pulau yang ada di Kepulauan Komodo. View dari atas bukitnya memang tak bisa dibilang biasa saja tapi luar biasa. Cuma dengan duduk membelakangi kamera saja sudah terlihat sangat romantis.

9. Menyibak ilalang Gili Lawa

10. Bermesraan di Pink Beach
Pink Beach adalah salah satu pantai yang menjadi maskot Pulau Komodo. Jangan lewatkan untuk mengabadikan momen spesial di sana.

11. Foto dengan komodo
Tak akan lengkap tanpa ada foto dengan hewan langka satu ini. 

11 foto di atas adalah foto-foto sesi prewedding teman saya. 3 foto selanjutnya adalah foto-foto saya sendiri. Tak ada salahnya untuk narsis di blog sendiri, hehe...

12. Inilah Gili Lawa
Gandengan seorang wanita yang mengajak saya untuk melihat indahnya Gili Lawa. Pose seperti ini memang diilhami dari foto-foto milik Murad Osmann yang bertema follow me.

13. Inilah Bukit Cinta
Sebenarnya ini bukanlah bukit cinta tetapi bukit di dekat bukit cinta. Jadi di Labuan Bajo ada sebuah bukit yang dinamakan Bukit Cinta. Mungkin dinamakan seperti itu karena biasa menjadi tempat pacaran anak-anak muda di sana.


14. Menunggu matahari terbenam
Lokasinya sama dengan foto nomor 3, di puncak bukit di Pulau Kanawa. Foto ini diambil dengan tripod dan mode self timer, karena kami tak ingin ada orang yang mengganggu tak ada orang yang bisa diminta bantuan untuk memoto. Sunset yang menawan bukan?

Itulah tadi 14 foto romantis di sekitar Pulau Komodo. Semoga dapat menjadi inspirasi untuk membuat foto yang lebih cetar membahana di lain tempat.


Baca juga postingan dari teman-teman Travel Bloggers Indonesia :
2. Arie Okta Friyanto :14 Ragam Wisata dari Tanah Kelahiran
4. DanSapar : 14 Hal yang Manis dan Murah di Inggris
5. Fahmi Anhar : 14 Tempat Wisata Menarik di Dubai
6. Tekno Bolang : 14 Senja yang bisa bikin kamu Galau
7. Danan Wahyu Sumirat : 14 Alasan Mengunjungi Kerinci
8. Ridwan SK : 14 Barang yang Sebaiknya Kamu Bawa Ketika Traveling
9. Lenny : 14 Travel Selfies Around USA
10. Yofangga : 14 Film Inspirasi Perjalanan
11. Teguh Nugroho : 14 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Semarang
12. Dea Sihotang : 14 Things to do in Paris
13. Indri Juwono : 14 Tindak Tanduk Asyik di Waerebo
14. Parahita Satiti : 14 Tempat Cantik untuk Natarajasana
15. Titiw Akmar : 14 Lagu Momen untuk Traveling
16. Bobby Ertanto : 14 SEO Basic Travel Blogging ala Virustraveling.com
17. Adlien : 14 Alasan Kenapa Harus Traveling saat Muda
18. Rembulan Indira : 14 Places I Would Want to Share with My Loved One
19. Wira Nurmansyah : 14 Tips Simpel Agar Komposisi Foto Makin Kece
20. Olive Bendon : 14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa
21. Indra Setiawan : 14 Hal yang Bisa Dilakukan di Kota Palangkaraya
22. Taufan Gio : 14 Hal Seru Jalan-Jalan Bareng Traveler Dunia

Sabtu, 07 Februari 2015

Kebetulan yang Menyenangkan

11.14 // by dalijo // , , // 18 comments

romantisme komodo

Sudah cukup banyak aku menuliskan tentang perjalanan ke Komodo dan Nusa Tenggara Timur, tetapi tak ada penjelasan rinci mengapa aku begitu tergila-gila dengan daerah itu.  Komodo baik hewan maupun kepulauannya adalah sesuatu yang sangat istimewa tetapi bukan hanya itu saja yang membuatnya begitu membekas dalam hidupku. Jawabannya adalah karena aku menemukan cinta di sana.

Dua tahun lalu saat pertama kali mengunjungi Komodo, aku menumpang kapal rombongan dokter yang sedang tugas PTT di kawasan NTT.  Dari 11 orang dalam rombongan itu, 10 orang adalah perempuan, dan salah satunya adalah wanita yang mempesona hatiku.

Di antara rombongan dokter wanita yang semuanya terlihat seperti putri raja itu, dia terlihat seperti dewi kahyangan. Bagiku dia begitu sempurna, namun kesempurnaan itu juga tak membuatku memiliki nyali berlebih untuk sekedar menatapnya lebih dari 5 detik. Dari sekian banyak permata yang dia miliki, yang bisa aku curi hanyalah pandangan, ya aku hanya bisa mencuri pandang. Bahkan kacamata hitamku aku gunakan sebagai tameng untuk menutupi pandanganku padanya. Pengecut.

Aku justru berbincang dengan orang lain tentang diriku. Ada satu kata yang sepertinya menarik perhatiannya. Bali. Ya kata Bali. Aku mengungkapkan kalau saat itu homebaseku adalah di Bali. Mungkin itu adalah umpan kail yang sangat menarik bagi ikan raksasa yang susah untuk ditemukan dan tanpa sengaja dipasang di ujung kail lalu disambar oleh ikan yang diharapkan.

Dia lalu ikut dalam percakapanku. “Oh kamu tinggal di Bali ya, nanti kalau aku ke sana aku boleh nanya-nanya kamu ya?” kalimat pertama yang muncul dari mulutnya yang mungil kepadaku. Aku adalah lelaki dan dia adalah wanita, tapi justru dia yang memiliki kejantanan untuk memulai percakapan. Kalimat pertama pun bukan pertanyaan nama atau perkenalan tapi malah tentang tempat tinggal.

Setelah perkenalan yang agak unik itu, anehnya percakapan kami selanjutnya seperti kereta api eksekutif yang melaju di atas rel, jarang berhenti dan bahkan selalu didahulukan. Bahkan aku merasa kami sangat jarang berhenti di stasiun untuk sekedar menurunkan tensi percakapan, aku ingin melaju terus menuju stasiun pemberhentian terakhir.

Aku rasa aku jatuh cinta padanya. Cinta yang muncul meski belum lama bertatap muka. Aku pikir ini adalah eros. Eros adalah energi cinta yang terdalam dari seorang manusia kepada lawan jenisnya. Eros bukanlah storge (cinta pada keluarga), philia (pertemanan) ataupun agape (cinta pada Tuhan).

Ini seperti hujan deras yang turun setelah musim kemarau berkepanjangan. Ini adalah petrichor, bau wangi yang menguar dari tanah kering setelah tertimpa air hujan untuk pertama kali. Wangi yang menentramkan. Aku yakin inilah cinta yang datang setelah kehampaan. Aku yakin dialah jawabannya.

Kapal yang kami tumpangi terus melaju membelah lautan menuju Pulau Komodo. Semuanya terlihat begitu indah di mata, begitu juga dengan apa yang hatiku rasakan. Debar-debar yang menggetarkan jiwa. Air laut terlihat begitu bening hingga di dalamnya terlihat terumbu karang yang sangat elok. Meski hati wanita tak bisa dipadupadankan dengan kebeningan air laut ini, tapi aku juga bisa melihat menembus ke dalam hatinya bahwa di dasarnya dia juga merasakan debar-debar yang sama. Setidaknya siapa pula yang melarangku untuk merasakan optimisme ini.

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. Benar saja, sepertinya Pulau Komodo mengajak dunia untuk membuatnya merasakan hal yang sama kepadaku. Selang beberapa minggu kemudian, kami layaknya sepasang kekasih yang saling berbagi cinta. Cinta pandangan pertama itu nyata. Menemukan cinta di ujung telapak kaki saat perjalanan itu bukan omong kosong belaka.

Cinta itu bisa datang tiba-tiba. Cinta itu bisa muncul dari sebuah kebetulan yang tak disangka. I believe this serendipity is written as my destiny.

Jumat, 02 Januari 2015

Mie Ayam Sendowo : Legendaris!

02.21 // by dalijo // , // 27 comments

Mie Ayam Sendowo


Waktu kuliah saya punya beberapa tempat makan favorit di dekat kampus. Ada syarat untuk masuk dalam daftar itu, enak dan murah. Enak dan mahal mungkin bisa menjadi pilihan, pada saat kantong tebal. Tapi saat tak ada momen spesial, untuk mahasiswa berkantong pas-pasan makanan murah dan enak adalah hal yang paling lumrah untuk dipilih. Porsinya banyak adalah bonus.

Ada banyak jenis makanan di sekitar kampus. Hampir tiap jenis makanan, saya memiliki tempat favorit sendiri. Ingin makan masakan Padang, maka seringkali memilih ke satu tempat. Lagi pengen makan soto, juga ada soto pilihan sendiri. Nah kalau untuk mie ayam, pilihan saya tertuju pada mie ayam Sendowo. Begitu juga dengan ayam kampus, saya punya tempat langganan sendiri.

Apa yang menarik dari warung mie ayam ini? Kalau dilihat dari bentuk warungnya, saya sangat yakin tak ada yang hal istimewa yang memaksa kita untuk singgah. Bagaimana tidak, warungnya kecil sekali mungkin tak lebih dari 4x4 m. Lebih mirip pos ronda. Di dalamnya hanya ada dua meja dengan masing-masing ada dua bangku yang saling berhadapan. Yang makan penuh dan berjejalan. Apanya yang menarik coba? Tapi ketika melihat sajian mie ayam spesialnya, kita akan tahu apa itu makna kata spesial. Tak ada mie ayam lain yang pantas menggunakan kata spesial lagi selain di tempat ini.
Mie Ayam Sendowo
Warung Mie Ayam Sendowo
Porsi kuli, begitu teman saya pernah bilang. Memang benar sekali karena mie ayam disajikan sampai mangkuknya terisi penuh. Mie ayam spesial akan diberi tambahan bakso goreng dan bakso biasa. Bakso gorengnya akan menutup hampir separuh permukaan mangkuk, sisanya akan ditutup oleh ayam dan bakso biasa. Alhasil mie hanya akan terlihat sedikit saja. Ketika membubuhkan saos, sambel atau kecap di atasnya, kita akan kesusahan untuk mengaduknya biar tercampur rata, karena bakso gorengnya akan jatuh kalau tidak hati-hati dalam mengaduk. Benar-benar porsi kuli.

Selain porsinya yang banyak, rasanya juga sangat enak. Ada cita rasa yang khas. Kuahnya lebih kental dari mie ayam kebanyakan sehingga bumbunya sangat terasa. Mienya kenyal sekaligus lembut. Ditambah dengan bakso goreng menambah nikmatnya merasakan mie. Satu kali menelan mie lalu diikuti dengan memakan bakso goreng, kriuk kriukkkk, hmmm nikmat sekali.

Mie Ayam Sendowo
Mie Ayam Spesial !
Mie Ayam Pak Wiyono, begitu sejatinya nama warung ini. Tapi nama tersebut sering terlupakan oleh pembelinya dan lebih terkenal dengan sebutan Mie Ayam Sendowo. Ini karena letak warungnya yang berada di kawasan Sendowo. Untuk mahasiswa UGM yang kampusnya berada di barat Jalan Kaliurang, wilayah ini tak begitu asing karena letaknya yang cukup dekat, yaitu di selatan Rumah Sakit dr. Sardjito. Bagi yang tidak tahu lokasi persisnya, dari RS Sardjito ambillah jalan lurus ke selatan, sampai pertigaan ujung FKG terus saja lurus sampai mentok di SD Percobaan, lalu belok ke kanan dan memasuki gapura Desa Sendowo, terus ke barat kira-kira 300 m sampai bertemu pertigaan, ambil ke kanan (utara) 100 meter, sampailah di tempat ini.
 
Mie Ayam Sendowo
Ibu yang sedang meracik pesanan
Pertama kali saya ke tempat ini pada tahun 2005, dan sampai sekarang bentuk dan ukuran warungnya tidak berubah. Padahal yang datang ke sini sangat banyak, jarang sekali sepi. Pada saat jam makan siang, warung selalu penuh, sering kali harus menunggu di luar sampai ada pembeli yang selesai dan pergi keluar sehingga ada bangku yang kosong. Inilah kelemahan dari warung ini. Ketika makan, seolah-olah kita diburu calon pembeli yang menunggu di luar. Hasilnya kita harus buru-buru menghabiskan makanan yang porsinya banyak sekali. Kita pun harus berhadap-hadapan dengan pembeli lain yang tidak kita kenal.  Agak tidak nyaman.
Mie Ayam Sendowo
Di dalam warung
Bagaimanapun saya selalu rindu merasakan nikmatnya mie ayam spesial Sendowo. Belum lama ini saya ke sana untuk melepas rasa kangen. Saya sengaja untuk tidak mengambil waktu jam makan siang sehingga bisa menikmatinya dengan santai dan sambil mengobrol dengan teman. Saya masih terkejut karena harganya tetap saja murah. Satu porsi mie ayam spesial dihargai dengan Rp 8.000,- saja, dan es teh manis Rp 1.500,-. Murah bukan?

Inilah mie ayam yang legendaris bagi saya. Mau mencobanya? Monggo silakan.

Sabtu, 06 September 2014

Gua Batu Cermin Bercerita

21.54 // by dalijo // , // 13 comments

Batu-batuan adalah pencerita sejarah yang paling ulung, begitulah kira-kira para geolog mendeskripsikan apa yang tercetak pada batu-batu yang mereka teliti. Bagi yang bukan ahli dalam bidang teresebut atau katakanlah orang awam, mungkin kalimat itu terasa aneh. Bagaimana mungkin benda mati bisa menceritakan sejarah? Ternyata batuan itu adalah lukisan alam, dari sana para ahli itu bisa membaca apa yang terjadi di masa lampau.

Dari pergerakan bumi dan segala aktivitasnya, salah satu hal yang terbentuk adalah gua. Gua adalah lubang pada batuan besar, bisa di gunung, di tebing, atau sejenisnya. Yang menarik dari gua adalah dia juga merupakan pencerita sejarah yang sangat hebat. Tidak hanya sejarah dari bumi sendiri tetapi sering kali di dalam gua terdapat jejak-jejak kehidupan masa lampau. Kita tahu manusia jaman dahulu mempergunakan gua sebagai tempat tinggal. Mereka lalu meninggalkan peralatan mereka di sana, kadang mereka menggambar dinding-dinding gua, ada pula sisa-sisa makanan yang tertinggal, dan bahkan tulang belulang mereka sendiri masih ada di dalam gua.

Awal Februari kemarin saya sempat berada di Labuan Bajo, ujung barat Pulau Flores. Selain wisata baharinya yang memang menakjubkan ada juga gua yang bisa memaparkan sejarah kawasan itu. Nama gua itu adalah, Gua Batu Cermin.

Saya, berdua bersama partner saya, setelah makan siang menuju ke Gua Batu Cermin menggunakan sepeda motor sewaan. Letak gua tersebut tidaklah jauh dari dermaga, yang merupakan pusat keramaian Labuan Bajo, mungkin sekitar 3-4 kilometer jaraknya.

Jalan yang dilalui cukup bagus, hanya 100 meter sebelum kawasan gua saja jalanannya tidak diaspal, atau mungkin lapisan aspalnya sudah rusak. Kami berhenti tepat di depan pos retribusi, di sana ada dua petugas yang menjaga. Saya lupa berapa jumlah uang yang harus dibayar satu pengunjung.

Setelah memarkirkan motor, satu orang petugas mendatangi kami dan membawa dua helm sebagai perlengkapan standar untuk masuk gua. Lucunya, dia sendiri malah tidak memakainya. Orang yang paling berpengalaman mungkin merasa paling aman. Selanjutnya dia memperkenalkan dirinya dan akan menjadi pemandu kami untuk menyusuri gua. Saya lupa namanya, yang saya ingat dari paras wajahnya dia masih berumur awal 20 tahunan.

Dari tempat parkir, kami berjalan menuju gua dengan melewati jalan kecil dengan tatanan paving block, seperti jalanan di taman. Di kanan kiri tumbuh rimbun pohon bambu, bukan bambu biasa yang diameter batangnya cukup besar tapi bambu yang kecil tapi karena sangat rimbun dan saling berhubungan antara bambu di seberang dengan seberangnya hingga membuat cahaya agak tertutup, bahkan berbentuk seperti lorong. Tidak heran jika paving block sebagian ditumbuhi lumut.

“Plakkkk….” Saya menampar betis saya. Ada nyamuk yang baru saja hinggap di sana. Beberapa bagian tubuh sudah bentol-bentol habis digigit nyamuk. Ternyata bambu-bambu itu juga menjadi sarang nyamuk.

Setelah berjalan kira-kira 300 meter, barulah kami sampai di depan mulut gua. Jangan berpikir mulut gua ini seperti gua yang hanya berlubang satu. Gua Batu Cermin adalah kumpulan beberapa batu besar yang membentuk celah dan ruangan-ruangan di dalamnya. Jadi sebenarnya tidak jelas di mana mulut utama guanya.

Fosil di Batu Cermin
Fosil terumbu karang
Kami langsung ditunjukkan fosil terumbu karang yang tercetak di dinding batu. “Ribuan tahun yang lalu tempat ini adalah dasar lautan, lalu karena proses alam batu-batu terangkat dan sebagian menjadi fosil ini.” Sang pemandu menjelaskan. Memang terlihat jelas bentuk dari koral yang sudah menjadi fosil tersebut.

Selanjutnya kami melangkah di bagian celah dari dua dinding. Di sana terdapat stalagmit yang menjulang cukup tinggi. Di bagian lain, sambil menengadah dan menunjuk, pemandu bilang, “Itu adalah batu-batu yang runtuh karena gempa besar di Flores awal tahun 90an.” Ada beberapa batu yang terjepit di antara celah dan menggantung di atas. Terlihat seperti hendak jatuh, akan tetapi sang pemandu masih menjamin keamanan kami. “Aman, mas!”
Batu Cermin
Batu yang terjepit hendak jatuh
Berikutnya kami diajak menuju bagian dalam di mana cahaya matahari semakin redup. Pemandu hanya membawa satu senter, untungnya saya membawa powerbank yang ada senternya, sedangkan partner saya tidak membawa apa-apa. Jadi posisi selanjutnya pemandu berjalan di depan dan saya paling belakang. Beberapa kesempatan kami harus menunduk karena lubang yang akan dilewati begitu kecil dan pendek. Suasananya sangat lembab, tanahnya pun sangat becek.

Kami berada di ruangan yang sangat gelap sempurna. Tak ada cahaya sama sekali apabila kami mematikan senter. Saya tak bisa mengira dengan tepat berapa luasnya. Langit-langitnya juga tak begitu tinggi. Pemandu mengajak kami untuk melihat satu titik di langit-langit, dan mengarahkan senternya pada sebuah tonjolan kecil. “Para ahli bilang kalau ini adalah fosil penyu” katanya.

Saya begitu, kalau bisa dibilang, terpesona dengan fosil itu. Bentuknya jelas sangat mirip dengan penyu. Cangkangnya yang menonjol dengan pola kotak-kotak lalu kepalanya yang lancip. Benar-benar fosil yang sangat sempurna. Di dalam ruangan ini juga ada binatang yang hidup meski tak ada cahaya. Bentuknya seperti laba-laba dengan warna hitam, akan tetapi badannya sangat tipis dan kakinya panjang-panjang.
Batu Cermin
Fosil penyu
Kami selanjutnya keluar dan menuju ke ruangan lain. Tanah masih becek dan cahayanya juga masih minim. Dengan menunduk dan beberapa kali juga memiringkan badan agar bisa melewati celah yang sempit, kami sampai di ruangan yang di atasnya ada lubang kecil untuk masuknya cahaya matahari.  Dari ruangan kami berdiri, saat sinar matahari masuk dari lubang di atas, apabila baru saja ada hujan maka akan ada genangan di tanah yang akan memantulkan bayangan tubuh kita, seperti cermin. Maka dari itu nama tempat ini disebut Batu Cermin. Sayangnya saat itu tak ada air yang tergenang dan posisi matahari tidak pas pada lubang jadi cerminan tubuh saya tak dapat tergambar dengan jelas.

Dari tempat ini kita bisa simpulkan bahwa keindahan bawah laut Flores tak hanya ada pada jaman sekarang saja, tapi dari masa lampau pun kekayaan itu sudah ada. Memang benar kata para geolog itu, batuan adalah pencerita sejarah paling ulung.

Batu Cermin
Fosil ikan

Batu Cermin
Saya baru menyadari saat melihat-lihat foto di komputer bahwa bentuk salah satu dinding di Gua Batu Cermin ada yang mirip bentuk wajah orang .

Trivia:
Bagaimana cara para ahli mengetahui umur suatu fosil?
Dengan cara memanfaatkan unsur radioaktif. Unsur-unsur radioaktif menjadi jam yang sangat bagus karena mereka meluruh menurut jadwal waktu yang ketat. Sebagai contoh uji karbon. Uji ini dilakukan karena organisme mengambil karbon-12 yang biasa dan karbon-14 yang radioaktif dari udara dan air. Uji ini menganggap bahwa rasio karbon (C-12 dan C-14) di udara dan air tetap sama selama ribuan tahun dan itulah yang ditelan mikroorganisme. Karbon-12 jumlahnya tetap di dalam organisme, sedangkan karbon-14 meluruh sesuai waktu dan separuhnya lenyap dalam waktu 5.730 tahun. Jadi apabila ingin menentukan umur suatu fosil bisa dengan mengukur jumlah relatif kedua karbon tersebut.

Jumat, 22 Agustus 2014

Romantisme pada Sebuah Angkot

13.48 // by dalijo // // 14 comments

Di Nusa Tenggara Timur, angkutan umum biasa memutar lagu dengan keras-keras. Biasanya lagu yang diputar beraliran hip-hop atau house music, bisa dikata musik ajeb-ajeb. Bahasa musiknya tak hanya Indonesia tetapi juga ada yang berbahasa Inggris atau bahasa daerah. Saya pribadi tak begitu suka dengan jenis musik seperti itu, apalagi diputar dengan suara keras, sangat tidak nyaman.

Mungkin jenis lagu disko menjadi tren anak muda di wilayah NTT, atau bisa jadi juga bagi orang tua, karena pengguna angkutan umum tak hanya para pemuda. Saya perhatikan semua jenis angkutan umum memiliki fasilitas sound system yang bisa mengeluarkan suara yang menggelegar, dari luar kendaraan saja terdengar begitu nyaring apalagi yang sedang berada di dalam, yang tak terbiasa telinganya bisa kena gangguan. Sayang tak ada fasilitas ear plug, kalau ada saya pasti akan menggunakannya.
angkot NTT
Salah satu angkot di NTT
Jenis angkutan umum yang ada di sana adalah angkot, bus, juga oto kayu (truk yang bak belakangnya dijadikan tempat penumpang). Banyak juga mobil pribadi yang digunakan untuk membawa penumpang. Hampir semuanya memutar lagu dengan keras. Hanya ojek saja yang tak pernah memutar lagu.
Jika kau mendengar sebuah lagu saat jatuh cinta, maka kau akan jatuh cinta saat mendengar lagu itu lagi - Anonim
Awal Februari 2014 ini, saya bersama pacar saya berada di Kupang. Kami sebenarnya hendak menuju Rote, akan tetapi badai dan gelombang yang tinggi membuat kami mengurungkan niat itu. Selanjutnya kami mengubah tujuan untuk ke Flores saja dengan menggunakan pesawat terbang.

Kami menginap di daerah dekat Kota Lama Kupang. Untuk menuju bandara El Tari ada beberapa pilihan, ojek dan angkot ada di list pertama. Di sini angkot disebut dengan bemo. Banyak sekali jurusannya dan ternyata tidak ada bemo yang mengantar tepat sampai di bandara. Akhirnya kami memilih untuk naik bemo terlebih dahulu lalu disambung dengan naik ojek. Pilihan ini diambil karena jika naik ojek dari tempat kami menginap sampai bandara, tukang ojeknya mematok harga yang cukup mahal.

Kami naik bemo tujuan Oesapa. Selain kami hanya ada dua penumpang lain. Memang tak begitu ramai penumpang hari itu, mengingat itu hari minggu yang bisa digunakan masyarakat untuk bersantai di rumah saja.

Tak ada yang istimewa dari bemo yang kami naiki. Hanya saja ketika kami sudah masuk ke dalamnya, saya baru menyadari kalau lagu yang diputar bukanlah lagu jenis ajeb-ajeb. Musik slow rock lawas sedang keluar dari dalam speaker. Memang suaranya tetap memekakkan telinga, tapi setidaknya lagunya bisa saya nikmati. Lumayan.

Setelah beberapa lagu diputar, tak disangka-sangka lagu selanjutnya adalah lagu favorit kami berdua. Dari mulai intro, saat itu pula kami saling berpandangan, tersenyum dan berpegangan tangan. Ummm, kalau saja momen itu tidak di tempat umum mungkin saja kami selanjutnya akan…… menyanyi bersama dengan keras-keras.

“I wanna make you smile, whenever you’re sad…..” Adam Sandler mulai mengeluarkan suaranya. Kami sama-sama tersenyum. Saya tak bisa membaca pikirannya tapi saya yakin dia merasakan hal yang sama dengan saya, gembira yang datang tiba-tiba.

Bagi kami, itu adalah lagu yang sangat berkesan dan sangat romantis dalam hubungan cinta kami. Lagu itu bukanlah lagu cinta mainstream yang sering diputar dimana-mana. Di tempat yang biasa memutar lagu disko, secara sangat kebetulan lagu yang diputar adalah lagu yang sangat jarang diputar dimanapun, akan tetapi saat kami ada di dalamnya lagu I Wanna Grow Old With You lah yang terputar. Itulah yang membuat momen di dalam bemo kali itu terasa sangat romantis. What a coincidence.

Dalam perjalanan memang banyak terjadi hal-hal yang sangat mengejutkan dan tak disangka-sangka. So far, momen di dalam bemo itulah yang menjadi kejadian paling romantis yang pernah kami rasakan. Meski hanya di dalam sebuah angkot.


"I could be the man who grows old with you... I wanna grow old with you." Adam Sandler mengakhiri lagu itu.

Rabu, 13 Agustus 2014

Pariwisata Menyelamatkan Waerebo

13.12 // by dalijo // // 21 comments

Pariwisata Waerebo
7 rumah kerucut di Desa Waerebo
Lebih dari beberapa dasawarsa mbaru niang atau rumah tradisional berbentuk kerucut yang ada di Desa Waerebo jumlahnya tinggal empat buah saja. Rumah yang tersisa itu pun sebenarnya sudah sekarat kondisinya, lapuk dimakan usia. Masyarakatnya tak mampu lagi untuk membangun kembali dan melengkapinya menjadi tujuh buah rumah sepeti seharusnya. Kurangnya biaya menjadi alasan utama.

Tahun 2008 datanglah rombongan Yori Antar bersama rekan-rekanya. Mereka adalah para arsitek yang penasaran dengan kampung tradisional di pedalaman Flores ini. Hanya berdasarkan informasi dari internet dan kartu pos yang bergambar Waerebo membuat mereka begitu tertarik lalu nekat berangkat ke sana.

“Kami kaget dengan kedatangan rombongan turis dalam negeri. Mereka adalah wisatawan Indonesia pertama yang datang ke Waerebo” kata Alexander Ngandus, tetua Desa Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Pak Alex, tetua desa
Pak Alex bercerita tentang kedatangan mereka saat itu. Warga Waerebo sedang memperbaiki salah satu rumah kerucut bersama dengan orang-orang dari Taiwan. Hujan begitu deras mengguyur, namun semangat mereka tidak luntur untuk terus bekerja. Pada saat sedang sibuk-sibuknya itu muncul rombongan warga Indonesia dengan keadaan basah kuyup.

“Sebenarnya ada rasa jengkel saat itu. Kami sedang sibuk memperbaiki rumah tapi tiba-tiba harus menerima tamu yang cukup banyak. Kami hanya bisa menyambut mereka dengan seadanya saja. Hanya kain sarung yang bisa kami sediakan untuk menutupi badan mereka yang basah kuyup” kenang Pak Alex.

Tak disangka justru kedatangan Yori Antar dan kawan-kawan yang awalnya ‘merepotkan’ ini malah selanjutnya memberi anugerah kepada masyarakat Waerebo. Melihat kondisi Waerebo yang sudah sekarat, Yori Antar dengan Yayasan Rumah Asuh berupaya untuk mengembalikan keadaannya kembali sehat. Bantuan dari swasta dan pemerintah serta beberapa donatur mulai mengalir, mereka tergerak untuk menyelamatkan Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Pak Rofinus yang menyambut kami di Mbaru Tembong(rumah utama)
Tahun 2010, dua rumah kerucut yang sudah sekarat direnovasi. Selanjutnya tahun 2011 tiga rumah kerucut yang sebelumnya hilang dibangun kembali. Akhirnya Waerebo memiliki tujuh rumah kerucut lagi seperti sedia kala. Tahun berikutnya dua rumah lagi direnovasi, sehingga sekarang ketujuh rumah ini dalam kondisi yang sangat bagus.

“Sangat sulit untuk membangun kembali mbaru niang tanpa bantuan dari luar Waerebo” terang Blasius Monta, warga Waerebo yang menjadi guru SD Denge. Pak Blasius sendiri sekarang tidak tinggal di Waerebo, dia tinggal di Denge, desa terakhir sebelum ke Waerebo.

“Pada tahun 1997 Pemda Manggarai pernah merenovasi Mbaru Tembong -rumah utama di Waerebo- biayanya sekitar Rp 30 juta. Lalu yang kemarin ini satu rumah membutuhkan biaya sekitar Rp 300-an juta. Kami tidak mampu kalau harus menanggungnya sendiri” lanjutnya.

Untuk membangun kembali ketujuh rumah tersebut, kebanyakan material memang tersedia di sekitar desa. Akan tetapi jumlahnya tidak mencukupi lagi, sehingga ada beberapa material yang harus di datangkan dari luar daerah. Itulah yang menyebabkan biaya menjadi membengkak.
Pariwisata Waerebo
Bagian dalam rumah yang khusus dipake untuk para tamu
Pak Blasius menceritakan sebelum kedatangan rombongan Yori Antar yang membuat Waerebo dikenal di dalam negeri, kampung ini sudah banyak dikenal oleh kalangan wisatawan asing. Sebelum tahun 2000-an hanya ada beberapa turis saja yang datang. Dari situ Pak Blasius meminta foto-foto dari mereka. Selanjutnya pada awal tahun 2000-an Pak Blasius berupaya mengenalkan kampung halamannya dengan memasang foto-foto tersebut di beberapa hotel dan travel agen di kota Ruteng. Dari foto-foto tersebut pada awal tahun 2002 datanglah beberapa turis asing ke desa ini. Lambat laun menyebarlah berita tentang keindahan arsitektur dan keramahan Waerebo ke berbagai kalangan.

Rumah Pak Blasius disulap menjadi homestay untuk mengakomodir kebutuhan istirahat para tamu sebelum berangkat atau sesudah turun dari Waerebo. Homestay Wejang Asih miliknya tersedia setidaknya 11 kamar yang bisa disinggahi untuk mengumpulkan kekuatan sebelum berjalan sekitar 3 jam atau lebih ke Waerebo ataupun untuk mengembalikan tenaga ketika setelah turun.

Bahasa Inggris cukup dikuasai oleh Pak Blasius. Hal ini dirasa penting olehnya karena memang turis asing masih mendominasi jumlah kunjungan, meskipun akhir-akhir ini traveler dalam negeri mulai mengimbangi. Selain Pak Blasius penduduk Waerebo juga sudah bisa mengucapkan beberapa kata umum dalam Bahasa Inggris. Beberapa kali ada bimbingan bahasa asing untuk warga Waerebo oleh mahasiswa sekolah bahasa dari Ruteng.

Waerebo terus berbenah dalam menerima tamu. Untuk menata administrasi pariwisata mereka membentuk Lembaga Pariwisata Waerebo (LPW). Dari lembaga ini ditentukan tarif untuk bermalam di Waerebo sebesar Rp 250 ribu sudah termasuk 3 kali makan. Jika tidak menginap pengunjung membayar retribusi Rp 100 ribu. Sebagian orang menganggapnya terlalu mahal untuk membayar sebesar itu. Tapi saya rasa uang sebesar itu cukup wajar mengingat bahan makanan yang kita makan saat di sana harus diambil dari desa di bawah yang jaraknya sekitar 9 km lebih. Mereka harus memikul beras dan kebutuhan pokok lain mendaki gunung untuk sampai kembali di Waerebo.
Pariwisata Waerebo
Seorang ibu sedang menenun kain songke
Meski pariwisata terus menggeliat di sini, warga Waerebo tidak lantas berpangku tangan dari para wisatwan, mereka tetap bekerja di bidangnya seperti sebelumnya. Mereka memiliki kebun kopi yang hasilnya dijual ke desa di bawah dan selanjutnya ke para pengepul kopi. Ibu-ibu juga tetap menenun kain songke yang untuk dipakai pribadi atau dijual. Semuanya berjalan seperti biasa.
Pariwisata Waerebo
Seorang nenek sedang mengumpulkan kopi yang habis dijemur

Pariwisata Waerebo
Anak kecil yang bermain di halaman
Saat ini tiap malam sampai sekitar jam 22.00 WITA ada generator yang bekerja untuk menyalakan lampu. Sudah beberapa tahun hal ini berjalan. Hasil dari kunjungan wisatawan itu salah satunya untuk memberi minum solar kepada generator. Belum lama ini juga ada kelompok dari Bandung yang akan membangun PLTA untuk menggantikan generator solar. Mereka hendak memanfaatkan sumber air yang melimpah di sekitar Waerebo. Rencananya proyek ini akan dimulai tahun ini. Meskipun listrik sudah masuk ke sini, untuk menjaga keaslian rumah dan budaya mereka televisi masih dilarang keberadaannya.


"Tiap kali ada tamu yang datang ke sini selalu bilang kepada kami untuk menjaga adat yang kami miliki. Tanpa ada himbauan dari mereka pun kami akan tetap menjaga tradisi leluhur kami" Pak Alex menyudahi percakapan kami di salah satu Mbaru Niang tempat tinggalnya.
Pariwisata Waerebo
Seorang ibu yang pulang dari mencari kayu bakar


Tulisan lain tentang cara ke Desa Waerebo >> Jalan ke Waerebo